
"Pilihan hebat, Hendra," Novi mengomel. Ia merenggut sweater-nya ke atas untuk menutupi hidungnya.
"Kalo lu mau celentang rata di tumpukan sampah itu, gak pa-pa, ngomel aja terus," kata Hendra geram.
Magisna tidak menggubris mereka. Ia tak bisa berhenti memandang ke arah dinding-dinding di situ terbuat dari batu bara abu-abu yang sama. Tapi dinding ini dipenuhi dengan tulisan grafiti yang telah memudar karena termakan oleh waktu. Cat merah, biru, kuning, hijau, hitam. Dinding itu hampir mempunyai daya hipnotis, dua kata yang sama, lagi dan lagi, dari lantai ke langit-langit.
LATEN FEESTEN---MARI BERPESTA!
"Liar," bisik Hendra.
"Menjijikkan," balas Magisna, sembari gemetaran. Sepertinya ada orang gila yang menuliskan kata-kata itu, pikirnya. Mengulang-ulang hal yang sama. Mungkin sedang belajar bahasa Belanda. Kurasa tulisan ini tidak betul-betul berasal dari zaman Belanda. Cuma kerjaan orang gila---orang yang tergila-gila pada bahasa Belanda.
"Kenapa ada orang gila yang mau gelar pesta di tempat sampah?" tanya Novi.
"Kalo lu nanya gua, terus gua nanya sampah?" balas Magisna.
"Coba pikir," Hendra menyela. "Gak ada orang yang bakal gangguin lu, gak ada keluhan kegaduhan dari tetangga-tetangga lu, gak ada polisi, bahkan hansip. Seratus persen pribadi."
"Iya, kalo lu bertahan idup," timpal Magisna.
Komentar itu menghasilkan keheningan.
"Udah ah, kita cabut aja yuk dari sini!" Alexza mulai mengeluh. "Tempat ini bikin gue merigrig,"
"Yap," Hendra setuju. "Kita harus jalan terus."
Mereka menemukan terowongan lain di dinding seberang dan melanjutkan perjalanan. Bau busuk ruang sampah itu mengiringi mereka, menggantung di pakaian mereka seperti uap.
Magisna bernapas lewat mulutnya untuk menahan rasa mual. Pergelangan kakinya sakit lagi, dan dengan berjalan pincang ia jadi lebih cepat capek.
Ia terheran-heran mereka tak menemukan jalan keluar dari labirin. Tangga di bawah ruang pupuk itu tak mungkin satu-satunya jalan masuk.
Pasti ada jalan keluar lain.
Ia membayangkan mereka muncul lewat lubang got di tempat lain---barangkali di tengah-tengah perkebunan. Para penduduk perkebunan mungkin akan gencar menemukan empat orang terhuyung keluar dari bawah tanah, berlumuran kotoran, lumpur dan bahkan darah.
Ia tak peduli. Ia bahkan tak peduli kalau mereka muncul di tengah-tengah ruangan Pak Isa, selama mereka tetap hidup.
"Pelan-pelan," bisik Hendra.
Magisna memandang sekelilingnya. Mereka menemukan ruangan lagi. Lebih besar daripada yang lain-lainnya dengan langit-langit rendah. Di sekeliling mereka terdapat tumpukan perkakas rusak.
Bau busuk kembali menyerang hidung Magisna. Bau busuk... seperti bangkai.
Aku tahu bau ini, pikirnya, rasa takut memompa sekujur tubuhnya. Ia pernah mencium bau ini setelah dinding batu bata meledak di wajah mereka. Tepat sebelum Dika...
Ia mendengar Hendra terkesiap.
Lalu ia melihatnya juga.
Kabut merah!
Magisna mengawasi dalam ketakutan ketika kabut itu bersatu di sudut yang jauh, seakan-akan merasakan kedatangan mereka. Bau busuk semakin kuat. Magisna merasakan bulu kuduknya meremang sewaktu bunyi napas tak ramah mencapai telinganya.
"Oh, jangan," bisiknya.
__ADS_1
Kabut merah itu maju, mendekat ke arah mereka.
"Lari!" Hendra berteriak.
Mereka berlari kalap masuk terowongan yang membelok ke kanan. Magisna berteriak dan memegangi pergelangan kakinya, nyaris jatuh.
"Ayo!" Hendra berteriak. Ia menyambar lengan Magisna dan menyeretnya.
"Oke, gue coba," teriak Magisna. Rasa sakitnya tak tertahankan. Tapi ia mendorong dirinya tetap maju, memaksa dirinya tidak berjalan pincang dan berlari saja.
"Di mana kabutnya? Apa udah di belakang kita?" Novi berteriak melalui bahunya.
"Gua gak mau liat!" Hendra berteriak balik.
Magisna memandang tepat ke depan ketika ia berlari.
Ia belok ke kanan.
Ia belok ke kiri.
Grafiti terlintas kabur dalam pandangannya, dinding blok batu bara seperti tak ada habisnya. Obor mereka berkibar-kibar dalam udara pengap. Tapi mereka tidak berhenti berlari.
Magisna melenguh, mencoba menarik udara ke dalam paru-parunya. Tapi itu terasa tidak mungkin.
Urat kakinya seolah terbakar, lututnya goyah.
Ia merasakan larinya mulai melamban.
"Gua gak kuat lagi," ia mengerang. "Ndra..."
"Tapi, Ndra..."
Matanya berkunang-kunang. Kakinya kebas dan goyah.
Kemudian ia roboh ke tanah. Kaleng timah menusuk pinggangnya. Selembar kertas busuk dan basah menempel di pipinya.
"Ayo, Gisna!" desak Hendra. "Jalan!"
"Udah tinggalin aja dia!" teriak Alexza.
"Diem lu!" hardik Hendra ketus.
"Kabutnya udah deket!" Novi memekik.
Hendra menyambar lengan Magisna dan mendorongnya. Magisna memaksa dirinya bergerak dan berlari. Pergelangan kaki kirinya mati rasa sampai ia bertanya-tanya dalam hati apakah kakinya masih di tempatnya. Lututnya goyah pada setiap langkahnya.
Maju terus, ia memerintahkan dirinya. Aku harus terus maju.
Terowongan membuka ke atas di sekitar mereka, dan mereka melompat ke suatu ruangan besar. Gang-gang lainnya menuju ke dalam kegelapan. Tapi Magisna tidak mempedulikan mereka. Yang ia pedulikan hanya dua kata di dinding dalam cat merah darah:
LATEN FEESTEN
Ini ruangan di bawah gudang pupuk! Mereka akhirnya menemukannya!
"Tangganya!" seru Magisna penuh kemenangan.
__ADS_1
Kami kembali! Kami selamat! Magisna bersorak di dalam hatinya.
"Allright!" Novi berjingkrak.
"Yes!" Mo mengacungkan tinjunya ke udara.
"Kita berhasil!" seru Alexza menirukan karakter dari sebuah film kartun. "Berhasil! Berhasil! Berhasil!"
Mereka berlari ke tangga, melemparkan obor mereka ke samping.
Magisna meraih anak tangga karatan itu---hampir dapat merasakan logam berpasir di bawah ujung jarinya.
Alexza mendorongnya ke samping.
Magisna jatuh ke lantai beton sehingga jeans-nya robek dan lutut kanannya luka.
"Apa-apaan sih lu, Lexza?" Magisna berteriak marah, tapi Alexza sudah memanjat naik.
Magisna sempat memandang sepintas melalui bahunya. Jantungnya mendadak serasa terhenti.
Sulur-sulur pertama dari kabut merah mengalir dari terowongan!
"Naek!" perintah Hendra.
"Lu aja yang naek," desak Magisna. "Kalo gua gak bisa naek, cuma elu satu-satunya yang kuat narik gua ke atas."
Hendra melemparkan tubuhnya ke atas tangga setelah Alexza.
Ruangan itu sudah dipenuhi kabut merah. Kabut itu sekarang meluncur ke arah mereka, menggelegak dengan daya hidup yang jahat.
"Jalan!" Novi mendesah. Keringat mengaliri wajahnya. "Buruan!"
Magisna memanjat secepat yang ia bisa, tapi ia begitu lambat!
Satu tangga, dua, tiga. Satu kaki di atas kaki lainnya. Keringat meresap ke dalam luka baru di lututnya, menyengat seperti asam. Pergelangan kakinya berdenyut-denyut.
"Tolong!" ia mendengar Alexza menjerit. "Tolong kami!"
Tangga itu berkeriut, membuat napas Magisna tersengal. Jangan... jangan sekarang, pikirnya.
Tangga itu bergeser.
"Tolong!"
Dalam cahaya suram, ia bisa melihat salah satu dari penahanan tangga itu keluar dari dinding.
Tolong jangan roboh, ia berdoa dalam hati. Jangan sekarang!
Di atasnya, sepatu bot Hendra menapak pada logam, meneteskan serpihan-serpihan karat ke wajahnya.
Mereka akan berhasil. Harus.
Magisna mendengar jeritan di bawahnya.
Ia memandang ke bawah dan mendapati kabut merah itu mengelilingi Novi. Pertama-tama kabut itu membelit kaki Novi. Matanya membelalak lebar, menatap mata Magisna. Wajahnya panik luar biasa.
__ADS_1