
"Kau mengenal mereka?"
Pertanyaan Agustin membuat Magisna tergagap.
Agustin memicingkan matanya, menautkan alisnya dan menatap Magisna. Menunggu gadis itu menjawab pertanyaannya.
Tapi Magisna tak langsung menjawab, "Lu kenal anak cowok bernama Kiddo?" Magisna balas bertanya.
Agustin mendesah pendek dan mengedar pandang ke sekeliling ruangan. Mencari sosok yang dimaksud Magisna.
Beberapa anak berdeham menggoda mereka. Sebagian bersiul-siul dan cengengesan.
Anak itu mungkin sudah pulang, pikir Agustin. Lalu kembali menatap Magisna. "Kau belum menjawab pertanyaanku," bisiknya sembari membungkuk.
"Gua akan jawab pertanyaan lu setelah lu jawab pertanyaan gua," kata Magisna.
"Ya, tentu saja aku mengenalnya. Dia teman sebangkuku!" Agustin menjawab tak sabar. "Sekarang katakan, siapa mereka?! Kau tak datang sewaktu kita semua dimintai keterangan di kantor polisi."
Magisna mendesah kasar. "Hari itu gua sebenernya kecelakaan," cerita Magisna.
Agustin menatapnya dengan dahi berkerut-kerut.
"Pada hari kita nyari Alexza dan Hendra menghilang… gua pulang sendirian dan diserang—"
Agustin terlihat prihatin. "Ais tidak mengantarmu?"
Magisna menggeleng. "Gua yang maksa pen pulang sendiri," jelasnya. "Orang yang nyerang gua pake hoodie sama kacamata…"
Agustin terhenyak.
Magisna mencondongkan tubuhnya ke arah Agustin dan berbisik, "Menurut lu, apa ada yang aneh sama tingkah laku Kiddo?"
Agustin menautkan alisnya. "Kau tak berpikir Kiddo yang mencelakaimu, kan? Asal kau tahu, Kiddo masih berada di rumah sakit pada hari Hendra menghilang!"
"Gua tau kok," sela Magisna. "Maksud gua… setelah dia keluar dari rumah sakit, apa ada hal yang aneh terkait kebiasaan dan tingkah lakunya?"
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Agustin mendadak bersikap waspada.
"Udah sih jawab aja!" Magisna mengerang tak sabar. "Ini erat kaitannya sama orang-orang yang pada pake kacamata blue ray belakangan ini!"
"Kacamata?" Agustin tergagap. "Benar," katanya setengah memekik, seperti baru mengingat sesuatu. "Kiddo memakai kacamata sejak keluar dari rumah sakit."
"Kiddo sebenernya belum siuman," bisik Magisna dramatis.
"Apa maksudmu?" Agustin balas berbisik.
"Senja merasuki tubuhnya!"
"Hah?" Agustin terperangah dan spontan menoleh ke arah pintu dengan tatapan gelisah, seolah-olah khawatir Kiddo akan muncul dan memergoki mereka sedang membicarakannya.
Magisna menepuk punggung tangannya.
Agustin mengalihkan perhatiannya kembali pada Magisna. "Kau tidak bercanda, kan?"
"Gua serius," Magisna melotot tak sabar. "Waktu gua kecelakaan… gua juga koma."
__ADS_1
Agustin mengerjap dan tertegun. Seperti tak sanggup mencerna cerita Magisna.
"Gua satu ruangan sama Kiddo," lanjut Magisna. "Dia masih koma waktu itu, dan Senja tiba-tiba muncul entah dari mana—"
"Lalu apa hubungannya dengan orang-orang yang menyekap kami dan menyerangmu?" Agustin menyela tak sabar.
"Mereka semua pake kacamata," sergah Magisna.
Agustin mengerutkan keningnya lagi. Kelihatan bingung dan berpikir keras.
"Mereka semua pake kacamata buat nutupin perubahan warna mata mereka," jelas Magisna.
"Warna mata?" Agustin tiba-tiba seperti teringat pada sesuatu. "Aku mengerti," katanya setengah menggumam.
"Lu pernah liat mata Kiddo?" Magisna bertanya antusias.
Agustin menggeleng. "Bukan Kiddo," jawabnya. "Aku pernah bertemu seseorang dengan mata yang berbeda."
Magisna terkesiap.
"Entah ada hubungannya atau tidak, tapi…" Agustin terlihat cemas.
Berbicara kepada Agustin memang keputusan paling tepat, pikir Magisna. Dia menanggapi serius masalahku.
"Kita dalam masalah besar, Magisna!" Agustin menandaskan.
"A---a—apa maksudnya masalah besar?" Magisna gelagapan.
Agustin terdiam. Ia kembali mengedar pandang dan mendesah. "Kita harus menemui Papa Tibi," katanya seraya menarik bangkit tubuhnya dan membungkuk. "Nanti sore aku akan menjemputmu!"
"Ng---nggak! Gak usah!" Magisna merenggut lengan Agustin dan menahannya. "Gua bawa motor, kok. Tapi bisa nggak lu jelasin dulu soal masalah besar tadi?"
"Oke," Magisna akhirnya menyerah dan melepaskan Agustin. "Pulang sekolah nanti, gua langsung ke tempat Ais. Lu tunggu di sana aja!"
Kesepakatan pun diambil.
Magisna dan Agustin beranjak meninggalkan kantin dan berpisah di parkiran.
.
.
.
Waktu hampir magrib ketika jam pelajaran terakhir selesai. Magisna berusaha menghubungi orang tuanya melalui telepon sekolah, disambut ocehan ibunya yang overprotektif.
Magisna tak mau menunggu sampai ibunya mengerti. Ia menutup panggilan setelah ia mengatakan bagian pentingnya. Yang penting aku sudah bilang, katanya dalam hati. Lalu buru-buru pergi menuju parkiran yang ternyata sudah sangat sepi, sementara suasana sudah mulai gelap.
Sepeda motor Hendra dan mobil Pak Isa sudah tak di sana ketika Magisna mengambil sepeda motornya.
Mereka pasti sudah pulang dari tadi, pikir Magisna.
Hanya tinggal dua kendaraan yang masih terparkir. Satu mobil dan satu sepeda motor. Tapi tidak ada orang lain di sekitar Magisna.
Magisna mengenakan sweater-nya dengan buru-buru dan menstarter sepeda motornya tanpa menoleh ke sana kemari.
__ADS_1
Ketika ia memundurkan sepeda motornya, seseorang tiba-tiba merenggut lengan sweater-nya.
Magisna tersentak dan terkesiap.
Seraut wajah pucat menyambutnya dengan senyum aneh.
Magisna setentak bergidik.
"Boleh menumpang?" Pertanyaan itu menyadarkan Magisna.
Ternyata anak perempuan berambut pendek berseragam SMU yang pernah tinggal dalam kelas sekolah kejuruan.
"Aku terlambat dijemput lagi," kata anak itu seraya tertunduk.
Lagi? Magisna terenyuh. Jadi kemarin juga dia menunggu jemputan?
"Lu pulang ke mana?" Magisna bertanya seraya mematikan mesin.
"Rumahku tak jauh dari sekolahan kalian," jawab anak itu.
"Maksudnya Van Til Hogeschool?"
"Ya, kalian pindahan dari sana kan?"
Magisna mendesah pendek. "Sebenernya kita gak searah," katanya. "Tapi kebetulan hari ini gua mau ke sana."
Gadis itu berlanting dan bertepuk tangan. "Yess!" serunya gembira. Lalu melompat ke boncengan.
Magisna menyalakan mesin lagi dan menggelindingkan sepeda motornya dalam kecepatan pelan. Berusaha tetap waspada setelah kecelakaan kemarin. Paling tidak kali ini aku tidak sendirian, pikirnya.
"Hei—apa kau percaya pada ramalan dan semacamnya?" Anak perempuan berambut pendek itu mulai mengoceh di belakangnya.
Magisna terkekeh menanggapinya. Entahlah, katanya dalam hati. Setelah serangkaian peristiwa aneh yang dialaminya, ia merasa tak yakin bisa mengabaikan hal aneh lainnya. "Lu bisa ngeramal?" tanyanya seraya menoleh sekilas, melirik gadis di belakangnya melalui sudut matanya.
"Tidak juga," jawab gadis itu. "Maksudku, entahlah… tapi aku bisa melihat hal lain yang tak bisa dilihat manusia normal."
"Maksudnya hantu dan sejenisnya?"
"Mungkin!" Gadis itu mengangkat bahunya.
"Kek apa contohnya?" Magisna mulai penasaran.
"Kau pernah dengar mitos tentang seseorang yang punya mata ketiga setelah mereka mati suri?"
Jantung Magisna mendadak seperti dihantam oleh palu godam. Apa yang terjadi? katanya dalam hati. Kenapa jantungku bereaksi aneh?
Sepeda motornya mendadak tersentak.
Anak perempuan di belakangnya serentak memekik.
"Sori," kata Magisna.
"Kau tak suka ceritanya?" Anak perempuan itu terdengar menyesal.
"Gak pa-pa," sergah Magisna. "Lanjutin aja!" Ia sebenarnya penasaran untuk mendengar kelanjutannya. Tapi entah kenapa jantungnya berdebar-debar. Apa aku takut mendengar cerita ini? Tapi Magisna merasa yakin bahwa kali ini ia tidak sedang ketakutan.
__ADS_1
Tidak untuk cerita semacam ini!
Aku pernah mengalami hal yang lebih mengerikan, katanya dalam hati.