Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 49


__ADS_3

Magisna menelan ludah dan membeku di tempatnya.


"Tiba-tiba aku ingat tujuanku merasuki anak ini," kata Senja. Magisna menoleh padanya. Cowok itu melepaskan cengkeramannya dari bahu Magisna. "Aku harus pulang," katanya kemudian.


"Tunggu—" Magisna menahannya.


"Kita masih punya banyak waktu untuk membicarakan ini, Magisna!" sergah Senja. "Kau sudah harus masuk kelas!"


Benar, Magisna menyadari. Lalu melepaskan Senja.


Senja melambaikan tangannya sepintas, kemudian buru-buru pergi.


Magisna menatapnya sampai cowok itu menghilang di pintu. Lalu berbalik dan bergegas mengikuti Hendra dan Alexza yang sudah berada jauh di depannya. Tak lama kemudian keduanya menghilang ke dalam kelas yang terletak di ujung koridor.


Magisna mendesah kecewa dan memelankan langkahnya, lalu mengedar pandang. Meneliti semua kelas yang dilewatinya satu per satu. Kelas-kelas itu dipenuhi anak-anak sekolah kejuruan. Tapi bukan teman-teman sekelasnya.


Di mana kelasku? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.


Suara langkah kaki berdetak di belakang Magisna.


Magisna menoleh ke belakang dan mendapati Miss Pinkan sedang berjalan ke arahnya.


"Eka!"


"Miss—"


"Kamu sudah sehat?" Miss Pinkan menyela.


"Ya," jawab Magisna.


"Baguslah! Ayo ikut saya," kata Miss Pinkan. "Kamu belum tahu di mana kelasmu, kan?"


Magisna mengangguk, kemudian mengekor di belakang Bu Guru tanpa berbicara lagi.


Miss Pinkan berhenti di depan pintu salah satu kelas dan membukanya. Seketika seisi kelas mendadak hening.


"Bangku ketiga, Eka!" Miss Pinkan menunjuk deretan bangku paling depan seraya melangkah ke dalam menuju bangkunya sendiri. "Dan cepatlah!"


Magisna membeku di depan pintu, menatap bangku yang ditunjuk oleh Miss Pinkan. Seorang anak perempuan berambut pendek berseragam SMU menduduki bangkunya.


"Apa yang kamu tunggu?" Miss Pinkan menegurnya. "Cepat duduk!"


"Tapi—" Magisna tergagap. Bangkunya sudah penuh, pikir Magisna.


Miss Pinkan melotot tak sabar.


Magisna melayangkan pandang ke deretan bangku belakang dan menatap Dika.


Dika duduk bersandar di bangku paling belakang, diam membeku dengan raut wajah datar, menatap lurus ke bangku guru. Dia tidak melepaskan hoodie sweater-nya bahkan di hari yang panas, katanya dalam hati. Dan… kacamatanya…


Magisna tiba-tiba bergidik membayangkan warna mata Dika juga kuning pucat yang mungkin menyala dalam gelap.

__ADS_1


Magisna sebetulnya sedang tidak ingin dekat-dekat dengan Dika. Tapi satu-satunya bangku kosong yang tersisa hanya tinggal bangku di sampingnya.


Magisna bergegas ke belakang dan mengambil tempat duduk di samping Dika.


Dika meliriknya dengan ekspresi sinis, kemudian beringsut perlahan menjauhinya dan menjaga jarak.


Magisna menelan ludah dan berpura-pura tidak melihatnya. Ia mengeluarkan buku dari dalam tasnya dan berdeham. Meluruskan pandangan ke depan dan berkonsentrasi mendengarkan Miss Pinkan.


Sesaat Magisna melirik ke arah anak perempuan berambut pendek berseragam SMU yang duduk di bangku ketiga di deretan bangku paling depan.


Kenapa bisa ada anak SMU di kelas sekolah kejuruan? pikirnya.


Pada saat jam istirahat, anak perempuan SMU itu bahkan tidak beranjak dari bangkunya. Ia tetap tinggal dalam kelas sementara semua orang pergi ke kantin atau sekedar bermain di teras dan pekarangan.


Dika menumpuk buku-bukunya di atas meja, kemudian menjejalkan semuanya ke dalam tas dengan kasar, lalu beranjak dari bangkunya dengan tampang cemberut.


Magisna memperhatikannya berjalan keluar dengan buru-buru, lalu bergabung bersama Novi di depan pintu kelas dan bergegas entah ke mana, sebelah tangannya melingkar di bahu Novi.


Seisi kelas serentak berbisik-bisik mempergunjingkan mereka.


Si pengacau berpacaran dengan murid teladan?


Kurang-lebih seperti itulah pandangan teman-teman sekelas Dika.


Siapa yang tidak tahu prestasi Novi Artikasari?


"Kok mau-maunya sih pacaran sama si pengacau?" Beberapa gadis berbisik sinis.


Gadis-gadis itu serentak terdiam dan melirik Magisna.


Magisna melanjutkan langkahnya keluar kelas dan mendapati pasangan itu telah bergabung dengan Hendra dan Alexza.


Sebersit perasaan perih menyelinap dalam hati Magisna.


Rombongan itu meliriknya sekilas dengan ekspresi mencela.


Apa salahku pada mereka? Magisna tak habis pikir, terutama pada sikap Hendra. Beberapa hari yang lalu kebersamaan mereka seolah membuahkan kedekatan yang sedikit istimewa. Magisna bahkan masih ingat bagaimana Hendra begitu emosi ketika Senja dan Jati memberikan perhatian pada Magisna.


Dia bahkan tidak terlalu peduli bahwa dia baru saja kehilangan Alexza, pikir Magisna.


Sekarang Alexza sudah ditemukan. Magisna tahu seharusnya dia merasa senang. Lagi pula sejak awal Hendra memang dekat dengan Alexza. Tapi sikap mereka yang seolah mengatakan "kau bukan gerombolan kami", benar-benar melukai hati Magisna. Bagaimanapun mereka pernah dekat meski hanya beberapa saat.


Apa mereka semua membenciku karena aku tidak berusaha menolong mereka? Magisna bertanya-tanya dalam hatinya.


Memangnya aku bisa apa?


Ketika mereka terjebak di Doolhof, semua orang mementingkan dirinya.


Kalau aku yang berada di posisi mereka, apakah mereka akan peduli?


Magisna melewati gerombolan itu dan berpura-pura tidak melihat mereka.

__ADS_1


"Ayo pergi!" Hendra tiba-tiba mendengus seraya mendelik pada Magisna. "Di sini baunya seperti katak mati dan… tikus got."


"Aku malah mencium bau ular tedung," timpal Alexza.


"Shut up!" sergah Hendra sembari terkekeh. "Itu membuatku… agak lapar!"


Magisna menelan ludah dan menyimak pembicaraan mereka dengan perasaan tak nyaman. Tapi tak berani menoleh. Apa yang terjadi? pikirnya. Kenapa gaya bicara mereka tidak seperti biasanya?


Lalu tiba-tiba ia teringat pada Kiddo Callaghan. Anak SMU yang dirasuki Senja.


Diam-diam Magisna melirik rombongan itu dan memperhatikan kacamata mereka. Apakah warna mata mereka berubah seperti Kiddo?


Selepas jam istirahat, Magisna kembali ke kelas dan mendapati anak perempuan berseragam SMU itu sudah tidak berada di kelas. Bangkunya sekarang ditempati Dika.


Magisna melirik Dika sekilas dan anak itu balas meliriknya dengan ekspresi ketus.


"Lihat apa, Ular Tedung?" Dika mendengus setengah mencebik.


Seisi kelas serentak menoleh pada mereka.


Magisna mengedar pandang dengan sikap risih dan kembali menatap Dika. Jadi sejak tadi mereka memang menyindirku? Magisna membatin getir. Mereka mengataiku ular tedung? Apa maksudnya ular tedung?


Dika kembali mendengus dan memalingkan wajahnya dari Magisna.


Magisna menggeleng-geleng dan mendesah pendek, berusaha mengenyahkan pikiran aneh dari kepalanya.


Bagaimana tidak, semua orang di kelasnya tahu siapa Dika. Dika punya seribu satu cara untuk membuat kegaduhan dalam kelas. Dika yang serius bukanlah Dika yang mereka kenal.


Tiba-tiba saja Magisna merasa sendirian, merasa kehilangan sosok Dika yang sebenarnya. Dia bukan Dika yang kukenal, katanya dalam hati. Begitu juga dengan Novi, Hendra dan Alexza. Bahkan Pak Isa.


Mereka semua telah dirasuki! Magisna menyimpulkan.


Aku melihat sendiri bagaimana Senja merasuki Kiddo. Tapi siapa yang merasuki mereka?


Mereka berubah sejak mereka terjebak dalam ruang bawah tanah rumah Van Til.


Mereka berubah sejak…


Kabut itu! Magisna menyadari. Aku harus cari tahu kebenaran tentang kabut itu. Masyarakat perkebunan meyakini kabut itu sebagai arwah seorang pemuda.


Sambekala!


Arwah Senja!


Aku harus berbicara dengan Senja, Magisna memutuskan.


Tapi sebelum itu…


Magisna mendekati meja Dika dan membungkuk di depan cowok itu dengan mata terpicing.


Dika menatapnya dengan terperangah. Di luar dugaannya, Magisna merenggut kacamatanya.

__ADS_1


__ADS_2