
Pukul satu dini hari, anak laki-laki di seberang brankar Magisna membuka matanya dan mengedar pandang, lalu beranjak diam-diam, melucuti kabel EKG dan selang infusnya, kemudian merangkak turun dari brankarnya.
Magisna memperhatikan cowok itu dengan mata terpicing.
Cowok itu berjinjit, mengendap-endap menghampiri brankar Magisna.
Magisna serentak menghambur ke arah cowok itu dan merenggut bahunya. Tapi tangannya menembus tubuh cowok itu.
Arrrrrgh! Magisna menggeram dalam hatinya.
"Magisna!" Cowok itu berdesis seraya membungkuk di sisi tubuh Magisna yang masih tergolek di brankarnya belum sadarkan diri, mendekatkan mulutnya ke telinga Magisna.
Magisna memiringkan kepalanya, mengamati wajah cowok itu dengan seksama. Apa aku mengenalnya? Ia mencoba mengingat-ingat.
Cowok itu berwajah bulat dan berkulit putih. Matanya sedikit sipit.
Magisna menggeleng-geleng. Tidak, katanya dalam hati. Aku tidak kenal dia.
"Magisna! Kau masih di sini?" Cowok itu berbisik lagi. "Kalau kau masih di sini, dengarkan aku. Aku sudah tahu caranya memasuki tubuh yang tidak sadarkan diri," katanya.
Magisna memekik di samping cowok itu seraya membekap mulutnya. Menatap cowok itu dengan mata dan mulut membulat.
Senja!
"Tidurlah, Magisna!" Cowok itu memberitahu. "Tidurlah di atas tubuhmu. Kosongkan pikiranmu dan lupakan semuanya. Apa kau mengerti?"
Magisna mengerjap antusias. "Aku mengerti," katanya. Tapi tentu saja cowok itu tidak mendengarnya.
Magisna tersenyum lega dan segera naik ke tempat tidurnya, menindih tubuhnya yang langsung tembus begitu ia menyentuhnya.
"Sampai jumpa di sisi lain kehidupan kita!" Cowok itu menepuk pelan punggung tangan Magisna, menghela napas pendek dan kembali ke tempat tidurnya.
Butuh waktu cukup lama sebelum Magisna akhirnya terlelap dan terbangun oleh sentuhan lembut tangan seseorang.
Magisna membuka matanya dan mengerjap.
Seraut wajah pucat terperangah di atas kepala.
"Mama?" Magisna berdesis parau.
"Kamu udah sadar, Nak?" Ibu Magisna memekik gembira dan beranjak dari tempat duduknya, lalu berlari keluar ruangan sembari berteriak. "Dokter! Dokter!"
Berhasil!
Magisna menghela napas lega dan menarik duduk tubuhnya. Memeriksa brankar pasien di seberang brankarnya.
Brankar itu sudah kosong.
.
.
__ADS_1
.
Keesokan harinya…
Magisna sudah bisa pergi ke sekolah. Tapi dia belum diizinkan untuk mengendarai sepeda motor. Jadi ibunya mengantarkannya.
Wajahnya masih terlihat sedikit pucat. Ibunya sempat menyarankan untuk beristirahat sampai beberapa hari lagi. Tapi Magisna sudah tak sabar untuk mengetahui kabar tentang Hendra. Bahkan Alexza. Dia berharap kedua temannya segera ditemukan. Dia juga masih penasaran mengenai perubahan pada Novi, Dika dan kepala sekolah mereka. Isi kepalanya dipenuhi banyak teka-teki yang harus dipecahkan hingga ia merasa tak tahan jika harus menundanya lagi.
Magisna menyeka peluh dari keningnya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit. Termometer menunjukkan angka 95 derajat. Sialnya AC mobil ibunya rusak.
"Sudah sampai, Nak!" Ibunya memberitahu sembari menepuk-nepuk lembut punggung tangan Magisna.
Well---yeah, tentu. Sudah sampai, pikir Magisna. Ia menyelinap keluar dari mobil ibunya, dan menatap bangunan sekolah itu.
SMUN 1 Cileles. Benar-benar bobrok.
Bangunan sekolah itu bertingkat empat. Batu batanya yang berwarna merah dan telah menghitam oleh debu, sudah retak-retak dan nyaris hancur. Semua jendela di lantai dua ditutup tripleks. Atapnya sudah melengkung.
"Yah, lebih baik membiasakan diri dengan kondisi ini," kata Magisna pada dirinya sendiri. Kau akan berada di sini sampai pembongkaran selesai. Bisa jadi sampai sekolah direnovasi. Ia menambahkan dalam hati.
Seorang anak perempuan berambut pendek, bertubuh pendek, menatap Magisna dengan alis bertautan. Cewek itu mengenakan seragam SMU. Nama yang tertera pada bet seragamnya: Dini Apriyanti.
Dini melewati Magisna dan menghampiri seorang pria paruh baya di atas sepeda motor yang terparkir di dekat gerbang—ayahnya, kemudian naik ke boncengan. Mata cewek itu masih menatap Magisna sampai sepeda motor yang dikendarai ayahnya bergerak meninggalkan sekolah.
Dini adalah putri mandor perkebunan yang tinggal di samping sekolah Magisna—dekat rumah Ais.
Magisna melangkah memasuki gerbang, menyeberang halaman berumput dan sampai di teras. Dibukanya pintu yang berkarat dan masuk ke dalam. Koridor utamanya gelap. Magisna nyaris tak dapat melihat. Udaranya lembap dan baunya apak. Magisna mulai batuk. Ia minum dari pancuran air minum di dekatnya. Airnya hangat dan sedikit berwarna. Rasanya juga tidak enak.
Magisna melayangkan pandang ke sepanjang koridor. Tempat itu juga kosong. Tak ada anak-anak sekolah, tak ada guru.
Magisna berjalan dan menemukan sebuah pintu bertulisan KEPALA SEKOLAH. Ia mengguncang-guncangkan kenopnya. Terkunci.
Lalu Magisna memeriksa ruang-ruang kelasnya. Kosong. Selain suara decit sepatu karetnya, tempat itu benar-benar mati.
Apa yang terjadi? pikir Magisna. Apa aku salah hari? Atau salah sekolah?
Lalu sebuah suara memecah kesunyian, "Magisna!"
Magisna merasa kulitnya nyaris copot. Ia serentak berbalik dan berhadap-hadapan dengan cowok berkulit putih seperti Agustin, tapi tak setinggi Agustin. Cowok itu mengenakan seragam SMU dan memakai kacamata blue ray seperti yang biasa dikenakan Novi dan Dika belakangan ini. Nama yang tertera pada bet seragamnya KIDDO CALLAGHAN.
Aku tidak kenal dia, kata Magisna dalam hati.
Cowok itu meneliti Magisna dari atas sampai ke bawah, lalu kembali ke atas—ke wajahnya. "Apa aku sudah bilang kalau aku suka gadis hitam manis?"
Magisna sontak mengernyit dan membeliak sebal. "Ternyata Pak Senja," gumamnya setengah mengerang. Bocah tua nakal, ia menambahkan dalam hati.
"Hei—namaku Kiddo Callaghan sekarang," sergah Senja sembari menunjuk bet namanya.
"Jadi anak ini sekolah di sini?" tanya Magisna.
"Seperti yang kaulihat!" Senja mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.
__ADS_1
"Lalu di mana pemilik tubuh aslinya?" tanya Magisna lagi.
Senja hanya mengedikkan bahunya. "Sedang mengembara kurasa," jawabnya enteng.
Magisna kembali mendengus. "Kenapa Bapak pake kacamata?"
"Panggil saja aku Kiddo!" sergah Senja. "Orang-orang akan curiga kalau kau memanggilku begitu!"
"Well---yeah, seharusnya orang-orang udah curiga denger gaya bahasa lu yang baku!" sanggah Magisna.
"Ini di sekolah, apa yang salah dengan penggunaan bahasa baku?" Senja tidak mau kalah.
"Jadi…" Magisna mengangkat sebelah alisnya ke arah Senja. "Kenapa lu pake kacamata?"
Cowok itu mendesah pendek dan menurunkan kacamatanya. Lalu membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Magisna.
Magisna menarik wajahnya menjauh dan mengerutkan dahi.
"Lihat ini!" Senja menunjuk matanya.
Magisna melengak tak mengerti.
"Oh, ayolah! Kau pasti mengerti apa maksudku!" Senja mendesaknya.
Magisna memperhatikan kedua mata cowok itu dan terbelalak.
Iris mata cowok itu kuning pucat. Hampir seperti menyala dalam gelap.
Jadi itu alasan dia mengenakan kacamata?
Tiba-tiba Magisna teringat pada Novi dan Dika.
Apakah mereka juga…
Suara pintu yang berderak membuka menyentakkan Magisna.
Sepasang remaja menyeruak masuk ke dalam, keduanya mengenakan hoodie sweater gelap dan kacamata blue ray seperti Novi dan Dika. Tapi bukan mereka.
Magisna terkesiap.
Itu Hendra dan Alexza!
Mereka selamat, pikir Magisna takjub sekaligus curinga. Mereka terlihat sama seperti Novi dan Dika.
Hendra melingkarkan sebelah lengannya di seputar bahu Alexza ketika mereka berjalan ke arah Magisna.
Senja mengawasi keduanya dengan alis bertautan, dahinya terlihat berkerut-kerut seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu.
Magisna mencoba menerawang ke dalam kacamata Hendra ketika mereka mendekat.
Keduanya melirik Magisna dengan raut wajah datar, kemudian melirik ke arah Senja dengan mata terpicing, lalu melewati keduanya dan bersikap seolah-olah tak kenal Magisna.
__ADS_1
Magisna spontan merenggut lengan sweater Hendra.
Tapi Senja menangkap bahu Magisna dan menahannya. "Jangan dekati mereka!" desisnya di telinga Magisna.