Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 29


__ADS_3

"Ya, ampun, lihat badai itu!" kata Senja bersemangat, suaranya nyaring melewati kasak kayu yang tinggi ketika dia berjalan mondar-mandir di depan keempat remaja itu. "Dengarkan angin itu! Kecepatannya sekitar enam kaki! Tidak bisa dipercaya!" Lalu berhenti berjalan di depan Magisna. "Kau tidak jelek, Nak. Apa aku sudah bilang tadi kalau aku suka gadis hitam manis?"


Hendra menatapnya dengan mata terpicing.


Magisna mengernyit risih. Bisa ia rasakan wajahnya berubah warna. Sebagian karena dingin, sebagian karena merasa tak nyaman. Apa sih yang dia pikirkan?


Ia berusaha menahan dirinya untuk tidak mencela pria itu dan mencoba untuk mengabaikannya. Bagaimanapun, mereka bersedia menampung kami malam ini, pikirnya.


Untuk sesaat, pikirannya sedikit mencair.


Ditatapnya nyala api kemerahan, seolah-olah merasa terhipnotis.


Setiap orang di dalam ruangan tampaknya merasa tak sadarkan diri untuk beberapa saat.


Segalanya hilang dari pandangan, dan Magisna sendiri kehilangan kesadaran di dalam cahaya hangat yang berpendar.


Ketika dia terjaga dari keadaan tak sadar yang menyamankannya, tiba-tiba ia teringat pada kedua orang tuanya. Mereka pasti mengkhawatirkan aku, pikirnya. "Apa Anda punya telepon?" tanya Magisna pada Senja yang duduk di kursi berlengan robek-robek di paling ujung sofa, membaca sepintas sebuah majalah lusuh.


"Kakek gua—" pekik Hendra tiba-tiba, seperti terbangun dari mimpi secara mendadak. "Dia bakal bunuh gua!"


Magisna meliriknya sembari terkekeh. "Gua kira lu gak takut apa-apa?" ejeknya.


"Gua gak takut!" sergah Hendra. "Gua cuma capek kalo harus bo'ong lagi!"


Ais dan Agustin terkekeh di samping mereka.


Senja menunjukkan sebuah meja rendah di bawah balkon dekat tangga. "Teleponnya di sana. Coba saja! Salurannya rusak pagi tadi, tapi mungkin sudah baik sekarang."


Hendra dan Magisna berebut ke arah telepon itu. Hendra sampai di meja telepon lebih dulu, mengangkat telepon dan mendengarkannya. "Ada sedikit gangguan," katanya. "Tapi kayaknya masih bisa pake." Dia mulai menelepon kakek-neneknya.


Magisna memandang ke arah api. Ais sudah berbaring di atas sofa, berbantalkan sebelah tangan yang terlipat di belakang kepalanya.


"Lu berdua gak mau telepon ke rumah?" tanya Magisna.


"Aku bisa menunggu," Agustin melirik sekilas, mengangkat lututnya, mencondongkan badannya ke depan dan menarik kaos kakinya.


"Gua gak bisa denger jelas!" teriak Hendra pada gagang telepon. Dia tetap berusaha meyakinkan neneknya bahwa dia sekarang baik-baik saja. Lalu Magisna berikutnya, dan dia bisa mendengar neneknya masih memarahi Hendra. Magisna mengernyit dan menggeleng-geleng.

__ADS_1


Gabe datang dengan seteko besar kopi panas dan sebongkah roti pisang. Magisna tidak mengira bahkan kopi pun beraroma sangat enak. Ia tak sadar dirinya sedang lapar. Sudah berjam-jam sejak Magisna dan teman-temannya menyelinap ke kantin sekolah, dia belum makan apa-apa lagi kecuali setengah botol air mineral yang diberikan Papa Tibi.


Hari ini benar-benar terasa begitu panjang, pikirnya.


"Maaf, kami sedang tidak berada di rumah sekarang…" suara ibunya terdengar statis.


"Sulit dipercaya!" katanya pada Hendra. "Gua ngomong sama tape!"


Hendra mengangkat bahu.


Magisna menunggu bunyi bip dan meninggalkan pesan, mencoba untuk berteriak di antara gangguan suara telepon. Ketika ia meletakkan telepon, Magisna baru sadar kalau ia merasa sedikit tertekan. Ia benar-benar ingin berbicara dengan kedua orang tuanya, mendengarkan suara mereka.


Mereka biasanya ada di rumah pada Sabtu sore. Ia punya firasat yang mengerikan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada mereka. Ia bisa merasakan sekali firasat itu. Magisna memang orang yang suka khawatir, itu saja. Ia tak bisa mengubahnya.


Aku tahu ini kekanakan, katanya dalam hati. Tapi di sini aku berada di rumah orang asing entah di mana, mungkin beberapa ratus mil jaraknya dari rumah. Aku bahkan tak tahu di mana tepatnya. Di tengah hujan badai terburuk yang pernah kulihat. Dan aku cuma ingin berbicara dengan ayah dan ibuku, menceritakan pada mereka apa yang telah terjadi.


Seketika Magisna merasa kecewa. Merasa terasing di suatu tempat terpencil.


Roti pisang dan kopi itu banyak menghiburnya. Mereka semua kelaparan dan mereka tidak menyadarinya. Mereka makan roti itu dengan rakus, dan Gabe membawa lagi roti yang lain, yang juga mereka santap dengan lahap.


"Anda benar-benar baik sudah mau menampung kami," kata Agustin pada Senja.


Hendra dan Agustin saling berdempetan di ujung lain sofa.


Magisna kembali ke tempatnya di karpet depan perapian.


"Tak usah dipikirkan!" Senja meletakkan majalah yang sedang dibalik-baliknya. Sebenarnya itu bukan majalah. Itu katalog senjata. "Kalian suka berburu?" tanyanya.


"Gua suka," kata Hendra antusias. "Bokap gua sering ngajak gua waktu kecil."


Senja tiba-tiba tertawa. Entah karena apa. Matanya yang hitam kelihatan terangkat. Dia menunjuk, ke atas perapian ke arah dua kepala macan kumbang yang menempel di atas cerobong batu.


Magisna menelan ludah. Ia tidak memperhatikannya sampai saat ini. Terlalu terpesona oleh nyala api.


Ais dan Agustin bertukar pandang dengan raut wajah ngeri.


"Lihat benda-benda indah itu," kata Senja dengan raut wajah bangga, kemudian menaikkan tangannya seolah-olah sedang memegang sebuah senapan dan membidik ke arah kepala macan kumbang dan menembaknya.

__ADS_1


DOR! DOR! DOR!


Magisna terperanjat membayangkan pria itu menembaknya.


Pria itu tertawa lagi. "Tidak ada yang lebih menarik selain berburu," katanya seraya menatap ke arah Magisna. "Tapi aku mengerti kenapa mukamu seperti itu," katanya pada Magisna dengan tatapan penuh arti.


Magisna merasakan bulu kuduknya meremang. Ada apa dengan pria ini? Ia bertanya dalam hati. Kenapa dia terus-terusan membuatku merinding?


"Berburu adalah olahraga laki-laki," Senja menyeringai.


Magisna memaksakan senyum tanpa berani menatap wajahnya, dan kembali memilih fokus pada perapian.


"Yeah," Hendra juga menyeringai. "Bokap gua juga bilang gitu!" Rambut hitamnya yang sedikit mengikal di bagian ujung, menempel di dahi dan pelipisnya. Tampak bersinar di antara nyala api. "Dia pernah ngajarin gua cara nembak waktu gua umur dua belas, dan itu butuh sentakan yang cukup kuat. Tapi gua udah mulai bisa nembak dari waktu itu."


Magisna tidak merasa terkesan. Tentu saja kau suka menembak, batinnya sinis. Hendra sebetulnya anak yang baik. Punya tampang cakep dengan senyum manis yang bisa membuat matanya berkerut mengagumkan. Dia juga punya selera humor yang menyenangkan. Tapi sifat dasarnya yang suka pamer membuat Magisna sedikit sebal.


Senja menatap ke arah Hendra seolah-olah sedang menilainya. "Kau bisa menggunakan senjata api?"


Hendra menatap balik ke arah pria itu seolah-olah menerima tantangannya.


Please, Hendra! erang Magisna dalam hati. Jangan mulai!


Jangan coba-coba membuktikan apa pun pada Senja!


Senja kelihatannya agak menyombongkan diri juga.


Magisna memperhatikan pria itu berjalan ke rak senjata besar yang terbuat dari kaca di dinding pondok di sudut ruangan. Hendra dan Agustin mengikutinya.


Magisna melirik Ais yang tidak bergerak dari tempatnya. Anak laki-laki itu menatap dua kepala macan kumbang di atas perapian dengan raut wajah keruh.


"Lihat benda bagus ini," kata Senja seraya mengangkat sebuah pistol besar ke arah Hendra yang menerimanya dan dengan patuh mengakuinya. Senja menyeringai lebar. "Lihat senapan berburu ini! Benar-benar sempurna!"


"Keren," komentar Hendra. "Senjata ini bagus!" Dia mengarahkan pistol ke arah kepala-kepala macan kumbang dan berpura-pura menembak.


Magisna kembali tersentak membayangkan Hendra benar-benar melakukannya.


Apa yang terjadi? ia mengerang dalam hati.

__ADS_1


Kenapa rasanya aku lebih bersimpati pada dua macan kumbang itu?


__ADS_2