Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 41


__ADS_3

Mereka semua terlihat pucat di bawah cahaya lampu pijar yang suram. Kulit mereka terlihat keabu-abuan seperti hantu.


Tiupan angin menutup pintu gudang hingga terbanting keras, mengagetkan mereka.


Magisna merangkul Miss Pinkan. Dia terlihat seperti mau pingsan, atau hampir gila.


Kalau Hendra sudah gila sejak awal! šŸ˜


"Shhhh…. Shhhh…" Miss Pinkan menepuk-nepuk lembut punggung Magisna, berusaha menenangkannya. "Tidak apa-apa," katanya. "Kalian sudah selamat. Polisi sedang dalam perjalanan menuju ke sini!"


Magisna menarik kepalanya menjauh dari dekapan Miss Pinkan, menatap Miss Pinkan dengan alis bertautan.


"Orang tua kamu, menghubungi saya setelah sebelumnya menghubungi pihak sekolah dan tidak ada yang menjawab panggilan," tutur Miss Pinkan. "Saya langsung ke sekolah dan mendapat kabar dari Papa Tibi bahwa kalian sudah dalam perjalanan pulang bersama dua pemuda setempat. Jadi saya segera menyusul kalian."


"Bagaimana Anda bisa tahu kami berada di sini?" Magisna bertanya setengah menyelidik.


Miss Pinkan mendesah pendek. "Saya hanya mengikuti jalan, saya tahu jembatan itu roboh dan kalian pasti memutar untuk mencari jalan alternatif."


Hendra dan Magisna bertukar pandang. Masih belum yakin apakah Miss Pinkan bisa dipercaya. Terutama mengingat tulisan yang mereka temukan di Doolhof.


PINKAN MILIAR HARUS BERTANGGUNG JAWAB!


"Ada persimpangan tak jauh dari tempat ini," sela Magisna.


"Itu jalan buntu, Eka!" sergah Miss Pinkan. "Meski kalian pernah melewati jalan itu, kalian pasti kembali memutar ke jalan utama. Saya tidak perlu mengikutinya, kan?"


Jadi itu memang jalan buntu? pikir Magisna. Jati tidak berbohong!


Bagaimanapun juga Miss Pinkan penduduk asli sini. Dia tentu lebih mengenal seluk-beluk tempat ini dibanding Hendra dan Magisna.


Tapi Ais juga penduduk asli sini, kan?


Ditambah dia juga seorang pekerja perkebunan. Dan sebagai pekerja perkebunan, seharusnya Ais jauh lebih tahu.


Lalu kenapa Ais mengusulkan jalan buntu itu?


Apa sebenarnya yang sedang kupikirkan? Magisna berusaha menepiskan kekacauan dalam kepalanya. Lalu teringat sesuatu.


Ais dan Agustin…


Jati dan teman-temannya…


Bagaimana dengan mereka?


Mereka masih menghilang!


"Saya sudah menghubungi polisi," kata Miss Pinkan.


Bagus, pikir Magisna. "Tapi kenapa?" Ia bertanya. "Gabe berniat mengantarkan kami pulang."


"Gabe pernah terlibat kasus pembunuhan, Eka!" Miss Pinkan memberitahu.


Hendra terbelalak terkejut.


Magisna sudah tahu ceritanya. Tapi sampai sejauh ini, dia tidak melihat kejahatan Gabe. Lagi pula tidak ada bukti. Bagaimanapun dia sudah menunjukkan niat baiknya mengantar kami pulang, pikirnya.


Baiklah, koleksi senjata itu memang sedikit mengganggunya. Tapi dia tidak melihat Gabe menggunakannya. Kecuali… "Hanya untuk berjaga-jaga saja," katanya.


"Kalian sudah menghilang lebih dari dua puluh empat jam!" Miss Pinkan menambahkan.


"Kami hanya terjebak hujan, itu saja," kata Magisna. "Lagi pula kami sedang bersiap untuk pulang. Gabe sedang berusaha mengantarkan kami, sampai… Anda tiba-tiba muncul dan…"


Miss Pinkan memicingkan matanya.

__ADS_1


"Saya mendengar suara tembakan—" Magisna balas menatap Miss Pinkan. "Saya melihat Anda jatuh. Anda kena tembak!"


Hendra tergagap ketika Magisna meliriknya.


"Tidak!" sergah Miss Pinkan. "Saya yang menembak."


Magisna dan Hendra terdiam.


"Hanya tembakan peringatan! Saya menembakkannya ke udara." Miss Pinkan melanjutkan.


"Jadi itu bukan pistol Hendra?" Magisna berseru terkejut.


"Hendra punya pistol?" Miss Pinkan menatap Hendra, tak kalah terkejut.


Hendra menggeleng. "Itu pistol Gabe. Saya cuma megangin doang."


"Jadi untuk apa kalian membawa pistol?" Miss Pinkan bertanya tajam.


"Anda sendiri bawa pistol, kan?" Hendra balas bertanya.


Miss Pinkan mengetatkan rahangnya. "Hanya untuk berjaga-jaga," kilahnya.


"Ya, Gabe juga bilang gitu!" balas Hendra.


"Saya berusaha menolong kalian," sanggah Miss Pinkan.


"Sebagai pahlawan bertopeng?" sindir Hendra.


Miss Pinkan memelototinya.


"Anda udah nyiapin semuanya dari rumah, ya kan?" Hendra balas memelototinya. "Bawa senjata api, pake topeng ski, ngumpet di gudang…"


"Hendra!" Miss Pinkan menghardiknya. "Saya melihat mobil kalian didorong ke jurang. Apa menurutmu itu tidak mencurigakan? Apa salah kalau saya berinisiatif untuk menolong kalian dengan cara seperti ini?"


Hendra terdiam. Tapi masih menatap Miss Pinkan dengan tajam. Masih tak yakin dengan penjelasannya.


Miss Pinkan menggeleng. "Saya juga tak yakin," akunya. "Saya tidak bisa melihat wajah mereka."


"Mereka?" Hendra dan Magisna bertanya serempak.


"Ada empat orang yang mendorong mobil kalian. Tapi mereka semua mengenakan hoodie!"


Magisna membekap mulutnya. Mungkinkah itu Jati dan teman-temannya? Ada dua orang di jok penumpang belakang waktu itu, pikirnya. Dan itu artinya jok penumpang depan terisi seseorang. Mereka berempat!


Tidak, sergahnya dalam hati. Mobil mereka juga terperosok!


"Aaaargh!" Hendra mengerang frustrasi. "Gua baru inget Ais sama Agustin masih ilang!"


Magisna mengerjap dan menelan ludah.


"Kita ampir ninggalin mereka!" Hendra mengingatkan Magisna.


"Tapi kita harus pergi dari tempat ini secepatnya sebelum Gabe sadarkan diri!" Miss Pinkan bersikeras.


Ini sedikit mencurigakan, pikir Magisna. "Bukannya tadi Miss Pinkan bilang polisi sedang dalam perjalanan?"


"Benar, Eka. Saya sendiri yang menghubungi mereka. Tapi situasi kalian masih belum aman—"


BRAKKK!


Pintu gudang berderak membuka. Gabe muncul dengan pistol di tangannya.


Mereka semua tersentak.

__ADS_1


Moncong senjata di tangan Gabe terarah pada Miss Pinkan.


"Gabe—" Magisna tergagap.


Gabe tidak bereaksi. Tetap terpaku pada Miss Pinkan.


Hendra mencengkeram lengan Magisna diam-diam, kemudian menariknya menjauh.


"Berhenti!" Gabe mengalihkan moncong senjatanya ke arah Hendra.


Hendra dan Magisna membeku di tempat.


Miss Pinkan menyelipkan sebelah tangannya ke belakang tubuhnya.


Gabe menodongnya lagi.


Miss Pinkan menarik tangannya lagi dan mengangkat kedua tangannya di sisi tubuhnya.


"Ada yang bisa jelaskan apa tepatnya yang kalian rencanakan?" Gabe menggeram pada Miss Pinkan.


"Rencana?" Hendra menggumam.


Gabe meliriknya, tapi moncong senjatanya tetap terarah pada Miss Pinkan. "Kalian menerobos masuk ke dalam pondokku, ingat?"


"Kita gak nerobos!" sergah Hendra. Magisna mencubit lengannya.


Gabe mengayunkan senjatanya ke arah Hendra. Kedua matanya serentak terpicing.


Hendra tergagap. Baru ingat kalau Gabe tidak bisa melihat Senja.


"Kalian memata-mataiku?" Gabe bertanya lagi.


"Enggak!" Magisna menyela.


Dan secara otomatis moncong senjata di tangan Gabe beralih pada Magisna.


Magisna mengangkat kedua tangannya.


Suara ledakan membahana ke udara terbuka, kemudian menggema ke seluruh tempat.


Jeritan Magisna melengking menyapu keheningan.


Gabe jatuh terduduk sembari memegangi pangkal lengannya.


Miss Pinkan baru saja menembaknya, Magisna menyadari. Lalu beringsut menjauhi gurunya sembari membekap mulutnya.


Hendra menatap Miss Pinkan tanpa berkedip. Tak yakin dengan apa yang disaksikannya.


"Lari!" perintah Miss Pinkan.


Hendra dan Magisna hanya mengerjap.


"Cepat lari!" Miss Pinkan menaikkan suaranya.


Hendra menyambar lengan Magisna dan menariknya menjauh.


Magisna menoleh ke belakang sementara kakinya sudah berlari cepat. Tidak mempedulikan arah. Hanya mengikuti tarikan Hendra.


Miss Pinkan melangkah pelan mendekati Gabe tanpa menurunkan senjatanya.


Tak lama kemudian, suara ledakan kembali menggema.


Magisna menjerit lagi.

__ADS_1


Entah siapa yang menembak dan siapa yang tertembak.


Bunyi tembakan itu tetap saja terdengar mengerikan.


__ADS_2