
Elang itu menyurukkan kepalanya di bawah rahang pria berjubah gelap seolah meminta perlindungan.
Pria itu menoleh pada Magisna dan seketika Magisna tergagap. Dia luar biasa tampan, pikirnya. Ketampanan pria itu membekukan dunia.
Ketampanannya… mengerikan!
Seketika bulu kuduk Magisna meremang. Tanpa sadar ia langsung tertunduk.
Suzy menarik punggungnya dari dinding, dan berjalan melewati pria itu seraya mengacungkan tinju ke arah elang emas yang bertengger di bahunya. Kemudian menghampiri Magisna.
Magisna mengangkat wajahnya lagi dan mendongak menatap Suzy.
Su Si melompat-lompat di sisi pria berjubah gelap tadi sembari menarik-narik lengan jubahnya---tidak lupa sambil cekikikan.
Pria itu kemudian membungkuk dan menarik hantu gadis kecil itu ke dalam gendongannya. Elang emas di bahunya mematuk punggung tangan Su Si. Gadis kecil itu menyentil pelatuknya. Lalu keduanya mulai saling menyerang satu sama lain. Tapi pria berjubah misterius itu seolah tidak terganggu dengan tingkah laku keduanya.
"Saatnya pulang, anak-anak!" Perempuan di sampingnya beranjak dari lantai, dan merenggut tubuh mungil anak teror itu dari gendongan suaminya. Dan seketika elang emas itu ikut berpindah ke bahu perempuan itu. Lagi-lagi kedua hantu itu saling baku hantam seperti anak-anak berebut mainan.
Pria berjubah gelap itu serentak membungkuk dan berjongkok di lantai, lalu secara perlahan sosoknya berubah---kembali menjadi macan kumbang raksasa.
Semua orang menatapnya dengan gentar.
Perempuan itu menaiki punggungnya dan bumi spontan bergetar dan menggelegar.
Semua orang tersentak dan jatuh berlutut.
Angin kencang kembali berembus, dan kilat berkeredap di atas kepala semua orang.
Kemudian gelap total.
Keheningan menyergap mereka selama beberapa saat.
Hingga…
Lentera Pak Isa berkeredap dan menyala seketika.
Semua orang terperangah dan menoleh ke sana kemari dengan kebingungan.
Sosok misterius itu sudah raib seperti ilusi.
Suzy membungkuk di atas kepala Magisna seraya mengulurkan tangannya pada gadis itu.
Magisna meraihnya tanpa ragu. Kemudian Suzy menariknya berdiri.
Orang-orang yang tak bisa melihat Suzy menatap Magisna dengan mata membulat.
Pak Isa juga berdiri. Lalu menatap ragu ke arah Suzy. Seperti sedang berusaha mengatakan sesuatu.
Galang dan Leo berdiri kikuk di belakangnya.
Magisna melirik ke arah Galang dan seketika bulu kuduknya kembali meremang.
Pria tampan itu ternyata siluman ular, batinnya tak bisa terima.
"Ada yang mau ditanyakan?" Suzy mengerling pada Pak Isa.
"Kenapa aku masih bisa melihat hantu?" tanya Pak Isa.
Ya! Magisna mengerutkan dahinya, mempertanyakan hal yang sama. Kenapa aku juga masih bisa melihat hantu? Kukira kemampuan itu datang dari Galang? Magisna melirik Galang sekali lagi. Pria itu balas meliriknya. Membuat Magisna kembali merinding.
"Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" Suzy balas bertanya.
"Kukira aku bisa melihat hantu karena…" Pak Isa melirik pada Leo.
Tiba-tiba Suzy terkekeh. "Karena Leo?"
"Ya," jawab Pak Isa singkat.
Benar! Magisna menimpali dalam hati. Kukira juga begitu tadi.
__ADS_1
"Kalian berdua bisa melihat hantu karena pernah mati suri," jelas Suzy.
Magisna dan Pak Isa kemudian saling melirik.
"Apa yang terjadi pada kalian, merupakan pengulangan dari masa lalu!" tutur Suzy sembari tersenyum.
Pak Isa melirik Magisna lagi. Itu kata-kata Magisna, pikirnya.
"Tidak ada yang baru di bawah matahari!" Suzy menambahkan.
Magisna menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Tiba-tiba saja ia merasa lelah.
"Kembalikan mereka ke tempatnya masing-masing!" perintah Suzy pada Leo.
Magisna melirik pada Jingga dan menyadari gadis itu sudah tidak berada di tubuh Dika.
Leo membungkuk di atas jiwa Dika yang meringkuk di tengah ruangan, kemudian menariknya ke arah tubuhnya yang juga tengah meringkuk di dekat kaki Pak Isa.
Pak Isa beringsut sedikit untuk memberinya ruang.
Jingga tiba-tiba bergabung ke tengah ruangan dan membantu Leo, menarik jiwa Novi ke tubuhnya.
Magisna menatap gadis tomboi itu seraya menahan senyumnya. Jiwa sosialnya terusik, pikir Magisna.
Galang membopong jiwa Magisna dan membawanya ke hadapan gadis itu.
Magisna spontan tergagap. Tak tahu bagaimana ia harus bereaksi. Di satu sisi, ia tak bisa mengingkari perasaan kagumnya pada pria itu. Tapi di sisi lain, ia menyadari sepenuhnya bahwa… dunia mereka berbeda. Tidak seharusnya dia mengagumi pria itu.
Beginikah kisahku berakhir?
Miris!
Magisna membatin getir dan mengutuk penulisnya.
Ditatapnya wajah Galang dengan perasaan terluka, tapi senyum pria itu memupus segala keresahannya.
Pria itu menaikkan kedua tangannya, mengangkat jiwa Magisna yang tengah tertidur.
Dan ketika jiwa itu berpindah tangan, jiwa itu bercahaya, kemudian berkeredap dan menghilang.
Sekali lagi, tubuh Magisna seperti tersengat aliran listrik. Kemudian menghentak dan seketika itu juga tubuhnya terasa segar.
Cowok-cowok di seberang lorong terkesiap menatap Magisna. Mereka menangkap keredap cahaya itu di tubuh Magisna.
Papa Tibi tersenyum hangat, sebagaimana layaknya seorang ayah yang sedang merasa bangga.
Magisna membalas senyumannya dan bertukar pandang dengan Pak Isa.
Pak Isa melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian tersenyum tipis. Begitu tipis sampai-sampai semua orang tidak menyadari kalau ia sedang tersenyum. Tapi binar matanya tak bisa berdusta. Kepala sekolah itu terlihat jelas sedang merasa bangga.
Novi dan Dika mulai sadarkan diri. Keduanya mulai bergerak dan membuka mata. Lalu mengerjap dan tergagap kebingungan.
"Jatah gembel udah abis!" kelakar Magisna.
Kedua temannya merangkak menarik bangkit tubuhnya dari lantai.
Galang dan Leo membopong jiwa Hendra dan Alexza, lalu Suzy menginstruksikan kedua pria itu untuk mengikutinya.
Suzy berjalan di depan mereka menuju jalan keluar, kemudian berhenti sebentar dan menoleh pada Magisna. "Sampai jumpa di ruang ICU!" godanya.
Magisna tersenyum lebar. Kemudian membungkuk untuk membantu Novi berdiri.
"Pak Is!" Novi mendesis seraya menatap kepala sekolahnya dengan raut wajah bingung.
Dika menarik sendiri tubuhnya hingga berdiri, kemudian mengedar pandang. "Di mana Hendra sama Alexza?"
"Di rumah sakit!" jawab Magisna.
"Rumah sakit?" Dika dan Novi memekik bersamaan.
__ADS_1
"Gak pa-pa," kata Magisna. "Mereka cuma pingsan!"
"Gua sama Novi juga pingsan tadi!" protes Dika pada Magisna. "Kenapa kita gak dibawa ke rumah sakit juga?"
"Abis ini kita mau ke rumah sakit kok!" tukas Magisna.
Dika memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak. "Telat, Bangsad!" rutuknya sebal.
"Sapa suruh lu sadar duluan?" dengus Magisna.
"Sudah-sudah jangan berteman!" Novi mengerang menyela keduanya.
Dika dan Magisna menoyor pelipis Novi di kiri-kanannya.
Seisi ruangan serentak terkekeh dan mulai bergerak, bersiap meninggalkan Doolhof.
Jingga menyempil di antara Magisna dan Pak Isa ketika semua orang mulai beranjak dan berjalan menuju pintu keluar. Dia tahu hanya kedua orang itu yang bisa melihatnya.
Dika bergabung dengan Ais. Sementara Novi menempel erat di sisi Magisna sembari menggamit lengannya.
Kiddo dan Agustin berjalan paling depan bersama Papa Tibi.
Semua orang berjalan santai sembari berbincang-bincang ringan.
"Pak…" Magisna menoleh pada Pak Isa.
Kepala sekolah itu balas meliriknya seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Gimana Senja meninggal?" tanya Magisna.
"Terjebak dalam labirin," jawab Pak Isa.
Magisna menelan ludah.
Novi terperangah. "Siapa Senja?" tanyanya kebingungan.
"Kabut merah itu," jawab Magisna.
"Kabut itu arwah gentayangan?" tanya Novi tak puas.
"Yap!" jawab Magisna singkat.
"Kabut itu tercipta dari serpihan tubuhnya," gumam Pak Isa.
Novi dan Magisna serentak menoleh pada Pak Isa.
"Tubuhnya tak pernah ditemukan," Pak Isa menambahkan.
Uh-oh! Pikir Magisna sembari bergidik. "Terus kenapa setiap orang yang tertangkap berubah…" Magisna menggantung kalimatnya dan mengerling ke arah Novi.
Pak Isa bisa menangkap kebimbangan Magisna. Kemudian segera menjawabnya, "Karena sepanjang sisa hidupnya ia memburu macan siluman!"
Novi kembali terperangah. Menatap Magisna dan Pak Isa secara bergantian, menuntut penjelasan.
"Kalian semua sempet kesurupan siluman macan setelah terjebak dalam kabut itu," Magisna mengarang bebas.
"Oh!" Novi menggumam seraya menautkan alisnya. "Kek mana waktu gua kesurupan?" tanyanya penasaran. "Aing maung… aing maung… gitu ya?"
Magisna terkekeh. Jingga tergelak di sampingnya.
Pak Isa tersenyum diam-diam.
Sekarang kami tahu, pikir Magisna. Penulis Keparat ini sudah mulai kehabisan ide. Dia akhirnya gagal lagi membuat cerita panjang.
Cerita ini sudah tamat!
.......
.......
__ADS_1
.......
...⚓...