Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 54


__ADS_3

"Sistem pendidikan adalah strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri mereka," tutur Papa Tibi lugas. "Kebobrokan sistem pendidikan artinya potensi kebobrokan!"


Magisna terperangah. Sekali lagi kata-kata hantu Suzy Yan melintas dalam benaknya.


"Sekolahan itu di ambang kehancuran!"


"Apa tepatnya yang akan terjadi?" Magisna menuntut penjelasan. Aku sudah lelah dengan semua teka-teki, pikirnya.


"Anak-anak di sekolah akan menjadi… mutan!" jawab Papa Tibi setengah menggumam.


Keempat remaja dalam ruangan terkesiap.


Mutan adalah individu yang mengalami proses mutasi atau mengalami perubahan pada DNA atau RNA dan menimbulkan perubahan sifat karena adanya proses mutasi. Fenomena ini terjadi karena penyimpangan yang terdapat pada kromosom.


"Tapi…" Magisna tergagap beberapa saat sebelum akhirnya dapat bertanya, "Bagaimana bisa begitu?"


"Tentu saja karena adanya campur tangan entitas lain dalam hal ini," kata Papa Tibi tetap datar dan serius. "Karena di daerah sekitar sini tidak ada ilmuwan, maka hal yang paling mungkin terjadi di sini adalah fenomena mistis!"


"Maksud saya…" Magisna masih belum mengerti. "Apa yang membuat entitas lain ini melakukannya? Ini jelas seperti tulah! Apakah mereka marah? Apa yang membuat mereka mengutuk kita?"


"Saya tidak tahu banyak mengenai sistem pendidikan saat ini, tapi melihat reaksi alam semesta yang begitu frontal, saya menduga adanya penyimpanan budaya di sekolah!"


Magisna mengerjap dan kembali tergagap.


"Terakhir kali alam semesta menetaskan pemugaran dalam bentuk tulah dan bencana alam…" Papa Tibi terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Gardu lonceng telah menjelma sebagai Mahkamah Prohibisi! Setiap orang menunggu keputusannya. Dan setiap keputusannya dipatuhi setiap orang. Tanpa terkecuali!"


Magisna menelan ludah yang langsung tercekat di tenggorokannya.


Semua yang dikatakan hantu Suzy Yan telah ditafsirkan oleh Papa Tibi.


Orang tua ini benar-benar bijaksana, puji Magisna dalam hatinya.


"Apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal semua ini?" Magisna kembali bertanya.


Papa Tibi tersenyum tipis. "Saya bukan orang berilmu tinggi, Nak!" Seolah bisa membaca pikiran Magisna, orang tua itu mulai memaparkan mengenai jati dirinya. "Saya hanya penjaga gardu lonceng, bukan juru kunci atau ahli spiritual. Hanya saksi perjalanan waktu."


Magisna menarik napas berat dan mengembuskannya perlahan. Dadanya mendadak terasa sesak, seperti ada beban berat yang menghimpitnya.


Sebagian teka-teki mulai terungkap, tapi teka-teki lain justru bermunculan semakin banyak.


Apa yang dapat ia lakukan?


"Beristirahatlah, Nak!" Papa Tibi menegurnya. "Hari sudah larut malam," ia mengingatkan seraya melirik jam dinding di atas pintu.


Magisna tertunduk lesu. Tak puas dengan pertemuan singkat mereka.


Ais dan Agustin menepuk bahu Magisna di kiri-kanannya, mengisyaratkan bahwa hari ini sudah cukup.


Dengan berat hati, Magisna akhirnya berpamitan pada keluarga Ais, Dini dan Papa Tibi.

__ADS_1


Lalu Ais dan Agustin mengantarnya pulang sampai di rumah.


Ais membawa sepeda motornya, sementara Agustin mengantarnya dengan mobil Jeep.


Perjalanan malam itu tanpa kendala. Tapi Magisna tetap gelisah sampai di rumah. Ia bahkan tak mampu memejamkan matanya hingga waktu beranjak dini hari.


Memecahkan sebagian teka-teki membuatnya semakin resah.


Papa Tibi masih menyembunyikan sesuatu, ia menyimpulkan. Dia pasti bukan sekadar penjaga gardu lonceng, bukan centeng biasa. Aku bisa melihatnya. Dia benar-benar bijaksana. Begitu bijaksana, sampai-sampai ia terlalu berhati-hati.


Tapi yang paling membuatnya gelisah adalah membayangkan semua murid sekolah menjadi mutan.


Akan seperti apa sekolah dengan guru dan murid yang mutan semua?


Apakah semuanya akan memakai hoodie dan kacamata… blue ray?


Oh, yang benar saja! erang Magisna dalam hatinya.


Apakah Pak Isa, Novi, Dika, Hendra dan Alexza adalah mutan?


Apa Kiddo juga?


Bagaimana dengan aku? pikirnya tiba-tiba. Aku mengalami mati suri dan mengalami perubahan. Dan… mereka mengataiku ular tedung! Apa aku akan menjadi siluman ular?


Seketika bulu kuduk Magisna meremang. Ia menyentakkan tubuhnya hingga duduk, lalu merayap turun dari tempat tidurnya dan mendekat ke meja rias. Ia membungkuk di depan meja rias itu, menatap cermin dan mengamati bayangannya. Ia memeriksa kedua matanya dalam cermin, tidak ada yang berubah pada warna matanya.


Kau terlalu berlebihan! Ia memarahi dirinya.


Kebenaran tentang cerita dalam labirin itu mungkin adalah jawabannya.


Aku harus menemui Miss Pinkan, ia memutuskan. Lalu memaksa dirinya tidur.


Belum lama rasanya ia terlelap, tahu-tahu ibunya sudah membangunkannya lagi.


Magisna menggeliat malas dan mengerjap-ngerjap, kemudian melirik jam dinding di atas pintu kamarnya sembari menguap. Waktu baru menunjukkan pukul 06:15.


"Ma, ini masih terlalu pagi!" protes Magisna di antara kuapannya.


"Kamu lupa hari ini ada panggilan sidang?" Ibunya mengingatkan.


"Hah?" Magisna melengak. Masih belum bangun sepenuhnya. "Sidang apa?" Tapi kemudian ia terperanjat dan terduduk di tempat tidurnya. Ia baru ingat hari ini ia harus menjadi saksi dalam sidang kasus Gabrielle, lalu buru-buru bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Sejurus kemudian ia sudah selesai dan keluar lagi, menyiapkan buku dan seragam sekolah untuk berjaga-jaga barangkali nanti tak sempat pulang dulu. Aku akan langsung berangkat ke sekolah, pikirnya.


Setelah sarapan, ia berangkat sendiri ke pengadilan dengan mengendarai sepeda motornya.


Ais dan Agustin juga ada di sana. Begitu juga dengan Hendra dan Miss Pinkan.


Jati dan teman-temannya juga datang ke persidangan.


Mula-mula Magisna tidak mengenali mereka kecuali cewek berwajah oval khas bule Belanda. Mereka semua mengenakan seragam sekolah dan rambut anak-anak cowok itu tidak ada yang gondrong—-apalagi yang sampai sepinggang, hanya sebatas rahang dengan poni menyamping menutupi alis—khas emo style. Tapi tetap saja masih terlalu panjang untuk ukuran anak sekolah. Lebih panjang dari potongan rambut Hendra dan Pak Isa.

__ADS_1


Dengan seringai lebar yang bersahabat, Jati mendekat ke arah Magisna dan menyapanya.


Magisna tersenyum ragu---takut salah mengenali orang. Tapi setelah jarak mereka tinggal selangkah, Magisna akhirnya mengenalinya dari bet namanya: JATI ACHMAD. Magisna balas menyapanya dan mereka akhirnya bersalaman.


"Ketemu lagi kita," celoteh Jati di antara senyum manisnya.


Well---yeah, batin Magisna getir. Tidak kusangka kita bertemu lagi dalam situasi yang seperti ini. Apa tidak ada tempat yang lebih romantis?


Hendra mendelik ke arah mereka dengan raut wajah datar. Magisna balas meliriknya diam-diam. Hendra tampak menyedihkan terpisah dari gerombolannya, pikir Magisna. Tapi kelihatannya cowok itu bahkan tak mau repot-repot mencari teman bicara.


Ais dan Agustin berusaha menyapanya, tapi Hendra mengabaikan mereka.


Ais dan Agustin terlihat terkejut, kemudian melayangkan isyarat bertanya ke arah Magisna yang sudah bergabung dengan teman-teman Jati.


Magisna mengangkat bahunya sekilas, lalu buru-buru memalingkan wajahnya menghindari tatapan Hendra. Pura-pura sibuk dengan Jati dan teman-temannya. Sebut saja sok akrab!


Dari bet namanya, Magisna mengenal mereka. Denise Van Til, Juna Lubis dan Putra Juanda.


"Lu apain rambut lu, kok jadi begitu?" tanya Magisna pada Jati, sekadar berbasa-basi.


"Jadi begitu apa?" Jati terlihat bingung.


"Jadi pendek," geram Magisna. Gak peka, pikirnya jengkel.


"Emang tadinya rambut gua semana? Sepinggang?" kelakar Jati sembari terkekeh. Ketiga temannya hanya menyeringai.


Magisna sontak memicingkan matanya, "Emang iya, kan?"


Jati menautkan alisnya. "Gua bisa digorok kepala sekolah kalo rambut gua sepinggang!"


Benar juga, pikir Magisna. Mereka semua masih sekolah. "Jadi yang kemaren itu rambut palsu?"


"Rambut palsu?" Jati terlihat semakin bingung. "Dari esde rambut gua udah begini," kelakarnya.


Ketiga temannya cengengesan.


"Wah! Cakep-cakep rabun!" goda Jati.


Magisna langsung terdiam. Aneh, katanya dalam hati. Kenapa dia bersikap seolah-olah tak pernah berambut gondrong?


Apa aku yang salah lihat?


"Jadi kalian gak pernah gondrong?" Magisna bertanya lagi, kali ini ditujukan pada semuanya.


"Kalian?" Jati dan teman-temannya melengak bersama.


"Rambut kalian kemaren gondrong!" Magisna bersikeras.


"Cuma Denise kok yang gondrong," kelakar Putra Juanda sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


Denise adalah nama cewek bule Belanda yang terus menempel dengan Juna Lubis.


Jadi mataku sudah tak beres dari sebelum kecelakaan?


__ADS_2