
"Kenapa kalian masih di sini?" Senja bertanya di antara kuapannya.
Magisna tak bereaksi.
"Mobil kita masuk jurang, Ais sama Agustin gak tau ke mana!" Hendra mengedikkan sebelah bahunya acuh tak acuh.
Senja memicingkan matanya, mengamati Hendra dan Magisna secara bergantian.
Magisna menggigil seraya mendekap dirinya sendiri.
Hendra meliriknya dengan dahi berkerut-kerut, kemudian melirik Senja dengan curiga—masih berpikir bahwa Senja mendatangi kamar Magisna tadi malam.
Kalau begitu tadi malam Gabe tidak bertengkar dengan Senja, Hendra menyimpulkan. Mungkinkah Gabe bertengkar dengan Ais dan Agustin? Dan tembakan itu…
Senja melangkah melintasi ruangan menuju jendela.
Magisna menelan ludah dan beringsut di sofa, menaikkan kedua kakinya dan memeluk lututnya.
Senja meliriknya dengan curiga. "Di mana Gabe?" Ia bertanya setengah menyelidik.
Magisna tidak menjawab.
Senja menoleh pada Hendra yang masih tertegun mengawasi Magisna.
Magisna berbalik dan melihat Gabe datang dari dapur.
Senja dan Hendra mengikuti arah pandangnya.
"Di sana kau rupanya!" Senja menyeringai dan menghampirinya.
Gabe melewatinya dan berjalan ke arah telepon. Dia mengangkat gagang telepon dan mendengarkan. Lalu menurunkannya lagi sembari mendesah dan menggeleng-geleng.
Dia kelihatan berusaha keras, pikir Magisna.
"Apa teleponnya rusak?" Senja bertanya pada Gabe.
Gabe tidak merespon.
Magisna melirik ke arah Hendra dan bertukar pandang.
Hendra sama sekali tidak menyadari ada yang salah, Magisna menyimpulkan. Tentu saja, dia takkan mengira Gabe tidak bisa melihat Senja.
Jadi kenapa kami bisa melihatnya? Magisna bertanya dalam hati.
Senja berjalan ke arah meja telepon itu dan mengeceknya, lalu membanting gagang teleponnya.
Gabe terperanjat dan menoleh ke meja telepon dengan terbelalak.
Hendra dan Magisna menatapnya, sementara Senja dengan marah berjalan mondar-mandir, menyumpah-nyumpahi kerusakan telepon itu.
"Aku pasti tidak meletakkannya dengan baik," gumam Gabe. Dia mengalihkan perhatiannya pada Magisna, memandangnya dengan gugup.
Magisna membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi Gabe telah kembali ke dapur, dan Senja mengikutinya.
Hendra tertegun memandangi keduanya. Belum menyadari apa yang terjadi.
Magisna mengetatkan pelukan pada kedua lututnya, duduk meringkuk di sudut sofa dengan tubuh menggigil, melirik kotak kaca di sudut ruangan, menatap senjata-senjata di dalamnya dengan ekspresi ngeri.
Yang satunya manusia berbahaya, yang satunya lagi bukan manusia. Magisna membatin gusar.
Magisna sudah tak sabar untuk buru-buru pergi, meninggalkan pondok aneh ini dan tidak kembali lagi.
__ADS_1
Di luar angin menderu kencang dan hujan terus turun.
Sesaat Magisna memandang keluar yang tampak kelabu, mencoba melihat ke arah jalan, dan melihat seseorang di luar menatap ke dalam melalui jendela.
Magisna berteriak, kaget.
Hendra terperanjat dan menoleh pada Magisna, kemudian mengikuti arah pandangnya.
Seluruh wajah orang itu ditutupi topeng ski warna hitam.
Dia mencondongkan badannya ke jendela, begitu dekat hingga napasnya berembun pada kaca.
Bahkan melalui kaca yang berkabut, Hendra dan Magisna bisa melihat bahwa orang itu sedang menatap ke arah Magisna.
Magisna membeku di tempatnya, balas menatapnya untuk beberapa saat.
"Siapa itu?" Hendra berteriak.
Tanpa pikir panjang, Magisna melompat dari sofa dan berlari ke jendela, bergabung di sisi Hendra.
Kaca jendela masih berembun karena napas si orang asing. Tapi dia telah pergi.
Magisna berjinjit, menekankan kepalanya ke kaca, mencoba melihat ke sekeliling pondok. Tapi tidak ada seorang pun di sana sekarang.
"Dia udah kabur," kata Hendra. "Dia ngilang! Liat—masak jejak kakinya berenti beberapa langkah dari jendela."
"Aneh!" desis Magisna. Dia mendorong Hendra ke samping agar dapat melihatnya lebih jelas.
"Dia keliatan serem kek di film horor," kata Hendra.
"Tapi dia siapa?" tanya Magisna.
"Kalo lu nanya gua, terus gua nanya sapah?" Hendra mengerang menanggapinya.
"Serem!" timpal Hendra. Nada bicaranya terdengar sama takutnya dengan Magisna.
Dia sama sekali tak membantu, pikir Magisna.
"Kalo tadi cuma orang nyasar, kenapa dia gak ngetuk pintu? Kenapa dia cuma ngintipin kita?"
"Pertanyaan bagus," Magisna mendengus. Jantungnya masih berdebar-debar.
"Apa yang terjadi?" panggil Gabe dari pintu dapur.
"Ada orang di luar," jawab Magisna.
"Apa?" Gabe keluar dari pintu dapur, diikuti Senja di belakangnya.
Magisna melirik ke arah Senja dengan gusar. Senja benar-benar menghantui Gabe, pikirnya getir. Dia mengikutinya ke mana-mana. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika Senja tahu bahwa Gabe tidak bisa melihatnya?
Senja belum menyadari bahwa dirinya sudah mati!
Apa yang akan terjadi jika dia tahu kalau dia sudah mati?
Apakah dia akan menghilang?
"Ada orang pake topeng ski, ngintipin kita dari jendela!" Hendra menambahkan.
Gabe terdiam dengan wajah pucat, sementara Senja mulai mondar-mandir di dekat jendela.
"Kau yakin itu bukan kerjaan iseng teman-temanmu?" Senja bertanya pada Hendra dengan tatapan curiga.
__ADS_1
Hendra terdiam dan berpikir keras. Lalu menggeleng tak yakin.
Gabe meliriknya dengan alis bertautan.
Jangan berbicara pada Senja! perintah Magisna dalam hati.
Hendra tetap diam, seolah bisa mendengar harapan Magisna.
Waktu baru menunjukkan pukul sebelas menjelang siang, tapi hari sudah gelap seperti malam. Angin menderu menggetarkan jendela. Kilat berkeredap selama beberapa saat, tapi tak segera lenyap.
Suasana menjadi sedikit tegang.
Magisna merasa gelisah.
Senja kembali mengoceh dan mengumpat-ngumpat.
Hendra sudah hampir terpancing untuk mendebatnya.
Jangan katakan apa pun! Magisna memohon dalam hati.
Hendra mengetatkan rahangnya dan bersiap menyemburkan kata-kata.
Tapi suara langkah kaki di serambi mengusik mereka.
Senja menerjang ke arah pintu dan membukanya.
Gabe melompat terkejut, memekik tertahan dan terengah-engah.
Hendra menghambur keluar menyusul Senja yang sudah menghilang.
"Hendra!" Magisna berteriak untuk mencegahnya. Tapi bukan Hendra Dwi Maulana nanamnya kalau dia mendengarkan peringatan. Dia tak pernah berpikir panjang sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Gabe berdiri gemetar memandangi pintu.
Magisna menelan ludah dengan susah payah, kemudian berdeham, "Gabe—"
Haruskah aku mengatakan padanya soal Senja? Magisna menimang-nimang. Tapi kemudian mengurungkan niatnya.
"Gabrielle biasanya paling benci kalo rahasianya diketahui orang asing."
Kata-kata Jati melintas dalam kepalanya.
Dia kembali melirik kotak kaca di sudut ruangan dengan tatapan gelisah.
Pikirkan saja cara keluar dari sini! batin Magisna. Tak perlu melibatkan diri terlalu jauh. Setelah keluar dari sini, aku takkan bertemu dengan dia lagi.
Gabe menatapnya dengan dahi berkerut-kerut kebingungan.
Tapi Magisna hanya tergagap. Tak yakin harus mengatakan apa.
"Aku tahu kau pasti bingung memikirkan kedua temuanmu," kata Gabe seraya mendekatinya. "Dan mobil itu…"
Magisna mengangguk cepat-cepat.
"Aku juga tak yakin apa tepatnya yang sedang terjadi," lanjut Gabe. "Maksudku… kalian menerobos masuk ke pondokku, lalu dua teman kalian hilang dan mobil kalian terperosok ke dalam jurang."
Magisna tertunduk semakin dalam. "Saya minta maaf soal itu. Tapi—"
"Aku sudah memperbaiki mobilnya," sela Gabe, memotong perkataan Magisna.
Magisna mengangkat wajahnya dan menatap Gabe dengan sorot mata yang berbinar-binar.
__ADS_1
"Aku akan segera mengantar kalian pulang setelah hujan reda dan mencari bantuan."