Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 50


__ADS_3

BRUAK!


Dika tiba-tiba menendang mejanya hingga terjungkal, Magisna terpelanting ke belakang hingga membentur meja guru.


Seisi ruangan berubah gaduh.


Murid-murid perempuan terperanjat dari tempat duduknya dan menghambur ke arah Magisna.


Dika melompat dari bangkunya dengan gerakan yang tidak manusiawi, ia mendarat tepat di depan Magisna dan mencekik lehernya. "Apa tepatnya yang ingin kau lihat?" geramnya pada Magisna. Kedua matanya berkilat-kilat, warnanya hijau terang.


Magisna memekik tertahan. Mengawasi sepasang mata itu dengan ketakutan. Tidak salah lagi, katanya dalam hati. Dika memang dirasuki.


"Dika!" Beberapa anak perempuan menjerit seraya merenggut pergelangan tangan Dika. Berusaha melepaskan cengkeramannya dari leher Magisna.


Dika mengetatkan rahangnya dan menyambar kacamatanya dari genggaman Magisna, kemudian memakainya dan melepaskan Magisna setengah melempar.


Magisna terdorong ke samping dan terpuruk, lalu terbatuk-batuk seraya memegangi lehernya.


Dika mendengus dan mengedar pandang, lalu bergegas ke bangkunya, memungut tasnya yang terlempar ke lantai, kemudian bergegas meninggalkan kelas seraya mencebik.


Seisi kelas menatapnya dengan terperangah. Masalah kacamata saja sampai segitunya, pikir mereka heran.


Murid-murid perempuan mengerumuni Magisna dengan tampang cemas.


"Lu gak pa-pa kan, Ka?" Salah satu dari mereka bertanya pada Magisna.


Magisna menelan ludah dan menggeleng dengan susah payah. Dadanya turun-naik dengan cepat, napasnya tersengal-sengal. Dua orang murid perempuan membantunya berdiri. Kedua lututnya goyah dan gemetaran.


"Si Dika itu kenapa sih?" Seseorang menggerutu. "Kelakuannya bener-bener aneh deh!"


Magisna tidak menjawab, masih syok dengan serangan mendadak tadi. Tenaganya meningkat seratus kali lipat, pikirnya ngeri. Makhluk apa sebenarnya yang merasuki Dika?


Apakah Pak Isa, Novi, Hendra dan Alexza juga dirasuki entitas yang sama?


Melihat kedekatan mereka yang tak wajar, sepertinya mereka satu golongan!


Aku harus berbicara dengan seseorang, pikir Magisna. Kalau tidak aku bisa gila. Tapi siapa yang akan percaya?


"Eka!" Salah satu murid perempuan mengguncang bahu Magisna.


Magisna mengerjap dan tergagap menatap wajah di depannya seolah ia baru terbangun.


"Lu punya masalah apa sama Dika?" Pertanyaan anak perempuan itu membuat Magisna mengatupkan mulutnya dengan ekspresi muram.


"Pertanyaannya, Dika punya masalah apa sama kacamatanya?" Anak perempuan lain menyela mereka. "Sejak dia pake kacamata itu, kelakuannya jadi aneh belakangan ini!"


"Tul, tuh!" Anak perempuan lainnya lagi mengangguk sepakat. "Setau gua, dia gak punya masalah mata minus atau sejenisnya."


Magisna menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Kesesakan masih menghimpitnya. Tapi ia tahu masalahnya bukan pada pernapasan. Aku ketakutan, ia menyadari. Aku ketakutan setengah mati!


Seorang guru memasuki kelas dan memelototi mereka.


Seisi kelas serentak menghambur ke bangkunya masing-masing.


Magisna melangkah pelan ke arah bangkunya di deretan paling belakang.


Guru itu memperhatikan Magisna dengan mata terpicing, kemudian mengedar pandang dengan raut wajah curiga.


Seisi kelas hanya tertunduk.


Magisna duduk tercenung dengan wajah pucat. Kedua tangannya gemetar dan berkeringat.


"Eka!" Pak Guru menegur Magisna. "Kamu masih sakit?"


Magisna menggeleng.


"Kelihatannya kamu belum pulih benar," kata Pak Guru.


"Tidak apa-apa, Pak!" jawab Magisna tanpa berani mengangkat wajahnya. "Saya masih bisa mengikuti pelajaran."


Guru itu mengangkat bahunya, mengambil kapur, dan memulai pelajaran.


Saat jam pulang, Magisna berpapasan dengan Hendra dan Alexza di teras sekolah. Pasangan itu sedang berjalan ke arah parkiran, sementara Novi dan Dika berjalan di depan mereka mengekori---siapa lagi kalau bukan—kepala sekolah mereka.


Mereka sudah terlihat seperti keluarga belakangan ini.


Beberapa murid melirik mereka dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Novi dan Dika menyelinap ke dalam mobil Pak Isa, sementara Hendra dan Alexza berboncengan menaiki sebuah sepeda motor yang tampak tak asing di mata Magisna.


Magisna membekap mulutnya dengan sebelah tangan.


Sepeda motor itu…


Ia ingat pengendara sepeda motor itulah yang mendorongnya tempo hari.


Jadi itu Hendra?


Atau Alexza?


Pasti salah satu dari mereka, Magisna menyimpulkan. Hendra terperosok di ladang Van Til hari itu, kenang Magisna. Jadi pelakunya pasti Alexza.


Tapi kenapa dia melakukannya?


Kenapa dia ingin membunuhku?


Apa ini ada kaitannya dengan Hendra?


Karena Hendra menghilang di ladang?


Atau karena hal lain?


Alexza tahu dari mana Hendra hilang hari itu?


Tidak, pikir Magisna. Alexza tidak tahu Hendra hilang hari itu. Ini tidak ada hubungannya dengan hilangnya Hendra. Ini jelas masalah pribadi.


Alexza tak pernah suka perempuan lain mendekati Hendra.


Alexza melakukannya karena cemburu!


.


.


.


Keesokan harinya…


Magisna berusaha datang lebih awal. Jadi ia memutuskan untuk membawa sepeda motor.


Apa aku salah sekolah?


Bangunan sekolah di depannya terlihat baru dan ramai.


Tidak terlihat seperti SMUN 1 Cileles yang bobrok kemarin.


Tapi papan besar yang terpampang di dekat gerbang bertulisan SMUN 1 Cileles.


Magisna mendesah berat dan mengatupkan matanya lekat-lekat, berharap ketika ia membuka mata, pemandangan di sekitarnya akan berubah.


Tapi tidak terjadi apa-apa.


Pemandangan di sekitarnya tidak berubah. Sekolahan itu benar-benar masih baru.


Tidak mungkin mereka merenovasi bangunan sekolah dalam satu malam, kan?


Apa sebenarnya yang terjadi?


Apa pun itu, aku jelas punya masalah serius! Magisna menyimpulkan.


Bagaimana tidak, masalah-masalah aneh yang tak masuk akal ini membuatnya hampir gila.


Pertama-tama dia terjebak di ruang bawah tanah dan diteror mahkluk aneh dalam bentuk kabut, lalu kepala sekolah mereka dan teman-temannya berubah. Bersamaan dengan itu dia tersesat di tengah perkebunan, terjebak dalam hujan badai dan bertemu dengan hantu yang memberikan tumpangan untuk mereka bermalam dan hampir tidak bisa pulang. Lalu mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Ia bahkan melihat hantu yang merebut tubuh seseorang di rumah sakit dan sekarang dia harus berhadapan dengan sedikitnya enam orang yang kerasukan.


Aku pasti sudah sinting!


"Magisna!" Suara seorang pria menariknya ke dalam kenyataan.


Magisna memicingkan matanya ketika seorang cowok jangkung berwajah putih mendekat pada Magisna. "Agustin?" Magisna menyadari. "Ngapain lu di sini?"


"Aku sekolah di sini," kata Agustin seraya menunjuk logo SMU pada seragamnya.


Magisna mendesah pendek. Lalu kembali mengedar pandang. Bangunan sekolah itu tetap tak berubah. Masih tampak baru dan terkesan segar.


"Kau datang kesiangan tau," kelakar Agustin.

__ADS_1


Magisna memalingkan wajahnya ke arah Agustin dan memaksakan senyum. Tiba-tiba ia merasa harus bicara. Ia benar-benar butuh teman untuk bicara. Agustin adalah orang yang paling tepat. Agustin takkan mencela dan menganggapnya gila.


"Lu udah mau pulang, ya?" tanya Magisna akhirnya.


Seolah dapat membaca pikiran Magisna, Agustin menanggapi dengan penuh perhatian. "Mau mengobrol?"


Magisna mengangguk dan tersenyum tipis.


"Kalau begitu kita bicara di kantin saja," Agustin mengusulkan, lalu membimbing Magisna ke kantin sekolah. Magisna memutar tubuhnya ke arah dia datang dan berjalan bersisian melewati parkiran.


"Apa yang ingin kaubicarakan?" Agustin bertanya setelah mereka tiba di kantin dan mengambil meja paling pojok.


Mereka berpapasan dengan Dini Apriyanti ketika menyeberangi ruangan.


Aku tidak salah sekolah, kata Magisna dalam hati. Kemarin aku berpapasan dengan cewek itu di depan gerbang sekolah. Kurasa matakulah yang bermasalah.


Agustin memesan dua gelas jus jeruk dan menawari Magisna pilihan lain.


Magisna sudah makan siang sebelum berangkat sekolah, tapi kentang goreng sepertinya lumayan. "Kentang goreng aja," katanya.


Agustin menarik bangku dan duduk di sisinya setelah selesai memesan makanan dan minuman mereka.


Seisi kantin memperhatikan mereka dengan pandangan menggoda.


Agustin tidak mempedulikan mereka.


"Katakanlah, ada apa sebenarnya?" Agustin bertanya langsung kepada intinya.


Banyak hal yang ingin dikatakan Magisna. Tapi kalau dikatakan semuanya bisa menghabiskan waktu dua hari, unek-unek di kepalanya terlalu banyak, sampai-sampai ia tidak tahu dari mana harus memulainya. "Lu masih inget Senja?" Magisna akhirnya memulai dari hal yang paling gila menurutnya.


"Ya, kenapa?"


"Dia udah meninggal," kata Magisna tanpa mengangkat wajahnya.


"Hah? Kapan?" Agustin memelototinya dengan raut wajah kaget.


"Sepuluh tahun yang lalu," jawab Magisna sedikit tercekat.


"Apa?" Agustin mengerutkan keningnya.


"Pria itu bukan manusia, cuma kita yang bisa liat dia. Gabe… dan anak-anak yang disekap bareng lu gak bisa liat dia!" Magisna akhirnya mengangkat wajah, menatap Agustin untuk melihat reaksinya.


Agustin membeku sesaat sebelum akhirnya dapat berkata, "Sambekala!"


Magisna menelan ludah. "Lu yakin dia Senja yang hilang di Doolhof? Jati bilang dia meninggal karena ketembak."


"Kau bicara dengan Jati?" Agustin mengerutkan keningnya lagi.


"Dia ke kamar gua sebelum dia disekap dan… minta supaya kita cabut malam itu juga."


"Dia juga berusaha menyelamatkan kami," sela Agustin.


Lalu keduanya terdiam.


Seseorang datang ke meja mereka mengantarkan pesanan. Setelah orang itu pergi, Agustin baru melanjutkan ceritanya.


"Dia juga tertangkap," bisik Agustin setengah menggumam.


"Siapa yang nyekap kalian? Gabe?" Magisna penasaran.


Agustin menggeleng. "Mereka semua memakai hoodie dan kacamata."


Magisna menelan ludah dan tercekat di tenggorokan. "Berapa orang?"


"Empat orang!"


Sama persis seperti yang dikatakan Miss Pinkan, pikir Magisna. Miss Pinkan tidak berbohong. Tapi jelas Gabe tidak bersalah.


"Dua cewek, dua cowok?" Magisna menanyakan hal yang tiba-tiba melintas dalam benaknya, terpikirkan begitu saja.


"Ya!" jawab Agustin.


Tidak! Magisna memekik dalam hatinya. Bukan mereka, kan?


Tidak!


Sebaiknya bukan mereka!

__ADS_1


Kuharap bukan mereka!


__ADS_2