Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 40


__ADS_3

Segalanya segera lenyap.


Gudang.


Jeep.


Udara dingin.


Bahkan kegelapan.


Yang ada hanyalah seseorang, berdiri di depan mereka, menghalangi jalan mereka, menatap mereka dengan benda metal warna gelap di tangannya.


Dia membawa senjata, Magisna menyadari.


Letusan di sampingnya membuat Magisna terloncat. Tapi pada mulanya dia tidak menyadari suara apakah itu. Bunyinya seperti bukan suara tembakan. Bukan seperti suara tembakan di TV.


Suara itu lebih keras lagi. Suara itu menimbulkan banyak gema.


Ia berdiri menatap sosok gelap di depannya dan memerlukan waktu amat lama baginya untuk menyadari letusan itu ternyata suara tembakan.


Hingga…


Ia melihat sosok itu roboh ke lantai.


Dia tidak bersuara. Hanya jatuh, roboh ke belakang, membentur lantai begitu keras, terpelanting.


Lalu perlahan Magisna menyadari Hendra-lah yang menembaknya.


Setelah beberapa lama barulah semua itu meresap ke dalam pikiran Magisna. Seolah-olah ia sedang berada dalam mode slow motion.


Dan ia bahkan tidak menyadari ia sudah menjerit. Menjerit sekuat-kuatnya, sampai Gabe melompat turun dari mobil dan menghambur ke arah mereka.


Lampu pijar pada kasau di atas mereka menyala. Cahayanya terlihat hampir berwarna ungu entah karena apa, lalu terang menjadi kelabu kebiruan.


Gabe tersentak dan menoleh ke sekeliling.


Senja berdiri di dekat tombol lampu di samping pintu yang terbuka.


"Gu---gua… gua nembak orang—"


Magisna merasa mendengar apa yang dikatakan Hendra. Dia benar-benar tak yakin.


"Gua nembak orang!" teriak Hendra pada Magisna. Pistol masih ada di tangannya. "Gua… gua gak maksud bunuh dia. Gua—"


Gabe masih membeku.


Magisna tiba-tiba merasa begitu pusing seolah-olah lampu yang tiba-tiba menyala membuatnya terhuyung-huyung.


Atau karena suara tembakan?


Magisna masih bisa mendengarnya bergema di kasau-kasau.


Senja datang menghampiri mereka, napasnya yang membeku membentuk kabut.


Dia bernapas? pikir Magisna. Apa hantu juga bernapas?


"Pistolnya meletus gitu aja," kata Hendra seraya menatap pistol di tangannya dengan ketakutan, seolah-olah dia tidak tahu bagaimana pistol itu bisa berada di tangannya, atau bahkan ia tidak tahu apa yang ada di tangannya itu. "Gua gak sadar waktu narik pelatuknya!"


Magisna kembali terseret ke dalam kenyataan.


Gabe berlutut di dekat tubuh yang tidak bergerak di lantai itu dan memeriksanya.


Hendra dan Magisna melangkah maju, berimpit-impitan di depan Gabe, menunduk ke arah tubuh yang tergolek di lantai.


Ternyata orang itu.

__ADS_1


Orang itu yang mengintip di jendela dengan topeng ski.


Dan dia ternyata perempuan.


Perempuan itu terbaring kaku dengan mata terkatup, tangannya lurus di samping dengan benda metal warna gelap di tangan kanannya.


Gabe melepaskan sarung tangannya dan mengarahkan tangannya ke lubang hidung perempuan bertopeng ski itu, lalu menekan tenggorokannya.


Magisna menahan napas. Ada sesuatu yang membuatnya tercekat. Sesuatu yang mengingatkannya pada ulah Hendra ketika mereka sedang menggasak seisi kantin.


Tangan perempuan itu terlempar ke atas dan menancapkan benda metal warna gelap ke leher Gabe.


Gabe memekik dan tersentak, lalu terpelanting ke belakang dan terjerembab di lantai.


Magisna menjerit lagi.


Senja melompat ke arah Gabe.


Hendra terperangah.


"Jangan khawatir, dia takkan mati!" perempuan bertopeng ski itu mengacungkan benda metal di tangannya, stun gun berbentuk kotak berwarna hitam berkekuatan 2.800 volt. Efek kejutnya bisa membuat orang pingsan.


Ternyata bukan senjata api, pikir Magisna lega.


Perempuan itu menarik topeng ski-nya, memperlihatkan wajah yang tak asing bagi Magisna.


"Miss Pinkan?" Hendra dan Magisna memekik bersamaan.


Senja beranjak dari lantai dan melompat ke arah Miss Pinkan. Miss Pinkan tidak menyadarinya. Dia tidak melihat Senja.


"Awas!" Magisna menjerit seraya melompat ke arah Miss Pinkan, mendorongnya untuk menghindarkan serangan Senja.


"Eka ini saya!" teriak Miss Pinkan. "Kalian tidak mengenali saya?"


Senja melompat ke sisi gudang, meraih garpu penggaru logam yang sudah karatan yang bersandar ke dinding gudang, kemudian mengayunkannya ke arah Miss Pinkan.


Tapi ia tersuruk ke sudut gudang, menembus tubuh Senja. Pistol di tangannya terlempar ke dinding di sudut gudang dan terpental ke lantai.


Hendra terperangah. Apa yang terjadi? pikirnya tak yakin. Aku menembus tubuhnya?


"Dia—" Hendra tergagap seraya menunjuk ke arah Senja.


Senja berbalik dan menyeringai pada Hendra. "Aku sudah berbaik hati menampung kalian di pondokku," geram hantu itu. "Dan kau menyerangku?"


"Gua pasti terlalu syok!" gumam Hendra, tidak ditujukan kepada siapa pun.


"Apa ini?" Miss Pinkan bertanya-tanya. Suaranya terdengar gemetar dan sedikit tercekik. Matanya terbelalak menatap garpu penggaru yang melayang di udara.


"Senja—" Magisna berkata ragu.


"Senja?" Miss Pinkan menyentakkan kepalanya ke samping, menatap Magisna dengan terbelalak.


"Dia hantu!" kata Magisna akhirnya.


Senja berhenti melangkah dan membeku.


Hendra terperangah dan menahan napas.


"Hantu? Eka—apa yang kalian bicarakan?" Miss Pinkan mencengkeram bahu Magisna.


Senja berbalik ke arah Magisna, menatapnya dengan mata nyalang. Garpu penggaru terlepas dari tangannya.


Miss Pinkan terloncat di tempatnya.


Magisna beringsut menjauhi Senja, "A–-a—Anda… sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu," jelas Magisna terbata-bata. Menatap Senja dengan ketakutan.

__ADS_1


Senja tetap bergeming.


"Heckhuva—" Magisna menelan ludah dengan susah payah. "Anda masih ingat cerita tentang heckhuva? Dia adalah Anda!"


Miss Pinkan mengerutkan dahinya. "Ada yang bisa jelaskan apa yang terjadi?"


Hendra menarik bangkit tubuhnya. "Saya tahu," katanya setengah berteriak. "Kami dihukum pada hari Sabtu, kami terjebak di Doolhof dan kebingungan. Menghirup asap beracun dan berhalusinasi. Kami capek. Kami frustrasi dan kami gila!"


Miss Pinkan melengak menatap Hendra. Sekilas rasa bersalah tergambar pada wajahnya.


Senja menyeringai dan mendekat ke arah Magisna.


Magisna gelagapan, menoleh ke sana kemari, mengawasi Senja, Hendra dan Miss Pinkan secara bergantian. Kebingungan bercampur ketakutan.


Seseorang… siapa saja, tolong! Magisna menjerit dalam hatinya.


Angin berembus kencang di luar gudang. Begitu kencang hingga suaranya terdengar bising seperti deru mesin.


Senja berhenti lagi, tapi matanya tak pernah lepas memandang Magisna.


"Terimalah kenyataannya," desis Magisna bernada memohon. "Anda sudah mati!"


Senja mengetatkan rahangnya dan menyentakkan kepalanya ke belakang, tertawa terbahak-bahak hingga menangis.


"Anda seorang heckhuva!" Magisna menaikkan suaranya.


Senja menjatuhkan dirinya, jatuh terduduk dengan kedua lutut bertumpu pada lantai. Membungkuk dengan kedua bahu gemetar.


Dia menangis, pikir Magisna.


Hendra menjatuhkan pandangannya ke bawah, ke arah Senja. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia masih belum bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.


Miss Pinkan merangkul bahu Magisna yang gemetaran. "Kita harus pergi dari sini sebelum Gabe sadarkan diri," katanya.


Magisna mengangguk dengan susah payah. Tatapannya tidak beralih dari Senja.


Senja mengangkat wajahnya dan menatap Magisna sekali lagi. Sekujur tubuhnya tiba-tiba bersinar, semakin lama semakin terang. Lalu berkeredap dan berkedut-kedut.


Dia akan lenyap! Magisna menyadari.


Hendra juga melihatnya. Kedua matanya terpicing sementara mulutnya terkatup rapat.


Senja menatap tubuh Gabe yang terlentang di lantai. Menatapnya dengan sedih.


Seketika hati Magisna merasa tersayat. Dia bisa merasakan kesedihan pria itu. Tapi tak bisa menjelaskannya.


Bagaimana rasanya mengetahui diri kita sudah mati dan menyadari bahwa kita akan lenyap untuk selamanya?


Bagaimana rasanya dipaksa merelakan seseorang yang sangat kita cintai saat kita belum siap?


"Gabe tidak bisa melihat Anda," Magisna memberitahu Senja.


Senja mendongak, kembali menatap Magisna dengan tatapan hampa.


"Keluarga Anda juga tidak!" Magisna menambahkan. "Itu sebabnya mereka mengabaikan Anda. Mereka tidak membenci Anda, Pak. Mereka tidak melihat Anda!"


"Gabe tidak membenciku?" Senja tertunduk mengamati wajah Gabe yang terpejam.


Magisna menggeleng.


Senja tidak melihatnya. Pria itu benar-benar menangis sekarang. Menangis tanpa suara.


"Ayo pergi!" Miss Pinkan mendesak Magisna.


Hendra bergabung dengan mereka dan ketiganya menghambur keluar gudang.

__ADS_1


Ledakan cahaya terang membuat Magisna kembali menoleh ke dalam gudang.


Senja telah lenyap!


__ADS_2