
Mustahil!
Itu adalah kata pertama yang melintas dalam benak Magisna ketika menemukan dirinya sendiri.
Jadi selama ini jiwaku juga terjebak dalam labirin?
Lalu siapa aku?
Atau siapa dia?
Mana jiwaku yang asli?
Pasti aku! Magisna menyimpulkan. Siapa pun dia yang bersama dengan mereka bukan aku.
Aku sadar sepenuhnya di dalam diriku. Tidak mungkin bukan diriku.
Meskipun aku bisa dilukai oleh pisau hantu, tapi aku tahu aku masih diriku.
Aku harus membuktikannya! Magisna memutuskan.
Tapi sebelum ia menyadari apa yang terjadi, jiwa teman-temannya sudah melarikan diri.
Tidak, tunggu! pekiknya dalam hati. Aku baru saja menemukan mereka. Mereka tidak boleh hilang lagi. Atau aku tak bisa menyelamatkan mereka.
"Tunggu!" teriak Magisna pada teman-temannya.
Obor di tangan Hendra berpendar, nyaris padam. Mereka semua berlari pontang-panting menjauhi Magisna.
Magisna berusaha menyusul mereka. Tak dihiraukannya lagi teriakan-teriakan Kiddo dan Agustin di belakangnya.
"Magisna, tunggu!" Agustin berusaha menghentikan gadis itu. Kemudian semakin mempercepat larinya, berusaha menyusulnya.
Magisna tidak mau berhenti berlari.
Dia kehilangan kendali, pikir Agustin. Apa yang membuatnya begitu? Dia seperti… Dini!
Mereka semua seperti mengejar sesuatu, kata Agustin dalam hati. Tapi apa yang mereka kejar?
Di persimpangan berikutnya, Hendra dan teman-temannya berbelok lagi.
Magisna mempercepat larinya seperti orang kesetanan. Dadanya serasa meledak, tumit kakinya terasa kebas. Keringat membanjir di tubuhnya. Tapi Magisna seolah tidak terganggu dengan semua itu.
"Magisna!" Agustin meneriakinya lagi. "Berhenti!"
Dan seketika itu juga Magisna berhenti.
Tapi bukan karena perintah Agustin.
Seseorang menghadangnya di kelokan.
Senja!
Magisna tergagap dengan wajah memucat. Teman-temannya sudah berlari semakin jauh di belakang Senja.
Magisna berusaha mengabaikan Senja dan menerjang ke dalam gang.
Tapi Senja menangkap pinggangnya.
Magisna tersentak sekali lagi. Kali ini ia mulai ketakutan. Dia berusaha menghalangiku dari teman-temanku! Ia menyadari.
"Berhenti sekarang atau kau akan kehilangan teman-temanmu untuk selamanya!" Senja memperingatkan.
__ADS_1
Magisna mengerjap dan menatap pria berambut sepinggang itu dengan ketakutan. Apa maksudnya? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Dia sedang mengancamku?
"Kau salah jalan, Nak!" Senja mendorong kasar tubuh Magisna keluar gang.
Magisna terlempar ke belakang dan punggungnya membentur dinding.
Bersamaan dengan itu Kiddo dan Agustin berhasil menyusulnya.
"Gisna!" Agustin memekik terkejut.
Serta-merta kedua cowok itu menghambur ke arah Magisna dan meraup tubuhnya nyaris bersamaan. Agustin berhasil menangkapnya lebih dulu. Kemudian menariknya berdiri.
"Kau baik-baik saja?" Agustin bertanya cemas.
Magisna terengah-engah seraya menunjuk ke arah Senja.
Kedua cowok di depannya serentak menoleh ke belakang.
Gelap.
Agustin mengarahkan cahaya senternya ke gang.
Tidak ada siapa-siapa.
"Kau lihat apa?" tanya Agustin pada Magisna.
Magisna tetap menunjuk ke mulut gang. Napasnya masih tersengal. Wajahnya sepucat mayat. Sekujur tubuhnya gemetar dan berkeringat.
Kiddo bertukar pandang dengan Agustin. Keduanya terlihat kebingungan.
"Tidak ada apa-apa di sana!" kata Agustin.
Tapi Magisna melihatnya dengan jelas. Hantu itu sedang bersedekap sekarang. Menatap mereka sambil menyeringai.
Magisna menggeleng-geleng, napasnya semakin memburu tak beraturan.
Sambekala! pikir Magisna menyadari. Kabut itu memang sambekala!
Hantu Senja!
Jadi kenapa selama ini dia berpura-pura baik padaku? kenangnya getir. Apa yang dia rencanakan?
"Apa mau lu sebenernya?" Magisna berteriak parau. Ia telah kehilangan rasa hormatnya pada hantu itu sekarang.
"Magisna!" Kiddo dan Agustin menghardik gadis itu sembari mengguncang bahunya. "Sadarlah!"
Magisna tidak peduli. Mereka tak bisa melihat Senja. Dia bahkan tak peduli jika kedua cowok itu menganggapnya sudah sinting. Atau mengira ia sedang berhalusinasi, kerasukan, terserah.
Aku harus menyelamatkan teman-temanku, pikirnya bersikeras.
"Apa yang lu mau dari gua?" Magisna kembali berteriak, kali ini sudah hampir menangis.
"Shhh… shhh…" Agustin menepuk-nepuk bahu Magisna, berusaha menenangkan gadis itu. Masih mengira Magisna sedang sawan atau merayan seperti ketika di rumah Ais. Sesaat ia melirik pada Kiddo dan bertukar pandang.
Lalu kedua cowok itu menyergap bahu dan lengan Magisna di kiri-kanannya, kemudian menyeretnya menjauh dari mulut gang.
Magisna memberontak. Cowok-cowok itu mengetatkan cengkeramannya.
Magisna menyentakkan tangannya dari cengkeraman keduanya, lalu mendorong dada mereka sembari menjerit, "Lepasin!"
Kiddo dan Agustin terdorong ke belakang dan terkesiap.
__ADS_1
Magisna berbalik sekaligus dan kembali ke mulut gang itu lagi.
Hantu itu tersenyum masam. "Apa aku sudah bilang kalau aku menyukai gadis hitam manis?" tanyanya tanpa ekspresi.
Magisna membeliak sebal mendengar perkataannya.
"Kau tahu kenapa aku menyukainya?" tanya hantu itu lagi.
Magisna tidak menjawab. Aku tak ingin tahu, pikirnya.
"Karena dia menjadi salah satu koleksi cantikku!" Senja menjawab sendiri pertanyaannya.
Koleksi cantik?
Magisna terbatuk-batuk, tersedak air liurnya sendiri.
Jadi maksudnya gadis hitam manis itu macan kumbang betina?
"Kau akan menjadi koleksiku yang paling cantik, Magisna!"
Magisna menelan ludah.
Apa maksudnya?
"Maksudku…" Hantu itu menggeser tubuhnya ke samping, "Dirimu yang lain!" Ia menambahkan seraya mengerling ke belakang.
Magisna terkesiap.
Lima ekor macan kumbang berbulu hitam terjebak di gang buntu di belakang hantu itu.
Apa itu aku dan teman-temanku? Magisna membatin getir.
Bagaimana bisa aku juga ada di sana? Diriku yang lain? Apa maksudnya?
"Itu bukan gua---gak mungkin gua!" Magisna mendesis gusar sembari menggeleng-geleng.
"Magisna!" Kiddo dan Agustin melompat dari tempatnya masing-masing dan menerjang ke arah Magisna, kemudian mengguncang bahu gadis itu sekali lagi. Mencoba menyadarkannya.
Magisna tetap bergeming. Tatapannya tetap terpaku ke mulut gang yang gelap gulita dalam penglihatan kedua cowok di sampingnya. Tapi terlihat terang benderang di mata Magisna. Ia bisa melihat dengan jelas tubuh hantu itu bercahaya dalam gelap. Seperti gambar hologram tiga dimensi.
Lima ekor macan kumbang di belakangnya menggeram gusar sembari mondar-mandir, berputar-putar di tempat yang sama. Seperti ada ruang tak terlihat mengurung mereka di ujung gang itu.
"Siapa pun yang sudah terkurung akan tetap terkurung," Senja mengulangi perkataannya seperti membaca mantra.
"Gua gak ngerti!" sergah Magisna.
Hantu itu tiba-tiba tertunduk dengan raut wajah muram. "Michael Isaac benar," katanya parau. "Anak-anak itu tidak mati karena serangan binatang buas." Hantu itu mengangkat wajahnya lagi, menatap Magisna dengan ekspresi sedih. "Tapi anak-anak itulah binatang buasnya."
"Ma---maksudnya?" Magisna tergagap-gagap.
"Magisna, sadar!" Agustin menepuk-nepuk pipi Magisna.
Magisna sontak memelototinya. "Gua sadar!" bentaknya tak sabar. "Ada hal yang gak bisa kalian liat dan cuma gua yang bisa liat. Terserah kalian mau percaya apa nggak!"
Kiddo dan Agustin serentak membeku.
"Tapi tolong… kasih gua waktu," Magisna memelankan suaranya. "Gua butuh jawaban!"
Kiddo dan Agustin akhirnya angkat tangan, lalu mundur teratur dan menjauhinya. Tapi tidak meninggalkannya. Hanya menyisi beberapa meter dari Magisna, menyandarkan punggung mereka ke dinding seraya bersedekap dan mengawasi Magisna dengan raut wajah tak berdaya. Sesekali keduanya bertukar pandang dan mendesah pendek.
Kiddo percaya gadis itu bisa melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat manusia normal. Dia pernah membuktikannya ketika jiwanya terjebak di sekolah. Ia hanya khawatir.
__ADS_1
Bagaimana kalau situasinya ternyata berbahaya sementara mereka tidak bisa melihat?