
Magisna bergerak maju ke depan dengan tenaga baru. Tapi terowongan itu terlihat asing. Ia tidak mendengar suara air yang mengalir.
Secapek-capeknya, Magisna masih bisa merasakan keadaan darurat menyentakkannya.
Kabut merah itu ada di sana. Ia tidak membuat bunyi berisik apa pun waktu menyerang Dika. Mungkin saja kabut itu berada di belakang mereka sekarang dan mereka takkan pernah tahu sampai segalanya terlambat.
"Kenapa kalian berenti?" tanya Magisna terengah-engah. "Makhluk itu bisa di mana aja. Kita harus terus jalan!"
Novi mengerutkan dahi dalam cahaya berkelap-kelip. "Gua kira kolam itu ada di sini. Dari arah mana kita dateng?"
"Gua gak tau," kata Magisna padanya. Ia menatap ke dalam mata Novi yang ketakutan setengah mati. "Gua gak tau gimana caranya balik ke kolam itu," ia mengakui.
"Kita gak bisa keluar," erang Alexza hampir menangis. "Kita gak bisa keluar," ulangnya sedih.
Magisna mendadak merasa jengkel. Kenapa Alexza malah putus asa sekarang?
"Kita cuma harus terus jalan sebelum kabut aneh itu nyusul kita."
"Gak ada jalan, Magisna!" bentak Alexza. "Kita bakal lebih nyasar lagi kalo kita jalan terus."
"Kita udah nyasar dari awal," bentak Magisna. Kemarahan memenuhi dirinya. Sesudah tadi mengancam untuk merebut obor darinya, kemudian hampir saja meninggalkan dirinya, sekarang Alexza menyerah begitu saja?
"Sini obornya!" perintah Magisna seraya merebut kembali obor itu dari tangan Alexza.
"Woy!" protes Alexza. "Sapa yang jadiin lu bos di sini?"
"Lu bisa tutup mulut gak?" hardik Magisna. "Dengerin gua! Jangan kira gua gak takut? Gua juga sama takutnya kayak lu. Tapi gak mungkin kan kita cuma duduk-duduk manis di sini. Makhluk itu gak jauh di belakang kita, dia bisa matiin kita dengan mudah kalo kita cuma duduk manis di sini, adu argumen sembari ngerengek-rengek. Makhluk itu gak peduli sama rengekan lu. Lu kira tu makhluk bapak moyang lu?! Kita mesti mikir!"
"Lu mikir aja sendiri. Gua udah gak bisa mikir," jerit Alexza. "Kita kejebak di bawah sini!"
"Terus lu gak mau tau gitu. Lu gak mau tau soal makhluk itu? Apa lu gak peduli sama Hendra?"
Alexza menggertak Magisna dan memelotinya. "Lu tau kan sebenarnya kalo gua peduli?"
"Terus sekarang lu gak mau ketemu dia lagi?"
Alexza mulai menangis sekarang. "Dia mungkin udah mati sekarang," katanya sedih.
"Mungkin juga belom," debat Magisna.
"Terus kita harus gimana sekarang?" Novi berteriak menyela keduanya. "Apa perlu kita puter balik ke tempat tadi? Ayo. Kita cari Hendra sama Dika sekarang!" tantangnya. "Sekalian aja kita nyerahin diri sama makhluk aneh yang kagak jelas apa namanya?!"
Magisna serentak terdiam. Apakah ia yakin ingin kembali ke sana?
Pikiran akan kabut merah yang aneh membuatnya betul-betul ngeri. Tidak ada kabut yang bisa menyerang manusia. Siapa yang akan percaya?
__ADS_1
"Terus mau lu gimana?" tanya Magisna pada Novi. Suaranya terdengar lemah.
Novi mendesah. "Kalo menurut gua sih, kita mending jalan aja terus. Mau sampe kolam kek mau kagak. Sapa tau akhirnya kita nemu pintu keluar. Gimana?"
Alexza dan Magisna tidak menjawab.
"Oke, Lexza?" Novi menambahkan.
Alexza mengangguk.
"Kalo gitu ayo jalan," kata Magisna. "Tapi tolong pelan-pelan aja. Gua gak bisa lari."
"Gua tau," gumam Alexza. "Sori, tadi kita udah ninggalin elu."
Magisna diam saja. Tak yakin apakah ia sudah memaafkan Alexza.
Mereka berjalan maju, membelok di sudut koridor, melewati beberapa ruang kosong. Tak satu pun terlihat akrab.
Nyala obor mulai padam sedikit demi sedikit pada setiap belokan. Tidak lama lagi mereka segera akan berada dalam kegelapan total.
Lalu apa lagi?
Magisna tak dapat membiarkan dirinya memikirkan itu. Ia berjalan pincang, napasnya tak beraturan.
Sesosok tubuh tanpa bentuk tergeletak membusuk di tanah di depan mereka.
Magisna menjerit. Ia melompat, menjauh dari mayat berbau busuk. Tiga ekor tikus mencakar mayat itu, mengunggisnya sambil mendecit-decit.
Perut Magisna mengejang.
"Mayat!" teriak Alexza. "Itu pasti mayat Dika!"
"Atau Hendra," timpal Novi pelan.
Alexza menyerbu ke depan, mendorong Novi ke samping melewati Magisna.
"Hei!" teriak Magisna terkejut. Ia terhuyung ke samping---dan pergelangan kakinya yang sakit tak mampu menopang tubuhnya. Tubuhnya pun ambruk.
Ketika Magisna terjatuh, obor di tangannya melayang dari tangannya. Ia melihat obor itu membentur dinding. Terpelanting dan mendarat di lantai ubin.
Obor itu mendesis pelan, berpendar, kemudian padam.
Kegelapan total meliputi mereka.
Magisna mencoba menahan erangannya. Ia merasakan seolah semua dinding menekannya. Begitu gelap. Begitu pengap.
__ADS_1
Ia mendengar napas Novi memburu tak beraturan di sebelahnya, kemudian mendengar Alexza mengumpat.
Aku harus tenang, kata Magisna dalam hati. Aku harus berpikir!
Tapi begitu gelap. Segala ketakutan masa kecilnya datang menyerbu.
"Apa tadi ada yang liat itu mayat siapa?" tanya Magisna gemetar.
"Gua gak bisa bilang," kata Alexza padanya. "Obor itu mati sebelum gua liat wajahnya. Tapi kayaknya itu kemeja Hendra."
Magisna berusaha memusatkan pikirannya. Ia mencoba tidak menghiraukan rasa panik yang menyerbunya. Mencoba tidak memedulikan kegelapan. Mencoba tidak mengacuhkan kenyataan mayat Hendra tengah terbaring di depannya.
"Kalo itu Hendra, pasti kabut aneh itu juga yang bunuh dia," ujar Novi tak kalah gemetar. "Makhluk itu ngebunuh, terus ninggalin dia di sini."
Magisna mendengar Alexza terengah-engah. Mungkin menangis. "Dan sekarang makhluk itu mungkin masih ada di sini!" teriaknya. "Dan kita gak bisa liat!"
Magisna mengulurkan tangannya ke dalam kegelapan. Ia meraba-raba sepanjang lantai yang dingin sampai jari-jarinya menyentuh obor.
"Kita harus gerak terus," kata Novi. "Meski gak ada obor. Kita gak bisa tinggal di sini."
Magisna menjilat bibirnya yang kering. "Hendra punya korek," teriaknya parau.
"Hendra udah mati," Alexza menggeram.
"Koreknya... Pasti ada di kantongnya entah di sebelah mana," kata Magisna. "Di saku celana apa di saku kemeja."
Hening sejenak.
"Jangan coba-coba suruh gua nyari koreknya. Gua gak mau," protes Novi.
"Harus," Magisna mendesak. "Kabut aneh itu bisa aja ada di sini bareng kita. Dan kita gak tahu! Kita harus keluar dari sini! Kita butuh cahaya!"
Ia mendengar nada histeris suaranya sendiri. Tenang, ia memerintahkan dirinya.
"Gua juga gak mau nyentuh mayat Hendra," kata Alexza. "Gua gak bisa. Sumpah!"
Magisna memaksa dirinya merangkak ke depan. "Alexza, lu tau kan di mana mayatnya?"
"Di depan gua," bisik Alexza takut-takut. "Lu ikutin suara gua."
Magisna merangkak ke depan. Tangan Alexza menyentuh bahunya.
"Dia di sebelah sini," kata Alexza. "Lu mau ngapain emang?"
Magisna ragu-ragu. "Gua mau coba cari koreknya," katanya. "Gua mau periksa semua sakunya." Ia mendengar Alexza bergerak menjauh.
__ADS_1