Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 67


__ADS_3

"Dika!"


Teriakan-teriakan panik mendengung ke seluruh kelas.


Murid-murid laki-laki menghambur ke arah Dika dan mengerumuninya.


Murid-murid perempuan mengikuti mereka dengan raut wajah tegang, mendekat dengan ragu-ragu.


Magisna memutar tubuhnya dan menoleh pada Jingga.


Gadis tomboi itu membeku di antara kerumunan---tertembus tubuh semua orang, tertunduk menatap tubuh Dika dengan kebingungan.


Tubuh Dika menghentak dan terduduk, lalu terbatuk-batuk.


Semua orang terperanjat dan melompat ke belakang.


Dika mengedar pandang dan menarik bangkit tubuhnya seraya memegangi dadanya.


"Mau dianter ke UKS?" Seseorang menawarkan bantuan.


Dika menggeleng dan kembali terbatuk-batuk. Lalu menunduk memeriksa dirinya sendiri, dari ujung kaki hingga ke bahunya. Ia mengangkat kedua tangannya dan memeriksanya juga.


Semua orang memperhatikannya dengan alis bertautan, kemudian saling bertukar pandang.


"Lu yakin gak apa-apa, Dik?" Seseorang bertanya lagi.


"Nggak," jawab Dika singkat. "Gua cuma ketiduran tadi," katanya.


Seisi kelas terdengar mengerang. Sebagian terkekeh tipis, sebagian menggeleng-geleng sembari bergumam. Lalu semuanya berpencar dan kembali ke bangkunya masing-masing.


Dika menyelinap kembali ke bangkunya, kemudian meliukkan tubuhnya dan melirik pada Magisna.


Magisna mengerjap dan mengawasinya dengan takut-takut.


Cowok itu mengacungkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O.


Magisna melengak tak mengerti.


"Dini masuk ke tubuh Dika!" Jingga memberitahu Magisna.


Magisna mendesah pendek dan tersenyum tipis. Kemudian bergegas ke bangkunya.


Jingga masih membeku di tempatnya. Menatap Dini dengan mata dan mulut membulat.


Magisna tersenyum maklum.


"Gua harus cari Novi," Jingga berseru antusias.


Magisna membeliak sebal.


Jingga mencelat ke arah pintu dan menghilang.


Apa dia tidak bisa menunggu barang satu jam? Magisna tidak habis pikir.


Lalu seorang guru memasuki kelas mereka.


Lupakan saja, pikir Magisna. Aku harus berkonsentrasi mengikuti pelajaran.


Tapi tidak bisa.


Isi kepalanya tetap saja dipenuhi hantu.


Selepas bel terakhir, Novi menemui mereka sembari berjingkrak-jingkrak. "Berhasil! Berhasil!" serunya menirukan gaya kartun fenomenal kesukaan anak-anak sedunia.


Magisna mengerang sebal melihat tingkah lakunya. Itu jelas kelakuan Jingga, pikirnya.


Orang-orang memperhatikannya dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Apa dia tak bisa bersikap sedikit serius? gerutu Magisna dalam hati.


"Sekarang gimana nih?" Novi bertanya pada Magisna seperti anak kecil yang sedang menagih.


"Kita ke rumah Ais," jawab Magisna di luar dugaan Jingga.


Gadis tomboi itu membelalakkan matanya dengan ekspresi kecewa.


"Gua ada janji sama Agustin!" jelas Magisna.


"Terus nasib kita gimana dong?" erang Jingga sembari mengerling ke arah Dini.


"Ikut gua," instruksi Magisna. "Yang penting kalian keluar dulu dari sini!"


Jingga mengerucutkan bibirnya dengan tampang sebal.


"Mana pisau hantu itu?" Magisna bertanya pada Jingga.


Gadis itu sontak terperangah menatap Magisna. "Gua lupa," katanya setengah mengernyit.


Magisna mengerang tak sabar, kemudian berbalik dan bergegas menuju kelas Novi. "Kita masih butuh pisau itu," katanya setengah merutuk. Tatapannya menyisir seluruh tempat di sepanjang koridor, lalu memeriksa ke dalam kelas Novi.


Dini dan Jingga membuntutinya dengan tampang kebingungan. Keduanya tak bisa melihat pisau itu lagi setelah mereka mendapatkan tubuh fisik.


"Di mana lu nusuk Novi tadi?" Magisna bertanya pada Jingga sambil mencari-cari ke sana kemari di seluruh ruangan.


"Bangku paling depan yang deket pintu masuk," jawab Jingga sembari menunjuk salah satu bangku di sisi jendela yang mengarah ke teras depan.


Magisna memutar tubuhnya ke arah pintu dan bergegas ke bangku itu. Lalu membungkuk untuk memeriksanya.


Tidak ada apa-apa.


Magisna menegakkan tubuhnya dan mengembuskan napas kasar.


Jingga sudah menghilangkan pisaunya!


Jingga menggigiti bibir bawahnya dengan raut wajah menyesal, lalu melirik ke arah Dini.


Dini juga tak bisa berbuat banyak.


Magisna kembali membungkuk dan menyisir seluruh gang di sepanjang deretan bangku di belakang bangku Novi.


Tapi sia-sia.


"Udahlah, kita cabut aja!" Magisna menginstruksikan. Kemudian berjalan keluar dengan tampang cemberut.


Dini dan Jingga mengikutinya dengan ekspresi tegang dan salah tingkah.


Di pekarangan parkir, Magisna melihat Pak Isa sedang memundurkan mobilnya dari pelataran parkir, bersiap untuk keluar.


Kepala sekolah itu terbelalak mendapati Magisna bersama Novi dan Dika, lalu menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca.


"Eka, kamu baik-baik saja?"


Magisna mengerling sekilas ke belakang dan tergagap, tak tahu bagaimana cara menjelaskan situasinya.


Kepala sekolah itu menautkan alisnya.


Magisna mendekati mobil Pak Isa dan membungkuk ke arah jendela. "Mereka bukan makhluk itu lagi," bisiknya.


Pak Isa terlihat semakin kebingungan. Pria itu melirik ke arah Dika dan Novi.


Kedua muridnya itu balas menatapnya dengan kikuk.


Magisna mendesah pendek sebelum akhirnya menjelaskan, "Dia Jingga Arsena sekarang, dan anak itu… murid SMU."


Pak Isa melengak tak percaya.

__ADS_1


"Saya gak punya cara lain untuk menjelaskan ini, dan kami gak punya waktu untuk saat ini," tutur Magisna mulai tak sabar.


Pak Isa mengembangkan kedua telapak tangan di sisi tubuhnya, "Baiklah," katanya. "Setidaknya biarkan saya mengantar kalian pulang."


"Tapi, Pak…" Magisna kembali ragu-ragu.


Pak Isa memicingkan matanya.


"Kami…"


Pak Isa menghela napas berat dan mengembuskannya dengan kasar. "Katakan saja ke mana tujuan kalian," sergahnya tak sabar. "Kalian tidak berniat pulang, ya kan?"


Magisna menelan ludah dan membuka mulutnya dengan susah payah. "Van Til Hogeshcool," jawabnya parau.


Pak Isa sontak membeku. Sorot matanya berkilat-kilat tajam menusuk mata Magisna.


Magisna mengerjap dan tertunduk.


"Kalian akan kembali ke Doolhof? Apa sebenarnya yang sedang kamu rencanakan, Eka?" Pak Isa mendesis, nada bicaranya tak kalah tajam dari tatapannya.


Magisna menggigiti bibir bawahnya dengan gelisah. "Saya…"


"Saya tidak ingin tahu seberapa brilian gagasan kalian untuk merencanakan semua ini," sergah Pak Isa memotong perkataan Magisna. "Tempat itu pernah membahayakan kalian sekali, saya tidak akan membiarkannya sampai dua kali!"


"Tapi—" Magisna berusaha memprotes.


"Saya akan mengantar kalian pulang!" tegas Pak Isa.


Magisna mengerang frustrasi.


"Kalian berdua, naiklah!" perintah Pak Isa pada Dika dan Novi.


Kedua anak itu menatapnya ragu-ragu, kemudian saling bertukar pandang dan menatap Magisna.


Magisna hanya tertunduk dengan raut wajah muram.


"Apa yang kalian tunggu? Cepat naik!" Pak Isa menghardik mereka.


"Kami bisa pulang sendiri," tukas Jingga.


"Novi!" Pak Isa mulai berteriak.


"Saya bukan Novi!" Jingga balas berteriak.


Pak Isa mengetatkan rahangnya dan melotot pada Magisna.


"Terserah Bapak mau percaya apa nggak, tapi saat ini saya bukan Novi!" Jingga bersikeras. Lalu buru-buru menarik tangan Dika dan bergegas ke arah Magisna. "Cabut!" katanya.


Magisna tampak ragu-ragu.


"Kita harus nganter Dini!" Jingga melotot tak sabar.


Benar, kata Magisna dalam hati. Lalu bergegas mengambil sepeda motornya.


"Kalian—" Pak Isa tergagap dan mendesah berat. Kemudian memundurkan mobilnya dan memutarnya ke arah gerbang. Lalu berhenti lagi.


Jingga sudah duduk di boncengan Magisna, sementara Dini sedang mencoba duduk di belakangnya.


Mereka semua benar-benar keras kepala, pikir Pak Isa tak berdaya. Kemudian melongokkan kepalanya keluar. "Ayolah! Kalian takkan berhasil dengan cara seperti itu. Bonceng tiga bisa berbahaya," bujuknya.


Anak-anak itu tidak mempedulikannya.


"Hei—baiklah! Saya akan mengantar kalian ke Van Til Hogeshcool!" Pak Isa akhirnya menyerah.


Anak-anak di boncengan Magisna serentak mencelat ke arah Pak Isa dengan bersemangat.


Magisna tersenyum tipis. Bagus juga didampingi satu orang dewasa, katanya dalam hati. Lalu menjalankan sepeda motornya mendahului mobil Pak Isa.

__ADS_1


__ADS_2