Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 63


__ADS_3

Siang itu Magisna berangkat lebih awal dari biasanya.


Sedikit terlalu bersemangat!


Ibunya mengerling ke arah jam dinding dan mengerutkan dahi. Kemudian melirik arloji di tangannya untuk memastikan jam dindingnya tidak sedang rusak. "Ini baru jam sebelas," tergurnya dari meja makan.


Magisna mengedikkan bahunya sekilas. "Aku ada sedikit urusan sebelum ke sekolah," ia beralasan. Lalu mencium pipi ibunya dengan buru-buru.


Giliran ibunya sekarang yang mengedikkan bahu---tak berdaya.


Magisna bergegas keluar dengan langkah-langkah lebar dan tidak menoleh lagi. Ia bahkan melupakan acara makan siangnya. Entah karena terlalu bersemangat atau… tak sabar.


Aku harus menemui Agustin, pikirnya. Kemudian menunggunya di parkiran dengan gelisah.


"Kau datang kepagian," kelakar Agustin begitu mereka bertemu. Cowok itu langsung menghampirinya begitu ia melihatnya, diikuti cowok lainnya yang tampak tak asing di mata Magisna.


Cowok putih berwajah oriental---Kiddo Callaghan. Cowok itu sudah tidak mengenakan kacamata.


Dia berhasil, pikir Magisna seraya tersenyum pada cowok itu. Cowok itu membalas senyumnya.


Agustin memperhatikan keduanya bergantian. "Kalian sudah saling kenal?" tanyanya dengan mata terpicing.


Magisna cuma angkat bahu.


Kiddo tidak bereaksi.


"Kukira dia sudah…" Agustin menggantung kalimatnya sembari mengerling ke arah Kiddo.


"Ya," potong Magisna seraya menatap Kiddo penuh arti. "Dia berhasil!"


Kiddo hanya terkekeh tipis dan ketiganya kemudian berjalan beriringan menuju kantin, memesan makanan dan mengambil tempat duduk di sudut ruangan.


"Gua gak nyangka hantu itu bener-bener tidur," komentar Magisna setelah mereka duduk.


"Gua gak nyangka semua ini bener-bener nyata," timpal Kiddo. "Gua kira cuma mimpi."


Agustin tersenyum tipis.


Seseorang menghampiri meja mereka mengantarkan pesanan.


"Aku masih belum mengerti apa yang terjadi," kata Agustin setelah orang tadi pergi. "Maksudku…" ia melirik sekilas ke arah Kiddo dan menatap Magisna dengan sorot mata penuh tanya.


"Gua liat Kiddo gentayangan," cerita Magisna sembari terkekeh.


Kiddo balas terkekeh, "Gua belum cerita sama Agustin," katanya. "Gua malah gak ada rencana buat nyeritain ini sama siapa pun. Gak bakal ada yang percaya juga. Gua pikir Agustin gak tau."


"Aku memang tak tahu," sahut Agustin. "Magisna yang memberitahu."


Kiddo mengerutkan keningnya, mengamati keduanya bergantian. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dalam kepalanya.


Sudah berapa lama mereka saling mengenal?


Seberapa dekat sebenarnya hubungan mereka?


Dan yang terpenting bagaimana bisa mereka membicarakan hal-hal semacam ini tanpa khawatir dipandang aneh?


Kelihatannya mereka berdua sudah benar-benar dekat, pikir Kiddo. Tapi kemudian berusaha mengenyampingkan semuanya. Bukan urusanmu, tegurnya pada diri sendiri.


Pengalaman singkat yang berkesan bisa saja membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Lebih tepatnya pengalaman aneh. Sama seperti dirinya.


Kiddo tidak pernah tahu apa yang sudah mereka lalui sebelum dirinya. Agustin tak pernah cerita mengenai hal-hal yang—menurutnya, hanya akan membuat dirinya dipandang aneh.

__ADS_1


Siapa sangka mereka akan bertemu dalam permasalahan aneh yang sama?


Semuanya terlalu kebetulan!


Siapa yang akan percaya?


Tapi di sinilah mereka sekarang—berhimpun di meja kantin di pojok ruangan, membahas masalah yang tak masuk akal.


"Teman-temanmu…" Agustin berkata ragu pada Magisna.


Magisna berhenti mengunyah makanannya dan mengerjap, menatap Agustin dengan raut wajah harap-harap cemas.


"Pagi ini mereka ditemukan tak sadarkan diri di koridor utama sekolah," tutur Agustin seraya tertunduk, mengalihkan perhatiannya ke arah gelas jus yang sejak tadi hanya diaduknya.


Magisna menelan makanannya dengan susah payah, kemudian menyeruput jus buah dari gelasnya dengan buru-buru. "Semuanya?" tanyanya kemudian.


Agustin mengangkat wajahnya dan kembali menatap Magisna. "Hanya Hendra dan…" ia mencoba mengingat-ingat.


"Alexza?" Magisna memotong tak sabar.


"Ya," jawab Agustin cepat-cepat. "Sekolahan kami gencar tadi pagi," katanya seraya tersenyum masam.


Magisna mengerutkan dahinya, menatap Kiddo dan Agustin secara bergantian dengan ekspresi menuntut penjelasan.


Kiddo hanya mengangkat bahunya. Kau sudah tahu ceritanya, pikirnya.


"Ada banyak darah berceceran di lantai," lanjut Agustin. "Tapi mereka tidak terluka sama sekali."


Magisna mendesah pendek. "Itu darah Jingga," jelas Magisna.


Giliran Agustin sekarang yang mengerutkan dahi.


"Jingga udah aman kok," Magisna menambahkan. "Gua sama Kiddo udah bawa dia ke rumah sakit."


"Jangan melototin gua," sergah Kiddo.


"Kalian ada di sana?" Agustin bertanya setengah menuntut.


Kiddo dan Magisna bertukar pandang.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" desak Agustin.


"Mereka nyerang Jingga," cerita Magisna.


"Dan kalian menyerang mereka?" Agustin memelototinya.


"Mereka yang nyerang gua duluan," Magisna balas melotot. "Kiddo cuma berusaha nolong gua. Tapi—"


"Tapi apa?" Agustin menaikkan sebelah alisnya.


"Suzy—" Magisna menelan ludah dan tercekat di tenggorokannya.


Agustin sontak membeku.


"Suzy sama anak kecil itu…" Magisna berusaha mengingat-ingat nama gadis kecil itu, tapi kemudian menyadari ia tak tahu.


"Su Si," sela Agustin.


"Ya, Suzy!" ulang Magisna keliru.


"Maksudku anak kecil itu," jelas Agustin. "Anak kecil itu bernama Su Si!"

__ADS_1


Magisna tak mengerti.


"Suzy dan Su Si… keduanya adalah pribadi yang sama!"


Magisna terlihat semakin bingung.


"Lupakan saja," gumam Agustin. Ia seharusnya tak perlu mengulang penjelasan ini. Papa Tibi sudah pernah menjelaskannya pada Magisna. Tapi gadis itu sepertinya sudah lupa.


"Terus sekarang di mana mereka?" Magisna mengalihkan pembicaraan. "Maksud gua, di mana Hendra sama Alexza?"


"Mereka sudah dibawa ke rumah sakit," jawab Kiddo dan Agustin nyaris bersamaan.


Magisna menatap keduanya bergantian. Lalu kembali mendesah pendek. "Gua pen balik ke Doolhof," ungkapnya kemudian.


Agustin spontan tergagap.


"Gua tau ini kedengeran… sok heroik!" kilah Magisna. "Tapi gua pen nyelametin temen-temen gua."


Agustin mengerjap dan menelan ludah. Lalu melirik ke arah Kiddo.


"Gua ikut," kata Kiddo.


Agustin masih tergagap. Tampak ragu dan berpikir keras. Tapi akhirnya menyerah setelah Magisna menjelaskan situasinya.


"Jiwa mereka mungkin masih terjebak di Doolhof."


"Bagaimana caranya menyelamatkan mereka?" Agustin terlihat tak yakin.


"Kiddo pernah terjebak dalam situasi yang sama," cerita Magisna. "Dia diserang kabut itu di sekolah dan jiwanya terjebak di sekolah. Gua rasa temen-temen gua juga kek gitu."


"Kau diserang kabut itu?" Agustin bertanya pada Kiddo.


Lagi-lagi Kiddo cuma angkat bahu.


Agustin mengerjap dan berpaling pada Magisna.


"Temen-temen gua berubah sejak mereka ditemukan tak sadarkan diri di Doolhof," lanjut Magisna.


"Aku mengerti," potong Agustin cepat-cepat. "Tapi… bagaimana caranya menemukan jiwa, maksudku—mereka tak kelihatan!"


"Kek tadi gua bilang—gua liat Kiddo gentayangan!" Magisna menaikkan suaranya.


Seisi ruangan serentak menoleh ke arah mereka.


Magisna spontan memelankan suaranya. Ia membungkuk di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Agustin. "Gua bisa liat mereka," bisiknya.


"Kita berkumpul di rumah Ais," Agustin memutuskan. Lalu ketiganya keluar dari kantin dan berpisah di parkiran.


Kiddo dan Agustin bergegas pulang dengan kendaraannya masing-masing, sementara Magisna bergegas ke teras sekolah.


Di depan pintu masuk, Magisna berpapasan dengan seorang siswi yang mengenakan hoodie dan kacamata.


Mula-mula ia mengira itu Novi. Tapi kemudian terperangah begitu menyadari anak perempuan itu bukan murid sekolah kejuruan. Tapi murid SMU.


Magisna merasa tak asing dengan gadis itu. Siapa ya? Ia mencoba mengingat-ingat seraya memperhatikannya.


Gadis itu balas memperhatikan Magisna dengan raut wajah datar.


Aku ingat! Magisna memekik dalam hatinya.


Dini!

__ADS_1


Anak perempuan mandor besar yang tinggal di sebelah rumah Ais.


Dia juga dirasuki!


__ADS_2