
"Dika!" Hendra menjerit. Ia melompat mendekati awan itu dan merenggut kaki Dika.
Sesuatu mengempaskan Hendra dengan dorongan yang luar biasa.
Magisna dan Alexza berteriak ketika Hendra terlempar ke dinding.
Tolong berhenti, Magisna berdoa dalam hati. Ini tidak nyata---ini tidak mungkin terjadi!
Ia mendengar suara berkeretak seperti tulang patah. Ia menutup telinganya dan menjerit.
Kabut merah itu berputar semakin cepat di sekeliling Dika, seperti mempererat cengkeramannya.
Kabut itu tak mungkin melakukannya, kata Magisna pada dirinya. Ia tak mungkin melakukan itu karena ia tidak hidup!
Itu cuma debu. Ini tidak mungkin terjadi!
Kabut merah itu berputar lebih cepat lagi. Tubuh Dika terlihat semakin terhimpit lalu mengentak-entak.
Perut Magisna bergolak. Ia hanya bisa menatap yang selanjutnya terjadi dalam kebisuan penuh kengerian. Ia memegangi perutnya dan bergoyang ke depan dan ke belakang. Ia merasakan tubuhnya gementar tak terkendali, tapi tak bisa bangun. Tak bisa berlari. Tak bisa berteriak. Ia hampir tak dapat berpikir. Yang ia tahu ia sedang melihat manusia lain sekarat.
Awan merah itu berputar menjauh sepanjang terowongan. Terbang cepat dengan tak wajar, meski tak ada angin yang menggerakkannya. Tubuh Dika masih tergantung di dalamnya, lemas dan tak bergerak. Lalu kegelapan menelannya.
Ia lenyap!
Magisna menatap kabut merah itu dengan syok. Aku tidak bermimpi... aku terbangun... dan aku gila.
"Ini gak mungkin terjadi," bisiknya. "Ini gak masuk akal."
Alexza dan Novi duduk di sebelahnya di antara bata-bata, membeku.
Tapi Hendra berdiri terhuyung. Dalam raungan kemarahan, ia mengejar awan merah itu.
"Hendra, jangan!" teriak Magisna. Ia memaksa dirinya berdiri dengan kakinya yang masih sehat. Tapi terlambat untuk menghentikan Hendra. Hendra melesat jauh ke dalam Labirin untuk menyelamatkan temannya.
Cahaya obornya hilang di dalam terowongan yang gelap.
Tenggorokan Magisna tersumbat. Akankah ia melihat Hendra dan Dika lagi? Apakah kabut aneh itu akan melakukan hal yang sama pada Hendra seperti pada Dika?
"Kita harus pergi dari sini," terdengar suara Novi yang gemetar di belakangnya. "Kita cuma perlu nyoba dan kembali nyeberang kolem itu lagi. Minimal kita udah tau gimana caranya kembali. Kita harus jalan ke arah yang berlawanan sama makhluk itu."
Kata-katanya menyentakkan perhatian Magisna ke dalam situasi mereka. "Kita gak bisa pergi tanpa Hendra sama Dika," katanya. "Kita harus cari mereka."
"Jangan---kita harus cabut." Novi meraba-raba tanah di sekitarnya untuk mencari obor, tapi tak dapat menemukan satu pun. Ia mencoba merebut obor milik Magisna, tapi Magisna menariknya menjauh.
__ADS_1
"Sini obornya," perintah Novi. "Sekarang!"
"Gak mau," balas Magisna, seraya bergerak mundur. "Kita gak bisa ninggalin Hendra sama Dika begitu aja."
"Tapi kita harus keluar dari sini!" teriak Novi. "Sekarang juga! Kita gak bisa kembali ke tempat makhluk---entah apa---itu berada. Ngerti gak lu?"
"Udah lah, Nov. Biarin dia di sini, kita cabut aja!" teriak Alexza.
"Tapi kita butuh obor," jelas Novi.
Mata Alexza menyipit. "Obor itu buat kita. Terserah lu mau ikut apa enggak."
Magisna menatapnya terkejut. Apakah Alexza ketakutan? Atau memang tidak peduli sama sekali pada Hendra? Sebegitu ketakutankah dia? Begitu takut untuk melarikan diri---dan meninggalkan Hendra. Kalau begitu ternyata dia tidak begitu tegar, pikir Magisna.
Siapa sekarang yang Miss Yuppie?
"Coba pikir, Eka," Novi memohon. "Kalo kita gak pergi sekarang, kita mati."
"Terus Hendra sama Dika gimana?" tanya Magisna.
"Mereka udah mati, Eka!" teriak Novi.
Alexza melompat ke arah Magisna, berusaha merebut obor dari tangannya.
"Sesuatu keluar dari lobang, sesuatu yang entah apa namanya udah bunuh Dika. Sekarang makhluk itu juga pasti udah bunuh Hendra. Mereka udah mati," teriak Novi hampir menangis. "Gak lama lagi makhluk itu bakal ngejar kita sementara lu cuma duduk di sini dengan obor t o l o l itu!"
Magisna berhenti sebentar, mendengarkan. Tapi ia tak mendengar apa pun di koridor.
Di mana Hendra? Benarkah kabut merah itu menelannya juga?
Alexza melangkah ke depan Magisna dengan tangan terkepal.
Magisna membayangkan Dika tergantung dalam kabut, terangkat dari tanah setinggi satu meter di depan matanya, dan itu bukan mimpi.
Ia harus berkonsentrasi. Harus kuat.
"Berenti!" ia memperingatkan Alexza.
"Terus lu mau apa kalo gua gak berenti?" tantang Alexza. "Lu gak bisa bawa kita. Sini obornya!"
Magisna memandang sekilas pada obor itu. Apinya mati dengan cepat. Dan kalau obor itu mati mereka semua akan tinggal dalam kegelapan.
Tak ada cara lain untuk menyalakan obor lain tanpa Hendra---ia yang punya pemantiknya.
__ADS_1
Alexza maju lagi.
Magisna benci mengakui ini pada dirinya sendiri, tapi permintaan Alexza sangat masuk akal. "Oke," katanya. "Kita cabut, sekarang. Sebelum obor t o l o l ini mati."
"Sini, gua yang bawa," balas Alexza, seraya merenggut obor dari Magisna. "Kalo lu yang bawa ntar kepeleset lagi. Mampus kita."
Magisna ingin menghapus seringai dari wajah Alexza. Tapi itu artinya ia harus menunggu.
Kabut merah itu kembali ke sana dalam terowongan. Dan ia mendatangi mereka.
Magisna ingin berlari sekencang-kencangnya. Tapi ia tak bisa. Ia harus tetap tenang.
Novi dan Alexza sudah menghambur di depannya, sementara nyala api naik-turun dalam kegelapan.
Magisna berjalan pincang secepat ia dapat, menumpukan berat tubuhnya pada pergelangan kaki yang keseleo.
Nyala obor kelihatan semakin kecil---cukup jauh di depannya.
Gelombang besar rasa takut menyerang Magisna. Ia tak bisa melanjutkan perjalanan dengan mereka. Pergelangan kakinya sudah terlalu bengkak.
"Tungguin gua," panggilnya.
Obor di depannya berkedip hilang sewaktu Alexza dan Novi memutari sebuah sudut.
Mereka tidak sungguh-sungguh akan meninggalkanku, kan?
Magisna melontarkan teriakan kecil yang tercekat di tenggorokannya. Ia mencoba menggandakan kecepatannya. Tikaman rasa sakit menyergap kakinya setiap kali ia melangkah. Ia mengulurkan tangannya di depan tubuhnya dalam kegelapan, meraba-raba dinding.
Dinding itu berakhir. Ia mengikutinya di seputar pojokan.
Obor itu ada di depannya lagi.
Terima kasih Tuhan, pikir Magisna. Ia berjalan terus dengan susah payah.
Ia berkonsentrasi pada obor yang berkelap-kelip, naik-turun, dan berpendar-pendar. Tapi bagaimanapun beratnya ia mendorong tubuhnya, api itu semakin terlihat mengecil.
Ia menendang sebuah botol ke samping. Botol itu pecah, menyebabkan tikus-tikus panik ketakutan dalam kegelapan. Mencicit dan cekikikan.
Oh, suara itu lagi, batinnya panik. Itu cuma suara tikus, katanya pada diri sendiri. Bukan suara tawa cekikikan. Pergelangan kakinya berdenyut pada setiap degup jantungnya. Dan rasa sakitnya seperti palu godam menghujam dirinya.
Baru ia berpikir akan pingsan, Magisna melihat cahaya obor semakin terang.
Novi dan Alexza berhenti.
__ADS_1
Mungkin sebaiknya aku menunggu saja, Magisna bergumam pada dirinya sendiri.