
Sepanjang jam pelajaran, Magisna berpikir keras. Bukan karena mata pelajaran siang itu yang lumayan sulit, ia bahkan tak berkonsentrasi mengikuti pelajaran itu. Tapi ia sedang memikirkan bagaimana cara membawa jiwa Jingga keluar dari sini.
Kiddo berhasil keluar karena merasuki tubuh Jingga. Itu pun dibantu hantu.
Tanpa bantuan kedua hantu itu, Magisna tak yakin Kiddo bisa melarikan diri. Ia masih ingat bagaimana kabut itu menyerang mereka sewaktu di Doolhof. Mereka takkan melepaskannya begitu saja.
Magisna mengawasi punggung Dika. Salah satu dari mereka bisa digunakan untuk melarikan jiwa Jingga, pikirnya. Tapi bagaimana caranya menarik kabut itu keluar untuk mengosongkan tubuh mereka?
Aku akan membutuhkan bantuan hantu itu lagi!
Bagaimana caranya memanggil mereka?
Apa membutuhkan ritual khusus?
Magisna mengembuskan napas kasar dan memijat-mijat pangkal hidungnya. Semua masalah ini bisa menghancurkan nilai-nilaiku, katanya dalam hati. Aku tak bisa lagi berkonsentrasi pada pelajaran sejak masalah ini muncul. Lalu ia berusaha memfokuskan perhatiannya pada pelajaran. Tapi tetap tidak bisa.
Sampai jam pelajaran berakhir, tak satu pun penjelasan guru dicerna otaknya.
Aku harus menemukan kedua hantu itu! Magisna memutuskan. Kemudian bergegas ke pekarangan belakang sekolah begitu bel istirahat dibunyikan.
Jingga mengikutinya seraya bertanya-tanya sepanjang koridor. "Lu mau ke mana? Lu mau ngapain?"
Magisna tidak menggubrisnya.
Banyak murid berseliweran di sepanjang koridor yang mereka lalui.
Jingga sengaja melakukannya untuk mengerjai Magisna.
Sulit dibayangkan seandainya dia benar-benar jadi hantu, pikir Magisna. Pasti lebih mengerikan dari hantu anak teror!
Waktu baru menunjukkan pukul tiga, tapi langit mendung menyebabkan seluruh tempat terlihat gelap seperti sudah menjelang malam.
Angin tak kunjung berembus. Seluruh tempat terasa membeku.
Di pekarangan belakang, di bawah pohon akasia, seorang anak perempuan berambut pendek dengan seragam SMU duduk tertunduk di bangku kayu yang sudah lapuk.
Ternyata mudah sekali menemukan hantu, pikirnya hampir tak percaya.
Jingga melengak mendapati anak SMU di jam pelajaran sekolah kejuruan. Mereka seharusnya sudah pulang dua jam lalu, pikirnya.
Magisna berjalan cepat menyeberangi lapangan rumput menuju bangku yang ditempati murid SMU itu.
Jingga mengikutinya tanpa bicara lagi.
"Suzy!" Magisna mendesis tajam. Tak berani mengeluarkan suara normal.
Anak perempuan berambut pendek di bangku kayu itu tidak mengangkat wajahnya.
Magisna menghampirinya dan menyentuh bahunya.
Gadis berambut pendek itu terperanjat dan mendongak. Menatap Magisna dengan mata dan mulut membulat.
Bukan Suzy! Magisna menyadari. Serta-merta ia pun beringsut mundur menjauhi gadis itu.
Gadis itu melirik ke arah bet nama Magisna.
"Magisna," bisiknya lirih.
Magisna menelan ludah. Apa aku mengenalnya?
__ADS_1
Orang asing akan memanggilnya Eka setelah membaca bet namanya. Kenapa dia memanggilku Magisna? pikirnya.
"Kau yang waktu itu di rumah Ais kan?" Gadis itu menatap Magisna.
Jingga hanya tergagap-gagap mengamati keduanya.
"Dini!" Magisna menyadari. Gawat, pikirnya. Jiwa Dini juga terjebak di sini. Lalu ia mengerang dan mendesah berat. Bagaimana ini? pikirnya frustrasi. Sekarang bukan hanya Jingga yang butuh diselamatkan, tapi aku juga harus menyelamatkan Dini!
Angin kencang akhirnya berembus menggetarkan pepohonan dan semak ilalang di seberang lapangan rumput.
Magisna memandang kosong ladang ilalang itu seraya berpikir keras.
Terdengar suara berkeresak dari arah semak-semak.
Magisna memicingkan matanya.
Kedua gadis berambut pendek itu mengikuti arah pandangnya.
Semak ilalang bergerak-gerak. Sesuatu menyeruak cepat ke arah mereka.
Magisna terkesiap. Kemudian melangkah mundur tanpa mengalihkan perhatiannya dari semak-semak itu. Matanya masih terpicing dengan ekspresi waspada.
Semak ilalang itu akhirnya terkuak. Seraut wajah pucat menyembul dari balik semak-semak itu.
Jingga memekik seraya membekap mulutnya.
Dini tergagap dengan wajah pucat.
Magisna mengerjap dan menatap waswas.
Su Si!
Gadis kumal itu menyeringai seraya melangkah pelan ke arah Magisna. Kedua tangannya bersilangan di belakang tubuhnya.
Magisna beringsut mundur dengan lutut gemetaran. Jantungnya berdebar-debar kencang. Keringat dingin membanjir di pelipisnya seketika itu juga.
Gadis kecil itu menghentikan langkahnya di depan Magisna. Lalu mendongak dan menatapnya. Lingkaran hitam terlihat jelas di kantung matanya. Kulit wajahnya terlihat abu-abu.
Dini dan Jingga mengawasi gadis kecil itu tanpa berani bergerak.
Magisna menelan ludah dan membuka mulutnya dengan susah payah.
Gadis kecil itu menarik sebelah tangannya dari belakang panggungnya.
Magisna memekik seraya menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya. Lalu beringsut mundur dan jatuh terduduk.
Gadis kecil itu membungkuk mencondongkan tubuhnya ke arah Magisna seraya mengayunkan pisau di tangannya.
Magisna spontan menjerit.
Angin kencang mengempas Magisna.
Tapi hanya angin!
Dini dan Jingga terdengar mengerang bersamaan.
Magisna mengerjap dan mengintip melalui lipatan tangannya.
Gadis kecil itu mengacungkan pisaunya di depan wajah Magisna dalam posisi vertikal---ujung pisaunya tidak mengarah pada Magisna. Dia tidak sedang berusaha menyerangku, Magisna menyadari. Kemudian menurunkan tangannya dan tersenyum kikuk.
__ADS_1
Su Si menyambar pergelangan tangan Magisna dan menyelipkan pisau tadi di telapak tangannya. Lalu tiba-tiba hilang, meninggalkan pusaran angin yang menyapu dedaunan kering.
Dini dan Jingga kembali memekik.
Magisna membeku mengamati pisau di tangannya, kemudian mendongak menatap udara kosong. Pusaran angin di depannya berangsur-angsur hilang. Lalu keheningan menyergap mereka dalam waktu yang lama.
"Apa itu tadi?" Jingga akhirnya membuka suara, terdengar serak dan sedikit tercekat.
Magisna menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Lalu menarik bangkit tubuhnya.
Dini dan Jingga menatapnya dengan raut wajah tegang.
Magisna menghampiri mereka dengan langkah-langkah berat.
Aku tak percaya dia malah memberikan pisaunya padaku dan bukannya membantuku! Magisna mengerang di dalam hatinya. Aku butuh bantuannya dan bukan pisaunya. Aku tak yakin bisa menggunakan pisau ini untuk menikam teman-temanku sendiri.
Magisna terduduk lesu di samping Dini.
Dini dan Jingga bertukar pandang, saling melemparkan isyarat bertanya. Tapi tak satu pun dari mereka berani bertanya pada Magisna.
"Ada yang berani pake pisau ini?" Magisna bertanya seraya mengangkat pisau di tangannya ke tengah-tengah mereka.
Kedua gadis di sampingnya hanya tergagap.
"Gua serius," erang Magisna. "Kalian mau keluar dari sini kan?" tanyanya sembari mengedar pandang, menatap wajah Dini dan Jingga secara bergantian.
Kedua gadis itu serentak mengangguk.
"Pisau ini bisa membantu kalian," jelas Magisna. "Tapi itu artinya kalian harus nusuk orang!"
Kedua gadis itu mengerutkan dahinya.
"Maksud gua gak sembarang orang!" Magisna mengoreksi penjelasannya. "Cuma beberapa orang tertentu yang… pada pake hoodie sweater sama kacamata blue ray."
"Maksud lu Dika sama Novi?" Jingga memekik terkejut.
Magisna mengangguk sendu.
"Lu udah gila?" Jingga meninggikan suaranya.
"Mereka kan yang nyerang lu sampe lu kek gini?" tanya Magisna muram.
"Iya, tapi…" Jingga menelan ludah dengan susah payah. Suaranya terdengar gemetar. "Apa perlu kita—"
"Gak pa-pa!" potong Magisna. "Pisau ini gak bakal ngelukain fisik mereka."
Jingga menautkan alisnya. "Maksud lu?"
"Pisau ini kasatmata!" sergah Magisna. "Orang biasa gak bakalan bisa liat."
Dini dan Jingga kembali bertukar pandang.
Magisna mengerang tak sabar seraya memutar-mutar bola matanya. Lalu ia mengepalkan tangannya, menggenggam kuat gagang pisau itu dan mengetatkan rahangnya, kemudian menggoreskan pisau itu di pergelangan tangannya untuk membuktikan pisau itu tak bisa melukai tubuh fisik manusia.
Dini dan Jingga menjerit bersamaan.
Darah segar seketika mengucur di pergelangan tangan Magisna.
Magisna terperangah dengan mata dan mulut membulat.
__ADS_1
Tidak disangka pisau itu bisa melukai tangannya.