Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 31


__ADS_3

"Kau mungkin takkan percaya kalau kubilang… barang-barang di sini sering kali berpindah tempat," kata Gabe tiba-tiba, seolah-olah bisa membaca pikiran Magisna.


Magisna diam saja. Hanya menatapnya dengan mata terpicing.


"Nah! Ini dia." Gabe meraih ke laci atas dan menarik sebungkus teh celup. "Kau suka Earl Grey?"


"Apa aja boleh!" Magisna berusaha memaksakan senyum, tapi Gabe menghindari berkontak mata dan bergegas menjauhinya. Dia sangat pemalu, Magisna menyimpulkan.


Magisna mengambil tempat duduk pada salah satu bangku di meja dapur dan memperhatikan Gabe mengambil ketel air. "Pondok ini ternyata lumayan besar," katanya, berusaha menjalin percakapan.


Gabe tidak berbalik, hanya samar-samar mengangkat bahu. "Terlalu besar dan sedikit mengerikan," katanya, suaranya hampir tak terdengar oleh Magisna. "Seperti kubilang tadi, barang-barang di sini sering berpindah tempat dengan sendirinya…"


Magisna mengerutkan keningnya, menunggu Gabe melanjutkan kalimatnya. Tapi perempuan itu tidak melakukannya.


Gabe hanya mendesah dan menoleh sekilas. "Aku tahu ini konyol," katanya kemudian.


"Nggak," sergah Magisna. "Cerita aja!"


Gabe memutar tubuhnya menghadap Magisna dan menatapnya dengan raut wajah tak yakin. "Kau percaya hantu dan sejenisnya?"


"Emmm… entahlah," jawab Magisna ragu. Ia sebetulnya tidak mempercayai hal-hal semacam itu pada awalnya. Tapi apa yang dialaminya di Doolhof juga sulit dijelaskan.


"Forget it!" Gabe menggeleng dan kembali memunggungi Magisna.


"Nggak, please—" Magisna beranjak dari bangku dan mendekat pada Gabe dengan langkah terpincang-pincang.


Gabe menoleh dan mengerutkan dahi. "Kau—" ia tergagap menatap kaki Magisna, tampak ragu untuk bertanya apakah Magisna terluka atau jangan-jangan memang cacat.


"Saya jatuh tadi siang," cerita Magisna seraya menunjuk kakinya dengan lirikan matanya, menjawab keraguan Gabe.


"Oh," Gabe mendesah pendek dan mendekat. "Biar kulihat!" Ia menawarkan seraya menuntun Magisna kembali ke bangku, kemudian berjongkok dan memeriksanya.


Magisna meringis ketika perempuan itu menekuk dan menggerak-gerakkan engkel kakinya.


"Ini lumayan parah," kata Gabe. "Bagaimana kau terjatuh?"


"Saya kejeblos ke ruang bawah tanah sekolah," cerita Magisna.


"Sekolah?" Gabe mendongak menatap Magisna. "Hari ini?"


"Ah—ya, kami ke sekolah untuk menjalani hukuman."


Gabe bereaksi di luar dugaan. Ekspresi wajahnya menunjukkan kengerian yang tak terkira.


Apa yang salah? pikir Magisna. "Nggak---hukumannya gak terlalu buruk." sergah Magisna seolah berusaha menenangkan Gabe. "Kita sebetulnya cuma disuruh diem aja di kelas, tapi kita malah kabur dan nyelinap ke gudang perkebunan—"


"Kau sekolah di Van Til Hogeschool?" Gabe bertanya menyela.

__ADS_1


"Ya," jawab Magisna seraya menatap wajah Gabe.


Gabe seketika memalingkan wajah dan tertunduk, kembali fokus ke pergelangan kaki Magisna. "Miss Pinkan tidak pernah berubah," desis Gabe dengan raut wajah getir.


Magisna mengerutkan dahinya. "Anda kenal Miss Pinkan?" tanyanya. Lalu kembali meringis ketika Gabe mulai memijat kakinya.


"Dulu… aku juga sekolah di sana," cerita Gabe setengah berbisik.


"Oh, ya?" Magisna menanggapinya sedikit terlalu antusias.


Gabe meremas kakinya semakin keras.


Magisna memekik tertahan.


Tepat pada saat itu, Hendra masuk. Magisna senang melihatnya. Ia tidak begitu bisa bercakap-cakap, terutama dengan Gabe. "Ada apa?"


"Gua kira lu ke mana," kata Hendra sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang sebetulnya tidak terasa gatal.


"Sekarang lu udah tau gua di mana," seloroh Magisna.


Gabe tiba-tiba berdiri, "Aku harus segera naik ke atas sebentar," katanya menyela.


Hendra dan Magisna menatapnya, kemudian saling melirik.


Gabe kelihatan tak tenang. "Tuang saja airnya kalau ketelnya sudah mendidih," pesannya tanpa menoleh, lalu buru-buru pergi.


Perempuan itu hanya melambaikan tangannya sekilas tanpa menghentikan langkah.


Hendra mengamati punggung Gabe dengan alis bertautan. "Dia pemalu," katanya menilai.


"Dia aneh," bisik Magisna.


"Yeah---maksud gua juga begitu," timpal Hendra seraya menoleh ke arah Magisna dan menyeringai.


Magisna membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi terhenti. Hendra dan Magisna berteriak terkejut ketika mereka mendengar bunyi keras tembakan senapan persis di belakang mereka.


"Apa itu?" teriak Magisna, jantungnya berdebar-debar.


Untuk sesaat Hendra kelihatan sama takutnya seperti Magisna. Tapi lalu ia segera pulih. Dasar sok macho!


"Suaranya kayak—" Hendra menatap ke lantai di belakang meja dapur.


Magisna menatap ke sekeliling dan mengikuti arah pandang Hendra.


"Ya, ampun!" erang Hendra.


Ternyata bukan suara tembakan. Bunyi keras itu berasal dari perangkap tikus di lantai dapur.

__ADS_1


Seekor tikus cokelat kecil meronta-ronta di dalam perangkap itu---sepotong besi menjepit lehernya. Mata kecilnya yang hitam melebar, dan kaki-kaki kecilnya menggelepar keras, mencakar-cakar bagian perangkap yang datar berbahan kayu.


Lalu tiba-tiba kaki-kaki itu terdiam.


Magisna berpaling. "Ish ngeri!" ringisnya.


Hendra tertawa.


"Gua serius," dengus Magisna. "Ngeri nggak sih lu kalo masuk perangkap kek gitu?"


"Apaan sih lu?" Hendra terkekeh memarahi Magisna di antara tawanya.


"Maksud gua, gimana rasanya tau kalo kita masuk pintu kematian kita sendiri…"


"Lebay lu, ah!" sergah Hendra masih sambil cengengesan.


Magisna memelototinya dengan raut wajah kesal.


"Oke, itu pasti ngeri!" kata Hendra setengah mengejek. Kemudian berjalan ke pojok, membungkuk dan mengambil perangkap berisi tikus mati yang terjepit itu. "Bisa jadi snack buat temen nge-teh nih!"


"Jorok lu!" gerutu Magisna sembari membuang muka. Dasar idiot tak berperasaan, batinnya jengkel.


Perkataan Magisna membuat Hendra nyengir lebih lebar. Dia berjalan ke tempat cuci, membuka lemari di bawahnya dan membuang bangkai tikus itu ke dalam keranjang sampah.


Ketel mulai berbunyi. Magisna menyibakkan rambutnya ke belakang bahu dan beranjak, kemudian berjalan menghampiri kompor besar untuk membuat teh. Membawa ketel ke atas cangkir dan menuangkan air panas seraya mengintip ke dalam kegelapan di luar melalui kaca jendela. Hujan masih mengguyur deras. Langit malam tampak hitam di belakang pohon-pohon sementara angin terus menderu.


Kapan berakhirnya badai ini? pikir Magisna mulai cemas. "Kita gak bakal keluar dari sini," desisnya.


"Besok pagi juga kita udah bisa pulang, gosah kuatir. Gak ada apa-apa kok!" Hendra berusaha meyakinkan Magisna. Tapi raut wajahnya kelihatan tak seyakin kedengarannya.


Kadang Magisna berharap Hendra berhenti berlagak tegar dan membiarkan dirinya menghadapi kenyataan. Tapi lalu dia berpikir tidak ada gunanya juga mereka cuma duduk-duduk santai sambil menggigiti kuku tanpa berbuat apa-apa.


Hendra menjatuhkan dirinya di kursi di seberang meja, sementara Magisna mulai menyesap tehnya. "Maksud lu apa gak ada apa-apa kok?"


Hendra sudah hendak mengatakan sesuatu, tapi terganggu oleh bunyi keras lain. Kali ini betul-betul bukan suara tembakan senapan atau suara keras perangkap tikus. Suara itu berasal dari ruang duduk, dan kedengaran seperti atap yang roboh.


Hendra dan Magisna terlompat dari tempat duduk dan menyerbu masuk ke dalam ruang utama.


Senja sedang berdiri di tengah-tengah ruangan, dengan raut wajah tampak kuatir.


Ais dan Agustin berdiri di depan perapian, nyala api yang kemerahan menyebabkan muka mereka berkelip-kelip bercahaya.


"Apa itu tadi?" teriak Gabe dari lantai atas.


"Kedengarannya datang dari luar," sahut Senja seraya berjalan menuju pintu depan.


Gabe masih membeku mengamati keempat tamunya dengan alis bertautan.

__ADS_1


__ADS_2