Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 53


__ADS_3

Magisna baru berhenti menangis setelah Papa Tibi datang dan mengusapkan air ke wajahnya.


Gadis itu terperangah dan mengedar pandang seiring kesadarannya yang mulai pulih.


Aku di mana?


Aku siapa?


Itu adalah dialog kocak khas manga untuk menggambarkan kebingungan MC-nya.


Magisna tidak sekocak itu!


Dia hanya memicingkan mata dan mengamati semua wajah di sekelilingnya. Lalu mulai ingat di mana dia berada. "Anak itu—" desisnya tercekat.


Papa Tibi menekan lembut sebelah bahunya. "Dia tidak bermaksud jahat," katanya datar, tapi mengandung penekanan yang berarti. "Saya tidak bisa membantu banyak. Penglihatanmu tidak bisa disembuhkan."


"Penglihatan?" Magisna melengak tak mengerti.


Papa Tibi mendesah pendek dan mengedar pandang.


Magisna mengikuti arah pandang orang tua itu dan menyadari situasinya.


Banyak orang berkerumun memperhatikan mereka.


"Sebaiknya masuk dulu," ayah Ais mempersilahkan mereka untuk pindah ke ruang tamu.


Saat itu, mereka semua berada di teras, dan Magisna mendeprok di tengah-tengah kerumunan.


Ais dan Agustin membantu Magisna berdiri dan menuntunnya ke ruang tamu, lalu mendudukkannya di sofa.


Keluarga Ais berpamitan dengan hanya membungkuk sekilas seraya tersenyum.


Magisna balas membungkuk seraya tersenyum dengan sikap kikuk. "Maaf merepotkan semuanya," ungkapnya sungkan.


"Tidak perlu sungkan," jawab kakak perempuan Ais yang usianya mungkin hanya terpaut satu tahun di atas Agustin.


Satu demi satu tetangga mereka berpencar meninggalkan teras dan pekarangan rumah. Salah satu dari mereka masih berdiri di dekat pintu, menatap Magisna dengan ekspresi prihatin.


Dini Apriyanti.


"Masuk, Din!" Agustin mengundang Dini untuk bergabung.


Magisna tersenyum pada gadis itu.


Dini melangkah ke dalam dan bergabung di sisi Papa Tibi, berseberangan dengan Ais dan Agustin yang mengapit Magisna.


"Anak perempuan yang kamu lihat tadi merupakan manifestasi dari sosok Nyi Ageng," tutur Papa Tibi pada Magisna. "Namanya Suzy."

__ADS_1


Magisna menyimaknya dengan ekspresi takjub. Takjub pada semua yang terjadi, takjub pada cara Papa Tibi memilih kata-kata. Semuanya benar-benar menakjubkan, pikir Magisna. Begitu menakjubkan sampai-sampai aku merasa sinting.


"Entah sejak kapan hal itu di mulai, tapi penglihatan kamu sedikit istimewa," lanjut Papa Tibi. Tetap datar dalam tempo teratur.


Magisna menelan ludah dan berdeham. "Seingat saya, saya mulai liat yang aneh-aneh sejak saya pindah ke sini," desis Magisna parau.


Papa Tibi tersenyum tipis. "Ada perbedaan antara penampakan dengan penglihatan," jelasnya lembut. "Penampakan hanya akan terjadi ketika entitas terkait mengizinkannya. Sementara penglihatan bisa terjadi meski entitas bersangkutan tidak mengharapkannya. Dengan kata lain, penampakan terjadi di bawah kendali suatu entitas, sementara penglihatan terjadi di luar kendali. Tapi khusus untuk kasusmu ini... sedikit berbeda."


"Berbeda?" Magisna mengerutkan keningnya, berusaha keras mencerna penjelasan yang disampaikan Papa Tibi. Kemudian menyerah. "Saya gak ngerti," ia mengaku.


"Sederhananya begini," Papa Tibi berdeham dan menautkan jemarinya dengan kedua siku bertopang di atas lututnya. "Penampakan menghasilkan interaksi, sementara penglihatan tidak. Tapi kamu sepertinya mengalami keduanya secara bersamaan."


Magisna mulai mengerti. Pertama kali dia melihat anak perempuan berambut pendek dengan seragam SMU, tidak terjadi interaksi. Itu adalah penglihatan. Pertemuan kedua mereka baru terjadi interaksi, itu adalah penampakan. Selebihnya… penampakan semua.


"Rasanya lebih banyak penampakan dibanding penglihatan," gumam Magisna.


Papa Tibi tersenyum tipis sekali lagi. "Paling tidak dugaan saya benar bahwa penglihatan kamu sedikit istimewa."


Agustin menoleh pada Magisna seraya tersenyum lebar.


Magisna hanya melengak.


"Jadi, kapan hal itu dimulai?" tanya Papa Tibi.


"Rasanya baru kemaren," jawab Magisna tak yakin. "Saya liat anak itu di kelas saya, saya juga heran kenapa ada anak SMU di kelas sekolah kejuruan. Tapi anak itu kayak gak peduli sekitar."


"Itu penglihatan," sela Papa Tibi.


Papa Tibi tersenyum maklum. "Baik," katanya. "Yang tadi berarti penampakan. Apa yang kalian bicarakan selama perjalanan?"


Magisna tiba-tiba terhenyak mengingat sesuatu. Dia juga bicara soal mata ketiga, ia menyadari.


Papa Tibi serentak bertukar pandang dengan Agustin, sementara Ais dan Dini menatap Magisna dengan ekspresi menunggu.


"Dia ngomong soal mitos mata ketiga setelah mati suri," kata Magisna ragu-ragu.


"Kamu pernah mati suri?" Ais bertanya setengah memekik.


Magisna tak langsung menjawab. Apa aku mengalami mati suri setelah kecelakaan itu?


"Apa koma bisa dibilang mati suri juga?" Magisna balas bertanya. Tatapannya langsung diarahkan pada Papa Tibi.


Papa Tibi setentak menggeleng. "Orang koma hanya kehilangan kesadaran, bukan kehilangan nyawa," tuturnya kembali datar. "Yang dimaksud mati suri adalah kehilangan nyawa selama sesaat. Situasi di mana jiwa sempat terpisah dari raganya."


Ternyata benar, kata Magisna dalam hati. Aku memang pernah mati suri!


Aku sempat jadi hantu selama semalam.

__ADS_1


Pembalasan macam apa yang cocok untuk Penulis Keparat?


Kesampingkan itu dulu!


Bukankah ada hal yang lebih penting yang ingin mereka tanyakan pada Papa Tibi.


Soal kerasukan itu!


"Bagaimana dengan kerasukan?" Agustin menginterupsi.


"Kerasukan tidak ada bedanya dengan penampakan," jawab Papa Tibi. "Kerasukan juga terjadi di bawah kendali entitas terkait."


"Bukan itu maksud saya," sergah Agustin. Lalu melirik Magisna dengan ekspresi ragu.


"Ini soal temen saya," sela Magisna. "Temen-temen saya, sama kepala sekolah…"


Papa Tibi masih menunggu penjelasan Magisna yang terbata-bata dengan raut wajah penuh pengertian. Begitu sabar dan memaklumi.


"Gimana keadaan mereka waktu Bapak nemuin mereka?" tanya Magisna akhirnya.


"Mereka semua ditemukan dalam keadaan pingsan," jawab Papa Tibi tetap datar.


Magisna setentak menoleh dan bertukar pandang dengan Agustin.


"Benar," kata Agustin terkejut, seperti baru saja menyadari sesuatu. "Hendra juga ditemukan dalam keadaan pingsan!"


"Begini," Magisna memulai cerita. Lalu berdeham dan mengatakan semuanya tentang Senja. Menjelaskan bagaimana Magisna melihatnya merebut tubuh anak laki-laki yang sedang koma dan melihat perubahan pada warna matanya setelah dirasuki. Lalu ia mulai menghubung-hubungkan hal itu dengan perubahan pada teman-temannya dan membuktikannya pada Dika.


Papa Tibi menyimaknya dengan sabar dan tidak sekali pun mencoba menyela.


"Sejak kejadian itu, mereka semua pake kacamata. Dan… saya curiga mereka semua dirasuki kayak Kiddo."


Papa Tibi masih terdiam setelah Magisna selesai bicara. Tapi jelas terlihat bahwa ia sedang berpikir keras.


Seisi ruangan membeku memperhatikan orang tua itu. Menunggunya mengatakan sesuatu.


"Ada yang salah dengan tradisi," ungkap Papa Tibi akhirnya.


"Tradisi?" Keempat remaja di ruang tamu itu melengak bersamaan.


"Saya berbicara soal sistem," jelas Papa Tibi.


Magisna menelan ludah. Kata-kata hantu anak SMU terngiang dalam benaknya.


"Aku berbicara soal sistem! Rumah Van Til adalah simbol peradaban kolonial. Budaya penjajahan yang berevolusi menjadi parameter atas hukum adat, kemudian melahirkan kultus. Dan Gardu lonceng adalah salah satunya! Gardu lonceng telah menjelma sebagai Mahkamah Prohibisi! Setiap orang menunggu keputusannya. Dan setiap keputusannya dipatuhi setiap orang. Tanpa terkecuali. Sementara itu, sejarah hanya mencatat kepingan narasi tanpa bukti. Lalu berkembang menjadi stigma. Legenda rumah Van Til adalah hikayat para penindas yang dianut para penduduk secara turun-temurun namun hukumnya tetap dipatuhi, dari generasi ke generasi. Rumah Van Til hanya salah satu dari sejarah yang dikultuskan. Sisa penjajahan yang menjadi sejarah yang dibumbui. Gedung SMU kami memang masih baru, tapi sistem pendidikannya sudah bobrok."


"Anak itu berbicara soal kebobrokan sistem pendidikan," gumam Magisna.

__ADS_1


Seisi ruangan menatapnya dengan alis bertautan.


"Suzy!" tandas Magisna.


__ADS_2