
Magisna membuka mulutnya, tapi tak sepatah kata pun mampu diucapkannya.
"Terkadang sebuah situasi memaksa kita untuk mengikuti arus dan menjadi pengecut," tutur Pak Isa dengan tatapan menerawang. "Kamu tahu situasi yang sebenarnya, kan?" tanyanya sembari menoleh ke arah Magisna.
Magisna kembali mengerjap dan terlihat ragu. "Apa sebenarnya yang terjadi di Doolhof?" tanyanya setengah mendesis.
Pak Isa mengerutkan dahinya. "Saya kira kamu bersama mereka?"
Magisna spontan tertunduk. "M---maksud saya…" Ia menjilat bibir bawahnya dan tertegun sesaat sebelum akhirnya dapat melanjutkan, "Apa yang terjadi di Doolhof dua puluh tahun yang lalu?"
Pak Isa tertawa masam, "Jadi kamu lebih tertarik untuk mendengarkan nostalgia dibanding mencari tahu apa yang terjadi pada teman-temanmu?"
"Apa yang terjadi pada mereka, merupakan pengulangan dari masa lalu," sergah Magisna.
Pak Isa sontak terdiam.
Lalu keheningan menyergap mereka selama beberapa saat.
"Bagaimana Anda bisa lolos dari… semua ini?" tanya Magisna seraya memandangi kepala sekolah itu dengan ekspresi menuntut.
Kepala sekolah itu tetap bungkam.
"Mereka bisa mencium kehadiran makhluk lain," lanjut Magisna.
"Benar," sela Pak Isa setengah mendengus. "Mereka bisa mendeteksi makhluk lain kecuali manusia!"
Magisna mengerutkan dahinya.
"Dari mana kamu tahu mereka bisa mencium keberadaan makhluk lain?" tanya Pak Isa kemudian.
Giliran Magisna sekarang yang kehilangan kata-kata.
"Seberapa banyak kamu tahu tentang mutan?" Pak Isa bertanya lagi.
Magisna masih bergeming.
"Seberapa jauh kamu menyelidiki… semua ini?" Pak Isa menatap tajam pada Magisna.
Tiba-tiba Magisna merasa menyesal telah membicarakan ini dengan Pak Isa.
Tatapan kepala sekolah itu terasa menekannya.
Apa sudah cukup tepat membicarakan ini dengan Pak Isa?
Jangan-jangan aku sudah berbicara pada orang yang keliru?
Pak Isa mendesah pendek. "Dengar, Eka," katanya melembut. "Sejujurnya saya tak yakin dengan apa yang terjadi di Doolhof dua puluh tahun lalu."
Magisna akhirnya mengangkat wajah dan memberanikan dirinya untuk menatap Pak Isa.
Kepala sekolah itu balas menatapnya. Seketika bayang-bayang peristiwa dua puluh tahun yang lalu berkelebat dalam kepalanya dan menutupi pandangannya dari Magisna. Asap tebal mulai meliputinya dan tanpa sadar ia menahan napas. Tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat pada tengkuknya.
__ADS_1
Michael Isaac tersungkur dan terpuruk di lantai.
Sepasang kaki kemudian mendekat dan berhenti di sisi tubuhnya. Dari kedua betisnya yang terekspos sampai batas lutut, sudah bisa dipastikan bahwa dia bukan murid laki-laki. Murid laki-laki mengenakan celana panjang.
Seiring langkah itu semakin mendekat, kesadaran Michael Isaac berangsur-angsur hilang.
Pak Isa mengerjap dan terperangah, dikejutkan oleh bunyi keras bel sekolah yang mendengking.
Magisna menghela napas dan menarik bangkit tubuhnya dengan sikap enggan, kemudian berpamitan.
Jingga sudah tidak berada di sana ketika Magisna keluar.
Mungkin sudah masuk kelas, pikir Magisna.
Tapi ketika Magisna kembali ke kelas, bangku gadis tomboi itu masih kosong.
Kemana perginya keparat itu? Magisna bertanya-tanya dalam hatinya. Kemudian melayangkan pandang keluar jendela, meneliti koridor yang menuju toilet.
Dua-tiga murid dari kelas lain melintas di koridor itu dan menghilang ke kelasnya masing-masing. Kemudian sepi lagi.
Magisna berjalan malas menuju bangkunya di sisi Dika, tapi bangku cowok itu juga kosong.
Magisna mendesah berat dan mengeluarkan buku-bukunya dari laci di bawah meja, sementara murid-murid perempuan lain sudah mulai bergosip.
Cewek-cewek itu berkerumun di meja paling belakang dan berbisik-bisik sambil cekikikan.
Hanya tiga murid perempuan yang tidak ikut-ikutan—termasuk Magisna. Dua cewek bersedekap di mejanya masing-masing dan sesekali melirik ke arah kerumunan setiap kali cewek-cewek itu cekikikan.
Mengetahui kenyataan bahwa Pak Isa bukan salah satu dari mutan, tak membuat Magisna merasa tenang. Kenyataan itu justru membuatnya semakin curiga pada Pak Isa.
Aku melihatnya diseret oleh kabut aneh itu, kenangnya masam. Sama seperti Dika dan Novi.
Bahkan Hendra dan Alexza kembali sebagai salah satu dari mereka, meski Magisna tak melihat mereka diseret oleh kabut itu.
Semua orang yang terjebak di Doolhof tidak ada yang lolos, pikirnya. Bagaimana Pak Isa bisa lolos?
Tidak, sergahnya dalam hati. Aku juga bisa lolos. Aku bisa saja bernasib sama, tapi aku benar-benar lolos karena keberuntungan.
Keberuntungan dan kebetulan-kebetulan itu mendadak terasa janggal di hati Magisna.
Benarkah hanya kebetulan? pikirnya.
Kegaduhan yang mendadak menarik perhatian Magisna. Murid-murid perempuan yang sedang bergosip tadi serentak berpencar dan menghambur ke bangkunya masing-masing.
Seorang guru melangkah masuk dengan buru-buru.
Magisna mengedar pandang dengan sikap gusar. Dika dan Jingga belum kembali, sementara pelajaran akan segera dimulai. Ia menyapukan pandangan keluar jendela sekali lagi, tapi dalam posisi duduk, ia tak bisa melihat koridor.
Magisna mengedar pandang ke sekeliling ruangan melalui sudut matanya, mengamati wajah-wajah di setiap bangku. Tidak seorang pun menyadari mereka menghilang, pikirnya getir.
Atau tidak ada yang peduli?
__ADS_1
Siapa yang tahu mereka ke mana?!
Keduanya sudah terbiasa meninggalkan pelajaran!
Tapi Dika tidak pernah melakukannya lagi sejak ia mengenakan hoodie. Baiklah, kata Magisna dalam hati. Dia pernah meninggalkan pelajaran sekali setelah dia berubah, tapi hal itu dilakukannya untuk menghindariku.
Mungkin hari ini juga! pikirnya.
Tapi Dika menghilang bersama Jingga. Situasi itu terasa sedikit mengganggunya.
Aku memang benar-benar jago mendramatisir keadaan, gerutunya dalam hati. Kemudian berusaha mengabaikan dugaan-dugaannya.
Tapi tidak bisa.
Jingga tak pernah kembali sampai pelajaran usai. Sampai tanda waktu pulang.
Magisna berusaha menunggunya sampai kelas kosong. Barang-barang Jingga masih ada di laci mejanya.
Keheningan seketika menyergap seluruh tempat. Satu-satunya suara yang bisa didengar hanyalah suara napasnya. Magisna membereskan barang-barang Jingga dan membawanya keluar.
Pintu kelas terbanting nyaring di belakangnya. Magisna memekik terkejut dan terperanjat.
Tenang, Magisna! Itu cuma angin! Magisna menegur dirinya. Lalu mengembuskan napas panjang dan menenangkan diri.
Setiap kelas dan seluruh koridor telah kosong sepenuhnya. Keheningan itu terasa mencekam dan mendirikan bulu kuduknya. Membuat Magisna spontan bergidik. Lalu buru-buru pergi.
Sepasang sepatunya berdebam ribut di lantai koridor, menggema ke seluruh tempat.
Sekonyong-konyong Magisna menoleh ke belakang. Entah kenapa ia merasa bahwa ia tidak sedang sendirian.
Tapi sepanjang koridor di belakangnya terlihat kosong.
Magisna berhenti sejenak dan mengawasi koridor itu sesaat, lalu memutar tubuhnya dan kembali melanjutkan langkah.
Suara sepatunya kembali berdebam dan membahana. Terdengar bersahut-sahutan seperti bukan hanya dia sendiri yang sedang berjalan.
Magisna menghentikan langkahnya secara mendadak. Lalu secara serempak suara lainnya ikut terhenti.
Itu cuma gema! Magisna menegur dirinya lagi. Tapi tak segera melanjutkan langkah. Ia membeku di tempatnya sembari menyimak.
Hening.
Melalui sudut matanya, Magisna menangkap sebuah gerakan.
Magisna menahan napas dan berbalik sekaligus.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku harus pergi dari sini, katanya dalam hati. Tempat ini membuatku gila!
Dan ketika ia berbalik, seseorang menabraknya dari arah depan.
__ADS_1
BRUK!