
"Saya sama keras kepalanya seperti kalian sewaktu sekolah," cerita Pak Isa sepanjang perjalanan. "Terkadang hal itu bisa menjadi hal baik."
Jingga menoleh ke jok belakang dan bertukar senyuman dengan Dini.
Dini mendesah pendek dan menurunkan kaca. Ia memandang keluar, untuk melihat Magisna yang mengendarai sepeda motornya tak jauh di sisi mobil Pak Isa. Lalu tiba-tiba memekik.
Jingga menyentakkan kepalanya ke samping dan mengerling ke belakang, sementara Pak Isa mengintip melalui kaca spion di atas kepalanya.
Dini tergagap-gagap seraya menunjuk ke arah Magisna.
Jingga menaikkan sedikit tubuhnya dan memandang keluar jendela.
Magisna tidak mengendarai sepeda motornya sendirian. Seorang anak berambut pendek berseragam SMU duduk tertunduk di boncengan Magisna.
Jingga memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan sebelah tangan.
"Apa yang terjadi?" Pak Isa bertanya tak sabar.
"Eka—" Jingga menjawab terbata-bata.
Dan seketika itu juga, Pak Isa mengerem mobilnya.
Sepeda motor Magisna meluncur pelan melewati pintu kemudi dan berpindah ke depan mobil.
Pak Isa memperhatikannya dengan alis bertautan. "Apa yang salah?" tanyanya tak sabar.
Jingga tergagap dengan raut wajah kebingungan.
Tidak ada siapa-siapa di boncengan Magisna.
Magisna hanya sendirian di atas sepeda motornya.
Pak Isa meliriknya dengan tatapan mencela.
"Maaf," gumam Jingga seraya merosot kembali ke tempat duduknya. Apa yang kulihat tadi? Jingga bertanya-tanya dalam hati. Dini juga melihatnya kan? Ia melirik sekilas pada Dini.
Dini membalas tatapannya dengan perasaan bersalah. Aku pasti salah lihat, pikirnya.
Pak Isa menjalankan mobilnya lagi. Sementara Magisna sudah berada cukup jauh di depan mereka.
Magisna mengawasi mobil Pak Isa melalui kaca spion dengan mata terpicing. Apa yang terjadi? pikirnya. Kenapa mereka tiba-tiba berhenti? Ia memelankan laju sepeda motornya dan menoleh ke belakang.
Mobil itu berhasil menyusulnya dan Magisna meminggirkan sepeda motornya, melaju pelan di sisi mobil Pak Isa seperti semula. "Ada apa?" Ia bertanya pada Pak Isa.
"Hanya kerjaan iseng teman-temanmu," gerutu Pak Isa dengan tampang masam.
Magisna terkekeh tipis dan menggeleng-geleng.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.
Memasuki pekarangan rumah Van Til, Magisna mempercepat laju sepeda motornya dan meninggalkan mobil Pak Isa.
"Ke mana dia?" Pak Isa bertanya, entah pada siapa.
Jingga cuma angkat bahu.
__ADS_1
"Rumah ketua RT," jawab Dini nyaris berbisik.
Pak Isa menghentikan mobilnya di depan teras utama, kemudian menoleh pada Dini. "Ketua RT?"
"Mmm… maksud saya… anak Ketua RT itu teman Magisna." Dini menjawab gelagapan.
Pak Isa mendesah dan mematikan mesin. Kemudian menunggu.
Jingga dan Dini juga tidak segera beranjak dari tempatnya. Mereka semua memandang keluar menunggu Magisna.
Sejumlah pekerja bangunan berduyun-duyun dari pekarangan samping sekolah dan berjalan melewati mereka. Sesaat mereka melirik ke arah mobil dan merunduk hormat pada Pak Isa.
Pak Isa mengangkat sebelah tangannya ke arah mereka sembari mengangguk. Kemudian membuka pintu dan menyelinap keluar mobil.
Jingga dan Dini mengikutinya, lalu ketiganya berhimpun di sisi mobil.
Seorang mandor menghampiri Pak Isa dan menyalaminya. "Sudah sore," katanya. "Kami semua sudah mau pulang."
"Saya tidak datang untuk mengontrol," Pak Isa menjawab seraya tersenyum tipis. "Pulanglah, selamat beristirahat!"
Mandor itu mengangkat sebelah tangannya dengan sikap hormat, kemudian memohon diri.
"Ah—Pak!" Pak Isa tiba-tiba menghentikannya.
Mandor itu spontan mengerutkan dahinya.
"Boleh tahu, berapa lama lagi renovasinya akan selesai?" tanya Pak Isa ragu-ragu.
Mandor itu tersenyum masam dan tertunduk. "Saya tak yakin," katanya muram. "Selalu ada longsor setiap kali kami berhasil memperbaiki satu bagian. Setiap bagian yang sudah diperbaiki harus diperbaiki ulang keesokan harinya, seolah… bangunan lama tidak menerima perbaikan itu. Setiap tambalan tidak pernah menyatu dengan dinding lama. Mereka seperti… minyak dan air!"
Pak Isa langsung terdiam.
Pak Isa mengerjap gelisah, kehilangan kata-katanya.
"Menambal bangunan lama sepertinya bukan ide yang baik," saran Pak Mandor. "Mungkin sebaiknya kita hancurkan saja sekalian bangunan lama dan membangun ulang bangunan baru. Atau terowongan bawah tanah itu ditutup saja!"
Pak Isa tampak berpikir keras. "Terowongan itu gudang pupuk," katanya ragu-ragu.
"Ajukan pada pusat," usul mandor itu lagi. "Lakukan pembongkaran atau hentikan renovasi!"
Pak Isa tidak menjawab.
"Tidak perlu buru-buru ambil keputusan. Tapi cobalah pikirkan baik-baik," kata mandor itu mengakhiri pembicaraan, lalu memohon diri sekali lagi.
Pak Isa masih membeku di tempatnya untuk waktu yang lama, sampai Magisna muncul bersama Ais dan Agustin. Kiddo juga bersama dengan mereka. Dan Papa Tibi juga.
Pak Isa terperangah mendapati persiapan itu. Eka Magisna tidak main-main, katanya dalam hati.
"Jadi…" Pak Isa mengamati semua orang di belakang Magisna satu per satu. "Apa tepatnya yang akan kamu lakukan?" tanyanya pada Magisna.
Magisna tersenyum tipis seraya mendongak menatap kepala sekolahnya. "Study tour," katanya berkelakar.
"Kalau begitu kalian membutuhkan pemandu," pungkas Pak Isa seraya mengedikkan bahunya.
Lalu mereka semua bergegas ke teras sekolah.
__ADS_1
Pak Isa mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka pintu depan.
Beruntung hari ini ada Pak Isa, pikir Magisna. Kalau tidak, kami terpaksa harus ke ladang Van Til untuk mengambil jalan alternatif yang penuh jebakan.
Pak Isa menutup kembali pintu itu setelah semua orang masuk ke koridor utama dan menguncinya.
Magisna menatapnya dengan alis bertautan. "Kenapa dikunci?"
"Hanya untuk berjaga-jaga… barangkali ada tamu tak diundang sementara kita berada di bawah sana dan tidak mengetahuinya," jawab Pak Isa.
Magisna mengangguk maklum dan mengekori kepala sekolahnya, diikuti semua orang lainnya.
Papa Tibi berjalan di posisi paling belakang dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya.
Tidak seorang pun berbicara di sepanjang koridor yang gelap dan berbau apak. Satu-satunya suara yang bisa didengar hanya bunyi berdebuk ribut dari tumit sepatu mereka yang mengetuk permukaan lantai.
Langkah mereka sudah mencapai sudut koridor di depan kelas paling ujung.
Pak Isa berbelok ke arah toilet dan melewatinya hingga jauh ke dalam dan berhenti di depan pintu gudang yang berdampingan dengan pintu lain sebuah ruangan bertulisan: Rusak.
Pak Isa membuka pintu yang bertulisan: Rusak.
Magisna tersenyum masam dan menggeleng-geleng.
Tidak seorang pun dari murid sekolah diizinkan membuka pintu itu.
Mudah sekali menyembunyikan rahasia di balik sebuah ruangan hanya dengan memberi label: RUSAK.
Siapa yang akan tertarik untuk menyentuh sesuatu yang rusak?
Pak Isa menoleh ke belakang sebelum mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, memberikan instruksi pada semua orang tanpa kata-kata.
Magisna menyelinap masuk lebih dulu dan menemukan tangga yang mengarah ke bawah. Ruangan di bawah tangga itu terlihat gelap pekat. Magisna tak ingin ambil risiko seperti terperosok ke dalam lubang seperti sebelumnya. Jadi ia berhenti di puncak tangga itu dan menunggu yang lain.
Segerombol tikus tersentak dan mencicit ketika semua orang telah memasuki ruangan itu.
Magisna memegangi tengkuknya, membayangkan tikus-tikus itu menggelayut di rambutnya sembari cekikikan.
Tikus tidak cekikikan, Magisna! ia memarahi dirinya.
Pak Isa keluar dan menghilang beberapa saat, kemudian kembali dengan membawa lentera.
Papa Tibi sudah berjalan di depan mereka dengan menyalakan senter.
Sebagai seorang centeng yang sudah bertahun-tahun menjaga rumah ini, Papa Tibi tentu lebih mengenal tempat ini dibanding Pak Isa.
Magisna bergegas mengikutinya, diikuti Jingga tak jauh di belakangnya.
Tiba-tiba Dini menyeruak melewati mereka, kemudian menghambur ke terowongan tanpa penerangan.
"Dika!" Pak Isa meneriakinya.
Lalu semua orang memekik nyaris bersamaan.
Apa yang terjadi?
__ADS_1
Kenapa dia bertingkah seperti itu?
Kenapa dia mendadak… kacau?