Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 62


__ADS_3

"Sejak kapan lu mulai sadar kalo lu bisa merasuki seseorang?" Magisna bertanya pada Kiddo setelah Jingga mendapatkan pertolongan medis.


Orang tua Jingga sudah dikabari dan Magisna juga sudah menghubungi orang tuanya.


Sekarang ia sedang menunggu di depan ruang ICU.


Kiddo menemaninya dalam kebisuan yang membuat canggung. Cowok itu duduk meringkuk memeluk lututnya di bangku paling ujung di sudut koridor.


Menanggapi perkataan Magisna, serta-merta cowok itu pun tersenyum sinis. "Maksud lu, sejak kapan gua sadar kalo gua udah jadi hantu?" dengusnya.


"Nggak!" sergah Magisna. "Lu belum mati!"


Kiddo menoleh pada Magisna dengan raut wajah datar. Lalu kembali tersenyum sinis. "Asal lu tau…" katanya seraya melirik sekilas bet seragam Magisna. "Eka!" Ia menambahkan. "Cuma lu yang bisa liat sama nyentuh gua."


Magisna mengerjap dan mengerutkan dahi.


"Lebih dari satu minggu gua gentayangan tanpa keliatan. Semua orang yang gua sentuh tembus gitu aja kek hologram."


"Tapi lu bisa nyentuh mereka tadi," sela Magisna.


"Itu karena mereka bukan manusia," sergah Kiddo. "Mereka hantu kek gua!"


Magisna menggeleng cepat-cepat. "Gak! Lu beda sama mereka. Lu belum mati."


Kiddo terlihat tak yakin.


"Lu cuma koma, Kiddo!" Magisna meyakinkan cowok itu. "Tapi—"


Kiddo mengerutkan dahinya. "Tapi apa?" potongnya cepat-cepat.


"Tubuh lu dirasuki orang lain," jelas Magisna sedikit tercekat.


Kiddo menatapnya dengan alis bertautan.


"Lu cuma perlu pulang dan… nunggu sampe dia tidur," saran Magisna menyemangatinya. "Gua yakin lu gak perlu diajarin caranya. Lu bisa ngerasukin temen gua tadi."


Kiddo masih diam dengan alis bertautan. Terlihat berpikir keras.


"Lu gak pernah pulang, ya kan?" Magisna memicingkan matanya.


Kiddo masih diam.


Magisna mendesah pendek dan memutar-mutar bola matanya dengan sikap muak. Dia tidak mempercayaiku, ia menyimpulkan.


"Gua…" Kiddo akhirnya membuka suara, tapi tidak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


Magisna mengerutkan dahinya.


Cowok berwajah oriental itu menatapnya dengan raut wajah ragu. "Gua gak tau caranya pulang," ujarnya sedikit tersipu.


Magisna membelalakkan matanya. "Jadi selama ini lu tinggal di sekolah?"


Kiddo terkekeh tipis. "Ya," ia mengaku.


"Lu gak inget alamat rumah lu?" tanya Magisna.


Kiddo serentak menggeleng. "Gua gak bisa keluar dari sekolahan."


Magisna kembali mengerutkan dahi.


"Gua bisa keluar karena ngerasukin temen lu tadi," jelas Kiddo.


Jadi begitu rupanya? pikir Magisna terkejut. Tapi… "Apa yang bikin lu gak bisa ninggalin sekolah?"


Kiddo kembali menggeleng. "Entahlah," katanya. "Ada kabut merah yang…"


Magisna memicingkan matanya, menunggu Kiddo melanjutkan ceritanya.


Tapi Kiddo kemudian hanya tercenung kehilangan kata-kata.


Magisna mendesah kasar. "Gua tau soal kabut itu," katanya tak sabar. "Gua juga pernah disengat."


"Yap!" Magisna mengangkat bahunya.


"Kabut itu udah nyebar di semua tempat di luar sekolah!"


Magisna memekik dan terkesiap. "Di luar sekolah?"


"Ya, di luar sekolah!" Kiddo menegaskan. "Gua gak bisa liat apa-apa kalo keluar dari sekolah. Cuma kabut!"


Jadi, apa artinya? Magisna bertanya-tanya dalam hati.


"Selain kabut, apa lagi yang bisa lu liat?" tanya Magisna penasaran. "Apa lu juga bisa liat hantu?"


"Ya," jawab Kiddo seraya menatap Magisna dengan alis yang kembali bertautan. "Anak kecil itu…" Raut wajah Kiddo mendadak berubah khidmat. "Dia yang nemenin gua selama gua terjebak," kenangnya sembari tersenyum samar. "Dia mutusin aliran kabut yang ngerambat ke sekolah, mangkas-mangkasin sulurnya tiap waktu kek ngerawat tanaman rambat. Berkat dia sekolah kita aman."


Kedengarannya anak kecil itu tidak terlalu jahat, pikir Magisna.


"Lu sendiri…" perkataan Kiddo berikutnya mengusik Magisna dari lamunannya. Kiddo menatapnya dengan raut wajah penuh selidik. "Kenapa lu bisa liat hantu?"


Magisna mengedikkan bahunya. "Gua juga gak tau," katanya tak yakin. "Gua pernah koma dan… jiwa gua… pernah gentayangan kebingungan kek lu," cerita Magisna.

__ADS_1


Kiddo menyimaknya dengan penuh rasa ingin tahu.


"Ada yang bilang kalo gua punya mata ketiga setelah mati suri," Magisna menambahkan. "Tapi seinget gua, pertama kali gua liat hantu waktu di Doolhof. Lu mau tau hantu pertama yang gua liat?"


"Hantu apa?" Kiddo penasaran.


"Hantu anak kecil yang tadi…" Magisna menelan ludah dan menggantung kalimatnya. Ingatan tentang Hendra seketika berkelebat dalam benaknya. Dia sudah membunuh Hendra, kenangnya getir. Bisa jadi dia juga sudah membunuh Alexza.


Kiddo mengawasinya cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Lu gak perlu kuatir soal… temen-temen lu," katanya seraya mengedikkan bahu, seolah bisa membaca pikiran Magisna. "Anak itu cuma hantu. Dia gak bisa membunuh manusia. Dia cuma roh tanpa tubuh yang gak bisa nyentuh manusia secara langsung."


Magisna menoleh pada Kiddo dengan raut wajah penuh harap. "Maksud lu temen-temen gua belum mati?" tanyanya bersemangat.


Kiddo menggeleng cepat-cepat. "Tubuh fisik manusia gak bisa dilukai hantu. Kek gua bilang tadi, mereka cuma roh tanpa tubuh. Sifatnya gak beda jauh sama kabut gas."


Kabut? pikir Magisna. "Tapi kabut itu bisa nyengat," sergahnya.


"Ya, mereka menghisap daya hidup kita. Tapi mereka gak bener-bener bisa bunuh kita. Lu sendiri yang bilang gua belum mati. Gua cuma koma dan tubuh gua dirasuki seseorang, atau…"


"Atau apa?" sela Magisna.


Kiddo terkekeh tipis. "Kabut itu," katanya. "Kabut itu ngambil alih tubuh gua setelah menghisap keluar jiwa gua."


Magisna serentak mengerutkan dahi dan berpikir keras. Berusaha mengingat-ingat semua yang telah terjadi dan mencoba menghubung-hubungkan antara yang satu dengan yang lain. Teorinya masuk akal, pikirnya.


"Gua yakin jiwa temen-temen lu terjebak di suatu tempat entah di mana," lanjut Kiddo tanpa menatap Magisna.


"Terjebak di suatu tempat?" Magisna memekik gembira seraya melompat dari bangkunya, sedikit terlalu antusias.


Bertepatan dengan itu, seorang perawat keluar dari ruang ICU dan melengak menatap Magisna.


Magisna spontan tergagap dan tersenyum kikuk. Dia pasti mengira aku sudah gila karena berbicara sendiri, katanya dalam hati.


Kiddo mengatupkan mulutnya menahan tawa.


Magisna merunduk sekilas ke arah perawat itu sembari mengulum senyumnya.


Perawat itu memutar tubuhnya menjauhi pintu dan berjalan melewati Magisna sembari meliriknya dengan pandangan sedikit aneh.


Terjebak di suatu tempat! Magisna mengulang-ulang kalimat itu dalam kepalanya.


Mungkin saja mereka masih di Doolhof, pikirnya. Jiwa Kiddo terjebak di sekolah sejak dia koma… tunggu dulu! Magisna berkata dalam hati. "Lu diserang kabut itu di sekolah?" tanyanya pada Kiddo.


"Yap!" jawab Kiddo seraya mengembangkan telapak tangan di sisi tubuhnya.


Sesuai dugaanku, pikir Magisna bersemangat. Lalu mulai menyimpulkan.

__ADS_1


Kabut itu menyengat untuk menghisap keluar jiwa seseorang, kemudian mereka sendiri menempati tubuhnya. Sementara itu, jiwa mereka yang diambil alih tubuhnya terjebak di tempat mereka bertukar.


Dari cerita Kiddo, Magisna bisa membayangkan jiwa orang-orang itu terjerat dalam kabut, seperti serangga yang tersangkut di jaring laba-laba


__ADS_2