Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 34


__ADS_3

"Jati?" desis Magisna tercekik.


Pria itu mengerutkan dahi. "Dari mana lu tau nama gua?"


"Gua—"


Pria itu menaikkan telunjuk ke bibirnya, meletakkan tangan di bahu Magisna dan mendorongnya ke dalam kamar, kemudian menutup pintu pelan-pelan.


Magisna memekik tertahan, sudah hampir berteriak. Tapi lagi-lagi pria itu menaikkan telunjuk ke bibirnya. "Ssst," desisnya. "Jangan takut! Gua gak bakal ngapa-ngapain lu."


Magisna tergagap dan memelototinya.


"Sekarang jawab, dari mana lu tau nama gua?" ulang Jati seraya membungkuk mengimbangi tinggi badan Magisna.


"Gua denger temen lu manggil waktu lu marah-marah," jelas Magisna berbisik-bisik.


"Marah-marah?" Jati mengerutkan dahinya lagi.


"Mobil lu ampir nabrak Jeep temen gua, inget?"


"Lu ada di dalem Jeep itu?"


Magisna mengangguk.


"Siapa nama lu?" tanya Jati tiba-tiba.


"Magisna!"


"Oke, Magisna! Sori. Gua gak ada maksud jahat sama lu atau temen-temen lu. Tapi gua saranin sebaiknya lu sama temen-temen lu buru-buru cabut dari sini."


"Kenapa?" Magisna bertanya dengan suara sedikit meninggi.


"Ssssst!" Sekali lagi Jati memberi isyarat pada Magisna untuk berbicara pelan. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Magisna. "Gabrielle sedikit bahaya," bisiknya.


"Maksudnya Gabe?"


"Ya!"


Magisna terkesiap seraya membekap mulutnya dengan kedua tangan dan terhuyung ke belakang.


Jati spontan menangkap bahunya dan menahannya. Lalu mendesah pendek dan membimbing Magisna ke tempat tidur. "Sori," katanya seraya berjongkok di depan Magisna yang duduk membungkuk di tepi tempat tidur. "Gua gak maksud nakutin lu. Sebetulnya belum ada bukti seberapa bahanya. Tapi diduga Gabrielle pernah bunuh orang beberapa tahun lalu. Udah lama banget, tapi kasusnya masih dalam penyelidikan."


"Kasus pembunuhan?" Magisna mendesis ngeri.


"Lu liat koleksi senapan di bawah, kan?" Jati bertanya seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Jadi itu bukan punya Senja?"


"Ya, itu dulunya punya Senja. Tunggu dulu—" Jati tiba-tiba menyela perkataannya sendiri. "Lu tau dari mana koleksi senapan itu punya Senja?" tanyanya sembari mengerutkan dahinya sekali lagi.


Magisna balas mengerutkan dahi. "Senja sendiri yang bilang," katanya ragu-ragu. "Kenapa?"

__ADS_1


"Senja yang bilang sendiri? Kapan?" Jati membelalakkan kedua matanya.


"Ta-tadi!"


"Tadi?"


"Maksud gua sore tadi!"


"Tunggu—" Jati tertegun dan menatap lekat kedua mata Magisna dengan alis bertautan. "Senja udah meninggal sepuluh tahun yang lalu," katanya.


"Hah?" Magisna terperangah. "Mustahil! Gua sama temen-temen gua ngobrol semaleman sama dia. Malah dia juga yang bukain pintu waktu kita baru sampe."


Jati menggeleng-geleng. "Gabrielle sendirian sejak awal," bantahnya. "Gua sama temen-temen gua udah di sini sebelum kalian."


"Gua gak liat lu sama temen-temen lu," desis Magisna.


"Gua sama temen-temen gua ada di basemen bareng Gabrielle."


"Bareng Gabrielle?" Magisna melengak tak mengerti. "Lu bilang dia sedikit bahaya!"


"Gua keponakan Senja. Tiap Sabtu gua sama temen-temen gua biasa ke sini. Gabrielle gak bakalan curiga sama kita-kita. Tapi lu sama temen-temen lu orang asing. Gabrielle biasanya paling benci kalo rahasianya diketahui orang asing."


Magisna tergagap-gagap, tak mampu berkata-kata.


"Koleksi senapan itu, rahasia terbesarnya." Jati menambahkan. "Kematian Senja masih menjadi misteri."


"Jadi kasus pembunuhan itu, kasus kematian Senja?" tanya Magisna.


"Sekolah kejuruan?"


"Van Til Hogeschool!"


Magisna menelan ludah.


"Banyak murid ilang di basemen sekolah," cerita Jati. "Rata-rata korban peserta kelas pelatihan khusus. Kelas pelatihan khusus itu sebetulnya semacam straf untuk murid bermasalah. Tapi pada hari Gabrielle di-straf, semua murid dalam kelas pelatihan khusus tiba-tiba ilang. Gabrielle sama salah satu murid laki-laki ditemukan satu minggu kemudian dalam keadaan luka parah. Tapi yang lainnya gak pernah ketemu. Diduga terjadi pembunuhan dalam kelas pelatihan khusus."


Magisna mengerjap dan menatap Jati. Tapi tak berani menyela.


"Setelah siuman, Gabrielle cerita kelas pelatihan khusus diserang macan kumbang. Senja naik pitam dan mulai berburu sampe ngorbanin sekolah. Sampe dia bangun pondok ini." Jati mengedikkan sebelah bahunya dan mengerling sekilas ke sekeliling ruangan. "Tapi dia tewas dengan luka tembak. Diduga pelaku penembakan adalah Gabrielle. Tapi karena gak ada bukti, Gabrielle dibebasin."


"…tapi seorang heckuva lebih sulit untuk melihat seorang pemburu."


Cerita Senja seketika terngiang di benak Magisna. Ia bergidik seraya memegangi tengkuknya. Heckuva itu bukan Michael Isaac, Magisna menyimpulkan. Tapi dirinya sendiri!


Lalu kenapa dia menyebutkan nama Michael Isaac?


Apa Pak Isa ada hubungannya dengan kasus ini?


Selintas Magisna teringat kejadian di doolhof.


"Saya masih ada urusan di sini," kata Pak Isa.

__ADS_1


Ini jelas berkaitan dengan Pak Isa, Magisna menyimpulkan.


"Apa hubungannya kematian Senja sama kasus pembunuhan di sekolah?" tanya Magisna.


"Salah satu murid laki-laki yang ditemukan bareng Gabrielle diinterogasi setelah siuman. Dia gak ngakuin adanya penyerangan macan kumbang. Dia bilang ada asap yang bikin semua orang pingsan. Dia berhasil keluar sebelum pingsan, tapi ada orang mukul kepalanya dari belakang. Dia gak tau siapa, dia cuma bilang kalau dia yakin si penyerang itu perempuan."


"Apa dia Gabrielle?" desis Magisna.


"Itu cuma dugaan gua," kata Jati seraya tersenyum tipis. "Makanya tiap Sabtu gua selalu ke sini mata-matain dia. Sebelum Senja tewas, dia ke sini tiap Sabtu buat nemenin Senja. Tapi setelah Senja tewas, dia ke sini tiap Sabtu cuma buat mengenang kepergian Senja, katanya. Dan gua pake alesan yang sama buat yakinin dia waktu dia mempertanyakan kenapa gua juga selalu datang ke sini setiap minggunya."


"Apa murid laki-laki yang ditemukan itu namanya Michael Isaac?" Magisna membungkuk dan berbisik dengan sangat hati-hati.


Jati memicingkan matanya. "Jadi lu udah tau ceritanya?"


Magisna menggeleng cepat-cepat. "Senja nyebutin namanya waktu dia ngedongeng tadi sore."


Jati mengerjap dan tercengang beberapa saat. Tampak tak yakin pada cerita Magisna. "Senja udah mati, Gisna!" ulangnya setengah merongos.


"Lu boleh tanya temen-temen gua kalo lu gak percaya," desis Magisna bersikeras. "Dari awal kita dateng, kita dibukain pintu sama Senja, ngobrol bareng, ngopi bareng, bahas soal senapan, dan sedikit cekcok. Dua temen gua malah ngangkat pohon tumbang bareng dia. Gua gak tau apa dia hantu Senja. Tapi dia sendiri yang bilang namanya Senja."


Jati kembali terdiam, menatap Magisna dengan alis bertautan.


Magisna hanya angkat bahu.


"Gabrielle bilang, kalian nerobos masuk!" gumam Jati seraya tertunduk dan mengerutkan dahi.


Magisna kembali bergidik. Ini memang betul-betul aneh, batinnya. Benarkah kami mengobrol dengan hantu sepanjang malam?


Jati dan Magisna terdiam dan saling menatap untuk waktu yang lama. Keduanya sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.


Tapi suara berderit di lantai papan menyentakkan keduanya.


Seseorang mendekat ke kamar Magisna.


Jati dan Magisna tergagap dengan mata dan mulut membulat.


Jati menoleh ke arah pintu dan bergeming.


Magisna menyimak dengan mata terpicing.


Langkah-langkah kaki tadi terdengar semakin dekat, lalu kembali menjauh dan mendekat lagi.


Seseorang sedang mondar-mandir di depan kamar Magisna.


Magisna menahan napas. Gawat, pikirnya. Siapa pun di luar sana akan memergokinya sedang berduaan dengan pria yang hampir tak dikenalnya.


Bagaimana ini?


Magisna menelan ludah dan melirik pada Jati dengan raut wajah waswas.


Jati balas menatapnya dengan raut wajah datar.

__ADS_1


__ADS_2