
Akhirnya kami akan pulang, Magisna bersorak dalam hatinya. Kami akan tiba di rumah.
Rumah!
Magisna baru sadar dia tak memikirkan orang tuanya sepanjang hari ini.
Ya, Tuhan! Betapa bahagianya akan bertemu mereka, pikirnya senang. Seandainya aku bisa bertemu mereka lagi, ia menambahkan dengan getir.
Hujan telah berhenti, tapi waktu sudah beranjak malam. Di luar jendela, bagian belakang rumah terhampar dalam kegelapan.
Aku tak percaya aku sudah dua hari berada di sini, pikir Magisna. Tidak adakah yang peduli pada kami?
Sambil mengintip keluar jendela, Magisna berjinjit ke meja telepon dan mengambil gagang telepon. Mudah-mudahan teleponnya sudah tersambung, pikirnya.
Ternyata masih rusak. Tidak ada nada panggil. Hanya suara gemerisik.
Sambil mendesah putus asa, Magisna meletakkan kembali gagang telepon dan mengikuti Hendra menyeberangi ruangan menuju ruang kecil tempat penyimpanan jaket.
Anak tangga berderak-derak. Gabe melangkah turun setelah mematikan semua lampu dan menutup rapat jaketnya. Senja mengekor di belakangnya tanpa bicara.
Magisna buru-buru memalingkan wajahnya, tak mau berinteraksi dengan hantu itu.
Di seberang ruangan, api mulai padam menjadi seonggok bara kelabu yang meretih. Tinggal lampu di meja telepon sekarang yang menjadi satu-satunya cahaya di ruangan itu dalam bentuk kerucut berwarna kuning.
Gabe meraih pegangan pintu depan dan mulai membuka pintu. Lalu tiba-tiba berhenti dan berbalik ke dalam ruangan. Matanya menatap ke arah kotak kaca di sudut ruangan dekat perapian.
Oh, tidak! Magisna menyadari. Dia akan membawa senjata. Pikiran itu membuat punggungnya merinding. Ia membeku di tengah ruangan, memperhatikan Gabe diliputi rasa takut. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Tak bisa bernapas.
Hendra terpaku menatap Gabe tanpa mengatakan sepatah kata pun. Lalu melirik Magisna. Dalam diam, mata mereka saling bicara, seolah-olah mereka telah menemukan cara baru berkomunikasi dalam keheningan.
Gabe bergegas menyeberangi ruangan. Magisna mengejarnya dan meraih bahu jaketnya.
"Kita tidak memerlukan senjata," kata Magisna.
"Kita tidak akan menggunakannya. Hanya untuk berjaga-jaga saja!" Gabe berkilah datar. Lalu bergegas menuju rak senjata, membuka pintu kaca, mengambil sepucuk pistol, dan mendekat pada Hendra. "Pegang dulu pistolnya sampai aku dapat menghidupkan mobil, nanti aku akan mengambilnya!"
"Gosah kuatir," kata Hendra, kemudian memeriksa larasnya. "Gua udah pernah menggunakan senjata."
Magisna membeliak sebal. Aku benci senjata api, batinnya. Aku benci berada di dalam ruangan yang ada senjatanya. Aku benci melihat Hendra berjalan ke arahku dengan pistol yang terisi. Dan aku benci melihat tampangnya. Tampang yang seolah mengatakan, Nih, gayaku keren. Gayaku funky.
Hendra menyeringai.
Magisna yakin Hendra cuma belagak, sok percaya diri. Tapi masa bodohlah, pikirnya. Tinggal beberapa menit lagi dan kami akan berada di luar. Makin cepat kami berada di luar, makin baik.
__ADS_1
Entah kenapa Magisna merasa keluar dari pondok itu merupakan sembilan puluh persen dari perjuangan.
"Ayo!" Gabe membuka pintu depan dan mereka semua melangkah keluar memasuki kegelapan malam.
Udara dingin yang tiba-tiba menyerbu membuat Magisna terengah-engah. Suhu pasti turun sepuluh derajat dibandingkan saat hujan.
Angin telah berhenti. Segalanya tampak membeku. Bahkan napas mereka berkabut ketika mereka mengikuti Gabe mengelilingi bagian sisi pondok.
Suasana yang temaram membuat mata Magisna terasa sedikit perih dan berair. Ia merasa seolah-olah melihat segalanya melalui kaca rusak, kaca gelap yang membuat berbagai benda kelihatan aneh.
Permukaan tanah di pekarangan belakang masih basah dan sepatu mereka menimbulkan bunyi berdecak ketika mereka berjalan beriringan melewati genangan, menyeberangi lapangan berumput menuju gudang.
Tak seorang pun di antara mereka berkata-kata. Bahkan Senja. Seolah-olah suara mereka turut membeku juga.
Tinggal beberapa meter dari gudang ketika Magisna menoleh ke arah pondok. Cahaya kekuningan berpendar dari salah satu kamar tidur di lantai atas. Bayangannya terlihat suram.
Magisna tak dapat memastikan apakah cahaya itu berasal dari kamar Gabe atau dari kamar tamu yang semula dihuninya.
Hendra dan Senja sudah sampai lebih dulu dan berusaha membuka pintu gudang, menarik gerendel besar yang terbuat dari besi.
Angin kencang tiba-tiba berembus, berputar-putar menghampiri mereka dari arah pondok seolah berontak melawan mereka dan menahan pintu gudang tetap tertutup.
Magisna menggigil seraya mempercepat langkahnya ke arah gudang, menyusul Hendra dan yang lainnya.
Hendra dan Senja menariknya lagi, memaksanya dengan kekuatan penuh. Pintunya mengayun terbuka beberapa inci, lalu berhenti. Hendra akhirnya berhasil melepaskan gerendel pintu, kemudian menekankan kedua tangannya pada pinggir pintu dan menariknya.
Lalu macet lagi.
Dengan kalut, Hendra menariknya lebih kuat lagi, mencondongkan badannya jauh ke belakang seolah hendak terjengkang.
Gabe akhirnya turun tangan dan membantu Hendra menariknya.
Pintu akhirnya terbuka cukup lebar untuk dapat dilalui Jeep.
Gabe dan Hendra terengah-engah, napas mereka yang membeku menguapkan kabut kelabu di langit yang gelap pekat.
Seketika Magisna menyadari. Senja sama sekali tidak membantu!
Dia bisa menggerakkan pintu pondok yang tidak terlalu besar, memindahkan barang-barang ringan, tapi tidak cukup bertenaga untuk menggerakkan pintu gudang yang engselnya sudah karatan.
"Ayo masuk!" Gabe melangkah lebih dulu.
Hendra dan Magisna mengikutinya, berjalan berimpitan ke dalam gudang yang gelap.
__ADS_1
Ketika mereka masuk, Magisna mendengar suara binatang-binatang kecil berlarian dengan cepat. Mungkin tikus. Di dalam gudang bahkan lebih gelap daripada di halaman belakang, tapi Gabe sepertinya tidak mau repot-repot menyalakan lampu.
"Ayo naik!" perintah Gabe dalam kegelapan.
Gelap sekali di sini, pikir Magisna. Ia hampir tidak dapat melangkah ke ujung lain gudang.
Magisna berjalan beberapa langkah sembari mencengkeram lengan jaket Hendra, menyeberangi lantai tanah yang keras dan dingin membeku ketika angin kencang membanting pintu hingga tertutup di belakang mereka.
Magisna menjerit terkejut dan berpaling, ketakutan.
"Tidak ada siapa-siapa di sini," Gabe menegurnya. "Itu cuma angin!"
Tumpukan jerami berkeretak terinjak kakinya, disusul suara mencicit yang sepintas terdengar seperti terkikik.
Lagi? Magisna mengerang dalam hati, memarahi dirinya sendiri. Itu cuma tikus!
Magisna menatap ke arah pintu.
Hendra mendorongnya lagi sampai pintu terbuka dan tersangkut tumpukan jerami yang berserakan di lantai.
Jantung Magisna berdebar-debar. Sekujur tubuhnya menggigil, kedinginan campur ketakutan. Sekarang aku baru tahu rasanya "menggigil sampai tulang", pikir Magisna.
"Kenapa gak dinyalain aja sih lampunya?" protes Hendra.
"Tidak perlu," kata Gabe datar. "Kunci mobil ada di tanganku. Aku bisa menstarter Jeep dalam gelap."
"Kalo gitu nyalain sekarang!" teriak Hendra.
Di belakangnya, angin bertiup kencang melawan pintu gudang yang terbuka.
Magisna mendekati Hendra, cukup dekat untuk bisa melihat dia pun tampak ketakutan.
Hendra menuntun langkahnya menembus kegelapan.
Mereka sudah hampir sampai di tengah gudang, sepatu bot Hendra menimbulkan bunyi derak keras di lantai yang keras. Sesuatu beterbangan di atas kepalanya.
Magisna menjerit lagi. "Apa itu kelelawar?"
"Bukan. Itu kupu-kupu!" kelakar Hendra.
"Ayo cepat masuk ke dalam Jeep!" Gabe mendesak tak sabar. Senja sudah menyelinap di jok penumpang di sebelahnya.
Magisna memicingkan kedua matanya, memaksa melihat apa yang berterbangan di atas kepala mereka. Tapi ketika ia menurunkan matanya, ia melihat sesosok tubuh tepat di depan mereka.
__ADS_1
Seorang pria, berdiri pada tiang…
Menatap mereka!