Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 27


__ADS_3

"Jati---udah! Toh kita gak kenapa-napa!" Teriak seorang gadis dari jok belakang Triton Athlete itu memarahi cowok gondrong tadi. Seorang gadis berambut ikal mayang berwarna cokelat, berwajah putih kemerah-merahan khas darah Belanda, menurunkan kaca dan menjulurkan kepalanya keluar.


Seorang pria lain berambut sama panjangnya menyembulkan wajahnya juga, di sisi gadis bule Belanda tadi.


Jadi namanya Jati? kata Magisna dalam hati. Kenapa cowok-cowok di sini tidak ada yang jelek?


"Lu salah jalan, b e g o!" hardik Jati pada Agustin. 


Agustin masih bergeming. Tapi tetap tenang dan datar.


"Ini jalan buntu!" Jati menandaskan seraya berbalik ke arah mobilnya.


Hendra mengerang di jok belakang. "Lu denger itu?" gerutunya pada Ais. 


Jati menyelinap ke belakang kemudi dan menyalakan mesinnya.


Agustin juga menyalakan mesin dan memundurkan jipnya.


Triton Athlete itu menderu dan melesat melewati mereka.


Nice to meet you, kata Magisna dalam hati. Sedikit kecewa karena pertemuan itu berlangsung terlalu singkat.


"Ikutin mobil itu!" perintah Hendra.


"Apa?" Agustin memicingkan mata.


"Gua bilang ikutin mereka!" Hendra menaikkan suaranya. "Lu gak denger dia bilang itu jalan buntu?" hardiknya seraya menunjuk jalan perkampungan yang dikatakan Ais.


Agustin menimang-nimang.


Hendra beranjak dari tempat duduknya kemudian melompat keluar dan menghambur ke pintu kemudi. "Sini, biar gua yang nyetir!" desaknya.


"Hendra!" Magisna berteriak memarahinya.


"Gua bilang, gua tau jalan alternatif!" Hendra bersikeras.


Agustin mendesah tipis dan mengangkat kedua tangannya dari setir.


Hendra kembali mengambil alih kemudi, sementara Agustin kembali ke jok belakang.


Magisna menggembungkan pipinya seraya membeliak.


Hendra memang tak pernah bisa tahan kalau hanya berdiam diri. Tapi kali ini, dia bertingkah lebih parah daripada biasanya.


"Gua gak bakalan sampe rumah!" erang Magisna tak tahan lagi.

__ADS_1


Ais memajukan tubuhnya dan menepuk bahu gadis itu, berusaha menenangkannya. Tapi kemudian tergagap menyadari tubuhnya menggigil.


Hendra menyalakan kunci kontak dan memutarnya ke arah jalan besar mengikuti Triton Athlete tadi.


Tidak seorang pun memprotes.


Situasi dalam mobil kembali tegang.


Langit semakin mencekam, sementara hujan deras semakin membadai. Buih-buih air hujan terbang berputar-putar disapu angin yang teramat kencang. Pohon-pohon sawit meliuk-liuk ke sana kemari ke segala penjuru.


Magisna semakin menggigil dalam ketakutan.


Mobil itu tersendat-sendat lagi. Hendra berusaha menginjak pedal gas sekuat tenaga. Tapi mobil itu hampir tidak memberikan respon.


"Lihat itu!" Ais tiba-tiba berteriak dengan bersemangat. Kegembiraannya yang mendadak mengejutkan semua orang.


Triton Athlete yang tadi hampir menabrak mereka terparkir di tepi jalan di depan mereka.


Tapi bukan mobil itu yang ditunjuk Ais. Dia menunjuk ke arah bukit di atas mobil itu. 


Dari tempat Magisna duduk, ia tidak dapat melihat apa pun kecuali hujan dan pohon-pohon kelapa sawit yang menjulang tinggi di bukit yang rendah. Tapi Ais mengatakan ada rumah di atas bukit itu. Magisna kaget juga Ais bisa melihat rumah dari jarak yang jauh dari jalan dalam keadaan hujan.


"Mungkin sebaiknya kita berhenti juga," usul Ais. "Lagi pula kita sudah boleh tenang karena dalam perjalanan nanti kita tidak sendirian lagi," tutur Ais seraya mengerling ke arah Triton Athlete tadi.


Kesempatan bagus untuk berkenalan dengan Jati, batin Magisna licik.


Semua mata sekarang tertuju pada Magisna.


Magisna hanya angkat bahu.


"Apa yang bikin lu yakin kalau siapa pun yang di atas sana bakal terima kita?" tanya Hendra pada Ais. Lebih terdengar seperti tantangan dibandingkan pertanyaan.


"Orang-orang di sini sangat ramah," tukas Ais. "Tidak seperti orang kota," lanjutnya sembari mencebik pada Hendra. "Tidak ada orang yang akan menolak kita dalam badai seperti ini!"


Hendra mendengus tipis dan mendelik.


"Gua rasa gak ada salahnya dicoba," kata Magisna ketika Hendra meliriknya dengan isyarat meminta pendapat. Tapi kedengaran sedikit terlalu bersemangat, hingga Hendra memicingkan matanya dengan sikap curiga.


Magisna memalingkan wajahnya ke sembarang arah seraya mengusap-usap pangkal tangannya untuk menghangatkan diri.


Hendra menggigiti bibir bawahnya seraya berpikir keras. Tapi dia mengerem mobil itu juga pada akhirnya. 


"Dorong saja mobilnya ke sisi jalan," kata Agustin seraya melompat turun.


Hendra mematikan mesin, membuka pintu dan menapaki aspal yang basah, setengah banjir. Lalu menatap ke arah bukit, meregangkan tangan dan kakinya.

__ADS_1


Magisna tak dapat menunggu untuk melakukan hal yang sama. Meski tak sampai dua jam, ia merasa seolah-olah mereka sudah terperangkap dalam mobil selama berbulan-bulan.


Ia meloncat keluar dan mendarat dengan sebelah kakinya, lalu mengikuti arah pandang Ais. Memang benar, di sana ada rumah dari kayu merah di antara pohon-pohon sawit. Asap tipis mengepul dari cerobong batu di sisinya.


"Aku rela melakukan apa saja demi secangkir kopi," gumam Agustin di belakang Magisna.


Magisna terkekeh tipis seraya menoleh pada cowok itu. 


"Dan aku rela bacok-bacokan supaya bisa berendam di air hangat!" Ais menimpali.


"Jalan, mata elang!" kelakar Magisna seraya menepuk punggung Ais.


Ais menoleh dan menyeringai.


Magisna berbalik untuk melihat Hendra. Cowok itu segera mendekat, melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Magisna dan memapahnya. 


Mereka mulai berjalan beriringan mendaki bukit rendah yang landai di sepanjang jalan setapak yang lebar melewati pohon-pohon sawit yang berderet teratur di seluruh tempat.


Butuh waktu lama untuk mendaki bukit itu dengan langkah yang terpincang-pincang.


Tapi mereka semua terlihat gembira setelah keluar dari mobil, membayangkan rumah hangat dengan penghuni yang ramah. Tidak menghiraukan hujan lagi, tidak menghiraukan udara dingin, atau badai yang berputar-putar.


Magisna bahkan tidak terlalu peduli pergelangan kakinya berdenyut-denyut selama mendaki.


Tinggal beberapa meter dari depan pondok, rasa takut tiba-tiba muncul menyergap Magisna. Seketika gadis itu menggigil, bukan karena dingin. Tapi karena takut.


Tapi tentu saja ia berusaha mengabaikannya. Sudah terlalu terlambat untuk berubah pikiran, katanya dalam hati. Terlalu konyol untuk berbalik sekarang. Terlalu payah untuk menyerah begitu saja pada perasaan panik sesaat yang tak masuk akal.


Agustin mengetuk pintu depan pondok itu dengan keras.


Ais menjejak-jejakkan sepatunya pada lantai papan di teras pondok, menyingkirkan tanah merah yang melekat. 


Tidak ada yang keluar. Pintu itu tetap tertutup rapat.


Agustin mengetuk lagi.


Hening.


Apa pondok ini tidak berpenghuni? Magisna bertanya-tanya dalam hati. 


Lalu ke mana perginya orang-orang dalam Triton Athlete tadi? Bukankah mereka semua naik ke sini?


Angin bertiup di sekeliling mereka, membawa tempias ke teras pondok.


Magisna yang tenggelam dalam jaket Hendra yang besar menggigil, benar-benar kedinginan. Ia mengangkat kedua tangannya ke wajah untuk merasakan hidungnya. Tidak terasa apa-apa. Mati rasa. Ia membungkus tubuhnya dengan mengetatkan jaket itu untuk lebih menghangatkan diri lagi. Tapi seluruh tubuhnya basah kuyup dan tindakan itu justru menghasilkan tumpahan air lebih banyak dari jaket Hendra.

__ADS_1


Ais menoleh pada Magisna seraya tersenyum untuk membesarkan hatinya.


Apa aku terlihat begitu menyedihkan? pikir Magisna seraya memaksakan senyum.


__ADS_2