
"Kelas pelatihan khusus sebetulnya hanyalah nama sebuah ruangan," Senja mulai bercerita. "Tidak ada pelatihan khusus ketika semua anak dikurung di dalam ruangan itu. Tidak ada apa-apa. Hanya papan tulis." Senja berhenti sesaat, kemudian menambahkan, "Setiap sisi ruangan itu dipenuhi papan tulis."
Magisna mengerutkan dahinya.
"Anak-anak itu hanya disuruh menulis: saya menyesal, bla bla bla…" Senja melanjutkan. "Tapi salah satu anak menjatuhkan papan tulisannya."
"Terus…?"
"Mereka menemukan lorong di balik papan tulis itu. Jadi… daripada harus membuang waktu menyelesaikan hukuman yang membosankan, mereka lebih memilih untuk menyelinap!"
Aku bisa mengerti bagian ini, pikir Magisna.
"Tidak ada yang tahu mereka menyelinap ke lorong itu," lanjut Senja. "Mereka menutupnya lagi dengan papan tulis, sehingga… ketika guru mereka kembali, kelas pelatihan khusus itu telah kosong, dan guru mereka berpikir mereka sudah pulang dan kabur dari hukuman. Jadi ketika mereka tak muncul keesokan harinya, semua orang mengira mereka ketakutan."
"Apa yang terjadi sama mereka?" Magisna penasaran.
"Mereka berpesta!" jawab Senja.
"Pesta?" Magisna menautkan alisnya.
"Ya, berpesta gila-gilaan!" Senja menegaskan. "Mereka menemukan gudang penyimpanan di samping gudang pupuk, gudang pertukangan dan ruang mesin. Di sana tersimpan makanan beku, air minum dalam botol, baterai, semuanya. Cukup untuk bertahan selama berbulan-bulan."
"Sekarang jadi sampah," Magisna berkomentar.
"Tikus-tikus dapat paling banyak, aku yakin," timpal Senja.
"Jalan masuk kami tadi…" Magisna menyela. "Itu kelas pelatihan khusus?"
"Ya," jawab Senja.
Magisna mengerutkan keningnya lagi. "Dari mana lu tau semua ini?" tanyanya. "Lu sekolah di sini?"
"Ya," jawab Senja lagi.
"Lu bareng mereka waktu insiden itu?"
"Tidak!"
"Terus dari mana lu tau mereka berpesta di bawah sini pada hari mereka dihukum?"
"Gabe," jawab Senja lagi. "Gabe menceritakan semuanya padaku. Dan…" ia menggantung kalimatnya sesaat sebelum melanjutkan, "Setelah aku jadi hantu… aku mengetahui segalanya."
"Segalanya?"
"Hampir seperti dewa!" Senja menambahkan. "Aku mengetahui lebih banyak daripada yang diketahui Gabe."
Magisna menelan ludah.
"Setelah cukup lama beranda di bawah sini dan menjelajah, anak-anak itu akhirnya mengerti kenapa mereka menamainya kelas pelatihan khusus. Tempat ini dipenuhi jebakan."
__ADS_1
"Gua tau itu," potong Magisna cepat-cepat. "Apa yang terjadi sama mereka?"
Kiddo kembali gelisah. Ini sudah terlalu lama, pikirnya. Lalu mencoba menegur Magisna. "Gua pen keluar dari tempat ini," protesnya. "Seluruh tempat ini sinting!"
Magisna mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan supaya cowok itu bisa lebih sabar lagi.
"Seseorang—Leo, kurasa---jatuh tersandung sesuatu," sambung Senja. "Tiba-tiba ada bunyi dahsyat, seolah seluruh dunia terbelah. Leo baru saja membangunkan sesuatu yang lama tertidur tanpa disadarinya."
"Sesuatu yang lama tertidur?" Magisna mengulangi perkataan Senja dalam bentuk pertanyaan.
"Galang," jawab Senja.
"Galang?" Magisna membelalakkan kedua matanya. Seketika bayang-bayang wajah pria berambut semata kaki melintas dalam benaknya. "Siapa dia?" tanyanya penasaran.
"Siluman ular penguasa bawah tanah perkebunan."
Magisna memekik seraya membekap mulutnya dengan kedua tangan.
"Anak idiot itu menginjak ekornya," Senja terkekeh.
Magisna tidak tertawa. Ia bahkan tak bisa berkedip. Tanpa sadar ia pun menahan napas. Sekujur tubuhnya kembali menggigil. Jantungnya berdegup kencang memukul rusuknya. Keringat dingin menggelinding di pelipisnya.
"Ular itu tersentak dan menyebabkan seluruh atap jatuh ke bawah tepat di mana anak itu jatuh." Senja melanjutkan ceritanya.
"Temen-temennya?" Magisna menyela.
"Mereka mentertawakannya," jawab Senja.
"Gabe dan Michael tidak mengetahui apa yang terjadi di belakang mereka," lanjut Senja lagi. "Michael berjalan di posisi paling depan, dan Gabe berada di belakangnya. Mereka mendengar suara gemuruh itu, tapi mereka mengira seseorang sedang iseng menyalakan mesin yang mereka temukan. Ketika mereka berpaling, yang dapat mereka lihat hanyalah kepulan debu. Dan sebelum Michael menyadari apa yang terjadi, retakan dinding beton di atas kepalanya menimpanya juga."
Magisna memegangi tengkuknya dengan raut wajah ngeri.
"Gabe mencoba menolongnya tapi ia hanya menemukan Michael sudah tak sadarkan diri. Gabe mengira Michael sudah mati dan ketakutan. Dia berusaha melarikan diri, tapi selalu kembali dan hanya berputar-putar di tempat yang sama."
"Ke mana temen-temennya?" Magisna bertanya lagi.
"Terpencar dan tercerai-berai," jawab Senja. "Mereka sama ketakutannya."
"Dan cerita soal binatang buas itu…?" Magisna memicingkan matanya.
"Leo…" kata Senja.
"Leo?" Magisna meninggikan suaranya. "Lu bilang semua anak-anak itu—"
"Leo bukan manusia biasa," gumam Senja. "Kemarahan dan ketidakadilan bisa mengubahnya menjadi bintang buas."
"Jadi maksudnya binatang buas itu bukan dalam arti sebenarnya?" Magisna belum mengerti.
"Tentu saja dalam arti yang sebenarnya!" sergah Senja. "Leo adalah manusia leopard!"
__ADS_1
Magisna kembali menelan ludah. "Maksudnya mutan?"
"Leo adalah keturunan campuran manusia dan siluman macan kumbang," jelas Senja. "Aku tidak tahu apa istilahnya!"
Magisna langsung terdiam. Tampak tak yakin dan kebingungan.
"Pikirmu kenapa dia bisa menginjak ekor ular siluman?" Senja menyeringai. "Manusia biasa tidak bisa menyentuh siluman!"
Magisna masih terdiam.
"Apa kau sudah selesai di sini?" Agustin bertanya tak sabar.
"Belum!" sergah Magisna sembari melotot pada cowok itu.
Kiddo dan Agustin mengerang bersamaan.
"Apa yang terjadi setelah itu?" Magisna menoleh kembali pada Senja.
"Meski kekuatan Leo melebihi manusia biasa, bukan berarti dia kebal pada rasa sakit." Senja melanjutkan. "Longsor besar itu menyiksanya, dia berusaha meronta dan mengais-ngais pasir yang menimbun tubuhnya, berteriak dan memohon-mohon, meminta pertolongan teman-temannya. Tapi teman-temannya hanya menganggap itu sebagai lelucon dan malah mentertawakannya."
Seketika Magisna teringat bagaimana dia hampir putus asa ketika terkubur dalam pasir.
"Kemarahan Leo bangkit dan ia berhasil keluar," lanjut Senja lagi. "Tapi bukan sebagai manusia lagi."
"Maksudnya dia berubah jadi macan?" Magisna menyela dengan mata terbelalak.
"Ya," jawab Senja. "Dia menghabisi semua orang kecuali Gabe dan Michael."
"Kenapa?"
"Mereka tidak menyinggungnya!"
"Dia tetep punya kendali meski dia udah berubah?" Magisna bertanya tak yakin.
"Setengah dari dirinya adalah manusia biasa!"
"Jadi Leo masih idup?"
"Dia tidak bisa mati!"
Magisna tergagap lagi.
"Leo menghilang setelah insiden itu," tutur Senja. "Jenazah teman-temannya juga tak pernah ditemukan. Gabe tidak pernah tahu macam kumbang itu jelmaan siluman, sementara Michael tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah longsor itu. Itu sebabnya kesaksian mereka tidak sesuai satu sama lain."
"Jadi Leo yang ngurung semua orang dan menulis di dinding?" Magisna tampaknya belum puas.
"Aku!" jawab Senja.
Magisna beringsut mundur.
__ADS_1
"Aku menyelinap ke sini untuk membuktikan cerita Gabe. Aku juga tidak berpikir binatang buas itu jelmaan siluman atau apalah. Aku menemukan dua ekor puma dan berhasil membunuhnya. Aku memotong kepala mereka dan membawanya ke pondokku. Aku berencana untuk membawanya ke pengadilan dan berpikir itu akan membantu Gabe. Tapi keesokan harinya, dua tubuh manusia ditemukan tanpa kepala di tempat aku membunuh puma itu!"