Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 46


__ADS_3

Magisna menyeberang ke sisi lain jembatan, dan melongok ke bawah sekali lagi.


Tidak ada tanda-tanda sepeda motornya tenggelam di sungai.


Sungai itu berair jernih, begitu jernih hingga ia bisa melihat ke bagian dasar sungai. Meski sepeda motornya tenggelam, ia pasti bisa melihatnya.


Tapi kemudian ia mengerang kecewa dan putus asa. Lalu memutar tubuhnya ke arah pria yang telah menolongnya dan terkesiap.


Panjang rambut pria itu ternyata mencapai mata kakinya. Ujung rambutnya sejajar dengan ujung gamisnya, hingga rambut itu seolah menjadi jubahnya. Bulu kuduk Magisna seketika meremang. Pemandangan itu membuatnya bergidik. Merasa ngeri sekaligus takjub.


Apa dia manusia?


"Aku tahu jalan pintas ke rumahmu!" Perkataan pria itu menyentakkan Magisna.


"Hah?" Magisna tergagap-gagap. "Gu---gua… belum ngasih tau di mana rumah gua, kan?"


"Ya," pria itu menjawab datar. "Aku tahu jalan pintas ke semua tempat."


Magisna terperangah.


"Selama itu masih di area perkebunan!" Pria itu menambahkan.


"Oh," Magisna menelan ludah dan mengangguk dengan susah payah. Kelopak matanya bergetar gelisah. Tapi perhatiannya tak bisa berpaling dari pria itu.


"Katakan saja di mana rumahmu!" pria itu menegaskan.


Magisna terlihat ragu.


Akankah dia mengatakannya?


Magisna menimang-nimang. Nalurinya berkata, pria itu bukan manusia. Tapi, memangnya kenapa? Hati dan pikirannya tidak sejalan. Paling buruk nasibku seperti Suzy Yan!


"Aku tinggal di Perumahan Taman Sari!" jawab Magisna akhirnya.


Pria itu tersenyum tipis, lalu menyeberang ke arah Magisna dan berjalan pelan ke ujung jembatan.


Magisna mengikutinya tanpa berkata-kata.


Pria itu menuruni jalan setapak di sudut jembatan dan menoleh pada Magisna, mencoba memastikan apakah Magisna mau mengikutinya.


Magisna memaksakan senyum.


Pria itu mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan untuk menuntunnya.


Magisna menyambutnya. Tidak peduli meski pria itu akan menuntunnya menuju kehancurannya. Jika dia ingin membunuhku, dia takkan menarikku dari sungai, pikirnya positif.


Pria itu menuntunnya di sepanjang tepian sungai yang terhubung dengan jaringan irigasi di area perumahan tempat tinggal Magisna.


Galang benar-benar mengantarnya pulang.


Baiklah, pikir Magisna. Dia mungkin bukan manusia, tapi dia juga bukan ancaman.


Magisna sampai di rumah dengan selamat.


Sebenarnya dengan Galang!


Tapi dengan siapa pun kau pulang dalam keadaan baik, semua orang akan mengatakannya dengan selamat.


Bukan begitu, bukan?


"Bukaaaaan!" Kalian pasti menjawab begitu.


"Jangan pernah menemuiku lagi," kelakar Galang sembari tersenyum sebelum mereka berpisah.

__ADS_1


Magisna membalas senyumannya, mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Lalu menghambur ke dalam rumahnya.


Suasana dalam rumahnya terasa jauh lebih sepi dibanding tepian sungai. Paling tidak di tepi sungai tadi dia masih bisa mendengar suara binatang dan dedaunan yang bergesekan.


Rumahnya benar-benar hening.


Ke mana perginya semua orang? Magisna bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu memeriksa seisi rumah.


Tidak ada siapa-siapa.


Ia akhirnya menyerah dan bergegas ke kamarnya sendiri, berendam di air hangat dan menanggalkan pakaiannya yang basah kuyup. Memejamkan matanya, meresapi sensasi air hangat dan aroma lembut buah-buahan dari busa sabun yang menentramkan. Mencoba melupakan sejenak semua teka-teki Penulis Keparat yang melibatkan dirinya ke dalam cerita gila yang tak masuk akal.


Saraf-saraf di tubuhnya mulai rileks.


Ia menarik tubuhnya dari bathtub, mengenakan jubah mandinya dan membungkus rambutnya dengan handuk. Berjalan keluar kamar dan kembali menjelajah ke seluruh rumah. Ia memeriksa garasi untuk melihat kendaraan orang tuanya.


Hanya ada mobil ibunya dan… sepeda motor Magisna.


Magisna terkesiap. Bagaimana bisa sepeda motor sialan itu sampai di garasi sebelum aku? Ia tak habis pikir.


Siapa yang membawanya pulang?


Ayahnya?


Ibunya?


Tetangganya?


Atau hantu-hantu di area perkebunan?


Magisna menekan tombol lampu di dekat pintu dan melangkah masuk ke dalam garasi untuk memeriksa kendaraannya.


Beberapa bagian terlihat kotor dan tergores. Tapi sepertinya tidak ada yang rusak, pikirnya. Kuncinya masih tertancap pada lubangnya.


Mesinnya menderu normal dan langsung menyala.


Salah satu tetangganya menghambur ke gerbang dan melongok ke dalam garasi. "Bu Belva!" Perempuan berusia tiga puluh tahunan itu memanggil-manggil.


Magisna mematikan sepeda motornya dan menghampiri tetangga mereka seraya mengembangkan senyum.


Perempuan lainnya bergabung dengan perempuan yang pertama dengan tergopoh-gopoh. "Bu Belva sudah pulang?"


Perempuan yang pertama langsung menoleh ke arah perempuan yang kedua dan mengabaikan Magisna.


"Gak tau," perempuan yang pertama terlihat bingung. Ia melongok ke garasi sekali lagi melewati bahu Magisna. "Tadi kayaknya saya denger suara motor," katanya setengah menggumam. "Tapi kok gak ada siapa-siapa!"


Magisna mengerutkan dahi dan menatap kedua perempuan itu dengan mata terpicing.


Apa yang terjadi?


Kenapa mereka seperti tidak melihatku?


"Bu Desy, Bu Ika!" Magisna memanggil kedua tetangganya.


Kedua perempuan itu mengabaikannya.


"Pintunya kebuka lho, Bu!" Ibu muda yang bernama Ikha menunjuk ke arah pintu depan rumah Magisna dengan sikap dramatis.


"Tapi mobilnya gak ada," sergah ibu muda bernama Desy sembari berjinjit dan melongok kembali ke dalam garasi.


Magisna mengawasi keduanya seraya menahan napas. Mereka benar-benar tidak melihatku, Magisna menyadari.


"Itu mobil Bu Belva ada di garasi!" Bu Ikha mengikuti arah pandang Bu Desy dan menunjuk ke arah mobil ibu Magisna dengan dagunya.

__ADS_1


"Mereka keluar pake mobil Si Bapak, kok!" Bu Desy bersikeras.


Apa aku benar-benar sudah mati?


Apa aku sudah jadi hantu?


"Bu Desy! Bu Ika!" Magisna meninggikan suaranya, memanggil sekali lagi kedua wanita itu setengah menjerit.


Kedua wanita itu tidak bereaksi.


Tidak salah lagi, katanya dalam hati. Mereka tidak bisa melihatku!


Aku sudah jadi hantu.


Aku benar-benar sudah mati!


Cerita ini sudah tamat!


Tapi bo'ong!!!


"Bu Belva!" Bu Ikha memanggil-manggil seraya menangkupkan telapak tangan di sisi mulutnya membentuk corong.


Magisna membekap mulutnya dengan kedua tangan, beringsut mundur dan menggeleng-geleng. Dagunya mulai bergetar dan bahunya mulai berguncang. Kedua lututnya terasa goyah.


Bu Desy merogoh ke dalam gerbang, membuka pengait pintu dan melangkah masuk ke pekarangan rumahnya. Bu Ikha mengikutinya. "Bu Belva!" panggil keduanya bersama-sama.


Magisna menghambur ke arah Bu Desy dan menyambar bahu wanita itu. Tapi tangannya menembus tubuh wanita itu.


Magisna menjerit dan menjatuhkan dirinya di rerumputan. Jatuh berlutut dan mulai menangis. Sama persis seperti yang dilakukan Senja ketika ia mengetahui dirinya sudah menjadi hantu.


Nasibku seperti Senja, pikirnya getir. Aku jadi hantu juga!


"Gak ada siapa-siapa!" Bu Desy mendesis gelisah. Bu Ikha menarik tangannya.


"Udah, ah! Yuk, kita pergi aja. Gak enak—gak ada orangnya!" desak Bu Ikha.


Lalu kedua wanita itu berbalik keluar dan menutup gerbang.


"Kita ke cek rumah sakit aja, Yuk! Sekalian nengokin Neng Gisna!" Bu Ikha mengusulkan.


"Iya, yuk!" timpal Bu Desy antusias.


"Tapi eyke mandi dulu ya, BESTie!" kata Bu Ikha.


Bu Desy mengacungkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O.


"Mandi kucing!" Bu Ikha menambahkan sembari cengengesan.


Bu Desy mengacungkan tinju.


Magisna menelan ludah. Menatap hampa kedua wanita itu.


Aku mulai mengerti sekarang, batin Magisna.


Rumah yang kosong, sepeda motor yang sudah kembali…


Kecelakaan itu…


Kecelakaan itu telah merenggut nyawaku.


Mereka sudah menemukanku!


Dan mereka semua sekarang berada di rumah sakit!

__ADS_1


__ADS_2