Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 44


__ADS_3

Ais dan Agustin membeku di tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan Magisna. Tak seorang pun bergerak hingga dua sosok binatang berwarna gelap itu tenggelam di semak-semak.


Semak ilalang di kiri-kanan mereka masih bergetar dan bergemuruh. Dari arah dua makhluk itu muncul juga masih terdengar suara berkeresak ribut.


Masih ada lagi? pikir Magisna ketakutan.


Tak seorang pun bersuara. Semua menelan ludah dan tergagap dengan wajah memucat. Tanpa sadar menahan napas.


Berapa banyak lagi makhluk-makhluk serupa akan keluar dari semak-semak?


Magisna berusaha bergerak. Tapi seluruh tubuhnya mendadak terasa seperti patung batu.


Ketika gerakan dari semak-semak itu semakin mendekat, ia menjerit sekuat tenaga seraya membekap matanya dengan telapak tangan.


"Tidak apa-apa!" Suara seorang pria menggelegar dari semak-semak. "Ini saya!"


Ais dan Agustin serentak menoleh.


Magisna menurunkan tangannya dan mendapati Papa Tibi sudah berdiri di jalan setapak di dekat kakinya.


Magisna memekik seraya menunjuk Papa Tibi. Pria paruh baya itu berlumuran darah.


"Jangan khawatir," kata Papa Tibi cepat-cepat. "Bukan darah saya."


Ais dan Agustin beranjak dari tanah, kemudian menghampiri Magisna dan Papa Tibi.


"Kalau begitu darah siapa?" Agustin bertanya terengah-engah. Napasnya masih belum stabil akibat ketakutan.


Magisna bisa melihat kedua cowok itu berdiri gementar di dekat Papa Tibi. Mereka berdua terlihat sama ketakutannya dengan Magisna.


Papa Tibi mengulurkan sebelah tangannya ke arah Magisna untuk membantunya berdiri. Sementara tangan satunya masih menggenggam sabit yang juga berlumuran darah. "Sabit ini mengenai salah satu dari mereka."


"Mereka siapa?" Magisna bertanya nyaris tercekik.


"Kerud!" jawab Papa Tibi.


"Berapa banyak?" Ais bertanya menyela.


"Empat ekor."


Magisna menepiskan bunga-bunga ilalang dari lengan sweater-nya setelah ia berdiri. "Kerud itu apa?" tanyanya pada Papa Tibi.

__ADS_1


"Macan kumbang," Papa Tibi menjawab singkat. Tatapan matanya menerawang ke tengah-tengah ladang ilalang yang paling dekat dengan bangunan sekolah. Semak di bagian itu masih bergetar dan bergoyang-goyang. "Sebaiknya kita pulang sekarang," katanya.


"Tapi temen saya ilang, Pak!" protes Magisna.


Papa Tibi mengalihkan pandangannya pada Magisna dengan dahi berkerut-kerut.


"Teman cowok yang waktu itu," kata Magisna.


"Dia mungkin terperosok," sela Agustin, sambil membungkuk menguak semak ilalang di tempat Hendra menghilang. "Ndra!" panggilnya ke dalam semak-semak.


Lalu semuanya diam. Menyimak.


Hening.


Papa Tibi mendesah berat dan menggeleng.


Magisna tertunduk dengan raut wajah getir.


"Begini saja," kata Papa Tibi. "Saya dan Agustin akan mencari bantuan dari penduduk setempat dan mencari temanmu. Sementara kau dan Ais pulang."


Magisna mengerjap menatap orang tua itu ragu-ragu, lalu melirik Ais.


Ais hanya angkat bahu dengan sikap kekanakan. Polos dan menjengkelkan.


Magisna masih terlihat ragu.


"Dengar, Gisna!" Agustin akhirnya membuka suara. Ia mendekat pada Magisna dan menyentuh sebelah bahunya. "Hendra pasti ada di salah satu terowongan di bawah rumah Van Til sekarang. Kau sudah pernah ke sana, kan? Kau seharusnya masih ingat bagaimana bahayanya."


Magisna menelan ludah. Benar, katanya. Dia takkan melupakan pengalamannya di Doolhof.


"Semua lubang di ladang ini terhubung ke ruang bawah tanah rumah Van Til, itu sebabnya kubilang kami tahu jalan lain menuju ke sana." Agustin menjelaskan. Entah hal itu akan mempengaruhi keputusan Magisna atau tidak. "Tapi sekarang Hendra juga menghilang. Tanpa Hendra, aku tak yakin apa aku dan Ais bisa menjagamu di bawah sana." Lalu tiba-tiba Agustin mendekatkan mulutnya ke telinga Magisna. "Ais masih seperti bayi," bisiknya. "Dia juga membutuhkan pengasuh. Apa kau mengerti?"


Magisna berdesis menahan tawa. Lalu melirik Ais yang menatap mereka dengan wajah polos.


Magisna akhirnya mengangkat bahu dengan sikap menyerah. Tak berdaya melihat wajah polosnya yang seperti… "Bayi". Bayi setan mungkin. Dengan berat hati, ia menghela kakinya menjauh dari ladang, mengikuti jejak Ais yang berjalan di depannya.


Alexza masih belum ditemukan, kenang Magisna getir. Dan sekarang Hendra juga menghilang.


Ais mengantarnya sampai ke pelataran parkir sekolah. Ia menawarkan untuk mengantarnya sampai di rumah. Tapi Magisna menolaknya. "Gak pa-pa," katanya seraya tersenyum tipis. Lagi pula jembatannya sudah diperbaiki, meski belum sepenuhnya, tapi jembatan itu sudah bisa dilalui kendaraan. Jadi ia tidak perlu memutar untuk mencari jalan alternatif.


Pelataran parkir nyaris kosong. Seluruh tempat di sekelilingnya juga terlihat sepi. Semua orang pasti sudah pulang sejak tadi kecuali kepada sekolah. Mobilnya masih terparkir di samping sepeda motor Magisna.

__ADS_1


Bangunan sekolah itu terlihat suram dan mati. Benar-benar seperti rumah hantu, pikir Magisna bergidik.


Suara-suara langkah berdebam dari teras depan menuju parkiran.


Ais dan Magisna menoleh ke belakang.


Magisna mendapati Novi dan Dika melalui sudut matanya. Mereka melangkah terburu-buru mengekori kepala sekolah mereka menuju mobilnya.


Magisna memutar tubuhnya ke belakang dan menyipitkan matanya---mengawasi Novi.


Lengan sweater Novi robek dan berdarah. Darahnya mengalir ke ujung jarinya, kemudian menetes jatuh di permukaan tanah.


Magisna terhenyak dan bergerak mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur Ais.


Ais tampak memucat dan sama takutnya.


Sesaat wajah Novi menegang menyadari pandangan mereka, kemudian berpaling saat melewati mereka. Dika menoleh pada Magisna dengan tatapan mencela, kemudian menatap tajam ke arah Ais seraya melingkarkan lengannya di seputar bahu Novi---menutupi luka di lengannya.


Seketika Magisna bergidik. Sesaat ia berpikir bahwa Novi adalah salah satu dari makhluk yang ditemukannya di ladang---kerud.


"Sabit ini mengenai salah satu dari mereka."


Kata-kata Papa Tibi saat di ladang terngiang di telinganya. Membuat kepalanya merayang.


Apa yang kupikirkan? ia memarahi dirinya sendiri. Papa Tibi bilang kerud itu macan kumbang. Kenapa aku bisa berpikir bahwa Novi adalah salah satu dari mereka?


Novi memang berubah aneh, tapi kan tidak berubah jadi macan kumbang!


Magisna kemudian menoleh pada Ais yang masih membeku menatap Novi dengan alis bertautan. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Kerud," desisnya sedikit tercekik.


Bulu kuduk Magisna kembali meremang. Ini terlalu kebetulan, pikirnya. Kebetulan-kebetulan ini membuat perutku terasa mual.


Novi dan Dika menyelinap ke pintu belakang mobil Pak Isa. Pak Isa membanting keras pintu kemudi.


Magisna terlonjak. Lalu menelan ludah dengan susah payah ketika mobil itu menderu dan menggelinding mundur, memutar dan berlalu meninggalkan tempat parkir.


Ais dan Magisna masih belum bersuara ketika mobil Pak Isa mulai menghilang di kelokan, sampai Ais tiba-tiba menepuk dahinya sendiri. "Aku melupakan sesuatu," katanya setengah memekik.


Magisna menoleh pada Ais dengan alis bertautan.


"Pulanglah, Magisna!" Tiba-tiba saja Ais terlihat dewasa. "Aku harus membunyikan lonceng peringatan untuk memanggil penduduk," katanya.

__ADS_1


Magisna mendesah pendek. Kukira ada apa, katanya dalam hati. Lalu tersenyum pada Ais dan menepuk sebelah bahunya. "Makasih, ya!"


Ais mengacungkan ibu jarinya. Kembali ke mode kekanakan.


__ADS_2