
"Dika!" Pak Isa memanggi-manggil.
"Dini!" Magisna menimpali.
Tidak satu pun peduli panggilan mana yang tepat untuk saat ini.
Dika sudah menghilang ditelan kegelapan. Hanya suara sepatunya yang masih terdengar, berdebam di permukaan lantai, kemudian menggema ke dinding-dinding. Terdengar sedikit ramai seolah bukan hanya Dika yang sedang berlari di dalam kegelapan.
Semua orang berlari tergopoh-gopoh, berdesak-desakan di gang yang sempit.
Nyala api dari lentera Pak Isa dan cahaya lampu senter Papa Tibi berpendar dan bergoyang-goyang, meninggalkan bayang-bayang aneh di dinding yang suram.
Menemukan persimpangan, Papa Tibi memisahkan diri. Tidak seorang pun menyadarinya kecuali Ais. Lalu tanpa pikir panjang, Ais pun mengikutinya.
Jeritan melengking menggema dari kegelapan.
"Diniiiiiii!!!" Magisna menjerit panik.
"Dika!" Pak Isa memanggil nyaris bersamaan.
Lalu semuanya mempercepat langkah mereka.
Jeritan itu seketika menghilang, berganti pekik tertahan di belakang mereka.
Semua orang serentak menoleh.
Jingga mendadak terpuruk.
"Novi!" Pak Isa menghambur menghampirinya, meletakkan lentera di lantai, dan menangkap tubuh Dika.
Novi jatuh berlutut dengan kepala tertunduk, darah kental menetes dari lubang hidungnya.
"Jingga!" Magisna menerjang ke arah Novi, kemudian ikut berlutut di sampingnya. "Lu kenapa?" jeritnya panik sembari mengguncang bahu Novi.
Cewek itu mengedikkan kepalanya, matanya mengerjap-ngerjap, kemudian memegangi bagian belakang kepalanya. "Ada yang mukul gua dari belakang," katanya terengah-engah.
Semua serentak menoleh ke sana kemari, mencari-cari si penyerang yang sudah menghilang.
Tak jauh di belakang Novi, ada persimpangan dengan dua lorong di kiri-kanannya.
Siapa pun yang menyerang Novi, pasti sudah melarikan diri lewat salah satu dari lorong itu.
Tapi yang mana?
"Ini bukan ide bagus," kata Pak Isa. "Sebaiknya kita kembali saja dan mencari bantuan. Situasinya terlalu berbahaya."
"Udah telat!" teriak Magisna pada Pak Isa. "Dini dalam bahaya sekarang!"
"Kau tak lihat temanmu terluka?" Pak Isa menghardik Magisna seraya menunjuk Novi.
"Saya gak pa-pa!" Novi memotong cepat-cepat.
"Kalian semua kembali saja," perintah Pak Isa. "Saya yang akan mencari Dika!"
Magisna menggeleng cepat-cepat. "Saya masih ada urusan di sini!" sergahnya.
"Saya ikut," timpal Jingga.
Kiddo dan Agustin hanya bertukar pandang.
Pak Isa mengerang tak sabar. "Kalian benar-benar keras kepala!"
__ADS_1
"Sama kek Bapak semasa sekolah," sindir Jingga sembari menaikkan sebelah alisnya ke arah Pak Isa. "Jangan lupa hal itu bisa jadi hal yang baik!" ia menambahkan.
Pak Isa mengetatkan rahangnya, tapi tak mengatakan apa-apa lagi.
Jingga beranjak dari lantai sembari mengernyit, menggeleng-geleng sebentar, mencoba mengenyahkan perasaan pusing, kemudian memijat-mijat tengkuknya.
Magisna membeku dengan alis bertautan. "Tunggu," katanya. "Ada yang ilang!"
Semua orang serentak melengak.
"Ais! Papa Tibi!" Mereka menyadari.
Seketika semua orang memutar tubuhnya secara serempak, menoleh ke sana kemari dan mencari-cari.
"Kurasa mereka mengejar orang yang menyerang Novi," Agustin menyimpulkan.
Jingga dan Magisna terlihat tak yakin. Tapi akhirnya semua orang sepakat untuk melanjutkan pencarian Dini.
Pak Isa kembali memimpin mereka.
Melewati persimpangan lain, Magisna menangkap sebuah bayangan melalui sudut matanya. Seseorang, atau sesuatu, berkelebat, menyelinap ke dalam kegelapan.
Magisna spontan menghentikan langkahnya dan menyimak.
Kiddo dan Agustin setentak mengawasinya dengan mata terpicing. Lalu bergabung dengan Magisna.
Jingga dan Pak Isa tetap berjalan di depan mereka. Belum menyadari apa yang terjadi.
Magisna melangkah ragu mendekati lorong yang dicurigainya sebagai tempat persembunyian seseorang atau sesuatu---mungkin hantu. Ia melongokkan kepalanya lebih jauh ke dalam kegelapan.
Kiddo menyergap bahu Magisna dan menahannya.
Cowok itu menggelengkan kepalanya mengisyaratkan Magisna untuk tidak bertindak gegabah.
"Seingatku, aku pernah memberimu senter," kata Agustin. "Kau tidak membawanya?"
Magisna mendesah pendek. "Gua gak kepikiran bakal balik ke sini lagi," tukasnya.
Agustin membuka tas pinggangnya dan memeriksa isinya. Kemudian mengeluarkan pemantik plastik yang dilengkapi senter dan memberikannya pada Magisna.
"Lu jualan korek apa gimana?" kelakar Magisna seraya menerima pemantik itu dan mengujinya. Menyalakan senternya dan mengarahkannya ke lorong.
Tidak ada siapa-siapa. Lorong itu benar-benar kosong.
Aku pasti salah lihat tadi, pikir Magisna.
Kiddo mengulurkan tangannya ke arah Agustin dan menggerak-gerakkan jemarinya, mengisyaratkan bahwa ia juga membutuhkan senter.
Agustin menggaruk pelipisnya, kemudian memeriksa tas pinggangnya lagi. "Sepertinya kau belum beruntung," katanya kemudian.
Kiddo mengerang seraya memutar-mutar bola matanya dengan tampang sebal.
Lalu ketiganya meneruskan langkah menyusul Jingga dan Pak Isa.
"Waspadai setiap persimpangan," Agustin memperingatkan mereka.
Lorong di depan mereka terlihat gelap. Cahaya lampu Pak Isa sudah tidak kelihatan. Jingga dan Pak Isa sudah berjalan cukup jauh, atau berbelok.
Magisna menyalakan senternya dan mengarahkannya jauh ke depan tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
Tak jauh di depan mereka, mereka kembali menemukan persimpangan. Magisna melihat cahaya merah berpendar di ujung lorong sebelah kanan. Lalu ia berbelok ke kanan.
__ADS_1
"Gis…" Agustin tergagap. Dia memilih lorong yang keliru, pikirnya. Seingatnya Jingga dan Pak Isa tidak berbelok tadi.
Magisna sudah berlari memasuki lorong. Dan mau tidak mau, Kiddo dan Agustin mengikutinya.
"Gisna!" Agustin berusaha memanggil Magisna. "Tunggu!"
Tidak ada jawaban.
Suara sepatu Magisna berdebam dalam tempo cepat di depan mereka. Gadis itu sedang berlari terburu-buru.
Kiddo dan Agustin mempercepat langkahnya.
Magisna juga mempercepat langkahnya.
Tak jauh di depannya, Magisna menemukan belokan lagi. Ia melihat cahaya di sebelah kanannya. Magisna terus mengejarnya sampai ia melihat punggung Novi. "Jingga!" Magisna memanggilnya ketika cewek itu berbelok lagi dan menghilang.
Kiddo dan Agustin tertinggal jauh di belakang Magisna.
"Dia bahkan tidak menyalakan senternya," gumam Agustin mulai khawatir. Kemudian ia mulai berlari.
Kiddo mengikutinya tanpa bicara.
"Gisna!" Agustin memanggil lagi.
Magisna mendengarnya. Tapi ia bahkan tak berusaha memelankan langkahnya. Mereka tak jauh di belakangku, pikirnya. Jadi ia tak terlalu khawatir mereka terpisah.
Jingga dan Pak Isa sudah berada cukup dekat di depan Magisna. Ia bisa melihat punggung Novi hanya beberapa meter dari tempatnya.
Magisna mempercepat langkahnya lagi.
Cahaya merah dari lampu Pak Isa berpendar lemah dan berkeredap. Seperti akan padam.
Magisna tiba-tiba merasa heran. Lentera Pak Isa kelihatan cukup terang beberapa saat yang lalu, pikirnya. Apa bahan bakarnya sudah mau habis?
Kenapa Pak Isa tidak mempersiapkannya dengan baik?
Magisna memicingkan matanya dan mengawasi lentera di tangan Pak Isa. Tapi kemudian melengak.
Cahaya itu tidak berada di sisi tubuh Pak Isa, tapi berada di atas kepalanya. Seperti bukan sedang membawa lentera, tapi… obor.
Pak Isa tidak membawa obor!
Magisna menghentakkan kedua kakinya, mempercepat langkahnya dengan sekuat tenaga.
Tinggal beberapa langkah lagi, dan ia sudah bisa menyusul Novi.
Magisna menjulurkan tangannya ke depan dan merenggut sebelah bahu Novi.
Novi terperanjat dan menoleh dengan ekspresi terkejut, seolah Magisna tidak seharusnya berada di tempat itu.
Magisna terperangah dan menyentakkan tangannya menjauh dari Novi, dan melompat mundur dengan ekspresi kalut.
Bukan Pak Isa! Magisna menyadari.
Ada empat orang berbaris di depan Novi. Tapi salah satunya bukan Pak Isa.
Mereka adalah…
Hendra, Dika, Alexza, dan…
Magisna!
__ADS_1