Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 73


__ADS_3

BRUK!


Tubuh Dini seketika ambruk di lantai dan kabut merah menyembur keluar dari lukanya.


Semua orang membeku menyaksikan pemandangan itu, tapi tak satu pun dari mereka bisa melihat kabut itu kecuali Magisna dan Pak Isa, juga… Suzy tentunya.


Suzy melangkah mendekat ke arah Magisna dan tertunduk menatap tubuh Dini.


Su Si melompat-lompat memutari Suzy sembari cekikikan.


Magisna menarik duduk tubuhnya dan menyandarkan punggungnya ke dinding seraya menghela napas lega.


"Ada yang bisa membantuku?" Pak Isa menginterupsi.


Semua orang serentak menoleh pada pria itu.


Magisna tergagap.


Senja mengalungkan lengannya di seputar leher kepala sekolah itu dengan ekspresi mengancam.


Magisna melompat dari lantai dan menghambur ke arah Pak Isa.


Senja mengayunkan lengannya yang bebas dan seketika itu juga Magisna terlempar ke belakang.


Magisna mengerang frustrasi.


"Lepaskan dia!" perintah Suzy pada Senja.


Senja mendengus dan menyeringai. Mengabaikan peringatan gadis itu.


"Kau tak mau mendengarku?" Suzy menaikkan sebelah alisnya dan membungkuk, mencondongkan tubuhnya ke arah Senja, sementara kedua tangannya bersilangan di belakang tubuhnya.


Senja tak bergeming.


"Bagaimana kalau yang ini?" Suzy tiba-tiba menarik kembali tubuhnya dan meluruskannya. Lalu mengerling ke belakang.


Seketika seisi ruangan bergetar dan bergemuruh. Angin berembus kencang dari ujung lorong dan seluruh Doolhof mendadak terang benderang.


Seluruh tubuh Magisna seperti tersengat aliran listrik.


Pak Isa memekik dan Senja terjengkang ke belakang.


Sekujur tubuh Magisna dan Pak Isa mengentak bersamaan. Lalu sesuatu menyembul dari punggung keduanya.


Seisi ruangan membeku dengan mata dan mulut membulat.


Dua orang pria muncul di belakang Magisna dan Pak Isa.


Semua orang tercengang menatap kedua pria itu.


Pria yang keluar dari tubuh Magisna mengenakan gamis semata kaki, sejajar dengan panjang rambutnya yang hitam mengkilat. Seolah-olah rambutnya yang selurus penggaris itu adalah jubahnya.

__ADS_1


Galang!


Sementara pria yang keluar dari tubuh Pak Isa mengenakan pakaian loreng model tentara Belanda, lengkap dengan sepatu kulit selutut. Rambutnya pirang tembaga dan sepasang matanya berwarna hijau.


Leo!


Magisna dan Pak Isa tersungkur menelungkup. Tapi tidak kehilangan kesadaran. Keduanya menggigil dan mengangkat wajahnya yang pucat pasi.


Sesuatu menyeruak secepat kilat dari ujung lorong, mengempaskan angin kencang yang mengerikan.


Semua orang menahan napas. Tak terkecuali Magisna dan Pak Isa.


Tubuh Novi tiba-tiba tersungkur di samping Magisna.


Semua orang tergagap melihat Novi yang tiba-tiba ambruk.


Jiwa Jingga terlempar keluar, terhempas oleh angin dan cahaya menyilaukan yang kian mendekat.


Sedetik kemudian, bayangan gelap pekat berhenti tak jauh dari mereka. Seluruh tempat mendadak beku. Waktu seolah terhenti dan terkunci ketika bayangan gelap itu sampai di tengah-tengah mereka.


Magisna mengerjap dan memicingkan mata untuk mempertajam penglihatannya.


Seorang wanita berjubah gelap, lengkap dengan selubung kepala yang sama gelap, memangku tubuh seorang gadis berambut pendek berseragam SMU, melompat turun dari punggung seekor macan kumbang raksasa berwarna hitam.


Magisna terperangah dan menahan napas.


Macan kumbang raksasa itu berangsur-angsur berubah menjadi seorang pria berambut panjang hitam mengkilat, dengan jubah dan selubung kepala sewarna, berlutut di sisi perempuan itu. Dan ketika pria itu mengangkat wajahnya, waktu seolah kembali terhenti.


Seluruh tempat kembali membeku.


Magisna dan Pak Isa saling melirik dengan ekspresi takjub.


Perempuan misterius itu melangkah pelan mendekati tubuh Dini yang tergolek tak sadarkan diri, kemudian meletakkan perempuan dalam pangkuannya di atas tubuh gadis itu.


Dia mengembalikan jiwa Dini! Magisna menyadari.


Sesaat kemudian, perempuan itu menurunkan selubung kepalanya di depan Magisna. Gerakannya seringan angin. Dan seketika seluruh tempat kembali membeku.


Magisna terkesiap. Wajah perempuan itu seperti Suzy. Sama persis, hanya lebih bersinar seperti tubuh hantu.


Dalam waktu yang lama, tidak seorang pun bergerak. Semuanya membeku antara takjub dan ketakutan.


Perempuan itu menghampiri Papa Tibi dan menariknya berdiri. Lalu membungkuk dan mencium punggung tangannya.


Magisna melengak kebingungan.


"Bangunlah semuanya," perintah perempuan itu kepada semua orang.


Semua orang menarik bangkit tubuhnya nyaris bersamaan, tapi tak satu pun berani mengangkat wajahnya menatap perempuan itu.


Suzy menyisi ke dinding, bergabung dengan Ais dan Agustin. Kedua cowok itu tidak menyadarinya.

__ADS_1


Lima ekor macan kumbang yang terkurung di gang buntu menghambur keluar menghampiri pasangan misterius itu dan mengerumuni mereka seperti anak-anak yang baru menemukan kedua orang tuanya.


Su Si melompat-lompat gembira memutari mereka sambil cekikikan.


Pria tampan berjubah gelap jelemaan macam kumbang raksasa tadi menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari tertunduk dan tersenyum tipis memperhatikan kawanan macan kumbang itu menggelisir manja di seputar kakinya.


Mereka semua terlihat gembira, pikir Magisna.


Siapa kedua orang ini?


Perempuan itu mengelus masing-masing kepala macan kumbang itu seraya tersenyum lembut—senyum hangat seorang ibu, dan seketika semuanya meringkuk dan tertidur setelah kepalanya dielus, kemudian berubah menjadi Hendra, Dika, Novi dan Alexza… juga Magisna.


Jadi siapa aku sebenarnya? pekik Magisna dalam hatinya.


Seperti bisa mendengar jeritan hati Magisna, perempuan berjubah misterius itu tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menoleh pada Magisna.


Magisna sontak membeku. Tak berdaya menatap balik mata perempuan itu yang berbinar-binar. Serta-merta ia memalingkan wajahnya dan tertunduk, mengamati dirinya yang lain dan juga teman-temannya. Mereka semua sudah tertidur sekarang.


"Ini hanya bagian kecil dari jiwamu," desis perempuan itu terdengar seperti desau air bah di kejauhan.


Magisna menelan ludah. Apa maksudnya? batin Magisna.


Dan sekali lagi perempuan itu seolah bisa mendengar apa yang tak mampu diucapkan Magisna. "Jiwamu tidak sepenuhnya terhisap," bisiknya lembut. "Tapi ketahuilah kau mungkin sedang sekarat."


Magisna serentak menahan napas.


"Tapi jangan khawatir," perempuan itu melanjutkan seraya tersenyum hangat. "Karena kekacauan ini disebabkan oleh anak-anakku, maka aku akan memulihkan semesta ini… sekali lagi."


Seketika Papa Tibi bertukar pandang dengan Ais dan Agustin. Wajah ketiganya serentak memucat.


Magisna menatap mereka dengan mata dan mulut membulat. Lalu kembali menatap wanita itu dengan alis bertautan. Lagi? Anak-anakku? Apa maksudnya? Magisna tak mengerti.


Tiba-tiba saja pria rupawan yang tidak manusiawi di sisi perempuan itu bersiul.


Magisna kembali terkesiap.


Sesuatu berdebuk dan mengepak-ngepak di ujung koridor. Lalu melayang ke arah pria itu, dan hinggap di bahunya.


Seekor elang emas berwarna merah bata seperti warna kabut aneh di Doolhof.


Elang itu melirik ke arah Magisna.


Magisna kemudian menyadari seseorang hilang dari ruangan itu.


Senja!


Elang itu… Hantu Senja?


"Namanya Sambekala," lagi-lagi perempuan berjubah gelap itu menjawab kebimbangan Magisna. Ia menatap elang itu seolah ia anaknya yang mengecewakan.


"Kabut itu hantu Senja?" Magisna bertanya setengah memekik.

__ADS_1


Perempuan itu kembali menoleh pada Magisna. "Ya," jawabnya seraya tersenyum tipis.


"Jadi lu yang nyerang kita-kita?" Magisna melotot sembari menudingkan telunjuknya pada elang itu.


__ADS_2