Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 66


__ADS_3

"Eka!" Jingga meneriaki Magisna dan memelototinya. "Lu bener-bener udah gila ya?!" Disambarnya pergelangan tangan Magisna dan dibekapnya luka menganga yang mengucurkan darah itu dengan telapak tangannya.


Magisna masih tercengang dengan wajah pucat. Matanya belum berkedip begitu ia menyadari pisau itu bisa melukai tubuhnya. Bagaimana bisa? pikirnya tak percaya. Pisau itu seharusnya tidak bisa melukai tubuh fisik!


Darah terus menetes dari lukanya. Tangan Jingga tak mampu membendung aliran darahnya.


Ini takkan berhasil, pikir Magisna. Saat ini Jingga tidak sedang menggunakan tangan fisik. Darah itu pasti menembus tangannya.


Serta-merta Magisna bangkit berdiri, kemudian berlari cepat menuju toilet.


Murid-murid yang sedang berseliweran di koridor tersentak menatap Magisna.


Magisna tidak mempedulikan mereka.


Sebelah tangannya tertangkup membekap lukanya, sementara tangan lainnya masih menggenggam pisau. Ia bahkan tak peduli jika semua orang bisa melihat pisau itu. Ia menerobos ke dalam toilet dan menyalakan keran, kemudian membersihkan lukanya di wastafel.


Dini dan Jingga menyusulnya dengan tergopoh-gopoh.


Beruntung tidak ada orang lain di dalam toilet itu. Tidak ada yang memekik terkejut ketika mereka menyeruak masuk dan membanting pintu.


Tidak ada yang melengak kebingungan melihat Magisna mencuci tangannya yang berdarah kemudian berteriak panik. Hal semacam itu hanya akan memperkeruh suasana.


Dini dan Jingga sudah bergabung di belakang Magisna.


Tiba-tiba saja Dini menjerit histeris sembari menunjuk ke arah wastafel di depan Magisna.


Jingga dan Magisna terperangah bersamaan. Lalu mengikuti arah pandangnya. Sejurus kemudian, keduanya ikut menjerit.


Magisna menarik tangannya menjauh dari keran seraya menyentakkan kakinya ke belakang, melangkah mundur dengan terhuyung.


Ini tidak nyata! katanya pada diri sendiri. Ini cuma halusinasi.


Sejumlah anak ular berwarna hitam seukuran tali sepatu, berkeriap di bak cuci.


Magisna menggeleng-geleng dengan ekspresi terguncang.


"Ular-ular itu…" Dini tergagap-gagap. "Keluar dari luka Magisna!" Ia memberitahu seraya menunjuk tangan Magisna.


Magisna mengangkat tangannya dan menjerit sekuat tenaga.


Sejurus kemudian, terdengar suara-suara berdebuk ribut mendekat ke pintu toilet. "Siapa di dalam?" Teriakan-teriakan gusar mendengung bersahut-sahutan.


Magisna menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya, kemudian merapatkan punggungnya ke dinding.


Empat orang murid perempuan menyeruak masuk ke dalam toilet dan menghambur ke arah Magisna.


"Eka! Lu kenapa?" Cewek-cewek itu bertanya nyaris bersamaan.


Magisna menggeleng cepat-cepat. "Gu---gua gak pa-pa!" jawabnya terbata-bata. Keringat dingin membanjir di wajahnya, bercampur dengan air mata. Dadanya turun-naik tak stabil. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya gemetar tak terkendali.


Salah satu dari cewek-cewek tadi mengusap kening Magisna dengan punggung tangannya, sementara cewek lainnya memperhatikan Magisna dengan raut wajah cemas.


Magisna melirik ke arah Dini dan Jingga melalui bahu salah satu cewek yang sedang mengerumuninya.


Kedua gadis kasatmata itu hanya bertukar pandang dengan ekspresi tak kalah cemas.


Mereka melirik bak cuci dan mendapati isinya telah kosong dan terlihat normal.

__ADS_1


Ke mana perginya anak-anak ular tadi? pikir mereka kebingungan.


Magisna masih menatap mereka dengan ekspresi tak kalah kebingungan.


Kedua gadis itu mengangkat bahunya bersamaan.


"Anak-anak lu udah pada ilang," kata Jingga seenak perutnya.


Magisna mengetatkan rahangnya dan melotot pada Jingga.


Jingga menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring.


Magisna mendelik sebal.


"Mau kita anter ke UKS?" Salah satu dari cewek-cewek yang mengerumuni Magisna menawarkan bantuan.


Magisna menggeleng lagi. "Gua beneran gak pa-pa!" ulangnya, berusaha meyakinkan teman-temannya.


Cewek-cewek itu mengembuskan napas lega.


Magisna masih terengah-engah. Kedua tangannya masih tersembunyi di belakang tubuhnya. Wajahnya masih terlihat pucat.


Cewek-cewek di sekelilingnya mengawasi tangan Magisna dengan tatapan curiga. Tapi tak mengatakan apa-apa. Mereka menepuk bahu Magisna secara bergantian, kemudian berpencar dan meninggalkannya satu per satu.


"Lu beneran gak apa-apa?" tanya cewek yang terakhir.


Magisna mengangguk cepat-cepat.


"Kita tinggal ya?"


Lalu cewek itu memutar tubuhnya dan berjalan menjauh, kemudian menghilang di balik pintu.


Magisna mengembuskan napas kasar dan merosot di lantai. Kedua lututnya gemetar tak terkendali. Kedua bahunya menggantung lemas.


Bagaimana bisa ular-ular itu keluar dari tubuhku? Magisna membatin gusar. Lalu kata-kata Dika terngiang di kepalanya.


"Lihat apa, ular tedung?!"


Apa aku benar-benar dirasuki ular?


Apa aku salah satu dari mutan?


Apa yang terjadi padaku sebenarnya?


Mati suri—mata ketiga… apa semua itu ada hubungannya dengan ular-ular tadi?


Magisna mengangkat tangannya dan memeriksa luka di pergelangan tangannya. Tidak ada ular. Pendarahannya bahkan sudah berhenti. Lukanya tidak terlalu dalam, dan… tidak meninggalkan rasa perih sedikit pun.


Aneh, katanya dalam hati. Kenapa tidak terasa sakit sama sekali?


Dini dan Jingga mengawasinya dalam kebisuan.


Magisna melirik mereka satu per satu. Mereka sudah seperti hantu sungguhan, gumamnya dalam hati. Lalu mendesah pendek dan menarik bangkit tubuhnya.


"Sini, biar gua yang bawa pisaunya!" Jingga akhirnya menawarkan diri.


Sesaat Magisna terlihat ragu.

__ADS_1


"Elu keliatan, gua kan nggak!" Jingga mengingatkan. "Orang-orang bakal heboh kayak tadi kalo lu nyerang Dika."


Benar juga, Magisna sependapat. Kemudian menyerahkan pisau itu pada Jingga.


Jingga memeriksa pisau itu dengan alis bertautan. "Keliatannya kayak pisau dapur biasa," katanya tak bersemangat. "Apa sih istimewanya?"


"Karena dia pisau hantu!" sergah Magisna tak sabar.


"B aja, Kampret!" Jingga menyergah balik sembari menoyor pelipis Magisna. Magisna balas menoyornya.


Dini spontan terkekeh menyaksikan tingkah laku keduanya.


Lalu ketiganya keluar dari toilet setelah mendengar bel ketiga dibunyikan.


"Dika bisa liat gua nggak?" tanya Jingga ketika mereka berjalan beriringan di koridor.


Magisna tidak menjawab.


"Kalo gua nusuk dia dalam kelas, kira-kira bakal gencar nggak?" Jingga bertanya lagi. Lebih keras dari sebelumnya.


Magisna mengerang dan memutar-mutar bola matanya. Dia sengaja melakukannya untuk mengerjai aku, rutuknya dalam hati.


Lalu Jingga cengengesan sembari membekap mulutnya dengan satu tangan.


Magisna mendelik ke arahnya dengan tampang sebal.


Dini hanya tersenyum tipis dan menggeleng-geleng.


Begitu mereka memasuki kelas, ketiganya spontan melirik ke arah Dika.


Cowok itu duduk membungkuk dengan kedua tangan bersilangan di depan dada. Punggungnya bersandar dengan posisi duduk sedikit merosot. Tatapannya menerawang udara kosong di depannya dengan ekspresi wajah tetap datar seperti biasa.


Magisna melewatinya tanpa menoleh lagi.


Jingga menyelinap ke gang di sisi bangku Dika dan mengendap-endap mendekati cowok itu.


Sebelum Magisna menyadari apa yang terjadi, Jingga tahu-tahu sudah mengayunkan pisau di tangannya dan menancapkannya pada tengkuk Dika.


Dika terperangah tanpa suara.


Dini memekik terkejut dan secara spontan menarik perhatian Magisna.


Serta-merta Magisna menoleh ke arah mereka dan tergagap.


Kabut merah menyembur keluar dari tengkuk Dika dan merubung ke seluruh kelas.


Magisna membekap mulutnya dengan mata terbelalak.


Dika terkulai lemas dan berguling dari bangkunya.


Seseorang kemudian memekik, "Dika!"


Seisi ruangan setentak menoleh ke arah Dika.


BRUK!


Tubuh Dika ambruk di lantai menimpa kaki Dini dan seketika itu juga Dini seperti terhisap ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2