
"Hendra!" Magisna terkejut mendapati Hendra di pintu kamarnya.
Hendra menaikkan telunjuk ke bibirnya, meletakkan tangan di bahu Magisna dan mendorongnya ke dalam kamar, persis seperti yang dilakukan Jati tadi.
Sejenak Magisna terlihat cemas. Jati bersembunyi di kamarnya. Dan sekarang Hendra juga masuk ke kamar itu dan menutup pintu.
Dalam hati Magisna bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Hendra jika dia tahu Magisna menyembunyikan pria asing di dalam kamarnya.
Tapi memangnya kenapa? pikirnya. Hendra bukan siapa-siapa.
"Kenapa lu belum tidur?" bisik Hendra. Dia menurunkan ritsleting dan melepaskan jaketnya
"Gu-gua udah tidur, kok!" Magisna balas berbisik. "Gua kebagun denger lu mondar-mandir di depan pintu. Gua kira—"
"Apa?" sergah Hendra memotong perkataannya. "Lu kira Senja yang pen nyatronin kamar lu?"
"Lagi lu ngendap-ngendap kek maling," dengus Magisna. "Ini udah tengah malem tau!"
Hendra duduk di pinggir tempat tidur dan menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan diri. "Gua gak bisa tidur," katanya. Kemudian menyisir rambutnya ke belakang dengan sebelah tangan. Menatap gelisah ke arah pintu yang tertutup. "Kamar gua di koridor bawah, seberangan sama kamar Senja. Gua denger Gabe tereak marah-marahin Senja."
Magisna nyaris tersedak air liurnya sendiri mengingat cerita Jati tentang Senja yang sudah mati. Dugaannya mengenai Gabe yang tidak melihat Senja membuatnya tak yakin cerita Hendra benar.
Hendra mencondongkan badannya ke arah Magisna seraya berbisik. "Gua denger suara tembakan, dan segalanya ngedadak tenang!"
"Tenang? Apa maksudnya tenang?" Magisna kembali menggigil.
"Maksud gua… gak ada suara lagi. Gua gak denger suara mereka lagi," jelas Hendra sedikit dramatis.
"Lu yakin itu suara Senja?" tanya Magisna.
"Emang ada cowok lain selain lakinya?" Hendra balas bertanya.
Magisna tergagap. Bagaimana menjelaskan pada Hendra bahwa Jati dan teman-temannya juga berada di sini di ruangan lain. Hendra akan bertanya dari mana Magisna tahu soal itu.
Magisna bisa saja mengatakan mobil Jati terparkir di bawah sana, dan itu sudah cukup untuk membuktikan keberadaan Jati dan teman-temannya. Tapi Hendra pasti akan membantahnya karena sejak mereka tiba, mereka tidak melihat keberadaan Jati dan teman-temannya.
"Kenapa lu diem?" Hendra menatap curiga.
Magisna mengerjap dan menggeleng. "Gak pa-pa, gua cuma gak bisa mikir," kata Magisna beralasan. "Gua baru bangun, nyawa gua belum kumpul."
Hendra masih menatapnya dengan tatapan curiga. "Senja abis nyatronin lu ya?"
"Hah?" Magisna terperangah. Tak menyangka Hendra akan menanyakan hal itu. "Kenapa lu bisa sampe kepikiran ke situ?"
"Kenapa lu nanya apa gua yakin yang tadi beneran suara Senja?" Hendra balas bertanya.
Magisna terdiam. Kenapa malah makin serba salah jadinya? katanya dalam hati.
Bagaimana menjelaskannya?
__ADS_1
"Jawab jujur, apa Senja abis dari sini tadi?" Hendra mendesaknya.
"Enggak!" bantah Magisna, sedikit terlalu ngotot. "Gu---gua bilang gua lagi gak bisa mikir. Itu aja!"
Hendra mendengus seraya memalingkan wajahnya. Lalu mengedar pandang ke sekeliling ruangan. Memeriksa setiap sudut kamar itu dengan mata nyalang.
Seketika Magisna mendadak gugup. Bagaimana kalau Jati ketahuan? pikirnya khawatir. "Udah, ah! Lu mending keluar dari kamar gua. Gak enak kalo sampe ketauan sama Gabe!" Magisna mendorong Hendra ke pintu dan mendesaknya keluar kamar.
Hendra malah kelihatan makin curiga. "Lu nyembunyiin sesuatu, ya kan?" terka Hendra penasaran.
"Mana ada!" Magisna melotot tak sabar. "Gua cuma gak enak. Kita di sini numpang, b e g o!"
Hendra mengangkat bahu sekilas, kemudian menjauh dengan raut wajah tersinggung.
Magisna menutup pintu kamarnya dan mendesah berat. Benar-benar tak enak hati sudah mengusir Hendra seperti itu.
Jati menyelinap keluar dari persembunyiannya di kolong tempat tidur, kemudian mendekati Magisna sembari mengomel. "Kenapa lu gak bilang aja sih, kalian harus keluar dari sini?"
"Gua… gua gak tau cara jelasinnya. Hendra bukan tipe orang yang mudah percaya, terutama... sama cerita hantu," tutur Magisna terbata-bata. Sebetulnya dia sendiri tak yakin dengan sifat Hendra. Dia tahu Hendra percaya pada hal-hal mistis seperti itu. Tapi siapa yang tahu reaksi Hendra kalau dia sampai tahu keberadaan Jati. Dia mencurigaiku menyembunyikan sesuatu, pikir Magisna. Dia akan bertanya dari mana aku tahu tentang semua itu.
Jati terkekeh tipis. "Lu gak harus cerita bagian hantunya, kan?" katanya geli.
Magisna memelototinya.
Jati menghela napas pendek dan menatap ke dalam mata Magisna. "Gua serius," katanya. "Tempat ini gak aman. Tadi gua dengerin waktu temen lu cerita soal tembakan. Mungkin temen-temen gua dalam bahaya. Gua harus keluar dari sini. Kayaknya gua udah ketauan."
Magisna terkesiap dan tergagap-gagap. "Tu-tunggu—" dia mencengkeram lengan jaket cowok itu.
"Yodah, cabut gidah!" Magisna mendengus sebal dan mendorong Jati ke pintu.
Jati terkekeh lagi. Tapi dengan cepat mengubah ekspresinya kembali menjadi serius. "Cabut dari sini, Magisna! Gua serius!"
Pintu kamar itu berderak membuka sebelum Jati menyentuhnya.
Jati dan Magisna tersentak.
Hendra berdiri di depan pintu seraya menodongkan senapan ke arah Jati.
"Hendra! Lu gila!" Magisna memekik ngeri.
Hendra mencebik. "Siapa lu?" geramnya pada Jati.
Jati menautkan kedua alisnya.
Magisna berdiri gelisah menatap keduanya. "Hendra---turunin senapannya. Lu… gak bener-bener mau nembak orang, kan?"
Hendra tidak menggubrisnya. Senapan di tangannya tetap tertuju pada Jati. "Jawab gua! Lu siapa?" ulang Hendra setengah menghardik.
"Gua pemilik pondok ini," jawab Jati seraya menaikkan kedua tangannya di sisi bahunya.
__ADS_1
"Bohong!" bentak Hendra, bersiap menekan picu.
Magisna menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya dapat berkata, "Dia gak bohong," desisnya tercekat. "Dia keponakan Senja!"
Hendra mengetatkan rahangnya dan melotot pada Magisna. Moncong senapannya sekarang tertuju pada Magisna.
"Hendra—" Magisna tak bisa berbuat banyak. Jantungnya berdegup ribut memukul tulang rusuknya. Dia tidak sungguh-sungguh akan melakukannya, kan? pikirnya gamang.
Jati meliriknya dengan tatapan prihatin.
"Tolong singkirin senapan itu," bujuk Magisna. "Biar gua jelasin duduk perkaranya."
"Jadi ngapain lu berdua-duaan dalam kamar?" Hendra mengalihkan perhatiannya kembali pada Jati.
Jati tiba-tiba menurunkan tangannya dan mendesah.
Magisna mengerutkan keningnya.
"Senapan itu gak ada isinya," Jati memberitahu.
Hendra tak mau percaya. "Gua tanya lu ngapain di kamar Magisna?" hardiknya seraya mengarahkan kembali senapannya ke arah Jati.
Jati tidak mengangkat tangannya lagi. "Lu tanya aja Magisna, gua ngapain aja di kamarnya?!"
Hendra menggeram dan menekan picu.
Magisna menjerit seraya membekap wajahnya ketika suara ledakan membahana ke seluruh rumah.
Hening sesaat.
Sepasang tangan kemudian mencengkeram lembut pergelangan tangan Magisna. "Sssshh… Gak pa-pa! Lu baik-baik aja."
Magisna menurunkan kedua tangannya dan tergagap.
Jati berjongkok di depannya, berusaha menenangkannya.
Magisna menyentakkan kepalanya ke samping dan menatap Hendra yang membeku di ambang pintu. Senapannya sudah tergeletak di lantai.
Apa yang terjadi? pikir Magisna tak mengerti.
Hendra masih bergeming dengan ekspresi terguncang.
Dia pasti sangat ketakutan, pikir Magisna. Membayangkan dirinya membunuh seseorang pasti membuatnya terguncang. Tapi sepertinya Jati benar, senapan itu tidak ada isinya.
"Dari mana suara ledakan tadi?" Magisna bertanya parau.
"Itu dari basemen," jawab Jati. "Temen-temen gua mungkin dalam bahaya. Gua saranin kalian secepatnya cabut dari sini."
Hendra menatapnya dengan ekspresi bingung. Tatapannya terlihat kosong dan tak terfokus.
__ADS_1
Jati beranjak dari lantai dan bergegas ke pintu, kemudian menyelinap keluar dan menghilang. Pintu menutup di belakangnya.
Hendra dan Magisna masih membeku di tempatnya masing-masing. Sama-sama terguncang dan tak yakin apa yang harus dilakukan.