Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 28


__ADS_3

Aku sedang menemui ajalku, gerutu Magisna dalam hati. Hidupku sudah berakhir. Aku akan mati beku kedinginan kecuali kalau sekarang ada orang yang membuka pintu itu.


Agustin mengetuk lagi.


Mereka mendengar langkah-langkah kaki dari dalam pondok kayu itu. Terdengar semakin keras, dan akhirnya pintu depan terbuka.


Seorang pria terkejut melihat mereka. Pria itu bertubuh tinggi dan berbahu lebar. Namun pinggangnya begitu ramping. Rambutnya panjang hingga ke pinggang berwarna hitam mengkilat dan selurus penggaris. Pria itu mengenakan hoodie sweater berwarna gelap yang dipadu dengan celana cargo sewarna.


Bukan Jati, pikir Magisna sedikit kecewa.


Jati kelihatannya masih seusia Ais. Lebih muda satu atau dua tahun dari Agustin. Beberapa tahun lebih tua dari Hendra dan Magisna.


Tapi pria yang keluar dari dalam pondok itu jelas jauh lebih tua dibanding mereka semua. Kira-kira seusia Pak Isa, mungkin sekitar 30 tahun, mungkin juga kurang.


Hei—apa yang kau harapkan? Magisna menegur dirinya sendiri karena tak bisa berhenti memikirkan pria yang hampir tak dikenalnya. Pria itu tidak di sini, berhentilah memikirkannya!


Tidak, suara di dalam dirinya menggoda Magisna. Mobilnya ada di bawah. Dia pasti ada di sini entah di mana.


Pria di depan pintu pondok itu menatap Magisna.


Magisna tergagap.


"Mobil kami—" Agustin mulai bicara, tapi kelihatannya dia juga sudah terlalu kedinginan untuk berbicara. "Anda tahu, badai—"


"Masuklah," kata pria itu datar. "Jangan biarkan kalian kedinginan."


Keempat remaja itu sontak menyerbu ke depan, berimpitan satu sama lain dengan hasrat untuk masuk ke dalam.


Begitu mereka semua berada di dalam, pria berambut panjang tadi membanting pintu dan menguncinya.


Magisna sudah tenggelam dalam kegelapan begitu lama, sehingga perlu waktu bagi matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya terang benderang di dalam ruangan.


Tidak ada lorong atau jalan masuk lain. Hanya ada satu ruangan yang sangat besar dengan atap berbentuk katedral dan sebuah skylight kaca besar di atas yang akan memberi sedikit cahaya pada waktu siang.


Di salah satu sudut ruangan itu ada perapian besar yang terbuat dari batu pada dinding di kejauhan, berseberangan dengan balkon di lantai dua.


Di dalam perapian ada beberapa batang kayu yang sedang terbakar, menimbulkan bunyi meretih dan berderak keras, memancarkan nyala api yang kemerahan.

__ADS_1


Rasanya aku belum pernah merasa sebahagia ini melihat api dalam hidupku, kata Magisna dalam hati.


"Kalian tampak kedinginan," kata pria berambut panjang tadi. "Lepas sepatu basah kalian, tanggalkan jaket dan sweater kalian di sana." Ia menunjuk sebuah ruangan kecil di sebelah kiri keempat remaja itu di depan perapian.


Dengan patuh, keempat remaja itu mengikuti instruksinya.


"Gabe!" Pria itu berteriak. "Kemarilah," katanya. "Kita kedatangan tamu!"


"Kami sedang dalam perjalanan pulang, tapi kami tak bisa menembus badai," Agustin berusaha menjelaskan sambil melepaskan sepatunya. "Mobil kami tidak ada atapnya dan—"


"Mendekatlah ke perapian," kata pria itu menyela, membantu Magisna melepaskan jaket tentara Hendra yang kebesaran. "Kau anak manis," katanya. "Aku suka gadis hitam manis."


Magisna menelan ludah dengan susah payah, kemudian melirik ke arah Hendra melalui sudut matanya. Ia melihat muka Hendra mendadak masam.


Ada apa dengannya? pikir Magisna.


"Maaf! Kami tidak bermaksud mengganggu," kata Agustin sembari mengibaskan butiran air dari rambutnya.


"Tidak apa-apa," kata pria itu. "Aku dan Gabe memiliki cukup ruangan. Tempat ini dulunya dipakai untuk pondok berburu sebelum jalan raya dibangun. Kalian boleh tinggal di sini sampai hujan reda."


"Terima kasih," kata Agustin seraya bergegas mendatangi perapian. Magisna mengekorinya. "Saya tidak bisa membayangkan kalau harus tinggal beberapa menit lagi dalam mobil yang tidak ada atapnya," lanjut Agustin.


"Saya Senja," kata pria itu.


Dan seketika keempat remaja itu menahan napas dan saling melirik.


"Dari mana asal kalian?" Pria bernama Senja itu bertanya seraya menendang sepatu bot milik Ais ke arah dinding.


Keempat remaja itu tidak menjawab.


Pria itu mengalihkan perhatiannya ke arah mereka dan mengedar pandang, menatap satu per satu wajah-wajah keempatnya.


"Sa---saya, maksud saya… kami dari Gedong," jawab Agustin terbata-bata.


Pria itu memicingkan matanya.


Gedong adalah istilah untuk menyebutkan Rumah Van Til yang sekarang sudah menjadi sekolah Hendra dan Magisna.

__ADS_1


Tapi bukan itu yang membuat pria itu memicingkan mata. Perkataan Agustin yang terbata-bata membuatnya seperti curiga mereka sedang mencoba membohonginya.


Pria itu tidak pernah tahu betapa takutnya mereka mendengar namanya.


Seorang wanita berjalan ke dalam ruangan dan mendekat ke arah mereka, menyeka tangannya yang ramping dengan serbet piring.


"Ini dia," kata Senja seraya tersenyum. "Orang terpenting bagiku, belahan jiwaku yang paling hebat, Gabe!"


Keempat remaja itu mengucapkan salam nyaris bersamaan. Lebih terdengar seperti merasa lega melihat wanita itu.


Wanita itu berwajah oval, dengan rambut panjang ikal gelombang berwarna coklat. Matanya sewarna rambutnya. Tingginya di atas rata-rata wanita Asia dan kulitnya putih pucat berbintik-bintik khas darah Belanda.


Apa dua orang ini yang tadi ada di mobil Jati? Magisna bertanya-tanya dalam hati.


Uh-oh! Magisna mengutuk dirinya lagi. Bisakah kau berhenti memikirkannya?!


Tapi tidak, batinnya. Pasangan di dalam mobil tadi kelihatannya masih muda---masih seumuran Jati.


Jati lagi! Ia mengerang muak dalam hatinya.


"Aku memang tidak mengharapkan tamu hari ini," kata Gabe sedikit kebingungan. Dia memiliki suara tipis yang terkesan mistis. Melihat Gabe di sisi Senja, Magisna spontan berpikir seperti macan kumbang jantan dan betina. Keduanya mengenakan hoodie sweater warna hitam dan celana cargo sewarna. Sepatu bot mereka seperti sepatu tentara.


Entah kenapa Magisna merasa mereka tidak kelihatan seperti pemilik pondok yang merasa nyaman berada di dalam rumah. Penampilan keduanya terlihat seperti sedang bersiap untuk pergi sewaktu-waktu. Setelan mereka terkesan waspada.


Apa hanya perasaanku saja?


Keempat remaja itu memperkenalkan diri, mengulangi nama-nama mereka—pertama kepada Gabe kemudian pada Senja yang kelihatan bersikeras menjabat tangan mereka yang masih membeku dengan bersemangat.


"Anak-anak bodoh ini sedang bermobil dalam badai. Mobilnya tak punya atap," cerocos Senja kepada istrinya. "Aku sudah memberitahu mereka di sini bukan hotel bintang lima, tapi kita bisa membuat mereka nyaman sampai hujan reda."


Gabe menampilkan ekspresi prihatin, tapi tidak mengatakan apa-apa.


Magisna memeriksa pergelangan kakinya yang semakin bengkak. Kaos kakinya basah kuyup. Perasaanya mengatakan, Gabe merasa tak nyaman dengan kedatangan empat orang asing di dalam pondoknya.


Tapi dia mengatakan, "Saya akan membuatkan kopi. Keliatannya kalian sangat kedinginan."


Magisna duduk di atas karpet berbulu berwarna merah tua, menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, dan meregangkan kakinya ke arah api. Rasanya enak sekali, katanya dalam hati.

__ADS_1


Magisna melirik yang lain yang duduk berimpitan di sampingnya di sepanjang ujung sofa. Ketiganya memperlihatkan senyum di wajah mereka, senyum yang pertama yang dilihat Magisna sejak mereka bersama dalam perjalanan, bahkan sebelum mereka berangkat.


__ADS_2