Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 61


__ADS_3

"Lari!" Kiddo berteriak pada Magisna sembari bergerak ke sana kemari, menangkis serangan di kiri-kanannya.


Magisna mengerjap dan menatapnya dengan raut wajah ragu, kemudian menatap tubuh Jingga dengan ekspresi bimbang.


Bagaimana ini? pikirnya. "Gua gak bisa ninggalin Jingga!" katanya parau.


Kiddo mengerang seraya memutar-mutar bola matanya. Tapi tak berlangsung lama. Keempat mutan itu menyerangnya secara serempak.


Kiddo membungkuk dengan kedua tangan bersilangan di belakang tengkuknya untuk melindungi kepalanya. Posisinya sudah terdesak sekarang.


Magisna gelagapan menyaksikan situasi itu. Ia berusaha berpikir keras seraya mengedar pandang untuk mencari sesuatu—apa saja yang dapat dijadikan senjata.


Tidak ada apa-apa.


Hanya ada tas Jingga di lantai, dan tasnya sendiri di punggungnya.


Lalu tanpa pikir panjang, Magisna menurunkan tas ranselnya dari punggungnya dan melayangkannya pada Hendra.


BUGH!


Tas itu mendarat telak di tengkuk Hendra, namun tak berpengaruh banyak.


Hendra menoleh pada Magisna dan mengincarnya sekarang. Cowok itu memutar tubuhnya, menarik diri dari kerumunan, kemudian melangkah pelan ke arah Magisna, sementara yang lainnya masih mengeroyok Kiddo.


Magisna mundur menjauh tanpa melepaskan pandangannya dari mata Hendra.


Cowok itu menatapnya dengan raut wajah datar. Kacamata blue ray masih bertengger di cuping hidungnya, menutupi kilatan mengerikan yang terpancar dari kedua matanya.


Magisna menelan ludah dengan susah payah ketika langkah Hendra sudah mencapai jarak satu langkah di depannya. Matanya terus mengawasi cowok itu dengan sikap waspada.


Cowok itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku sweater-nya dengan sikap santai, menatap Magisna dengan raut wajah mencemooh dan menyeringai. "Lihatlah dirimu yang menyedihkan," ejeknya, kemudian merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Magisna. "Aku suka anak pintar sepertimu," desisnya sembari tersenyum miring.


Magisna kembali menelan ludah, merapatkan punggungnya pada dinding kelas di deretan paling depan di koridor utama sekolah.


"Aku suka merusaknya!" Hendra menambahkan, lalu terkekeh seraya mengepalkan sebelah tangannya di depan mulutnya.


Seseorang tiba-tiba terkikik menanggapi perkataan Hendra.


Suara terkikik yang sama seperti yang didengar Magisna sewaktu di Doolhof.


Magisna mengerjap dan terperangah.


Hendra mengerutkan keningnya dan menoleh ke belakang, lalu tertunduk. Seorang gadis kecil bergaun putih kumal dengan kulit wajah pucat bersemu abu-abu mendongak menatapnya sembari menyeringai.


Magisna memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan sebelah tangan.


Itu adalah gadis kecil yang sama yang menyergap pinggangnya ketika ia tenggelam di kolam.


Dia hantu rumah Van Til, pikir Magisna. Kenapa dia ada di sini?


Sebelah tangan gadis itu tersembunyi di belakang punggungnya.


Magisna mengawasi tangan itu dengan tatapan gelisah. Apa yang dia sembunyikan di balik punggungnya? tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Gadis kecil itu kembali terkikik, suaranya terdengar ringan dan tipis seperti gema lonceng yang berdentang dari kejauhan, datang dari berbagai arah dan berpindah-pindah.


Hendra melangkah mundur dengan raut wajah gusar, kemudian mengedar pandang dengan alis bertautan.


Suara-suara tawa gadis kecil itu terdengar semakin ramai.


Kemudian menarik perhatian yang lainnya.


Novi, Dika dan Alexza setentak menoleh dengan mata terpicing, dan secara serempak ketiganya meluruskan tubuhnya yang semula merunduk mengungkung Kiddo.


Kiddo juga memicingkan matanya, menatap ke arah Magisna dengan ekspresi bertanya.


Magisna menggeletar lemas seraya berpegangan pada bendul jendela. Buku-buku jarinya sampai memutih akibat cengkeramannya yang terlalu keras.


Gadis kecil itu tiba-tiba menarik tangannya yang tersembunyi.


Magisna menjerit seraya menjatuhkan dirinya ke lantai ketika gadis kecil itu mengayunkan sebilah pisau ke arah Hendra.


Refleks ketiga teman Hendra menyergap gadis kecil itu secara bersamaan.


Tapi tiba-tiba ketiganya terpelanting. Seorang gadis berambut pendek berseragam SMU menyerang mereka dari belakang.


Suzy! Magisna terkesiap.


Gadis itu menatap Magisna dengan raut wajah datar. "Pergilah, Eka!" perintahnya. "Selamatkan dirimu dan juga temanmu."


"Tapi—tapi…" Magisna menjawab terbata-bata.


Tapi bagaimana caranya membawa Jingga pergi dari sini? pikir Magisna. Ia melirik tubuh Jingga yang menelungkup di lantai tanpa tanda-tanda kehidupan.


Apa dia masih hidup? Magisna membatin getir.


"LARI!!!" teriak Suzy sembari menerjang ke arah Dika yang sedang menerkam dengan loncatan mirip harimau.


Magisna terperanjat dan melompat dari lantai, kemudian memunguti barang-barang Jingga dengan buru-buru dan menjejalkan semuanya ke dalam tas. Lalu menghambur ke arah tasnya sendiri yang tergeletak agak jauh dari tempatnya dan menyambarnya. Ia menyampirkan kedua tas itu pada bahunya, kemudian mencelat ke arah Jingga, membalik tubuhnya, menyelipkan kedua tangannya di ketiak gadis yang tak sadarkan diri itu, menggamit kedua lengannya dan menyeretnya menjauh dari pertempuran.


Tubuh Jingga terasa berat di tangannya, seperti tumpukan karung semen basah. Aku takkan berhasil, pikir Magisna putus asa.


Tapi Kiddo kemudian menerjang ke arah Jingga dan secara otomatis tubuh gadis itu terhenyak dan terbatuk-batuk.


Magisna terkesiap.


Kiddo merasukinya lagi.


"Cabut!" ajak Kiddo—masih terbatuk-batuk. Ia menarik bangkit tubuh Jingga dengan susah payah sembari mengernyit dan memegangi perutnya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya merenggut pergelangan tangan Magisna dan menyeretnya ke arah pintu.


Magisna melirik sekilas ke belakang.


Gadis kecil bergaun putih kumal itu sudah bertengger di pundak Hendra sembari cekikikan, mengalungkan pisaunya di leher cowok itu dan… menggoroknya.


Magisna menjerit dan jatuh terduduk.


Gadis kecil itu meliriknya sembari menyeringai.

__ADS_1


Tak lama kemudian tubuh Hendra ambruk dan jatuh tertelungkup. Kabut merah memancar keluar dari sayatan lukanya, merubung gelisah di atas kepalanya seperti kawanan lebah yang terusik dari sarangnya.


Gadis kecil itu makin cekikikan sembari melompat-lompat melangkahi tubuh Hendra seperti bermain engklek---permainan lompat tradisional yang dilakukan di atas bidang datar yang telah digambari kotak-kotak.


Kiddo menyentakkan tangan Magisna, menarik paksa gadis itu untuk berdiri.


Magisna menyeret kakinya sekuat tenaga, berlari terseok-seok sembari tersengak-sengak. Menangis tertahan dengan napas yang tersengal-sengal.


Perhatian gadis itu tak mau beralih dari sosok Hendra yang sudah tidak bergerak.


Apa dia mati? Magisna bertanya-tanya dalam hatinya. Aku tak percaya aku melihat semua ini, batinnya getir. Perasaanya seperti disayat-sayat oleh benda tajam yang tak terlihat.


Haruskah hantu itu membunuhnya? Apa tidak ada cara lain selain membunuh mereka?


Oh, tidak! Magisna memekik sekali lagi di dalam hatinya.


Gadis kecil itu sekarang bertengger di pundak Alexza.


"Lexza!" Magisna menyentakkan tangannya dari cengkeraman Kiddo.


Kiddo mengetatkan cengkeramannya. "Mereka bukan temen-temen lu!" hardiknya tak sabar.


"Tapi—" Magisna mencoba berkilah.


Tapi Kiddo menariknya lebih kuat lagi. "Temen lu udah sekarat," ia mengingatkan.


Magisna menoleh pada Kiddo.


Kiddo menarik ujung seragam putihnya, memperlihatkan luka cakaran di perut Jingga.


Magisna terperangah seraya membekap mulutnya.


Kiddo memalingkan wajahnya ke samping, mengerjap sekilas dengan raut wajah risih. Lalu menurunkan seragamnya. Terlihat tak nyaman begitu menyadari ia baru saja melihat bagian sensitif tubuh perempuan.


Magisna menelan ludah dan memaksa dirinya bergerak.


Kiddo mengikutinya dengan langkah lebih berat. Tubuh Jingga semakin melemah. Tidak lama lagi ia takkan mampu mempertahankan kesadarannya. Gadis ini sudah kehilangan banyak darah, pikirnya. "Kita harus bawa dia ke rumah sakit," kata Kiddo seraya terengah-engah.


Magisna menoleh padanya dengan raut wajah cemas. Lalu buru-buru mengambil sepeda motornya.


Sesaat Kiddo terlihat ragu ketika Magisna menggelindingkan sepeda motor itu ke arahnya dan berhenti di sampingnya.


Magisna menoleh seraya mengerutkan keningnya.


Kiddo menunduk menatap rok Jingga dan tergagap ke arah Magisna.


Magisna mengerti cowok itu merasa tak nyaman dengan tubuh perempuan. Tapi mau bagaimana lagi? pikirnya. Lalu ia menghela napas berat dan menatap Kiddo dengan isyarat memohon.


Kiddo akhirnya menyerah dan melangkah naik ke boncengan dengan gaya duduk laki-laki, berpegangan pada bahu Magisna dengan ragu-ragu.


Magisna mengerang dan menggeleng-geleng. Kemudian melingkarkan kedua tangan Jingga di pinggangnya.


Kiddo menelan ludah dan tergagap dengan sikap gugup. Ia tak pernah sedekat itu dengan anak perempuan.

__ADS_1


__ADS_2