
TENG!
TENG!
TENG!
Suara lonceng mendengking nyaring dalam tempo cepat ketika sepeda motor Magisna menderu meninggalkan pekarangan sekolah.
Magisna mengernyit. Suara lonceng itu terdengar begitu dekat, seolah-olah tertanam dalam kepalanya. Ia mempercepat laju sepeda motornya ketika awan mendung mulai mengendap turun meliputi seluruh tempat.
Angin kencang membuat pelepah kelapa sawit meliuk-liuk.
Seketika bulu kuduk Magisna meremang.
Perkebunan kelapa sawit terlihat menyeramkan dalam cuaca mendung.
Dua-tiga kendaraan melintas cepat melewati Magisna, mengempaskan udara basah yang menyebabkan sepeda motornya seolah terdorong ke sisi jalan.
Kenapa semua orang tampak terburu-buru hari ini? Magisna bertanya-tanya dalam hati.
Ia berusaha mempercepat laju sepeda motornya lagi, tapi entah kenapa sepeda motornya mendadak terasa berat. Jangan bilang mesinnya ngadat! Ia membatin jengkel.
Mendekati jembatan putus yang baru diperbaiki sebagian, Magisna mengurangi kecepatan.
Sebuah sepeda motor di belakangnya menyeruak cepat mendahului, pengendara sepeda motor itu menjulurkan sebelah kakinya ke arah Magisna dan menjejakkan tumit sepatunya pada setang.
Sepeda motor Magisna tergelincir ke sisi jalan dan menabrak pagar pembatas.
BRUAK!
Ledakan suara logam yang berbenturan menimbulkan berderak ribut yang membahana di jalanan sepi.
Magisna menjerit, kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terpental melewati pagar pembatas dan tercebur ke dalam sungai di bawah jembatan.
BRUSH!
Jeritan Magisna berhenti, berganti suara geluguk dan kecipak air yang memenuhi telinga dan rongga hidungnya.
Sesaat Magisna tak bisa bernapas. Paru-parunya serasa meledak. Ia meronta sekuat tenaga, melawan arus sungai yang mulai menyeretnya entah ke mana.
Aku sedang menjemput ajalku, pikirnya putus asa.
Tidak ada orang yang melihatnya jatuh kecuali si pengendara sepeda motor yang mendorongnya.
Dia jelas ingin membunuhku! Ia menyimpulkan. Siapa orang ini? Kenapa dia ingin membunuhku?
Seketika ia menyesal tidak menerima tawaran Ais untuk mengantarnya pulang.
"Tolong!" pekiknya tercekat. Suaranya terbenam dalam air dan ia sendiri tersedak. Aku tidak ingin mati di sini. Siapa saja, tolong!
Isi kepala dan juga dadanya terasa panas seperti hendak meledak. Kesadarannya mulai tenggelam seiring aliran air yang semakin kencang di bagian bawah sungai.
Sesuatu seperti kain tebal menggulung tubuhnya dan melilitnya, mungkin tanaman rambat atau apalah. Magisna tak yakin. Gulungan itu mengetat dengan cepat seperti hendak meremukkan tubuhnya. Mungkinkah ular raksasa? pikirnya panik.
Kegelapan menguasainya. Kesesakan menekan kesadarannya.
Begitu kesadarannya pulih, hal pertama yang dipikirkannya adalah mati.
__ADS_1
Aku pasti sudah mati, katanya dalam hati.
Tubuhnya terasa ringan dan seperti sedang melayang. Membuatnya semakin yakin bahwa ia baru saja kehilangan raganya. Aku sudah jadi hantu, pikirnya. Seperti Senja!
Lalu tiba-tiba tubuhnya mendarat di atas permukaan batu kasar dan basah.
Magisna terhenyak dan menarik duduk tubuhnya.
Seraut wajah lancip terperangah di depan matanya.
Magisna balas terperangah.
Seorang pria bergamis hitam, tersenyum ke arahnya. Mungkin juga perempuan, pikir Magisna. Wajahnya terlalu putih, dan bibirnya mungil berwarna darah. Rambutnya panjang hingga melewati lututnya, mungkin lebih panjang lagi. Ujung rambutnya yang basah menjuntai di sisi tubuhnya hingga memburai di permukaan batu.
Magisna sampai menelan ludah melihat pemandangan itu. Lalu meneliti pemiliknya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan mata terpicing. Dia cowok, Magisna menyadari.
Sebut saja pria cantik!
Begitu cantik sampai-sampai Magisna berpikir dia bukan manusia. Tidak salah lagi, pikirnya masam. Aku pasti sudah mati. Dia mungkin malaikat mautnya.
"Belum saatnya kau mati," kata pria itu seolah bisa membaca pikiran Magisna.
Magisna menelan ludah sekali lagi.
"Baru 46 episode," pria itu menambahkan seraya tersenyum tipis.
Magisna mendesah pendek.
Itu cuma kerjaan iseng Penulis Keparat!
Ia memijat pelipisnya dan mengernyit. Ia melihat noda darah di ujung jarinya. Dan Penulis Keparat ini sekarang membuat kepalaku bocor, rutuknya dalam hati.
"Oh—" Magisna tergagap kebingungan. Kukira Arya Tunggal yang melegenda, pikirnya. Tunggu dulu…
Magisna mengerutkan keningnya dan berpikir keras. Berusaha mengingat-ingat sesuatu.
Di mana aku pernah mengenal seseorang bernama Galang?
Kenapa terasa begitu familiar?
Untuk pembaca setia serial The Van Til House, nama ini seharusnya memang tak asing!
Tapi…
Anggap saja Magisna bukan pembaca setia serial The Van Til House.
Jadi, mari kita buat dia… sedikit bingung. Oh, tidak. Sebaiknya kita buat saja dia betul-betul bingung, sebingung-bingungnya.
Jangan tanya kenapa Penulis Keparat ini mulai bertele-tele. Ini hanya siasat jahat untuk mencapai seribu kata.
P e n u l i s n y a c u r h a t !
"Gu---gua… gua Magisna!" balas Magisna terbata-bata.
"Magisna.. " pria itu mengulangi kata-katanya, lalu kembali tersenyum. "Ke mana kau pulang?" tanyanya kemudian.
"Ke rumah," jawab Magisna.
__ADS_1
Senyum pria itu semakin melebar, "Baiklah," katanya. "Di mana rumahmu?"
"Ditinggal!" jawab Magisna lagi, semakin bertele-tele, sengaja memperpanjang jumlah kata.
Pria cantik itu akhirnya terkekeh tipis, lalu menatap ke dalam mata Magisna. Tatapannya terkesan teduh dan menentramkan.
Dia benar-benar tampan maksimal, pikir Magisna takjub.
Siluman ular paling tampan dalam cerita ini. Tapi jelas tipe pria idaman Penulis Keparat. Tokoh pria tampan maksimal dalam novelnya selalu berambut panjang. Bahkan para siluman!
Tapi tentu saja Magisna tidak menyadari bahwa pria tampan maksimal itu adalah siluman. Dia terlalu tampan untuk ukuran siluman. Siluman tampan itu mempesona dirinya. Dia tidak ingin percaya bahwa di dunia ini ada siluman yang begitu tampan. Jadi, Magisna memandangnya sebagai seorang pria dan bukan siluman.
Jadi dengan suka rela, ia membiarkan pria itu mengantarnya pulang.
"Mari!" Pria itu menarik tubuhnya berdiri, lalu membungkuk seraya mengulurkan sebelah tangannya pada Magisna. "Aku akan mengantarmu pulang!"
Magisna tergagap-gagap. "Tapi… tapi!"
Pria itu menaikkan sebelah alisnya, menunggu Magisna menyelesaikan kalimatnya.
"Gua belum bilang ke mana gua pulang!"
Pria itu tersenyum lagi.
Bisa tolong hentikan itu? Magisna mengerang dalam hatinya. Senyuman itu membuatku gila!
"Setidaknya beranjaklah dulu!" Pria itu menggerakkan jemarinya, mengisyaratkan supaya Magisna menyambut uluran tangannya.
Magisna akhirnya menyambut uluran tangan itu dan pria itu menghelanya berdiri, membantunya menjaga keseimbangan dan menuntunnya berjalan melompati batu demi batu, sampai menepi ke sisi sungai.
Semilir angin menerpa tubuhnya yang basah kuyup. Magisna mulai menggigil. Beberapa bagian tubuhnya terasa perih. Aku pasti carut-marut dipenuhi luka, pikirnya. Penulis Keparat yang satu ini memang tak pernah puas kalau tidak menyiksa tokohnya.
Magisna berjalan terpincang-pincang sembari meringis ketika ia mendaki untuk mencapai jembatan. Tangan Galang masih melingkar di pinggangnya hingga mereka sampai di tepi jalan.
Begitu mereka sampai di jembatan, Magisna langsung memekik. Sepeda motornya tak ada di sana.
Jalanan terlihat lengang dan sepi.
Seingatnya belum ada kendaraan melewati jembatan itu sejak Magisna diserang. Atau dia pingsan cukup lama hingga tak menyadari situasinya?
Apakah si penyerang menceburkan sepeda motornya juga?
Magisna melongok ke bawah jembatan, memeriksa di sepanjang aliran sungai.
Siapa sebenarnya yang menyerangku? Magisna kembali bertanya-tanya dalam hatinya. Ia berusaha mengingat-ingat. Tapi ia bahkan tak sempat melihat wajahnya. Sekilas ia sempat melihat melalui sudut matanya, hoodie sweater berwarna gelap, dan… kacamata blue ray, seperti yang dikenakan Novi, Dika dan Pak Isa. Tapi mereka pulang bersama, dan sudah pergi lebih dulu.
Siapa lagi yang memakai hoodie sweater dan kacamata blue ray di desa perkebunan yang suram ini?
Berapa banyak orang yang berpenampilan aneh seperti mereka?
Magisna mengembuskan napas berat. Masalah pembunuhan di Doolhof masih belum terungkap, ditambah masalah perubahan aneh Pak Isa, Novi dan Dika, dan sekarang sudah muncul teka-teki baru.
Penulis Keparat ini sepertinya memang benar-benar berniat untuk membuat cerita ini berputar-putar seperti labirin di bawah rumah Van Til!
Sepanjang apa cerita yang mampu dibuatnya kali ini?
Ikuti terus ceritanya!
__ADS_1
Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
...Masih bersambung…...