
Pak Isa terperangah menatap kabut itu. "Saya pasti salah lihat!" desisnya.
Hendra dan Magisna melengak.
Kabut merah itu tampak berbeda kali ini.
Sejumlah bentuk melayang-layang dalam kabut. Mereka berpendar dan terfokus. Magisna hampir tak dapat mempercayai penglihatannya---tapi ia tahu apa yang dilihatnya.
Wajah-wajah.
Begitu nyata!
"Mereka teman-teman saya," teriak Pak Isa serak.
Hendra dan Magisna tersentak.
Wajah-wajah itu berkerut penuh kemarahan. Mulut-mulut mereka menyerupai lubang gelap---menganga dalam teriakan bisu. Mata mereka hitam dan kosong. Kabut itu berputar di sekeliling mereka seperti jaring yang mematikan.
Mata Magisna terbelalak menyadari hal itu.
Kabut merah tidak membunuh ketiga belas anak itu!
Mereka tahu mereka terperangkap, pikir Magisna. Mereka tahu mereka akan mati. Mereka menggali dengan kalap menembus gundukan tanah, hanya untuk menemukan dinding yang dibangun seseorang.
Hanya untuk menyadari bahwa mereka terperangkap.
Terperangkap selamanya!
Magisna tak dapat membayangkan keputusasaan mereka. Ketakutan mereka.
Kemarahan mereka.
Begitulah, Magisna menyadari. Kabut itu adalah kemarahan dari ketiga belas anak itu. Entah bagaimana roh mereka terperangkap bersama mereka. Dan entah bagaimana mereka bersatu dan membentuk awan itu.
Semakin hari kabut itu pasti semakin bertambah marah.
Setiap hari mereka pasti berharap untuk bisa membalas dendam.
Menunggu dan menunggu untuk kesempatan ini, pikir Magisna. Dan kami memberi mereka kesempatan itu. Kami telah membebaskannya keluar dari batu bata.
Sekarang mereka semua akan mati.
"Teman-temanku," desis Pak Isa, suaranya dipenuhi rasa takjub. "Aku tak percaya ini kalian."
Bayangan itu mendekatinya. Wajah-wajah mereka bergetar dan berdenyut-denyut.
"Ya," kata Pak Isa. "Ini aku. Kalian ingat?"
Magisna merasakan tarikan di lengannya.
"Cabut," gumam Hendra.
Tapi Magisna tak dapat bergerak. Ia tak bisa berhenti memandangi wajah-wajah itu.
"Eka," kata Pak Isa, sementara matanya tak lepas dari kabut merah itu. "Ada lubang yang menuju ke atas dalam ruang ketel rumah Van Til. Berbeloklah ke kiri enam kali. Dan kalian akan menemukannya."
"Maksud Bapak apa?" tanya Magisna. "Saya---"
"Ke kiri enam kali," perintah Pak Isa. Lalu ia bangkit berdiri.
__ADS_1
Hendra menarik Magisna dengan kuat. Magisna melangkah mundur menuju terowongan utama.
Tapi tatapannya belum bergerak dari Pak Isa. "Bapak mau ngapain?" tanyanya setengah berteriak.
Kepala sekolah itu akhirnya berpaling ke arah mereka. Wajahnya kosong. Tanpa emosi.
"Saya masih punya sedikit urusan di sini," tuturnya datar.
Ia berpaling kembali ke arah kabut merah itu.
Kabut itu bergerak maju. Mengerubunginya.
Magisna melangkah maju ke arah kepala sekolah mereka, tapi ia merasakan tangan Hendra memegangnya dan menahannya untuk tidak kembali.
Pak Isa terbang ke dalam awan itu. Ia melolong ketika bayangan itu mengerubunginya. Debu tanah berjatuhan dari tubuhnya. Lenteranya jatuh ke atas gundukan.
Jeritan menggema di dinding terowongan.
Tubuhnya tersentak dan kejang-kejang. Lengannya ditarik ke belakang dan jeritannya berhenti. Tubuh Pak Isa tergantung di sana, mengejang.
Mata Magisna terbelalak.
Kabut itu menyentak tinggi di udara, meluap pada langit-langit gang. Wajah-wajah itu meraungkan teriakan mereka yang kelu. Tatapan mereka yang dingin dan gelap terfokus pada Hendra dan Magisna.
"Lari!" teriak Hendra.
Magisna menengadah, menyiapkan dirinya untuk rasa sakit yang bakal menerpanya. Matanya membelalak tegang melihat wajah-wajah itu.
Ada yang berbeda, pikirnya.
Kabut itu tidak maju.
Wajah-wajah itu memudar. Warna merahnya tak lagi terang. Bahkan bunyi napas mereka terdengar semakin lembut.
Kabut itu perlahan menguap di depan mereka, kemudian menghilang hingga tak ada lagi yang tersisa. Bahkan tubuh Pak Isa. Tubuhnya ikut menguap bersama kabut itu.
Akhirnya, hanya serpihan terakhir yang tertinggal. Tergantung di sana selama beberapa detik.
Pergi, Magisna memohon. Pergilah.
Lalu menghilang.
Gumpalan kabut merah itu benar-benar lenyap tanpa bekas.
Magisna jatuh dalam pelukan Hendra. Ia kehabisan tenaga. "Gua gak percaya semua ini udah berakhir!"
"Cabut, yuk!" bisik Hendra seraya memungut lentera.
"Enam belokan ke kiri," gumam Magisna.
Mereka menemukan semua enam belokan itu setelah berjalan jauh. Sepanjang perjalanan, Magisna bersandar pada Hendra sebagai topangan.
Tidak satu pun berbicara sepanjang mereka berjalan. Mudah menemukan lubang yang dikatakan Pak Isa kepada mereka. Tapi tak mudah melupakan semua yang telah mereka lewati sepanjang hari ini.
Sebuah tangga baja terlihat di kegelapan. Jauh di atas mereka, Magisna melihat titik-titik cahaya.
"Kita berhasil," bisiknya senang. Ia tersenyum pada Hendra. Dan Hendra menyeringai balik.
"Jadi," kata Hendra.
__ADS_1
"Jadi," kata Magisna nyaris bersamaan.
Hendra menyeringai. "Gimana caranya kita jelasin ini ke semua orang?"
Magisna mengerjap, lalu menelan ludah. Hatinya mencelus mengingat Dika, Novi dan Alexza. Lalu membayangkan bagaimana Pak Isa mengorbankan dirinya. Mengorbankan nyawanya.
Tak seorang pun akan mempercayai mereka.
Tidak seorang pun!
"Gua gak tau," sahut Magisna.
"Gua juga bingung," jawab Hendra sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. "Yodahlah, kita keluar dulu aja dari sini. Nanti baru kita pikirin lagi."
Magisna mengangguk.
Mereka menjangkau anak tangga yang dingin, memandang ke atas pada cahaya jingga kemerahan, lalu memanjat keluar bersama-sama dan memekik.
Kabut merah itu!
Kabut merah bercahaya menyebar di mana-mana, menyelubungi seluruh tempat hingga mereka tak dapat melihat segala sesuatu kecuali kabut merah itu.
Mereka tidak menghilang, pikir Magisna ngeri. Tapi bertambah besar dan kelihatannya semakin kuat.
Lonceng di pekarangan sekolah berdentang semakin cepat disusul suara-suara gemuruh yang menggetarkan mirip tsunami.
Semua orang akan mati, pikir Magisna ngeri. Tubuhnya bergetar dalam rengkuhan lengan Hendra.
"Sambekala!"
"Sambekala!"
Mereka mendengar suara seseorang berteriak nyaring di antara bunyi lonceng yang sambung-menyambung. Lalu disusul teriakan lainnya.
"Sambekala!"
Teriakan-teriakan itu bersahut-sahutan bersama suara lonceng yang terus mendengking.
Bulu kuduk Magisna meremang.
Di luar sini, suasananya lebih mencekam dan mengerikan.
Hendra dan Magisna masih mematung tercengang menatap langit di atas mereka.
"Minggir!" Teriak seseorang pada mereka setengah menghardik.
Tak satu pun bereaksi. Keduanya masih membeku di tempatnya tanpa berkedip.
Dari kaki langit---jauh di depan mereka, semburat cahaya keemasan berkeredap seperti kilat, disusul suara gemuruh yang memekakkan. Tak lama sebuah bayangan gelap melesat keluar dari pusat cahaya, kemudian menyeruak secepat kilat ke arah mereka.
"Awas!" Seorang pria melompat ke arah Hendra dan Magisna, seraya mendorong tubuh mereka hingga keduanya terpelanting ke samping dan terjerembab di rerumputan. Tak lama tubuh pria itu juga tersungkur di antara mereka.
Magisna tak ingat bagaimana posisi tubuhnya saat mendarat, ia bahkan tak menyadarinya sama sekali. Ia tak dapat mengalihkan perhatiannya dari bayangan itu. Sepintas sosoknya terlihat seperti penunggang kuda berjubah gelap. Berkelebat secepat kilat. Magisna hampir tak dapat mempercayai penglihatannya.
Di daerah sekitar sini tidak ada peternakan kuda, pikirnya.
Ia tercengang dengan mulut dan mata membulat. Bayangan itu melintas hanya dalam hitungan detik. Tapi Magisna masih terpaku menatap udara kosong seolah-olah bayangan itu masih berada di sana dalam gerakan slow motion.
Sosok itu tidak terlihat menakutkan, tidak terlihat jelas bentuknya malah. Tapi kemunculannya terasa seperti kematian. Di luar dugaan dan sulit dipercaya. Terlihat semu, tapi terasa begitu nyata. Sebuah kuasa besar yang tak terlihat mengunci seluruh tempat dan tak satu pun terluput.
__ADS_1
Waktu seolah terhenti se-per-sekian detik.