Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 15


__ADS_3

Sulur-sulur kabut itu mengelilingi Novi seakan-akan berusaha merangkulnya untuk kemudian mengikatnya seperti yang ia lakukan pada Dika. Melilit kakinya, lengannya, pinggangnya, bahunya.


Seluruh tubuh Novi mengejang dan mulai kaku. Ia mengeluarkan suara melengking seperti lolongan binatang.


Persis seperti Dika, pikir Magisna dengan kalut. "Noviiiiiii!" teriak Magisna mulai menangis.


Ia meraih ke bawah dan merenggut tangan Novi yang terulur. Tangan itu basah oleh keringat dan terasa dingin, ia tak yakin berapa lama ia dapat memegangnya.


Ia mencoba menariknya ke atas, tapi kabut itu terlalu kuat. Ia melingkarkan lengannya yang satu lagi pada anak tangga dan menghelanya ke atas dengan segenap kekuatannya.


Novi terangkat beberapa inci.


Sambil terisak, dalam usahanya itu, Magisna mencoba menariknya lebih kuat lagi. Novi juga menjerit lebih kuat lagi. Tapi ia merasakan Novi mulai terangkat.


Ia berhasil!


Ia dapat menyelamatkannya!


Kemudian Novi mengeluarkan pekikan yang mengerikan.


Tangannya mencengkeram erat tangan Magisna.


"Gisna?" panggil Hendra dari atas.


"Tolongin gua!" teriak Magisna.


Hendra bergerak kembali menuruni tangga.


Kabut merah itu bergerak. Lengan Magisna tersentak pada anak tangga besi. Kekuatan kabut itu luar biasa besar.


Aku akan kehilangan Novi, pikirnya getir. Kabut itu terlalu kuat! Teramat sangat kuat!


"Ndra! Cepetan! Gua gak bisa bertahan!"


Novi menjerit lagi. Magisna merasakan buku jari Novi berkeretak dalam genggamannya. Jemarinya mulai lepas.


"Eka," pekik Novi sambil terengah.


Magisna menatapnya melalui kabut merah tua itu, menatap ke arah mata Novi.


"T-t-tolong.... gu-gua..."


"Novi!" Teriaknya. Dia menariknya lagi dengan segenap kekuatan yang tersisa.


Tangga itu tersentak lagi. Mulai menjauh dari dinding. Menjuntai lepas dan berbahaya.


"Tolong kami!" suara Alexza terdengar begitu jauh.


Mata Magisna melebar ketakutan ketika sulur berbentuk seperti ular itu meluncur melilit tangan Novi. Merayap membelit di seputar pergelangan tangan Magisna---dan menjepit erat!


Ia menangkapku!


Kulitnya terasa perih di tempat yang tersentuh kabut itu. Lalu panas seperti terbakar.


"Jangan!" ia memekik.


Rasa panik menguasainya. Ia menyentakkan tangannya ke atas kuat-kuat. Ia tak dapat berhenti berteriak. Seluruh lengannya serasa terbakar, seolah-olah kulitnya sendiri dipilin ke arah yang berlawanan.


Makin ia tarik, makin erat kabut itu mencengkeramnya.


"Lepasin!" terdengar suara Hendra.


"Gua gak bisa! Dia nangkep gua!"


Tangan Hendra memegangi lengan Magisna yang bebas, mengangkat tubuhnya ke atas.


Magisna menjerit frustrasi.


Aku harus melepaskan Novi. Kabut itu akan membunuhku juga. Aku harus melepaskan Novi!

__ADS_1


Pegangan Hendra melemah.


Lengan Magisna kebas.


Tangga itu mengayun bebas, tertahan oleh paku terakhir.


Ia tahu mereka tinggal punya waktu beberapa detik.


Ia harus melepaskannya.


Harus!


"Maafin gua, Nov," bisiknya lirih.


Ia memejamkan matanya erat-erat. Kemudian melepaskan pegangannya perlahan.


Mulanya Novi memekik tertahan. Tapi kemudian melengkingkan jeritan terakhir dan melepaskan Magisna.


Magisna membuka matanya kembali dan melihat Novi jatuh ke dalam kabut.


"Jangan!" jeritnya. "Lepasin dia! Lepasin! Noviiiiiii...!"


Wajah Novi berkerut mengerikan, penuh rasa sakit dan ketakutan.


Magisna hanya dapat memandang tak berdaya ketika kabut merah itu membawanya.


Magisna mengernyit ketika kaki Novi terkulai dan menggantung lemas dalam balutan kabut itu.


Sepatu Novi membentur sudut terowongan dengan gema berdebam yang kosong.


Teriakan berhenti.


Seketika waktu serasa ikut terhenti. Kabut itu menyeretnya menjauh dalam gerakan slow motion yang ringan dan kering. Seperti mimpi!


Magisna tersadar lengannya masih terulur ke arah Novi meski tak yakin apakah ia masih akan tetap hidup.


Novi dan kabut itu menghilang ke dalam terowongan.


Magisna tidak menjawab. Ia merasa gagal dan menyesal. Ia telah gagal! Satu orang lagi direnggut di depan matanya.


Kami nyaris saja keluar, pikirnya masam.


"Gisna!" panggil Hendra sekali lagi, meninggikan suaranya.


Magisna mendongak, tapi nyaris tidak dapat melihat Hendra sama sekali.


"Kita harus keluar," desak Hendra.


Hendra melepaskan tangan Magisna dan kembali menaiki anak tangga.


Magisna mencoba mengikutinya. Berusaha agar lengan dan kakinya dapat bekerja dengan baik.


Ia mendengar bunyi keriat-keriut yang keras. Merasakan getaran tangga logam itu.


Tangga itu, begitu tua sehingga tak dapat menahan beban!


Tangga itu tersentak keras, dan menjuntai liar selama sekejap lagi.


Magisna menahan napas, tangannya mencengkram baja itu.


Logam itu berderit mengerikan dan terlepas.


Tangga itu mulai jatuh.


Magisna berpegangan pada besi selama tangga itu roboh ke bawah. Angin berdesir. Detik-detik tiada akhir berdetak di kepalanya sewaktu ia berteriak.


Jangan biarkan aku mati, batinnya.


Tangga itu membentur dasar.

__ADS_1


Magisna terlepas. Logam berkarat roboh di sekelilingnya, memerciki mukanya dan bergemerincing cukup keras hingga telinganya berdenging.


Hendra mendarat di atas tubuhnya.


Berat tubuh Hendra menimpa perutnya. Udara terpompa keluar dari tubuhnya. Paru-parunya membeku. Ia tak dapat bernapas. Rasa panik menghinggapinya lagi.


Bernapas!


Hendra mengerang di sampingnya.


Bunyi erangan kecil keluar dari lehernya.


Apakah Hendra menyebabkan tulang rusuknya patah?


Paru-parunya bocor?


Matanya berkunang-kunang, dan ruangan itu kelihatan miring di satu sisi.


"Gisna!" suara Hendra terdengar panik. "Gisna! Lu gak pa-pa, kan? Gisna?!"


Hendra terdengar begitu jauh.


"Magisna?!"


Sesuatu mengguncang tubuhnya. 


Hendra memegang bahunya dan mengguncang-guncang tubuhnya.


Magisna mengerahkan upaya keras terakhir untuk bernapas, berharap paru-parunya membuka dan membiarkannya hidup.


Udara dingin mengaliri tubuhnya. Udara lembap di bawah tanah yang pengap tak pernah terasa begitu segar.


"Gua baik-baik aja, gua gak pa-pa," ia menenangkan Hendra. "Kayaknya."


Ia mendengar Hendra menghembuskan napas kasar. Menyesal sekaligus merasa lega.


Magisna duduk tegak, masih merasa pusing.


Lalu ia teringat Novi. Menggantung kaku seperti mayat. Diseret ke dalam terowongan dan menghilang dalam kegelapan. Dan tak seorang pun di antara mereka yang dapat menyelamatkannya.


"Ndra---"


Seketika ia merangkul Hendra dan mendekapnya kuat-kuat. Tubuhnya bergetar hebat.


"Tolong pelukin gua," bisiknya ringkih. "Gua gak kuat lagi."


Lengan Hendra erat memeluk Magisna. "Gak pa-pa," katanya. "Kita baik-baik aja. Lu baik-baik aja."


"Kapan ini berakhir?" ia merengek.


Ia mendengar Hendra menelan ludah. "Gua gak tau," katanya parau. "Mungkin sengaja dipanjang-panjangin biar bisa nyampe tujuh ratus bab."


Magisna ingin meledak tertawa mendengar perkataan Hendra. Tapi ia merasa geram. Geram kepada penulis.


Gua pen bunuh penulisnya setelah tamat cerita ini! batin Magisna menirukan dialog salah satu tokoh dalam novel lain garapan Penulis Keparat yang sama.


Ia merasa berterima kasih atas lengan Hendra yang kuat. 


"Tolongin gua!"


Hendra dan Magisna terperanjat dan saling menjauh, lalu berpandangan.


Alexza!


Ia bergelantung di atas mereka, menggantung di anak tangga terakhir tempat logam berkarat itu lepas.


"Turunin gua!" jerit Alexza.


"Naek ke atas," sahut Hendra. "Cari bantuan."

__ADS_1


"Gua gak bisa! Jari gua mati rasa. Gua gak bisa pegangan."


Meski dalam keremangan Magisna bisa melihat Alexza tidak bercanda. Ia memang benar-benar bergantung hanya dengan jarinya. Kakinya mengayun kalut, tak mendapatkan pegangan apa pun.


__ADS_2