
Embusan angin kencang mengguncangkan mobil.
"Mungkin sebaiknya kita putar balik," usul Agustin tiba-tiba.
Hendra dan Magisna menyentakkan kepalanya ke belakang nyaris bersamaan.
Tiba-tiba ban mobil berdecit dan tergelincir lagi.
Mereka semua terdiam sampai Hendra bisa mengatasinya dengan memundurkan mobil. Kemudian mereka melewati sebuah kubangan besar.
Magisna memekik tertahan. Entah kenapa ia membayangkan ada seonggok tubuh di bawah mobil, seseorang yang berbaring dalam keadaan beku dan tak bernyawa, separuh terbenam dalam kubangan lumpur dan terlindas ban mobil mereka.
"Cuma kubangan," kata Hendra.
Well---yeah, pikir Magisna. Aku memang benar-benar paling jago menakuti diri sendiri. Diam-diam Magisna mengembuskan napas, tapi embusan napasnya ternyata tak sepelan yang dia pikirkan.
Hendra spontan menoleh dan menatapnya dengan raut wajah prihatin. "Hei—tenang," katanya. "Kita udah pernah ngelewatin situasi yang lebih buruk, inget?"
Magisna tidak menjawab. Hanya tertunduk sembari menggigil. Alangkah baiknya jika kami tidak pernah mengalami akhir pekan yang mengerikan ini, harapnya dalam hati.
Ini adalah akhir pekan paling panjang sekaligus paling buruk seumur hidupku, kenangnya getir.
"Hendra! Putar balik!" ulang Agustin dengan sedikit tekanan. Kali ini terdengar seperti perintah.
"Tapi kita udah jalan selama satu jam!" protes Hendra.
"Benar," sanggah Agustin. "Kita sudah berkendara selama satu jam. Dan ini tidak seharusnya. Ada yang tak beres di sini!"
"Apanya yang gak beres?" debat Hendra. "Otak lu yang gak beres!"
"Hendra—aku serius!" Agustin bersikeras. "Apa kau tak sadar dari tadi kita hanya berputar-putar di tempat yang sama?"
Uh-oh! pekik Magisna dalam hati. Lagi?
Kenapa rasanya situasi ini terasa tak asing?
Hendra tiba-tiba diam. Entah kesal, entah sedang berusaha berpikir keras.
Jalan mulai lurus untuk sesaat, lalu mulai menikung lagi.
Magisna melayangkan pandang keluar mobil dan mendapati jurang yang dalam yang ada di pinggir jalan. Magisna menahan napas. Jika mereka tergelincir, mereka akan terjun ke jurang dengan kap mobil lebih dulu. Tapi bukan itu yang membuatnya menahan napas.
Mobil itu tergelincir lagi dan berputar sekali. Kemudian berhenti. Ban depannya terperosok ke dalam lumpur di sisi jalan. Mesin mobil langsung mati kali ini, dan tidak bisa distarter lagi.
Itu adalah kubangan yang sama yang pernah mereka lewati sebelumnya. Apa hanya perasaanku saja? pikir Magisna.
Tapi tatapan cemas Hendra membuatnya terseret ke dalam kesadaran yang mengerikan.
Agustin benar!
Mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama.
"Balik, balik! Putar balik sekarang!"
__ADS_1
Suara badai itu kembali terngiang di telinga Magisna.
Mungkinkah suara yang tadi bukan sekadar imajinasinya?
Hendra menghela napas berat dan mengembuskannya dengan kasar. Lalu menoleh ke belakang. "Denger ya," katanya marah. "Ini perkebunan. Setiap sisi tempat ini memang gak ada bedanya."
Magisna mendengus bosan dan membeliak sebal. Sejak awal aku sudah tahu kalau dia menyebalkan, pikirnya. Tapi aku benar-benar tidak menyangka dia juga tidak tahu diri!
"Setiap sisi tempat ini memang tidak ada bedanya," bantah Agustin tenang. "Tapi kubangan lumpurnya tidak mungkin sama, kan?"
"Itu cuma kubangan!" sergah Hendra. "Sapa yang peduli kubangan konyol itu ada di mana? Dia bisa ada di mana aja, kan?!"
"Itu kubangan yang sama!" Ais menyela mereka.
"Semua kubangan memang keliatan sama!" bantah Hendra tak mau kalah.
"Dengar, Hendra!" Agustin berkata lagi. Tetap tenang dan datar. "Aku dan Ais adalah pekerja perkebunan. Kami sudah sering mengalami hal ini. Dalam masyarakat perkebunan, fenomena macam ini biasa disebut "Doolhof", itu semacam labirin kasatmata yang membuat kita berputar-putar di tempat yang sama. Labirin yang sama seperti yang ada di ruang bawah tanah rumah Van Til."
"Dan gua mulai eneq dengerin semua omong kosong soal mitos perkebunan dan rumah Van Til ini," erang Hendra muak.
"Hendra—" Magisna menggeram tertahan. Kami baru saja keluar dari bahaya terkait mitos rumah Van Til, pikirnya. Dan sekarang dia menyangkalnya tanpa beban sedikit pun. Apa dia juga bahkan sudah lupa pada Dika dan Alexza? Benar-benar tidak berperasaan!
"Entah apakah kalian percaya atau tidak, kalian belum sepenuhnya lepas dari doolhof." Agustin menjelaskan.
Magisna tercekat, sementara Hendra membeliak sebal.
"Terus?" Hendra mendelik ke arah Agustin.
Hendra mencebik.
Magisna mencubitnya lagi. "Jangan lupa ini mobil siapa?" bisiknya. "Lagi pula dia asli orang sini. Dia pasti lebih tau daerah sekitar sini!"
Hendra mengangkat kedua tangannya dari setir, "Oke," katanya tak sabar. "Akamsi yang punya kuasa!"
"Hendra!" Magisna berdesis dan memelototinya. Lalu menoleh ke belakang dengan raut wajah risih.
Agustin tersenyum tipis, kemudian melompat keluar.
Hendra pindah ke jok belakang, sementara Agustin menyisi ke tepi jalan.
"Lu ngapain?" Hendra bertanya setengah menghardik.
"Mencari sesuatu untuk membuat tanda," jawab Agustin datar. Kemudian menarik pelepah kelapa sawit dan menaruhnya di atas kubangan. "Dengan begini setiap kubangan tidak akan sama lagi!" katanya.
Hendra mendengus menanggapinya.
Magisna meliriknya dengan perasaan kesal yang terus ditahan.
Ais diam saja dengan raut wajah polosnya yang takkan tertukar.
Agustin menyelinap masuk ke belakang kemudi dan menghela napas dalam-dalam. Kemudian mulai menyalakan mesin.
Mesin itu berdesis kemudian mati. Agustin mencobanya lagi. Tak lama mobil itu bergetar dan menghentak. Menyala dan menggelinding.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mobil itu berputar sekali lagi dan berhenti. Ban depannya kembali terperosok ke dalam kubangan.
Kubangan yang sama lagi. Kubangan yang sudah ditumpangi pelepah kelapa sawit.
Magisna menoleh pada Hendra untuk melihat reaksinya.
Hendra diam saja. Mulutnya terkatup dengan raut wajah masam.
Magisna mendesah pendek dan menggeleng-geleng.
Agustin menghela napas dalam-dalam. Lalu diam dan tercenung.
Hendra mengerang di jok belakang. "Apa lagi sekarang?" tanyanya geram.
Agustin tetap diam dan menatap lurus ke depan seraya menahan napas.
Magisna tidak tahu apa tepatnya yang sedang dilakukan Agustin. Tapi entah kenapa raut wajah cowok itu menyiratkan bahwa ia sedang menunggu. Seketika bulu kuduknya meremang. Apa yang dia tunggu? pikirnya ngeri. Dan… kenapa dia menahan napas?
Angin kencang tiba-tiba berputar di sekeliling mereka dan derai hujan seperti terkuak di atas kepala mereka. Seperti tirai yang disingkapkan.
Magisna terperangah seraya membekap mulutnya. Apa yang terjadi? Apa ini nyata?
Tak lama terdengar suara berkeresak nyaring dari arah hutan, kemudian sesuatu yang gelap menyeruak menyebrangi jalan di depan mereka.
Sesosok bayangan penunggang kuda dengan jubah gelap melintas untuk kedua kalinya di depan mata Magisna.
Apa aku masih berada di bawah pengaruh zat beracun? pikir Magisna tak percaya.
Waktu seperti terhenti ketika bayangan itu berkeredap di depan mata mereka. Sebuah kuasa dahsyat mencekam seluruh tempat di sekelilingnya.
Agustin melirik ke arah Magisna dengan raut wajah datar. Magisna balas menatapnya dengan mata dan mulut membulat.
"Apa itu tadi?" Hendra memekik di jok belakang.
Dia melihatnya? Magisna menyentakkan kepalanya ke belakang dan menatap Hendra.
Hendra juga tampak terperangah.
Ya, kata Magisna dalam hati. Dia juga melihatnya!
"Kerud," sela Ais tanpa mengangkat wajah. Ia duduk merunduk seraya bersandar lemas memeluk dirinya sendiri.
"Kerud?" Hendra dan Magisna bertanya bersamaan.
"Macan kumbang!" Ais mengembangkan sebelah tangannya di depan dada dan menaikkan suaranya.
"JANGAN BECANDA!" Hendra dan Magisna menghardiknya dengan nada lebih tinggi.
Ais tergagap dan mengamati keduanya dengan tampang kekanak-kanakannya yang khas.
"Macan kumbang gak segede itu, Kampret!" Hendra menoyor pelipisnya.
Ais hanya mengangkat bahu dengan ekspresi yang seolah berkata, "Terserah kau percaya atau tidak!"
__ADS_1