
Hendra mendorong tulang rusuk dari salah satu kerangka itu dengan jari kakinya. "Tempat ini udah tertutup cukup lama."
"Apa mereka mati di sini?" bisik Alexza, suaranya bergetar.
"Bisa jadi," jawab Hendra. "Mereka pasti kejebak longsoran ini sampe keabisan oksigen."
Bulu kuduk Magisna meremang mengingat longsoran yang hampir menguburnya tadi.
"Dari mana lu bisa tau?" tanya Alexza.
"Mereka yang bilang," kelakar Hendra.
Magisna dan Alexza memelotinya.
Hendra menanggapinya dengan seringai tipis. "Gak ada tikus di sekitar sini," jelasnya. Lalu ia berlutut di dekat salah satu kerangka itu. Mengorek-ngoreknya, memeriksanya. Magisna melihat kilatan pudar gesper ikat pinggang di bagian tengahnya. Sepatunya hancur. Yang tertinggal hanya hak sepatunya.
"Gua heran lu bisa tenang," komentar Magisna.
Hendra menatapnya. "Terus gua kudu jejeritan?"
Magisna mendesah. "Sori. Gua cuma ngeri."
"Ngapain kudu ngeri? Mereka kan udah gak bisa ngapa-ngapain," balas Hendra. "Emang apa yang lu pikirin?"
"Kayaknya gua tau apa yang terjadi sama mereka!" pekik Alexza tiba-tiba. "Kabut merah itu pasti yang bunuh mereka."
Magisna sontak menegang membayangkan Dika dan Novi mungkin sudah terbunuh juga.
"Bisa jadi tempat ini ditutup biar gak ada yang ngotak-ngatik tembok batu bata itu. Mungkin tembok batu bata itu sengaja dibikin buat ngurung makhluk itu," cerocos Alexza. "Tapi kita malah ngebebasin dia. Sekarang kita juga bakal dibunuh. Dika sama Novi mungkin udah..."
"Cukup!" teriak Magisna tak tahan lagi. Ia tak sanggup membayangkan Dika dan Novi terbunuh. Itu yang hampir dikatakan Alexza. Betul-betul tidak punya perasaan, pikirnya. Dia tak harus mengatakan semua yang dipikirkannya.
"Please, jan pada histeris!" Hendra memperingatkan.
"Kalo kabut itu bisa bunuh orang, terus kenapa mereka terperangkap di sini?" tanya Magisna.
Hendra mengangkat bahu.
"Bisa jadi memang begitu cara kerjanya," sambar Alexza. "Dia nyeret Dika sama Novi, inget? Mungkin Dika sama Novi juga disekap di salah satu ruangan entah di mana di dalam terowongan ini."
"Ssst!" desis Hendra menyela perkataan Alexza. Ia mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan supaya Alexza berhenti berbicara. Sementara tangan satunya mengangkat obornya dan memandang dinding di sekeliling mereka.
Banyak grafiti LATEN FEESTEN dicorengkan di dinding.
"Gua bener-bener gedeg sama tulisan itu," gumam Alexza. "Dia ada di mana-mana!"
Magisna melihat tumpukan botol dan kaleng di pojokan, bersama kantong keripik kentang dan kue kering asin, begitu tua hingga warnanya nyaris putih.
Aneh, ia menyadari. Di tempat lain di seluruh Doolhof sampah berceceran dan berantakan. Tapi di sini…
"Mereka kejebak longsoran itu," Magisna berkata. "Bukan karena kabut merah."
"Maksudnya?" Hendra bertanya tak yakin.
"Liat deh sampahnya. Ditumpuk rapi di pojokan. Mereka pasti ada di tempat ini udah lumayan lama. Kabut merah itu gak pernah ngusik mereka. Mereka kejebak."
__ADS_1
Hendra menautkan sepasang alisnya. "Mereka pasti mati kelaparan," ia menyimpulkan.
"Atau mati keausan," Magisna menambahkan.
"Terus kabut merahnya?" tanya Alexza. "Bareng-bareng mereka sampe mereka mati?"
Hendra dan Magisna berpandangan. Lalu keduanya mengangkat bahu. "Siapa yang tau?" kata Hendra.
Magisna mengamati dinding lagi, ada sesuatu tertangkap matanya.
"Liat nih!" katanya seraya mengangkat obornya lebih tinggi.
Di bawah satu baris tulisan LATEN FEESTEN yang lebih besar, seseorang menggoreskan kata-kata lain dengan tinta merah. Kaleng cat kosong tergeletak di sebelahnya di tanah, kuas cat menjulur keluar dari dalam kaleng itu.
Magisna mendekatkan obor ke dinding, dan membaca:
TERPERANGKAP
Michael Isaac… Leo… Gabrielle van Til…
Dan...
Sepuluh nama lainnya dalam tulisan buram.
"Michael Isaac?" Magisna memekik. Michael Isaac adalah nama lengkap kepala sekolah mereka, Pak Isa.
Hendra dan Alexza serentak melompat mendekati tulisan itu dan merunduk untuk memeriksanya. Lalu keduanya bertukar pandang dengan wajah tegang.
Dan mereka semua yakin bahwa mereka tidak salah membaca.
"Itu daftar tamu," sahut Hendra.
"Tamu apa?" Magisna menatapnya.
"Pesta terakhir di Doolhof," Hendra bergumam.
Mereka menatap nama-nama itu dalam diam, seolah-olah sedang membiarkannya meresap ke dalam hati mereka.
"Kalau salah satu dari kerangka itu adalah Pak Isa..." Magisna berkata pelan, nyaris berbisik. "Terus siapa kepala sekolah kita?"
"Kalo lu nanya gua, terus gua nama siapa?" Hendra menimpali.
Kepala Magisna mendadak pusing. Ia tak dapat membayangkan mana yang lebih buruk---diserang oleh kabut merah yang aneh atau mati kelaparan dan terperangkap dalam gua.
Itulah pilihan untuk mereka bertiga---kecuali jika mereka menemukan jalan keluar.
"Kayaknya mereka keabisan cat," Alexza menunjuk pada bagian dinding lain dari ruangan.
Magisna berjalan ke sana untuk melihatnya.
Seseorang meninggalkan pesan lain. Tulisannya ini lebih kecil, digoreskan ke dinding dengan batu:
PINKAN MILIAR HARUS BERTANGGUNG JAWAB!
Magisna tidak mengerti.
__ADS_1
"Pinkan Miliar?" ia bertanya. "Maksudnya Miss Pinkan?"
"Miss Pinkan?" Hendra mengulangi. Ia menautkan alisnya dan terdiam beberapa saat.
Alexza terperangah.
"Kenapa namanya ada di dinding?" Magisna mendesis.
"Isa pasti tau apa yang terjadi di sini," sahut Hendra.
"Gua gak bisa mikir," Alexza menatap Hendra penuh tanda tanya.
Hendra memutar bola matanya. "Ntar gua tanya orangnya kalo ketemu."
"Maksud---maksud lu kepala sekolah kita ada kaitannya sama ini?" tanya Magisna ragu-ragu.
"Kita lagi ngomongin soal orang-orang yang tau mereka bakal mati, kan?" balas Hendra. "Mereka nulisin nama mereka di dinding, terus mereka keabisan cat, dan mereka masih nulis pake batu. Menurut lu apa artinya itu?"
"Mereka berusaha ngasih tau semua orang---siapa aja yang bakal nemuin ini," Magisna menyelesaikan kata-kata Hendra.
Hendra menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Magisna dengan ekspresi puas.
"Tapi apa maksudnya Pak Is pasti tahu apa yang terjadi di sini?" Magisna tak mengerti.
"Namanya tertulis di sini," Hendra menunjuk nama tulisan Michael Isaac. "Dia mungkin salah satu dari yang selamet."
"Tapi jumlah tengkoraknya ada tiga belas," Magisna menunjuk timbunan tengkorak. "Tiga belas nama ini gak ada yang selamet!"
Hendra langsung terdiam dan berpikir keras.
"Mungkin Michael Isaac yang berbeda," Alexza menyimpulkan.
Melalui sudut matanya, Magisna menangkap gerakan---binar aneh dalam cahaya obor.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Alexza tersentak.
Kabut merah mengalir masuk melalui lubang pelarian mereka yang sempit.
Bau busuk memenuhi lubang hidung mereka.
Ini lebih menyengat dibandingkan sebelumnya, pikir Magisna. Ia sampai harus menutup hidung dan mulutnya.
Lalu ia mendengarnya. Kabut itu bernapas. Kali ini Magisna bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Napas yang berat dan mantap.
Kabut itu menyebar di depan mereka. Melambai-lambai dalam cahaya obor. Mengambang. Semakin lama semakin mengambil ruang.
Kabut itu memaksa mereka mundur.... mundur....
Magisna membentur dinding batu kasar di belakangnya.
Tak ada tempat untuk melarikan diri.
__ADS_1
Kini mereka terperangkap!