Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 36


__ADS_3

Apa sebenarnya yang terjadi di doolhof sepuluh tahun yang lalu? Magisna bertanya-tanya dalam hati.


TERPERANGKAP: Michael Isaac… Leo… Gabrielle van Til…


PINKAN MILIAR HARUS BERTANGGUNG JAWAB!


Tulisan pada dinding ruang bawah tanah itu berkelebat di benak Magisna.


"Banyak murid ilang di basemen sekolah. Rata-rata korban peserta kelas pelatihan khusus. Kelas pelatihan khusus itu sebetulnya semacam straf untuk murid bermasalah. Tapi pada hari Gabrielle di-straf, semua murid dalam kelas pelatihan khusus tiba-tiba ilang. Gabrielle sama salah satu murid laki-laki ditemukan satu minggu kemudian dalam keadaan luka parah. Tapi yang lainnya gak pernah ketemu. Diduga terjadi pembunuhan dalam kelas pelatihan khusus."


Cerita Jati kemudian terngiang di telinganya.


"Diduga Gabrielle pernah bunuh orang beberapa tahun lalu."


Mana yang benar? pikir Magisna. Mana yang bisa dipercaya?


Lalu ia ingat cerita Senja.


"Ada seorang anak bernama Michael. Dia suka sekali berburu pada saat badai. Dasar idiot gila. Aku berani bertaruh dia akan keluar bahkan pada hari yang buruk seperti sekarang. Dia bilang itu lebih menantang. Dia selalu bilang dia bisa melihat kerud lebih jelas dalam badai. Kerud tidak bisa bersembunyi dengan baik saat badai. Itu yang dia katakan. Tapi dia melakukan kesalahan, kau tahu. Maksudku, memang lebih mudah untuk melihat kerud di salju, tapi seorang heckuva lebih sulit untuk melihat seorang pemburu. Kalian mengerti apa yang kukatakan?"


Magisna berpikir keras, mencoba menghubung-hubungkan antara yang satu dengan yang lain.


Aku harus bicara dengan Miss Pinkan, Magisna memutuskan.


Kalau aku bisa keluar dari sini!


Hujan telah berhenti, namun embusan angin merontokkan butiran air dari pepohonan.


Magisna memandang melewati halaman depan ke arah jalan. Tetapi semua yang dapat dilihatnya hanya kabut.


Mendengar suara-suara di koridor, Hendra menyelinap keluar kamar Magisna, sementara Magisna berganti pakaian. Melucuti pakaian tidur Gabrielle dan mengenakan pakaiannya sendiri. Lalu bergegas ke lantai bawah menyusul Hendra dan terkesiap. Terkejut mendapati pergelangan kakinya telah pulih sepenuhnya.


Gabe benar-benar menyembuhkan kakinya!


Suasana tenang ketika mereka menuruni tangga.


Tiba-tiba Magisna menyadari semua orang tidak ada di lantai bawah.


Apakah Ais dan Agustin belum bangun?


Ke mana Jati dan teman-temannya?


Ke mana Gabe?


Hendra mempercepat langkahnya menuju dapur, lalu kembali ke ruang tengah dan bergegas ke koridor menuju kamar Ais dan Agustin.


"Gak ada siapa-siapa!" pekiknya sedikit gusar. "Mereka ninggalin kita!"


Magisna tergagap mengamati Hendra yang mondar-mandir dengan gelisah, kemudian menghambur ke halaman dan berlari melintasi pekarangan.


Magisna mengikutinya dengan tergopoh-gopoh. Lututnya seketika gemetar menyadari semua orang tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


Benarkah Ais dan Agustin meninggalkan mereka?


Atau sesuatu terjadi pada mereka?


Magisna tak yakin mana yang benar.


Tapi begitu sampai di kaki bukit, di tempat yang seharusnya terparkir Jeep Agustin dan Triton Athlete milik Jati, Hendra tiba-tiba berhenti. Mulutnya ternganga kaget, dan dia kelihatan sangat bingung.


Magisna mengikuti arah pandangnya. Jalanan melengkung sekali lalu lurus kembali. Di lengkungan jalan itu ada timbunan-timbunan pelepah kelapa sawit.


Magisna memekik tertahan menyadari apa yang dilihat Hendra.


Mobil mereka lenyap.


Tidak ada Jeep. Tidak ada Triton Athlete.


Hendra dan Magisna membeku menatap sepanjang jalanan yang kosong. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Pada saat itu yang dirasakan Magisna hanya takut.


Mereka semua benar-benar meninggalkan kami, batinnya getir.


Hendra berlari ke tikungan jalan, dan Magisna mengikutinya. Jalanan itu terbentang lurus, menampakkan jurang dalam di sisinya.


"Gua parkir di deket pohon yang itu," kata Hendra sambil menunjuk salah satu pohon kelapa sawit yang paling dekat dengan jalan. Napasnya mengeluarkan kabut putih.


Dengan sepatu bot yang berdecak di atas permukaan aspal yang basah, Hendra berlari ke pinggir jurang. Dia melihat ke bawah, mencondongkan badannya ke lereng yang landai.


"Astaga! Liat itu!" Hendra berteriak, menunjuk ke dalam jurang.


Magisna bergegas ke tepi jurang, melongok ke bawah mengikuti arah jari Hendra, dan memekik.


Hendra berbalik menatap jalan, lalu mendongak ke arah pondok. Tidak ada siapa-siapa.


Di sini begitu sunyi, pikir Magisna sembari bergidik dan memegangi tengkuknya. Lalu mengedar pandang dengan gelisah.


Ke mana perginya semua orang?


Apakah Gabe sudah membunuh mereka semua?


Lalu siapa yang mendorong mobil-mobil itu ke dalam jurang?


Tidak mungkin Gabe, kan?


Gabe tidak mungkin melakukannya sendirian!


Membunuh lima orang sekaligus, lalu mendorong dua mobil ke dalam jurang. Tidak, itu tidak bisa dilakukan sendirian.


Jangan-jangan, Gabe punya komplotan.


Tempat ini berbahaya!


Jati sudah berusaha memperingatkan Magisna.

__ADS_1


Seharusnya aku segera memberitahu Hendra tadi malam, sesal Magisna dalam hati.


Sekarang apa?


Kami terjebak!


Entah di mana!


Bersama orang asing. Orang asing yang memiliki senjata.


"Kita kejebak," kata Hendra. Kata-katanya bergema dalam pikiran Magisna. Untuk sesaat, Hendra tidak menampakkan kesombongannya. Dia kelihatan benar-benar bingung. Menoleh ke sana kemari, memeriksa seluruh tempat. Lalu kembali melongok ke dalam jurang. "Mobil itu keliatannya gak ada yang rusak," katanya tak yakin. "Kita harus cari bantuan."


Magisna mengatupkan mulutnya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Memeluk dirinya sendiri yang gemetaran. Aku tidak bisa berpikir, katanya dalam hati.


"Ayo balik ke pondok," usul Hendra. "Kita bisa pake teleponnya!"


Magisna tampak ragu-ragu.


Ais dan Agustin menghilang, kenangnya getir. Jati dan teman-temannya juga tidak tahu di mana.


Tapi Hendra menarik tangannya dan memaksanya.


Tadi mereka meninggalkan rumah dengan semangat menggebu, percaya bahwa mereka akan segera pulang. Tapi sekarang mereka kembali dengan susah payah, diam dan murung.


Magisna tak sanggup membayangkan apa yang menunggu mereka di pondok itu.


Mungkin Gabe dan teman-temannya sudah menyiapkan perangkap.


Hentikan. Hentikan. Hentikan.


Aku harus berusaha menjauhkan pikiran-pikiran itu dari kepalaku, Magisna memperingatkan dirinya sendiri.


Bagaimana kalau Jati dan teman-temannya ternyata berkomplot dengan Gabe?


Tidak, bantahnya dalam hati. Mobil mereka juga terperosok ke dalam jurang. Dan Jati sudah berusaha memperingatkannya tadi malam---berusaha menyelamatkan mereka.


Magisna terus menunduk, mencoba menghindari cahaya matahari yang mulai naik dan menyilaukan. Sesaat ia memikirkan kamarnya yang nyaman di rumah. Membayangkan apa yang sedang dilakukan kedua orang tuanya saat ini.


Mereka pasti sangat khawatir!


Aku akan berada di rumah malam ini, katanya pada diri sendiri.


Tapi dia tak yakin.


Mungkin kedua mobil itu bisa ditarik keluar, ia berusaha menghibur dirinya. Ada layanan mobil derek. Kami hanya perlu menelepon!


Kami akan selamat!


Hendra menghambur ke dalam pondok mendahului Magisna, bergegas menghampiri telepon dan mulai membolak-balik halaman buku telepon. Mengangkat gagang telepon dan menempelkannya ke telinga.


Semangatnya seketika menghilang dari wajahnya. Ia menekan-nekan tombol telepon dengan rahang mengetat. Lalu membanting gagang telepon itu dan berbalik ke arah Magisna.

__ADS_1


Magisna menelan ludah. Tak siap mendengar kenyataan buruk.


"Teleponnya mati," gumam Hendra putus asa.


__ADS_2