Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 20


__ADS_3

"Kita musti ngapain sekarang?" Suara Alexza melengking.


"Kita nggak gak usah ngapa-ngapain," sahut Magisna. "Kita gak bisa ngelawan." Tubuhnya terasa begitu dingin, dan ia tak bisa berhenti gemetaran. Ia menjulurkan obornya ke depan seolah-olah hal itu bisa melindunginya.


Kabut merah itu menggelegak di depan mereka. Suara yang terdengar hanya desis obor mereka yang berpendar lemah. Dan juga napas dari kabut itu.


Kabut itu melayang-layang di tempat, seperti sedang mengawasi mereka.


Sedikit gumpalannya melayang keluar membentuk sulur, menyelidiki kumpulan kerangka. Kemudian menyatu lagi, melayang di udara.


"Dia nungguin apa?" bisik Magisna.


"Nungguin gua," sahut Hendra.


"Apa?"


"Gosah dipikirin," Hendra menggeram. "Siap-siap aja buat lari, apa pun yang terjadi sama gua---"


"Ndra---" Alexza menghardik memotong perkataannya.


Hendra melangkah ke depan dan melambaikan obornya ke arah kabut itu.


"Hei!" ia berseru. "Lu ngincer gua kan seharian ini? Sini! Ambil gua!"


"Hendra, jangan!" jerit Magisna.


Hendra meliriknya sekilas. Kemudian ia melangkah ke samping menuju dinding yang jauh. Kabut itu mengikutinya.


"Gua di sini," desak Hendra. "Ayo, tangkep gua sini!"


Magisna segera menyadari apa yang tengah dilakukan Hendra. Seseorang harus tertangkap, begitu kata kesadarannya dalam kengerian yang memuncak. Salah satu dari kami atau kami semua. 


Ia dan Alexza sekarang bisa melihat terowongan kecil itu dengan jelas. Hendra memberikan kami kesempatan. 


Kami harus mengambilnya!


Tapi mereka tak bisa meninggalkan Hendra sendirian di sini.


Ia tak bisa.


Ia tak bisa membiarkan Hendra ditangkap, kemudian diseret seperti Dika dan Novi.


"Lari!" perintah Hendra seraya mengayunkan obornya.


Kabut merah itu terlihat semakin bersinar karena kekuatannya. Atau karena kelaparan, pikir Magisna getir. Hanya jarak pendek yang memisahkan Hendra dengan kabut itu.


"Lari!" ulang Hendra terdengar frustrasi.


Magisna tetap berdiri tanpa bergerak sedikit pun.


Hendra menatap matanya. Magisna merasa kemarahan tengah membara di dalam diri Hendra. Kemarahan atas kehilangan Dika dan juga Novi. Kemarahan karena terperangkap di dalam mimpi buruk.


Tapi Magisna melihat kilatan ketakutan juga.


Hendra akan segera tertangkap, dan ia tahu itu.


"LARRRRIIIIII!" Hendra meraung. "SEKARANG!"

__ADS_1


Magisna menyambar lengan Alexza dan menariknya menuju gundukan tanah. Alexza tidak memprotes.


Kabut merah itu berbalik pada mereka, tapi jaraknya terlalu jauh untuk menghentikan mereka.


Magisna berlari sepanjang dinding.


Nyaris sampai. Ia hanya perlu naik ke atas gundukan tanah. Ia hanya perlu memanjat terowongan tanpa menyebabkan longsoran lain.


Ia memandang sekilas melalui bahunya---dan napasnya tersentak.


Kabut merah itu mengalir mengelilingi kerangka-kerangka itu.


Magisna berhenti mendadak. Mulutnya membulat lebar. Ini tidak sungguhan!


"Gak mungkin," bisik Alexza di belakangnya.


Kabut merah itu mengelilingi semua kerangka itu. Melayang masuk dan keluar dari tulang rusuk. Kemudian terbang berputar melalui mulut dan rongga mata.


Tulang-tulang itu sekarang bergerak!


Mula-mula, mereka semua menggeletar. Lalu mereka mulai bergerak.


Kabut merah itu mengangkat semua kerangka dari lantai satu demi satu.


Magisna terperangah ketika tengkorak mati itu berdiri tegak---dan mulai melayang ke arahnya.


Rahang mereka berderak mengatup di udara. Kaki mereka menimbulkan bunyi gemeretak pada lantai batu. Lengan mereka melambai seperti orang-orangan sawah. Jari mereka menekuk, membentuk cakar.


"Ayo, Lexza!" teriak Magisna. Ia lari ke gundukan tanah.


Tapi tengkorak itu lebih cepat. Mereka terbang melintasi ruangan, tulang-tulang mereka berkeletakan saling membentur. Mereka menyebar di depan gundukan tanah. Di depan terowongan.


Ketakutan yang melumpuhkan menyergap Magisna. Ia tidak tahu apa lagi yang harus mereka lakukan sekarang.


Beginilah…


Akhirnya, mereka akan mati.


Magisna berteriak ketika tangan-tangan tulang itu meraihnya.


"Gaaaaak!" teriak Magisna. "Lu gak idup! Gak idup! Lu semua udah mati!"


"Singkirin mereka dari gua!" lengking Alexza.


Magisna memeloti kerangka itu. Gerakan mereka tersentak-sentak ketika mereka setengah terhuyung, setelah mereka melayang di depannya.


Bagaimana ia bisa yakin mereka takkan mengoyaknya?


Ia tak bisa. Tak ada waktu lagi.


"Mereka gak idup!" teriaknya pada Alexza. "Lari, lewatin mereka!"


"Ogah!" Alexza terisak ketakutan.


"Lari!" teriak Hendra. "Lari!"


Magisna berputar melihat Hendra. Kabut itu hanya tinggal selangkah dari wajah Hendra. Mereka harus pergi---sekarang.

__ADS_1


Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghambur ke arah kerangka itu. Ia mengulurkan obor tepat di depannya.


Ia melewati kerangka pertama.


Mereka mengerumuninya. Lengan mereka terjulur ke arahnya. Mencakar bajunya, rambutnya, mencoba mencengkeram tenggorokannya.


"Tolong!" teriaknya.


Ia mengayunkan obornya pada mereka. Obor itu berputar dari genggamannya dan jatuh di lantai. Apinya mati.


Salah satu kerangka memeluknya. Wajahnya yang seram berwarna cokelat bergerak ke arahnya seakan-akan ingin menciumnya. Rahangnya membuka dan mengatup, giginya yang retak bergemeletuk hanya beberapa inci dari bibirnya.


Dengan perasaan jijik ia mengerang dan mendorong makhluk itu menjauh dari dirinya. Kerangka itu terjerembap ke belakang dan roboh ke tanah.


Dua lengan meliliti lehernya dari belakang. Sebuah tangan tulang menyuruk melewati wajahnya.


Magisna memukul ke sekeliling, menonjok kerangka itu. Kepalan tengannya menyodok menembus rongga tulang rusuknya, menghancurkannya. Ia merasa sangat mual. Tangannya berlumuran semacam pasir hitam---sisa-sisa daging manusia.


"Pergi!" teriaknya.


Sisa-sisa kerangka itu remuk di lantai. Tengkorak kepalanya menggelinding ke dalam kegelapan.


Magisna berlari cepat melewati jarak yang tersisa ke arah gundukan, merangkak secepat mungkin dan naik ke lubang.


Di atas gundukan, ia berpaling.


Alexza tidak ada di belakangnya. Ia terpaku di tempatnya, sementara satu kerangka bergerak meraihnya.


Hendra melihatnya juga. Ia melompat ke arah Alexza. Kecepatannya mengejutkan Magisna. Ia membuat gerakan tipuan dengan berlari ke sana kemari, membodohi kabut itu dengan gerakan berputar-putar yang lebih cepat daripada lari mundur yang pernah ia lihat.


Ketika Hendra berlari, matanya nyalang terfokus pada kerangka itu.


Ia mengangkat tinggi obornya seperti pemukul bisbol.


Kerangka itu meledak ketika Hendra mengayunkan obornya menembus tulang rusuknya, sehingga kepingan tulang dan bongkahan obor yang menyala terlempar melintasi ruangan itu.


Semuanya menjadi gelap.


"Pergi!" ia mendengar Hendra berteriak.


Magisna terjun ke lubang dan tidak melihat ke belakang. Ia terus merangkak, sambil memuntahkan semulut penuh butiran tanah.


Ia berguling berhenti di dasar gundukan pada sisi lain, bersyukur atas embusan udara dingin yang lembap---tak peduli betapa tidak enak baunya.


Ia tak bisa melihat apa-apa. Semua obor mereka telah padam.


Ia berbalik ke arah terowongan.


Di mana Alexza dan Hendra? pikirnya. Mereka harus berhasil!


Tapi Magisna tak dapat melihat seorang pun---atau apa pun.


Ia mendengar jeritan Alexza yang panjang, mengerikan, dan membekukan darahnya.


Lalu tak mendengar apa-apa lagi.


Magisna menutupi kedua telinganya supaya ia tidak mendengar teriakan Alexza. Apa yang harus kulakukan sekarang? pikirnya kalut. Haruskah aku lari, atau kembali ke sana lagi?

__ADS_1


Mungkin saja mereka sudah mati, pikirnya ngeri.


Tapi mungkin tidak. Magisna tahu ia tak bisa meninggalkan mereka.


__ADS_2