
Magisna memperhatikan dengan terkejut ketika Hendra dengan cepat membuat tiga obor. Lalu ia menggerayangi jaketnya dan mengeluarkan sekaleng kecil cairan pemantik.
Magisna terkesiap.
"Buat apaan lu bawa-bawa cairan pemantik?" tanya Novi. "Jangan-jangan lu sejenis maniak penyulut api?"
"Yang gua kerjain di waktu luang gua bukan urusan lu ya," jawab Hendra. Ia menyemprotkan cairan itu ke kain hingga basah.
Magisna mulai merasa cemas. Hendra agak terlalu aneh. Siapa yang membawa-bawa cairan pemantik ke mana-mana setiap saat?
Ia berkonsentrasi memperhatikan Hendra.
Hendra memegang pemantik di bawah obor dan pelan-pelan obor itu menyala. Terbakar lemah dan berasap banyak.
"Lebih baik daripada gelap total," ucapnya. Ia memberikan satu obor pada Dika dan satu pada Magisna. Ia sendiri memegang yang terakhir.
Novi melontarkan keluhan, tapi Magisna tidak menghiraukannya.
Magisna menatap tajam ke dalam kegelapan di setiap gang. Ia tak dapat melihat apa pun. Setiap jalan penuh dengan kemungkinan. Magisna ingin mencoba semuanya. Ia tak percaya betapa bersemangatnya ia sekarang.
"Yang mana yang kita pilih?" tanya Hendra.
"Sebelah kanan," kata Novi.
"Kenapa?" tanya Alexza.
"Kenapa enggak?" Novi balas bertanya.
Magisna menggenggam obornya erat-erat. Yang lain tampak sama bersemangatnya dengan dirinya. Sekarang atau tidak sama sekali.
"Laten feesten," seru Hendra antusias.
Mereka melangkah memasuki terowongan.
Aku tak sabar untuk menceritakan ini pada semua orang hari Senin nanti, pikir Magisna. Ia merasa begitu penuh semangat bertualang ketika berjalan melewati terowongan.
Tapi pasti tak ada yang akan mempercayaiku. Tak seorang pun akan percaya Eka Magisna yang praktis dan berpikiran sehat pergi menjelajahi labirin.
Tapi aku melakukannya!
Magisna mengikuti Hendra memutari sudut yang lain. Aku akan membawa sesuatu sebagai bukti bahwa aku benar-benar berada di sini, ia memutuskan.
Ia mengamati lantai sewaktu mereka berjalan. Tapi yang ia temukan cuma kaleng bir tua dan kantong-kantong keripik kentang.
"Hi-ho, hi-ho, kita pergi bekerja," Dika bernyanyi pelan.
Magisna mendengar Novi mendengus tertawa.
Memang lumayan lucu. Dika baru saja merusak citranya sendiri sebagai cowok hebat.
Magisna melihat tumpukan koran di dekat dinding. Barangkali ada surat kabar lama yang bisa kubawa, pikirnya.
Ia berjalan ke sana dan memungut satu. "Hei, kalian harus lihat ini," panggilnya.
__ADS_1
Novi segera menuju ke arahnya. "Apaan sih?"
"Ini Radar Banten tahun 1992," kata Magisna pada Novi. "Bukan dari zaman Belanda."
"Coba liat." Alexza merenggut surat kabar itu dari tangan Magisna. "Jadi bener, ada orang atau kelompok orang pernah masuk ke sini tahun 90-an."
Hendra memandang tajam melewati bahu Alexza. "Hebat," ia bergumam. "Ais ternyata gak bohong."
Magisna berlutut dan merenggut koran lain. Ia mendengar bunyi cekikikan pelan, begitu dekat di kupingnya.
Ia melompat menjauh, dan menubruk Alexza.
"Liat-liat dong," bentak Alexza.
"Sori, gua denger suara... tikus tadi," kata Magisna bohong.
"Ish, jijik. Gua mau balik aja," kata Alexza kepada mereka.
"Gua juga," Novi setuju.
"Gua gak mau!" Hendra berjalan terus di terowongan. Dika berjalan tepat di belakangnya.
Magisna mengamati lantai terowongan. Ia tidak melihat tikus seekor pun. Kukira aku memang mendengar suara tikus mencicit, dan mengira itu suara tawa cekikikan, pikirnya. Ia cepat-cepat mengejar Hendra dan Dika.
Beberapa detik kemudian ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Magisna tersenyum. Kurasa Novi dan Alexza tidak akan berani mencoba kembali ke sana tanpa obor.
Mereka berlima bergerak semakin jauh ke dalam labirin. Tak seorang pun bicara sekarang.
Magisna mendapati dirinya memikirkan cerita Hendra pada mereka. Gambaran tentang remaja lain menyerbu pikirannya. Anak-anak seperti dirinya, mungkin tersesat di bawah sini dan... tewas.
Magisna terus berjalan maju dengan susah payah, sementara obornya dipegang tinggi-tinggi. Ia tak bisa kembali, bagaimanapun juga. Dinding tampak semakin rapat dan rapat.
Sekali-sekali, tikus mencicit dalam kegelapan. Setiap saat pula, Magisna teringat cakar-cakar kecil yang menancap di tengkuknya. Dan ia teringat lagi pada suara cekikikan anak kecil perempuan itu.
Berada di sini tidak asyik lagi, katanya dalam hati. Aku mulai takut.
Apa sih yang kutakutkan?
Ia tahu. Di dasar hatinya ia tahu.
Ia selalu takut kegelapan. Waktu kecil, ia mengira monster hidup dalam gelap. Dan bahkan sekarang, ruangan gelap membuatnya takut.
Aku harus berhenti bersikap cengeng, katanya pada dirinya sendiri. Ia berusaha kuat mengenyahkan rasa takut itu, berusaha untuk tenang. Dan berhasil---sedikit. Ia dapat melihat melalui nyala obornya dan berkonsentrasi pada pola kotak-kotak kemeja flanel Dika di depannya.
Terowongan turun lebih dalam lagi. Tepat di atasnya, bunyi gemericik terdengar oleh Magisna.
Hendra berhenti.
"Apaan, Ndra?" tanya Magisna.
"Liat aja sendiri," sahut Hendra.
Magisna beringsut ke depan. Yang ia lihat adalah kolam air menggenangi seluruh gang tersebut. Air menyembur keluar dari langit-langit.
__ADS_1
"Dari mana datangnya air ini?" tanya Novi.
"Pertanyaan bagus," sambar Hendra, "kira-kira seberapa dalem, ya? Bisa nggak kita nyeberang?"
Magisna melihat sampah mengapung di kolam, timbul dan tenggelam karena semburan air.
"Gua gak peduli seberapa dalem," Alexza menggerutu. "Gua gak mau nyebrangin tu kolem!"
"Apa sih masalahnya?" tanya Hendra. "Cuma aer kok."
"Gak usah ya," kata Alexza sungguh-sungguh. "Gua gak bakal nyeberangin aer itu."
"Gua juga," Magisna setuju. Novi mengangguk.
Hendra memutar-mutar bola matanya. "Oke. Kita muter dan cari terowongan lain."
Hendra berbalik dan menuruni terowongan. Ia berbelok ke kanan lalu ke kiri, lalu ke kiri lagi. Magisna tetap berada dekat di belakangnya.
Kuharap kita kembali ke tangga, pikirnya. Aku siap untuk pergi dari sini.
Hendra berbelok ke kanan.
"Kenapa kita pergi ke arah sini," kata Novi. "Kita udah coba terowongan ini."
"Belum, kita belum ke sini," jawab Dika. "Keliatannya aja sama. Mereka semua keliatan sama."
Hendra terus berjalan.
"Kayaknya Novi bener deh," kata Alexza.
Hendra berhenti dan menyorotkan obornya ke sekeliling terowongan.
Magisna menyadari ia tidak tahu di mana mereka berada. Dan ia tidak tahu sama sekali bagaimana caranya kembali ke tangga. Mereka sudah berbelok tiga atau empat kali. Tapi mereka tadi belok kiri atau kanan? Ia tak ingat.
"Kita nyasar, kan?" tanya Magisna pelan.
"Kita gak nyasar kok," jawab Hendra.
"Ayo kita kembali ke tangga aja," kata Alexza. "Gua udah eneq di bawah sini."
"Gua juga," Dika setuju.
"Oke, oke," kata Hendra akhirnya. "Gua tau jalannya. Ayo!" Ia mulai menuruni terowongan lagi.
Yes! pikir Magisna. Kita akan keluar dari sini. Dan aku takkan kelihatan cengeng.
Hendra berbelok ke kanan.
"Lu yakin mau ke mana, Ndra?" tanya Alexza.
Hendra tidak menyahut.
"Kayaknya bukan ini deh jalannya. Kita bener-bener nyasar," gumam Novi.
__ADS_1
Beginikah orang-orang itu mati? tanya Magisna dalam hati. Apakah mereka juga tersesat di bawah sini?
Jangan memikirkan itu, ia memerintah dirinya sendiri.