Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 43


__ADS_3

Murid-murid lain sudah mulai berpencar meninggalkan pekarangan.


Hendra dan Magisna masih mematung di tempatnya, di antara kerumunan murid-murid yang berseliweran ke sana kemari.


Di pekarangan samping sekolah, sejumlah pekerja bangunan sudah mulai sibuk mempersiapkan perkakas mereka untuk melakukan pembongkaran.


Di depan gerbang sekolah, Magisna mendapati dua unit mobil patroli polisi terparkir.


Bulu kuduknya seketika meremang. Semua ini dipersiapkan untuk pencarian Alexza, batinnya getir.


Hendra melingkarkan lengannya di seputar leher Magisna, kemudian menghelanya berjalan menuju selasar mengikuti Dika, Novi dan kepala sekolah mereka.


Dika melirik mereka sekilas melalui sudut matanya sebelum akhirnya ia menghilang di pintu ruangan kepala sekolah.


Bulu kuduk Magisna kembali meremang. Ada yang aneh, pikirnya. Tatapan Dika membuatnya tak nyaman.


"Lu ngerasa gak sih, Novi sama Dika bersikap aneh?" Magisna bertanya pada Hendra.


"Kita akan cari tau," jawab Hendra sambil menarik Magisna lebih keras, mengisyaratkan supaya ia mempercepat langkahnya.


Pintu ruangan kepala sekolah sudah terbanting menutup ketika mereka sampai di sana.


Magisna mengangkat sebelah tangannya untuk mengetuk pintu itu, tapi Hendra segera menahannya.


"Ssst..." Hendra menempelkan telunjuk di bibirnya, kemudian menarik Magisna menyisi ke dekat jendela dan mengintip ke dalam ruangan.


Tiba-tiba pintu ruangan itu berderak membuka dan kepala sekolah mereka muncul.


Hendra dan Magisna menoleh terkejut. Hendra menarik Magisna menjauh dari kantor kepala sekolah secepat mungkin, kemudian menghelanya berlari ke arah gardu lonceng.


Kepala sekolah itu mengawasi mereka dengan raut wajah datar.


Magisna berlari terengah-engah. Jarak dari ruang kepala sekolah ke gardu lonceng tidak seberapa jauh, tapi jantung Magisna berdegup kencang karena panik. Membuat napasnya tersengal-sengal.


Mereka berhenti berlari di dekat gardu lonceng.


Magisna menoleh ke arah kantor kepala sekolah dan melihat Novi keluar dari ruangan Pak Isa, disusul Dika di belakangnya. Lalu ketiganya mengamati mereka dengan wajah sama datar. Magisna serentak bergidik.


Ada apa dengan mereka?


Kenapa mereka bersikap aneh?


"Mereka bener-bener aneh," katanya pada Hendra. Apa hanya perasaanku saja? katanya dalam hati.


Hendra tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada gardu lonceng dengan alis bertautan.


Magisna mengalihkan pandangannya ke arah yang sama. Lalu mulai mengerti kenapa Hendra terlihat begitu kecewa.


Penjaga gardu hari ini bukan Papa Tibi.


Mereka menghentikan langkah di depan gardu lonceng itu.


Magisna mendengar Hendra menghela napas berat. Kemudian menatapnya dengan raut wajah yang seolah bertanya, "Sekarang bagaimana?"

__ADS_1


"Lu tau di mana rumah Ais?" Magisna bertanya.


"Ya," jawab Hendra seraya menunjuk sebuah rumah di pekarangan samping sekolah, "Tepat di samping rumah mandor besar itu."


"Gimana kalo kita temui dia?" usul Magisna.


Hendra hanya mengangkat bahu.


.


.


.


"Kami tahu jalan lain menuju ke sana," kata Agustin, sambil membagikan masker dan pemantik plastik yang dilengkapi senter. Cowok itu kebetulan sedang bersama Ais ketika Hendra dan Magisna datang.


Kedua anak laki-laki itu baru saja pulang dari kantor polisi dan sedang mencuci mobil Agustin di pekarangan rumah Ais.


Tak butuh waktu lama untuk menjelaskan tujuan Hendra dan Magisna menemui mereka.


Agustin memang cepat tanggap, pikir Magisna.


Saat ini mereka sedang bersiap untuk kembali ke Labirin untuk mencari Alexza, sekalian mencari tahu kebenaran tentang apa yang terjadi pada Novi, Dika dan kepala sekolah mereka.


Bagaimana mereka bisa selamat?


Dan kenapa mereka bersikap aneh?


Kenapa mereka bersikap seolah-olah mereka tidak pernah bersama pada hari Sabtu? Ekspresi mereka menunjukkan seolah mereka tidak pernah mengenal kami sama sekali.


Magisna tak habis pikir.


Ais dan Agustin berjalan di depan mereka dengan Agustin berada paling depan, menuntun mereka menuju ladang ilalang yang luas di pekarangan belakang sekolah.


"Ikuti saja jalan setapaknya," Agustin memberi tahu. "Ini jalan yang biasa kami lewati," jelasnya.


"Awas jangan salah injak!" Ais menambahkan. "Di sini banyak lubang," ia memperingatkan.


Magisna melangkah ragu-ragu seraya melirik Hendra.


Hendra melingkarkan lengannya di seputar leher Magisna, berusaha memberinya rasa aman.


Baru lima langkah setelah Ais dan Agustin memperingatkan mereka, sebelah kaki Magisna sudah terpeleset dan nyaris terperosok ke dalam lubang di sisi jalan setapak itu.


Beruntung Hendra segera menangkap dan menahan tubuhnya.


Magisna memekik ketakutan. Sekujur tubuhnya langsung gemetar. Ia masih ingat bagaimana rasanya ketika ia jatuh ke dalam Labirin. Kakinya baru saja pulih, dan sekarang hampir terkilir lagi.


Ais dan Agustin menoleh ke belakang.


"Kubilang ikuti jalan setapaknya," Agustin mengingatkan.


Magisna menelan ludah. Jalan setapak itu betul-betul hanya selebar telapak kaki dan hanya bisa dilalui oleh satu orang. Magisna menyadari ia tidak bisa berjalan berdampingan dengan Hendra.

__ADS_1


"Lu jalan duluan," kata Hendra.


Magisna menghirup udara banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar cepat. Lalu mulai berjalan mengikuti Ais dan Agustin dengan ragu-ragu.


Tak lama kemudian Magisna mendengar suara berkeresak di belakangnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Hendra sudah hilang.


"Ndra!" jerit Magisna panik.


Ais dan Agustin serentak menghentikan langkahnya dan kembali menoleh.


Tenang, Magisna mengingatkan dirinya. Ini pasti hanya salah satu dari lelucon Hendra.


Ais dan Agustin menyeruak cepat, menyelinap melewati Magisna dan kembali ke belakang untuk memeriksa sekitar tempat Hendra menghilang.


"Jangan bergeser dari jalan setapak," Agustin berkata cepat-cepat pada Magisna.


Magisna berdiri kaku di tempatnya dengan kedua lutut gementar tak terkendali. "Gak lucu, Ndra!" teriaknya sedikit tercekat. Hati kecilnya tak mau percaya bahwa ini hanya lelucon.


"Tempat ini memang gak lucu," Ais menimpali. Lalu menyisir semak ilalang di kiri-kanan jalan setapak itu dengan telapak tangannya. Menguaknya dengan kedua tangan seperti gerakan seseorang yang sedang berenang.


Magisna memperhatikan keduanya tanpa berani bergeser dari tempatnya.


Mereka mendengar suara berkeresak lagi. Lebih keras dari sebelumnya.


Ais dan Agustin serentak berdiri dan mengedar pandang.


Semak-semak ilalang di dekat mereka bergetar. Sesuatu sedang menyeruak di bawah semak-semak. Apa pun itu, dia sedang bergerak ke arah mereka.


"Awas!" jerit Magisna sekuat tenaga.


Sekelebat bayangan gelap melesat menyeberangi jalan setapak.


Ais dan Agustin terhempas ke tanah.


"Kerud!" Ais menjerit melengking seperti anak perempuan. "Lari!" perintahnya pada Magisna seraya menunjuk jalan kembali.


Magisna terkesiap dan menelan ludah.


"Putar balik!" Agustin menambahkan dengan cepat.


"Tapi Hendra---"


"Lari!" ulang Ais setengah menghardik.


Magisna menghambur melewati keduanya dan berlari ke arah kembali.


"Jangan menoleh ke belakang!" Agustin memperingatkan.


Tapi Magisna serentak menoleh ke belakang saat itu juga dan tersandung akar ilalang. Tubuhnya terjerembab dengan kedua lutut mendarat di tanah lebih dulu. Tapi pandangannya tak mau beralih dari tempat Ais dan Agustin. Refleks, ia memutar tubuhnya hingga duduk, menatap lurus ke tempat Ais dan Agustin.


Wajahnya seketika memucat dan menegang.


Dua bayangan gelap melesat lagi menyeberangi jalan setapak. Kali ini, ia melihatnya dengan sangat jelas. Seperti binatang buas dengan kecepatan lari setara mobil balap.

__ADS_1


Makhluk apa itu?


__ADS_2