Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 42


__ADS_3

"Semuanya, angkat tangan! Jangan ada yang bergerak." Suara berat seorang pria menggema di belakang Hendra dan Magisna.


Keduanya serempak berbalik.


Sejumlah petugas kepolisian sudah mengepung seluruh tempat. Dua orang di antaranya mendekat ke arah Gabe dan Miss Pinkan. Lalu mengamankan keduanya.


"Agis!" teriakan seorang wanita mengejutkan Magisna. Tidak ada orang yang pernah memanggilnya Agis kecuali…


Seorang wanita paruh baya bergamis cokelat abu-abu sedang berjalan ke arah Magisna setengah berlari, menyeberangi pekarangan samping pondok dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya terlihat pucat di bawah kerudung cokelatnya.


"Mama!" Magisna menghambur ke pelukan wanita paruh baya itu dan menyusupkan wajahnya, menumpahkan tangisan yang sudah lama dibendungnya.


"Syukurlah kamu baik-baik aja," kata ibunya seraya mengusap-usap punggung Magisna.


Magisna masih tersengak-sengak dalam dekapan ibunya, ketika ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya, berdecak di tanah yang becek. Lalu sepasang tangan kokoh menekan lembut kedua bahunya.


Itu pasti ayahku, pikirnya. Sentuhan itu terasa familiar dan menentramkannya. Ayahnya tidak pernah bicara kecuali diperlukan. Tapi sentuhan lembutnya menguatkan Magisna.


Magisna menarik wajahnya dari dada ibunya dan berbalik ke arah ayahnya. Meraih tangan pria itu dan menciumnya.


Hendra bergabung dengan mereka tak lama kemudian.


Bersamaan dengan itu, empat orang polisi keluar dari pondok, menggiring enam remaja. Ais dan Agustin, Jati dan teman-temannya.


Mereka semua disekap di dalam pondok?


Jelaslah sudah bahwa bukan mereka yang mendorong mobil ke jurang.


Jadi siapa?


Miss Pinkan bilang mereka berjumlah empat orang.


Mungkinkah itu cerita karangan Miss Pinkan saja?


Tapi untuk apa dia harus mengarang cerita?


Magisna melirik Miss Pinkan yang melintas di dekat mereka dengan diapit dua petugas. Dua petugas lain yang mengapit Gabe menyusul di belakangnya.


"Sampai jumpa hari Senin," kata Miss Pinkan seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Magisna.


Magisna mengerjap dan memaksakan senyum. Lalu melirik Gabe.


Gabe balas meliriknya dengan tampang datar. Darah merembes di bahu kirinya, menciptakan lingkaran merah gelap di jaket lorengnya.


Ais dan Agustin menghampiri Hendra.


Ais dan Hendra ber-high-five dan saling melemparkan lelucon. Sejurus kemudian, kedua anak laki-laki itu sudah tertawa-tawa, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu pada mereka. Agustin tetap datar dan serius.


Jati mendekat ke arah Magisna. Tampak ragu dan sedikit kikuk di bawah pengawasan kedua orang tuanya. "Lu baik-baik aja, kan?" 


Magisna tersenyum dan mengangguk. "Gua gak pa-pa. Lu baik-baik aja?" Ia balas bertanya.


"Gua tokoh utamanya," kelakar Jati sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


Magisna terkekeh dan menggeleng-geleng.


Hendra melirik mereka dengan wajah masam. Tapi tidak mengatakan apa-apa.


Jati membungkuk sekilas ke arah ayah dan ibu Magisna, lalu memutar tubuhnya seraya melambaikan sebelah tangannya pada Magisna, bergabung dengan teman-temannya, kemudian bergegas mengikuti para petugas.


Salah satu petugas menghampiri Magisna dan keluarganya. "Adik-adik… Pak, Bu!" sapanya santun. "Adik-adik semua harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Masalah kendaraan kalian, kami sudah menghubungi jasa mobil derek. Besok kalian bisa mengambilnya di kantor polisi."


Magisna menoleh pada ayah dan ibunya. Ibunya mengangguk dan tersenyum. Ayahnya menepuk bahunya.


"Boleh kami mengantarkannya?" Ibu Magisna bertanya pada petugas itu.


Petugas itu tersenyum santun dan mempersilahkan.


.


.


.


TEEEEEEEEENG...!


Senin pagi, seluruh siswa dikumpulkan di pekarangan sekolah untuk menerima pengumuman.


Hendra dan Magisna berdiri berdampingan seraya menatap serambi sekolah dengan raut wajah muram. Mereka menduga pengumuman itu terkait hilangnya kepala sekolah dan juga teman mereka.


Magisna meliriknya dengan ekspresi tak tahan. Hampir menangis.


Hendra meletakkan sebelah tangannya di bahu Magisna, mencoba menenangkannya. Lalu merapatkan tubuhnya ketika mereka mulai berdesakkan dengan murid-murid lainnya yang baru bergabung.


Hendra menduga seseorang menabraknya. Ia menarik Magisna semakin mendekat. Mempererat pelukannya di leher Magisna.


Tapi Magisna memberontak, membuat Hendra seketika menunduk menatap Magisna.


Ia menunjuk seseorang dengan hoodie sweater berwarna gelap. Tak lama seorang murid lainnya bergabung di sampingnya juga dengan mengenakan hoodie sweater serupa.


Hendra mengikuti arah pandang Magisna dan terkesiap.


Kedua murid yang mengenakan hoodie sweater itu menoleh pada mereka dengan wajah datar.


Keduanya mengenakan kacamata. Tapi Hendra dan Magisna mengenali wajah mereka.


Dika Alisyah dan Novi Artikasari.


Mereka selamat, pikir Magisna takjub. Papa Tibi berhasil menyelamatkan mereka. Lalu melompat ke arah mereka dengan wajah berbinar-binar senang bercampur haru.


Diluar dugaannya, kedua temannya itu memalingkan wajahnya tanpa ekspresi, seolah-olah mereka tidak saling mengenal satu sama lain.


"Novi!" panggil Magisna di antara hiruk-pikuk suara-suara murid lainnya.


Novi tidak bereaksi. Ia hanya mendongak dan berjinjit untuk melihat siapa yang akan memberikan pengumuman.


Serambi sekolah---tempat di mana seharusnya salah satu guru mereka berdiri untuk memberikan pengumuman, masih kosong.

__ADS_1


"Dik!" Magisna merenggut lengan sweater Dika.


Dika menoleh padanya dengan alis tertaut. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia tak senang lengan sweater-nya direnggut.


Hendra berusaha menyentuh bahu Dika. Tapi anak itu mengedikkan bahunya menjauhi Hendra dan juga Magisna.


Membuat Hendra dan Magisna tergagap dan bertukar pandang.


Marahkah mereka? Magisna bertanya-tanya.


"Dik!" pekik Hendra sedikit tercekat.


Dika menoleh sekali lagi ke arah mereka dengan tatapan mencela. Lalu Novi mengikutinya. Tatapan keduanya sama. Sama-sama terlihat asing. Setelah itu keduanya berpindah tempat menjauhi Hendra dan Magisna.


Magisna menelan ludah dengan susah payah. Mereka betul-betul marah, pikirnya. Tapi karena apa?


Hendra mengedar pandang ke sekeliling mereka. Mungkin sedang mencari Alexza, pikir Magisna. Lalu ia ikut memeriksa kerumunan di sekelilingnya.


Dika dan Novi selamat, pikirnya. Alexza juga, kan?


Lalu keduanya kembali bertukar pandang dengan ekspresi muram. 


"Mohon perhatiannya, anak-anak!" Suara itu terdengar dari serambi, tidak begitu keras. Tapi Hendra dan Magisna tersentak mendengarnya. Mereka mengenali suara itu.


Pak Isa—Kepala sekolah mereka.


Dia juga selamat, pikir Magisna. Dan... dia juga memakai kacamata. Kacamata yang sama seperti yang dikenakan Novi dan Dika.


Apa yang terjadi? Magisna menelan ludah. Apa hanya perasaanku saja? Kenapa rasanya mereka berubah seragam?


"Saya sungguh menyesal karena harus menyampaikan kabar buruk ini," kepala sekolah itu mengumumkan, "Tapi salah satu teman kalian hilang dan sekolah terpaksa diliburkan hari ini."


Suasana mendadak gaduh. Sebagian murid bersorak gembira, sebagian memekik terkejut mendengar seorang murid telah hilang, sebagian lagi mulai sibuk membicarakannya dengan siapa saja yang pada saat itu berada di dekat mereka.


Hendra dan Magisna bertukar pandang dengan raut wajah keruh.


"Akan ada pembongkaran di beberapa bagian bangunan sekolah," lanjut pak Isa. "Dan kegiatan belajar-mengajar akan dipindahkan untuk sementara waktu. Jadi mulai besok, kalian semua akan berangkat ke sekolah seperti biasa, hanya lebih siang. Kita akan menumpang di gedung SMU setelah jam pelajaran mereka selesai."


Semua anak sekarang mengerang bersamaan.


"Kenapa gak libur aja, sih?" beberapa murid menggerutu, tapi hanya berbisik-bisik.


"Khusus untuk hari ini, kalian semua boleh pulang." Pak Isa mengakhiri pengumuman, kemudian meninggalkan serambi.


Magisna kembali memandangi Hendra.


Cowok itu masih sibuk meneliti kerumunan. Kerumunan itu berangsur-angsur buyar.


Hendra berhenti mengedar pandang. Tatapannya sekarang terfokus pada satu titik. Kedua matanya terpicing.


Magisna mengikuti arah pandangnya.


Lalu membeku pada titik yang sama.

__ADS_1


Ia melihat Dika dan Novi berbicara dengan Pak Isa. Kemudian ketiganya berjalan beriringan menuju kantor kepala sekolah.


__ADS_2