Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 57


__ADS_3

Magisna membuka mulutnya, bersiap untuk menanyakan sesuatu. Tapi Senja mendadak gelisah dan segera berpamitan.


"Ada sesuatu yang harus kulakukan," katanya buru-buru, lalu bergegas ke arah sepeda motornya di deretan paling ujung.


Magisna hanya tergagap menatapnya, ketika cowok itu menyalakan mesin dan memacu sepeda motornya meninggalkan parkiran, kemudian mengerang kecewa setelah cowok itu menghilang di kelokan.


Dia selalu punya waktu untuk menggangguku, pikirnya agak kesal. Tapi selalu terburu-buru saat menyadari sesuatu.


Apa sebenarnya yang dilakukan hantu ketika mereka merasuki seseorang?


Kenapa dia terlihat begitu sibuk?


Masih banyak hal belum terungkap, pikir Magisna. Tapi kemudian ingat dia harus segera berganti pakaian. Sebentar lagi ia sudah harus masuk kelas. Lalu ia bergegas ke toilet sekolah untuk berganti pakaian.


Tak lama kemudian bel masuk sekolah kejuruan mendengking nyaring sementara ia masih berada di dalam toilet. Beruntung ia sudah selesai berganti pakaian. Hanya tinggal merapikan pakaiannya ke dalam tas.


Dengan buru-buru Magisna menjejalkan pakaiannya tanpa merapikannya lagi seperti yang sedang coba ia lakukan—melipatnya dengan rapi supaya isi tasnya tidak terlihat seperti paket bom. Tapi sekarang dia tidak peduli. Dia menghambur keluar setengah berlari dan bergegas ke kelasnya tanpa menutup ritsleting tasnya.


Begitu sampai di depan pintu kelasnya, Magisna tersentak dan nyaris memekik melihat anak perempuan berambut pendek di bangku ketiga dari bangku ujung di depan meja guru. Anak perempuan itu duduk tertunduk seperti waktu pertama Magisna melihatnya.


Magisna menghela napas dalam-dalam kemudian bergegas ke bangkunya dengan kepala tertunduk, pura-pura tidak melihatnya.


Dika mendelik tak senang begitu Magisna menempati bangku di sisinya lagi.


Magisna meliriknya dengan sikap risih. Dika tidak berusaha pindah ke bangku itu, pikirnya. Apa dia juga melihatnya?


Magisna memperhatikan punggung anak perempuan berambut pendek itu sedikit takut-takut. Lalu buru-buru menundukkan kepalanya dan berpura-pura fokus pada buku-buku yang segera ia keluarkan dari dalam tasnya. Hati kecilnya tergoda untuk menanyakan banyak hal pada hantu itu, tapi akal sehatnya tak siap untuk berdiskusi dengan hantu.


Begitu bel istirahat, Magisna melesat keluar kelas tanpa berani menoleh ke arah bangku ketiga dari bangku ujung di depan meja guru.


Tapi anak perempuan berambut pendek itu melihat Magisna dan menyergap bahunya dari belakang.


Magisna memekik tertahan dan memejamkan matanya lekat-lekat.


Anak perempuan itu menelengkan kepalanya dan mengerutkan dahi. "Lu kenapa sih?" tanyanya setengah menghardik.


Magisna seketika membuka matanya dan menoleh. "Jingga?" pekiknya terkejut.


Anak perempuan berambut pendek itu adalah teman sebangkunya, Jingga Arsena.


Magisna mendesah lega seraya mengutuk dirinya sendiri. Kenapa aku sampai tidak mengenali temanku sendiri? erangnya dalam hati.


Sejak hari hukuman pada hari Sabtu, Magisna belum sekali pun bertemu Jingga. Magisna masuk rumah sakit pada hari sekolah kejuruan dipindahkan ke gedung SMU. Dan pada saat Magisna keluar dari rumah sakit, giliran Jingga yang jatuh sakit.

__ADS_1


Rasanya seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu, pikir Magisna. Aku benar-benar melupakan Jingga.


Jingga mengamati Magisna dengan alis bertautan. "Lu masih inget gua, kan?" tanya gadis itu, terdengar seperti sindiran tajam di telinga Magisna.


"So—sori," Magisna tergagap-gagap. "Gua gak liat lu tadi," katanya, berkilah.


Jingga menatapnya dengan raut wajah datar, tapi kilatan pada matanya menyiratkan kecurigaan.


"Dari mana aja lu gak pernah keliatan?" Magisna bertanya basa-basi. Sekadar upaya untuk mengenyahkan perasaan canggung.


Hei—apa yang terjadi? Magisna memarahi dirinya sendiri. Jingga adalah teman baikmu! Kenapa kau begitu gugup?


"Gua cuma libur tiga hari, dan lu udah lupa sama gua!" Jingga menggerutu.


Magisna hanya terkekeh menanggapinya. Tak yakin harus menjawab apa.


Lalu keduanya berjalan bersisian keluar ruangan sembari bertengkar.


"Gua begadangin lu selama dirawat sampe gua sakit," cerocos Jingga di sepanjang koridor.


"Sori," kilah Magisna sembari cengengesan. "Gua gak tau kalo lu sakit. Gua kira lu cuma liburan seperti biasa!"


Jingga Arsena memang bukan tipe orang yang mementingkan pendidikan formal meski prestasinya dalam ilmu pengetahuan tidak bisa diremehkan. Dia bisa berlibur sewaktu-waktu dan meninggalkan sekolah meski bukan pada hari libur.


Jingga Arsena sejenis keparat yang keras kepala. Tidak seorang pun berdaya mendebatnya.


Jadi Magisna lebih memilih diam ketika Jingga terus mengoceh selama perjalanan menuju kantin.


Begitu sampai di kantin, mulut Magisna serasa terkunci begitu melihat Kiddo Callaghan di sudut ruangan.


Anak laki-laki itu duduk sendirian di meja paling pojok dan terus tercenung menatap kosong ke luar jendela.


Anak itu pergi dengan buru-buru tadi, pikir Magisna. Bagaimana bisa dia masih berada di sini?


Magisna bergegas menghampiri Kiddo, sementara Jingga memesan makanan untuk mereka.


"Lu ngapain di sini?" Magisna bertanya seraya menepuk pundak cowok itu.


Cowok itu terperanjat dan menoleh pada Magisna dengan mata dan mulut membulat.


"Lu gak jadi pulang?" tanya Magisna lagi.


Cowok itu tidak menjawab. Masih memelototi Magisna dengan mata dan mulut membulat. Ekspresi wajahnya terlihat kebingungan seolah tak pernah melihat Magisna.

__ADS_1


Magisna mengerutkan keningnya dan beringsut mundur menjauhinya. Apa yang terjadi? pikirnya. Kenapa dia terlihat seperti tak pernah mengenalku?


Cowok itu mengalihkan perhatiannya pada bet seragam Magisna dan mengerutkan dahi.


Magisna membuka mulutnya, bersiap untuk mengatakan sesuatu, tapi cengkeraman tangan pada bahunya menyentakkan Magisna.


"Lu ngapain?" Jingga mendesis di belakangnya.


Magisna menoleh ke belakang dan mengerjap seraya menelan ludah. Lalu kembali menoleh ke arah Kiddo dan terkesiap.


Bangku itu sudah kosong sekarang!


Tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang pernah berada di sana.


Magisna memeriksa ke luar jendela. Tempat itu juga kosong.


Mustahil, batin Magisna gusar. Aku melihatnya beberapa detik yang lalu. Aku bahkan menyentuh bahunya.


Jingga mengikuti arah pandang Magisna dengan mata terpicing. "Lu liat apa, sih?" tanyanya penasaran.


"A---a—nggak!" Magisna menjawab terbata-bata. Lalu buru-buru memutar tubuhnya menjauhi meja itu dan menarik bangku dari meja di sebelahnya.


Jingga melengak mengamati meja tadi. Apa yang salah? pikirnya tak mengerti. "Perasaan mejanya gak kenapa-napa!" gumamnya setengah merutuk.


Magisna tidak menjawab. Ia menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Aku pasti salah lihat, katanya dalam hati. Kiddo sudah pulang dari tadi.


"Lu baik-baik aja, kan?" Jingga bertanya dengan raut wajah cemas.


Magisna mendongak menatap wajah Jingga seraya memaksakan senyum. "Gua gak pa-pa!" sergahnya cepat-cepat.


Jingga mendesah pendek, menurunkan nampan dari tangannya, meletakkannya di meja, kemudian menarik bangku di seberang Magisna dan membanting duduk tubuhnya.


Magisna mengambil sekotak jus di atas nampan dan meneguknya. Lalu pura-pura sibuk memeriksa makanan mereka.


Jingga terus mengawasinya dengan tatapan prihatin.


Wajah Magisna terlihat sedikit pucat dan sebutir keringat menggelinding di pelipisnya.


"Lu masih sakit ya?" tanya Jingga lagi.


Magisna menggeleng seraya menjejalkan segarpu penuh makaroni ke dalam mulutnya. "Gua cuma laper," katanya di antara kunyahannya.


Jingga mengangkat bahu dan menggeleng-geleng. Lalu mengambil garpu dan menyendok makanan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2