
"Yey gosah bawa mobil ya, BESTie!" Bu Ikha berteriak di depan gerbang rumahnya, berjinjit sembari melongokkan kepalanya ke arah rumah Bu Desy di seberang rumahnya. "Pake mobil eyke aja biar kita makin mesra!"
"Awas ya, jangan minta uang bensin nanti!" Bu Desy melontarkan ancaman mematikan.
Bu Ikha mengacungkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O sembari menyeringai. Lalu menghambur ke dalam garasinya dan mengeluarkan mobil.
Bu Desy melangkah keluar dan membuka pintu mobil Bu Ikha.
Magisna memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap ke dalam mobil. Aku ingin melihat mayatku, tekadnya.
Sepanjang perjalanan, kedua wanita itu mulai berisik mempergunjingkan tetangga sekompleks.
Seharusnya aku sudah tahu kenapa Bu Ikha mengajak Bu Desy semobil, pikir Magisna muak.
Ia menyelinap di sisi Bu Desy di jok penumpang depan karena hanya pintu itu yang terbuka.
Bu Desy beringsut-ingsut gelisah sepanjang perjalanan. Merasa tak nyaman dengan posisi duduknya yang terasa sempit meski tubuhnya sekurus lidi.
"Yey lagi em?" Bu Ikha bertanya curiga.
"Gak tau, nih. Perasaan tempat duduk sempit bat kek didudukin berdua!"
Bu Ikha mengerang. "Jan nakutin eyke apa, BESTie! Eyke kan pemberani."
"Eyke bilang kan cuma perasaan!" sergah Bu Desy.
Sepuluh menit kemudian, mobil itu sudah memasuki pelataran parkir rumah sakit.
Magisna menyelinap keluar sebelum Bu Desy. Lalu menghambur ke lobby. Mencari ke sana kemari dengan sikap gelisah.
Ayah dan ibunya duduk membungkuk di bangku pengunjung di depan ruang ICU. Keduanya tampak muram dan pucat.
"Ma! Pa!" Magisna berteriak memanggil keduanya seraya menghambur ke arah mereka. Tapi tidak satu pun dari mereka bereaksi.
Suara mesin pendeteksi jantung berbunyi dari ruang ICU ketika Magisna mendekati keduanya sembari terisak.
Magisna berhenti menangis dan mengintip ke dalam ruangan itu dengan alis bertautan. Masih ada detak jantung?
Seseorang berbaring dengan selang infus di sisi brankarnya.
Apa itu aku? Magisna memekik seraya membekap mulutnya.
"Bu Belva!" Duo kacau di belakang Magisna menghampiri ibunya dengan tergopoh-gopoh.
Kedua orang tua Magisna serempak menoleh ke arah mereka.
Magisna juga menoleh pada mereka.
"Gimana keadaan Neng Gisna?" Bu Desy bertanya dengan mimik dramatis.
Ibu Magisna memaksakan senyum. "Masih belum sadarkan diri, Bu Desy. Makasih lho, udah pada dateng!"
Masih belum sadarkan diri? Magisna merasa mendapatkan angin segar. Masih ada detak jantung, masih ada harapan.
Kedua ibu-ibu rusuh itu bertukar ciuman dengan ibu Magisna.
Ayah Magisna menarik diri dan berpamitan untuk pergi ke musala.
__ADS_1
Magisna memperhatikan ayahnya dengan ekspresi sedih.
Bahkan ayahku mengabaikan aku! batinnya muram.
Para wanita itu duduk berjejer dan mulai berbincang.
Bu Desy kelihatan paling berbakat dalam memandu wawancara. Well---yeah, tentu saja, pikir Magisna. Dia kan wartawati!
"Apa kondisinya lumayan gawat, Bu Bel?" tanya Bu Desy dengan gaya kepo khas ibu-ibu PKI.
Magisna tak ingin tahu kelanjutannya, ia menyelinap ke dalam ketika seorang perawat keluar dari ruang ICU. Melangkah gemetar mendekati brankar, memeriksa dirinya sendiri. Perasaan aneh menyergap Magisna.
Masih ada detak jantung, ulangnya dalam hati, berusaha menyemangati diri,. Masih ada harapan untuk sadarkan diri. Aku belum mati.
Omong-omong....
Bagaimana caranya kembali ke dalam tubuhku? Ia bertanya-tanya dalam hati dan membayangkan dirinya membaringkan diri di atas tubuhnya seperti di film-film.
Lalu ia mencobanya.
Dan…
Tidak terjadi apa-apa!
Tubuh plasmatisnya hanya menembus tubuh fisiknya begitu saja tanpa saling beraksi.
Apa sudah tidak ada harapan?
Apa aku benar-benar sudah mati?
Magisna menarik kembali tubuh plasmatisnya dan duduk tertegun di atas tubuh fisiknya. Terlihat pasrah sekaligus putus asa.
Seluruh emosi negatif tiba-tiba menyergap dirinya. Kesedihan, kepahitan, kemarahan yang tak jelas, kecewa, putus asa sampai tingkat kekhawatiran paling ekstrim menekan dirinya. Membuatnya ingin menjerit namun tak seorang pun menolong dirinya. Tidak ada yang mendengarnya. Bahkan Tuhan terasa seperti omong kosong.
Seperti inikah perasaan Senja sebelum ia menghilang?
Apa aku juga akan lenyap seperti dia?
Magisna menekuk kedua lututnya dan memeluknya, menyusupkan wajahnya di atas lipatan tangannya dan menangis sejadi-jadinya. Menjerit sekuat tenaga.
"Berisik sekali!" Seseorang menghardiknya.
Magisna tersentak dan mengangkat wajahnya. Seseorang akhirnya bisa mendengarku, pikirnya gembira. Apa aku akhirnya sadarkan diri?
Apa jiwa dan ragaku sudah menyatu kembali?
"Kau lagi!" Seorang pria berambut sepinggang membungkuk di atas kepala Magisna.
Magisna mengerjap dan mengamati wajah pria itu dengan mulut membulat.
"P---Pak Senja!" Magisna tergagap-gagap. "Kenapa ada di sini?"
"Aku juga tidak tahu," kata pria itu sekenanya. "Aku selalu berada di mana saja tanpa aku sadari!"
Magisna menelan ludah. "A–-a—Anda gak pernah bener-bener lenyap?"
Pria itu mendesah pendek. "Aku tidak tahu!" Ia mengaku.
__ADS_1
Magisna mengerutkan dahinya.
Pria itu tertunduk dengan wajah muram. "Aku seperti… senja," bisiknya parau. Lalu menatap Magisna. "Maksudku, sambekala!"
Magisna menggeleng-geleng. Masih tak mengerti apa maksudnya.
"Aku seperti putaran waktu, Magisna. Seperti petang yang mengendap turun saat malam menindasnya, lalu bangkit dan tenggelam lagi. Seperti angin yang bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, dan dalam putarannya, angin itu selalu kembali."
Magisna masih bergeming. Ia bisa memahami situasinya, tapi tak tahu bagaimana tepatnya. Bagaimana menjelaskannya?
"Aku…" Senja menelan ludah. Suaranya terdengar mengecil. Lalu hilang dan tenggelam. Mulutnya bergerak-gerak, tapi tidak ada suaranya.
Magisna memicingkan matanya, seolah-olah dengan cara seperti itu ia bisa mempertajam pendengarannya.
"Aku masih terus berburu," suara pria itu kembali terdengar wajar. "Tapi tidak tahu apa yang kuburu!"
"Apa itu ada kaitannya dengan ingatan terakhir Anda?" tanya Magisna.
Senja menatapnya, seolah-olah ia baru menyadari bahwa Magisna berada di sana. Seolah-olah Magisna muncul tiba-tiba dan mengejutkannya.
Magisna menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban Senja.
"Aku tidak ingat apa-apa!"
Magisna terkesiap.
Pria itu bercahaya dan berkedut-kedut. Seperti ketika ia akan menghilang sewaktu di gudang.
"Pak Senja—" Magisna memekik tertahan.
Pria itu benar-benar lenyap.
Lalu seseorang mengerang dari sebuah brankar di seberang brankar Magisna.
Elektrokardiogram berdetak cepat seperti alarm.
Dua orang perawat masuk ke dalam ruangan dan menghambur ke arah pasien di seberang brankar Magisna.
"Takikardia sinus!" Salah satu dari perawat itu memekik terkejut.
"Aku akan memanggil dokter," timpal perawat yang lainnya, kemudian menghambur keluar ruangan.
Magisna masih membeku.
Apa ini hanya kebetulan? pikirnya. Kenapa rasanya pasien itu tiba-tiba bereaksi setelah Senja menghilang?
Ibu Magisna dan kedua tetangga mereka mengintip ke dalam ruangan melalui kaca kecil di pintu masuk.
Mungkin ibuku berharap itu adalah aku, pikir Magisna getir. Menatap sedih wajah ibunya yang terlihat lelah.
Aku harus cari tahu bagaimana cara kembali ke tubuhku! Ia memutuskan, lalu melangkah turun dari brankar dan mendekati brankar pasien di seberang brankarnya.
Seorang cowok, mungkin seusia Ais, terbaring di atas brankar itu dengan mata terbelalak, namun tidak berkedip. Dadanya turun-naik dan tersentak-sentak, napasnya memburu tak beraturan. Keringat dingin membanjir di wajahnya yang pucat.
Seorang dokter wanita menyeruak ke dalam ruangan, disusul perawat yang tadi menghambur keluar.
Magisna memperhatikan cowok itu ketika dokter memeriksanya. Tapi pikirannya melayang-layang. Proses penanganan anak itu sama sekali tak membantunya mendapat jawaban.
__ADS_1