
Pertama-tama, Gabe terlihat kebingungan saat melihat kami masuk ke dalam pondok, pikir Magisna. Lalu Gabe bercerita bahwa pondok itu sedikit mengerikan, barang-barang di sini katanya sering tiba-tiba berpindah tempat.
Lalu Magisna menyadari selama berbicara dengan Gabe, tidak sekali pun Gabe menyebutkan nama Senja.
Tapi lalu kenapa? batin Magisna.
Apa yang bisa dibuktikan dari itu?
Kenapa aku jadi begitu mencurigai segala sesuatu?
Mungkin sebagian penyebabnya karena aku sedang lelah dan aku tidak menyadarinya.
Tiba-tiba Magisna merasa tak berdaya, merasa terlalu letih untuk bergerak. Ia melirik ke arah Senja dan mengedar pandang. Semua orang sedang menyimaknya.
Pria itu sekarang sedang bercerita tentang beberapa pengalaman berburu macan kumbang yang dilakukannya bertahun-tahun lalu. Lagi-lagi cerita mengerikan yang menurutnya lucu. Suaranya melintas keluar-masuk di antara kesadaran Magisna.
Semua orang mendengarkannya, kata Magisna dalam hati. Dia begitu nyata. Semua orang menyadari keberadaannya.
Kenapa aku merasa bahwa Gabe tidak bisa melihat Senja?
Magisna mengambil sesendok penuh kacang merah yang terakhir, minta permisi, dan membawa mangkuk ke dapur di mana Gabe sedang memasukkan piring-piring dan sendok-garpu ke dalam bak cuci.
Ada ekspresi tak bahagia di wajah wanita itu.
Untuk sesaat, Magisna berpikir Gabe sudah hampir menangis. Tapi wajahnya terlihat hampa saat dia menatap Magisna, kemudian berpaling membelakanginya.
Magisna bertanya apakah Gabe bisa menunjukkan kamar tidur untuknya, lalu mengikuti Gabe ke lantai atas melalui tangga kayu yang berkeriat-keriut hingga sampai di bordes.
Di lantai atas udaranya terasa lebih hangat.
Ketika Gabe membawa Magisna menapaki koridor sempit, Magisna mengintip dari pagar tangga ke arah teman-temannya di bawah.
Ais merapat manja pada Agustin di sofa, Hendra sedang mencongkel-congkel api sekarang, sementara Senja terus berbicara. Suaranya yang nyaring bergema sampai ke kasau-kasau kayu di atas Magisna.
"Rasanya aku membawa beberapa setel pakaian tidur," kata Gabe setengah menggumam. "Biar kulihat apakah ada yang bisa kau pakai. Kau bisa sakit kalau tidak berganti pakaian. Pakaianmu masih basah, kan?"
Magisna tertunduk memeriksa dirinya sendiri. Jadi ini yang membuatku merasa tetap kedinginan meskipun sedang berada di depan perapian, ia menyadari. Dan seketika ia merasa konyol.
__ADS_1
Ia mengikuti Gabe masuk ke kamar tidur tamu yang kecil, berdinding putih dengan jendela bertirai yang mengarah ke serambi depan, tempat tidur dobel, meja rias, dan kursi kayu bersandaran tegak di sampingnya.
"Hati-hati kepalamu," Gabe memperingatkan seraya menunjukkan atap rendah yang miring.
"Selimut itu keliatannya nyaman banget," kata Magisna, merasa terhibur oleh pemandangan selimut merah maron yang tebal. Ia tidak dapat menunggu untuk berganti pakaian dan segera masuk ke bawah selimut begitu Gabe menghilang keluar.
Gabe kembali tak lama kemudian dengan satu set pakaian tidur, lengkap dengan kaus kaki dan juga handuk. "Kalau perlu sesuatu, teriak saja," katanya. Lalu menghilang sebelum Magisna sempat mengucapkan terima kasih.
Tidak butuh waktu lama untuk Magisna melepaskan pakaiannya, mengenakan pakaian tidur, mematikan lampu, dan menyelinap kembali ke bawah selimut.
Tempat tidur itu sekarang terasa jauh lebih lebih lembut dan tidak terlalu dingin setelah ia berganti pakaian. Pegas-pegas kasurnya berderit setiap kali ia bergerak. Tapi karena ia terlalu lelah, ia tidak peduli.
Akhirnya Magisna merasa nyaman dan aman di bawah selimut besar yang tebal itu. Ia langsung tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal bulu yang tak kalah tebal.
Magisna jatuh tertidur tanpa mimpi dan tanpa bergerak-gerak. Lalu terbangun oleh suara pintu depan yang terbanting menutup.
Magisna terduduk dengan mata terbuka lebar dan mendengarkan.
Ada orang yang keluar atau masuk ke dalam pondok, katanya dalam hati. Jantungnya berdebar-debar. Ia melompat keluar dari balik selimut dan berjalan ke arah pintu, menekankan dahi pada kaca jendela yang dingin dan menatap atas serambi ke arah halaman rumput yang landai di depannya.
Tidak ada siapa pun di sana.
Ini hanya mimpi di mana aku akan segera bangun dan menemukan diriku entah di mana, kata Magisna dalam hati.
Ia mendengar lantai papan di bawah berkeriat-keriut.
Ada orang masuk ke dalam pondok dan sedang berjalan-jalan di bawah sana, pikirnya.
Ia berjinjit ke pintu kamar dan membukanya, kemudian bergerak pelan di sepanjang koridor menuju bordes.
Api di perapian sudah hampir padam. Bara api merah gelap berderak dan berdesis di antara bayang-bayang hitam yang dibentuk oleh batang-batang pohon dan pelepah kelapa sawit.
Terdengar lagi suara berderit keras lantai papan. Menyusul suara batuk.
Tidak ada lampu menyala di sana. Siapa pun yang berada di bawah sana sengaja berjalan-jalan di dalam kegelapan.
Magisna ingin berteriak, tapi entah kenapa keberaniannya seketika sirna.
__ADS_1
Siapa yang masuk ke dalam pondok di tengah malam begini? Terutama dalam situasi yang seperti ini?
Siapa yang berjalan perlahan-lahan tanpa menyalakan lampu?
Magisna terlonjak mendengar sesuatu yang pecah di lantai bawah.
Apa ada orang yang sedang merusak tempat ini?
Apa ada orang yang sedang menyusup kemari?
Jika semua lampu padam, pondok ini kelihatan kosong dari luar. Apakah itu orang tersesat yang menyusup masuk untuk berlindung dari hujan?
Pikiran-pikiran yang mengerikan terlintas di benak Magisna. Gambaran pria bertopeng yang membawa kapak berdarah dan gergaji mesin.
Magisna menggigil. Udara terasa jauh lebih dingin di bordes. Lalu ia memutuskan untuk kembali ke balik selimut yang tebal dan nyaman.
Ia memandang sekeliling dan mulai berbalik ke kamarnya. Lalu tiba di pintu masuk dan tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Ada langkah kaki. Datang makin mendekat.
Seseorang sedang menaiki tangga!
Naluri Magisna mengatakan ia harus berlari cepat ke kamarnya, menutup pintu, dan bersembunyi di balik selimut. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar dibanding rasa takutnya.
Langkah kaki itu makin dekat. Tangga kayu di belakangnya berderit semakin keras.
Magisna membeku di pintu kamarnya. Dengan jantung yang berdentum-dentum, Magisna menatap tajam ke arah kegelapan, bersiap menghambur ke dalam kamar jika si penyelundup itu berbahaya.
Sosok tubuh hitam muncul di atas tangga.
Magisna tersadar bahwa ia sedang menahan napas, kemudian mengembuskan udara pelan-pelan, masih sambil menatap ke kegelapan dengan sikap waspada.
Begitu sampai di bordes, sosok itu bergerak cepat. Melesat tepat ke arah Magisna.
Magisna mencoba melarikan diri, tapi dia menunggu terlalu lama. Sekarang sudah terlambat.
Sosok itu sudah berdiri di depan Magisna, mencondongkan badan ke arahnya dalam kegelapan.
__ADS_1
Magisna membuka mulutnya, mencoba berteriak. Tapi suara yang dihasilkannya hanya berupa bisikan yang tercekat.