Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 6


__ADS_3

Rasa takut menjalari tulang belakang Magisna. Barangkali menjelajahi tempat ini bukan ide bagus. Siapa yang tahu apa yang ada di belakang sini?


Tapi apa yang benar-benar bisa terjadi?


Pak Isa dapat menangkapnya. Dan ia akan mendapat hukuman lagi.


Tapi kemudian kata lain terlintas dalam pikirannya.


Skorsing.


Magisna mengenyahkan pikiran itu. Itu gila. Cuma anak-anak bermasalah saja yang mendapat skors. Orang seperti Hendra, Dika dan Alexza.


Tapi bagaimana kalau mereka terperangkap?


Bagaimana kalau kepala sekolah menemukan mereka di gudang pupuk?


Ia memandang sepintas ke sekelilingnya. Koridor tempat itu sempurna untuk bersembunyi. Cukup gelap hingga tak seorang pun bisa melihatnya. Tak akan ada yang tahu ia di sana.


Tapi ia tahu ia harus kembali. Ia melangkah menuju gudang.


Lantai di bawahnya berdetak, lalu berderit, diikuti bunyi gemeretak yang sangat keras.


Kemudian, dengan suara berderu, lantai di bawah kakinya tiba-tiba runtuh terperosok.


Magisna kehilangan keseimbangan. Lengannya menggapai-gapai. Mencari sesuatu, apa pun untuk menahannya supaya tidak jatuh. Tapi yang dapat ia pegang hanya udara kosong.


Magisna menjerit sewaktu ia jatuh menembus lantai.


Ia meluncur cepat dalam kegelapan.


Udara berdesir tajam di wajahnya. Isi perutnya seolah terlontar sampai ke tenggorokan. Paru-parunya kosong.


Lalu ia membentur lantai.


Terempas keras.


Rasa panas merayap naik di kaki kiri dari pergelangan sampai ke pinggang. Pandangannya yang berkunang-kunang menyilaukannya. Ia mendengar suara dering keras di gendang telinganya.


Lalu merasakan semen dingin di bawahnya. Ia merasakan tangga baja tajam berpasir menekan bahunya. Jantungnya berdegup kencang di dada.


Rasa kebas di sekujur tubuhnya berangsur-angsur meninggalkannya, digantikan tusukan rasa sakit yang spesifik. Pergelangan kakinya berdenyut-denyut. Siku tangannya terasa perih di bawah sweater-nya.


Seberapa jauhkah ia jatuh? Tiga meter? Lima meter? Lima belas? Tidak. Lima belas meter pasti akan membunuhnya. Tapi lima meter adalah perkiraan yang bagus. Rasanya seperti selamanya---cukup lama baginya untuk berpikir ia akan mati.


Tapi aku masih hidup, katanya dalam hati. Dan aku harus tahu di mana aku sekarang.


Ia duduk tegak, rasa nyeri menyengat seluruh persendiannya. Ia menyusur jari di seputar pergelangan kakinya. Sudah terlalu bengkak hingga ia tak dapat lagi merasakan tulangnya. Ia berusaha menggerakkannya.


"Owww!" teriaknya.


Ia belum pernah merasakan sakit seperti ini selama hidupnya. Tapi ia tahu tulangnya tidak patah. Meski sakit, ia masih dapat menggerakkannya.


Ia mengelus sikunya, terasa hangat, kulit basah yang seharusnya terbungkus sweater. Robek, pikirnya pahit. Dan berdarah.


Gelombang rasa mual menyelimutinya. Keringat dingin menggelinding di dahinya.


"Tenang," gumam Magisna di dalam kegelapan. "Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa."


Mendengar suaranya sendiri membuatnya sedikit tenang. Ia berusaha duduk tegak, merasakan tangga baja di belakangnya. Ia tak dapat melihat seberapa tinggi tangga itu.


Ia menepuk lantai di sekelilingnya. Tangannya menyentuh beton kasar dan sampah. Botol pecah. Kaleng remuk. Kertas basah.

__ADS_1


Di mana dia?


Semacam terowongan bawah tanah atau basement rumah Van Til, ia menyimpulkan. Tapi kenapa dia bisa ada di sini? Dia belum pernah mendengar apa pun tentang terowongan ini.


Magisna mengambil napas dalam-dalam. Tempat ini lembap, seperti berlumut. Di mana pun ia berada, tak ada yang turun ke bawah sini dalam jangka waktu cukup lama.


Ia harus pergi dari sini. Ia merenggut anak tangga dan mencoba menarik tubuhnya ke atas. Rasa sakit yang tajam menikam pergelangan kakinya. Ia jatuh kembali ke lantai.


Ya, begitulah.


"Tolong!" ia berteriak.


Suaranya bergema di dinding dan naik ke lubang, tapi terdengar lirih.


"Siapa saja!" ia mencoba lagi. "Siapa saja, tolong!"


Tak ada jawaban.


Ia sendirian di dalam gelap.


Gelombang ketakutan bercampur dengan rasa mual. Bagaimana jika mereka tidak menemukannya? Ia bisa berada di bawah sini berhari-hari.


Tak mungkin, pikirnya.


Ia berteriak lagi.


Masih tak ada jawaban.


"Ayo dong!" raung Magisna, seraya mengayunkan tinjunya dengan frustrasi. Tinjunya membentur dinding beton, menimbulkan ledakan rasa sakit pada lengannya.


Ia mengernyit dan merosot di tangga logam yang tajam. Keringat mengaliri wajahnya. Susah bernapas di udara yang lembap.


Kemudian ia mendengar suara.


Magisna diam terpaku. Mendengarkan.


Hening lagi.


Lalu suara itu lagi.


Hi-hi-hi, hi-hi-hi.


Di sebelah kanannya.


Aku pasti salah dengar, katanya dalam hati.


Magisna meraba-raba tangga, pergelangan kakinya memprotes setiap gerakan.


Ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri, rasa lega mengalirinya sewaktu ia memegang logam kasar tangga itu. Lalu ia menarik tubuhnya ke atas.


Kemudian sesuatu jatuh ke lehernya. Sesuatu yang hangat dan berat.


Dan hidup.


Magisna menjerit.


Sesuatu di lehernya itu menggeliat-geliat. Cakar-cakar kecil menusuk kulitnya.


Ia merenggut makhluk itu dan mencoba melemparkannya. Tapi makhluk itu terjerat di rambutnya. Melengking keras.


Tikus!

__ADS_1


Rasa panik mengaliri Magisna. Ia menjerit lagi. Bulu halus itu melekat di kulitnya. Akhirnya, direnggutnya makhluk itu dari rambutnya---dan dilemparkannya ke terowongan.


Tikus itu mendarat dengan mencicit.


Magisna menggosok tengkuknya dengan jemarinya. Ia masih bisa merasakan cakar-cakar kecil tikus tadi menggesek kulitnya.


Sudah pergi, katanya dalam hati. Santai saja. Sudah pergi.


Dan aku harus keluar dari sini.


Magisna mencekal anak tangga. Diangkat tubuhnya berdiri, membebankan seluruh berat badannya pada pergelangan kaki kanannya.


Rasa sakit menyergap kaki kirinya.


Ia memaksakan dirinya untuk menaiki anak tangga pertama. Lapisan tipis uap lembap menutupi logam itu. Tangannya merosot. Ia jatuh ke lantai sekali lagi.


Ia mendarat di atas gumpalan hangat yang menggeliat-geliat.


Gumpalan itu mencicit dan menggeliat di bawahnya. Magisna berteriak. Ia berguling menjauh.


Tikus itu bergegas lari dalam kegelapan.


Magisna berbaring pada punggungnya, hampir menangis.


"Asyik," muncul suara.


Magisna terpaku.


Suara!


"Hei! Keluarin gua dari sini!" teriaknya.


"Gis... Gis---siapa namanya?" tanya suara itu.


"Magisna!" geramnya.


Mereka menemukan dirinya!


Ia mendengar suara-suara berdebuk ribut, kemudian suara berderak yang sama seperti sebelum ia jatuh, kemudian bunyi berdebam keras. Cahaya dari pemantik Hendra muncul di atasnya.


"Ini pintu jebakan," muncul suara Hendra. "Ada orang naro papan tua di atasnya---liat! Gisna kejeblos ke bawah!"


"Ngapain lu di situ, jajal elmu?" ejek Novi.


"Jajal elmu, jajal elmu! Elmunium?" rutuk Magisna mulai ketularan konyol.


"Alumunium, b e g o!" sergah Novi seraya memutar-mutar bola matanya.


"Papannya udah busuk," kata Hendra.


"Bisa nggak tolongin gua aja?" rengek Magisna. "Kaki gua sakit."


"Lu bisa manjat nggak?" Dika bertanya.


Kemarahan mengaliri Magisna. "Di mana sih otak lu?"


"Oke, gua turun sekarang," jawab Hendra.


"Lu gila, ya?" Magisna mendengar Alexza berteriak marah. "Lu bisa jatoh juga, tau!"


"Gisna bakal nahan gua kalo gua jatoh," kelakar Hendra.

__ADS_1


Meskipun dalam keadaan seperti ini, komentar seperti itu membuat Magisna tersenyum. Setelah Hendra ada di sana, ia merasa lebih aman. Meski di dalam terowongan yang penuh tikus.


__ADS_2