
Magisna terhenyak dan menyentakkan tubuhnya ke belakang, beringsut mundur seraya terbelalak. Kedua telapak tangannya terasa basah dan lengket. Magisna memeriksanya, kemudian menjerit. Kedua telapak tangannya berlumuran darah.
Tas Jingga seketika terlempar dari tangannya dan tercampak di lantai dengan isi berhamburan.
Magisna terhuyung ke belakang dengan kedua lutut gemetaran.
Sosok di depannya melangkah tertatih-tatih mendekati Magisna. "La… ri…" desisnya sebelum akhirnya tumbang dan jatuh tertelungkup di lantai.
"JINGGAAAAAAA…!!!" Magisna menjerit sekuat tenaga, kemudian menghambur ke arah tubuh Jingga yang tertelungkup di lantai. Ia berjongkok dan membalik tubuh Jingga sembari menangis. "Bangun, Jingga! Please!"
Tubuh Jingga bergerak perlahan dan menggelinding terlentang, tapi tak bereaksi. Seragam putihnya bernoda merah gelap berbentuk lingkaran besar di bagian perutnya, kedua tangannya berlumuran darah. Kedua mata gadis itu terbuka namun tak berkedip. Tatapannya benar-benar kosong, tanpa pancaran kehidupan.
"Jinggaaaa…!" Magisna mengguncang kedua bahu Jingga, berusaha menyadarkannya. Tapi sia-sia.
Magisna menekankan ujung jarinya pada pergelangan tangan Jingga untuk merasakan denyut nadinya, tapi jantungnya sendiri berdebar-debar keras, menyebabkan aliran darahnya berdesir deras dan membuat seluruh tubuhnya berdenyut-denyut tak terkendali. Ia hanya merasakan getaran tubuhnya sendiri.
Dengan putus asa, Magisna tersuruk di lantai di sisi tubuh Jingga, menyusupkan wajahnya di antara lipatan tangannya sendiri sembari meratap. Tubuhnya berguncang hebat dan sulit digerakkan.
"Kumohon hiduplah," ratapnya tak berdaya. Dia tidak boleh mati, katanya dalam hati. Kumohon jangan mati! Semua orang akan mengira aku yang membunuhnya.
Tidak ada siapa-siapa di sini!
Hanya aku.
Benar-benar sendirian!
Sendirian bersama mayat, batinnya getir.
Bagaimana ini?
Bagaimana aku menjelaskan semua ini pada orang tua Jingga?
Seseorang---siapa saja tolong!
Sepasang tangan tiba-tiba mencengkeram bahu Magisna dan menariknya.
Magisna terperangah dan menyentakkan kepalanya ke samping.
Kiddo Callaghan tahu-tahu sudah berdiri di dekatnya, menatap Jingga dengan wajah pucat.
Senja?
Atau Kiddo yang asli?
Magisna membeku kebingungan.
Cowok itu kemudian berjongkok di sisi Magisna, menekankan ujung jarinya di leher Jingga. "Dia belum mati," katanya bersemangat.
Magisna menelan ludah. Dan sebelum ia menyadari semuanya, suara-suara berdebuk ribut mengusik perhatiannya.
Empat orang dengan hoodie dan kacamata, menyeruak ke arah mereka dari ujung koridor.
Magisna tersentak dan membeku di tempatnya, sementara Kiddo Callaghan sudah menghilang.
__ADS_1
Ke mana perginya cowok tadi?
Apa dia Kiddo yang muncul dan menghilang di kantin tadi siang?
Kiddo yang asli?
Sekarang bagaimana? pikir Magisna panik.
Aku kembali sendirian.
"Kiddo!" pekiknya sedikit tercekik. Tidak ada tanda-tanda pernah ada seseorang di sampingnya. Kiddo seolah menguap tanpa bekas seperti tadi siang.
Lari! perintahnya pada diri sendiri. Tapi kakinya seolah tertanam pada lantai dan sulit digerakkan. Tubuhnya gemetar tak terkendali. Jantungnya berdentum-dentum. Keringat dingin membanjir di sekujur tubuhnya.
Langkah-langkah kawanan mutan sudah setengah jalan mencapai tempatnya.
Magisna berusaha berpikir cepat, tapi tak banyak yang dapat ia pikirkan. Dia tak tahu cara menghadapi mutan. Terutama karena mereka juga teman-temannya.
Bahkan jika ia bisa melawan mereka, dia tak akan sanggup menyakiti teman-temannya.
Satu-satunya cara hanyalah lari. Tapi dia tak mungkin meninggalkan Jingga. Kiddo bilang Jingga masih hidup, pikirnya tak berdaya.
Haruskah aku meminta bantuan hantu?
Tapi bagaimana caranya memanggil mereka?
Senja!
Suzy!
Tolong!
WUSHH…!!!
Angin kencang menerpa Magisna dari arah Hendra dan teman-temannya.
Magisna memejamkan matanya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan wajah.
Ikatan rambutnya terlepas dan rambutnya terhempas ke belakang, memburai dan mengikal di seputar wajah dan kepalanya seolah sedang terapung di dalam air.
Suara-suara berdebuk itu semakin dekat.
Magisna menurunkan kedua tangannya dan membuka mata sembari mengernyit.
Hendra melesat ke arah Magisna dalam sekali lompatan dari jarak lima meter, kemudian mendarat tepat di depan Magisna tanpa suara.
Magisna menjerit terkejut. Dan seketika itu juga Hendra merenggut lehernya.
"Hen…" Magisna mencoba bersuara. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Magisna mulai terbatuk-batuk. Cengkeraman ketat tangan Hendra pada lehernya terasa seperti alat penghancur logam. Dia bisa meremukkanku dalam sekejap, batinnya putus asa. Rasa panas mulai menyengat seperti ketika ia dililit oleh kabut di ruang bawah tanah rumah Van Til.
Magisna mengatupkan kedua matanya lekat-lekat untuk menekan rasa sakitnya. Wajahnya serasa terbakar.
Tolong! ratapnya dalam hati, sementara mulutnya terkunci akibat cengkeraman kuat Hendra.
__ADS_1
Sekonyong-konyong, cengkeraman pada lehernya terlepas.
Magisna terlempar ke belakang dan jatuh terduduk.
Hendra tersungkur tak jauh di depannya.
Magisna terperangah dengan mata dan mulut membulat.
Jingga menggulingkan tubuhnya dan merangkak di lantai, mencengkeram pergelangan kaki Hendra dan menariknya menjauh dari Magisna.
Tapi Dika dan Alexza melesat cepat ke arah Jingga dan menginjak punggungnya. Gerakan mereka terlihat ringan seperti setengah terbang.
Novi berjalan ringan ke arah mereka setengah melayang.
Mereka semua bergerak seperti kabut, pikir Magisna ngeri.
Jingga menggeliat-geliut di bawah tekanan kaki Dika dan Alexza, sementara Novi mulai membungkuk di atas tubuh Hendra dan mencengkeram sebelah bahunya, membantu cowok itu bangkit berdiri hanya dalam sekali hentak.
Magisna terkesiap dan beringsut mundur menjauhi mereka.
Jingga menyentakkan tubuhnya ke depan, berusaha merangkak ke arah Magisna.
Dika dan Alexza seketika menurunkan kaki mereka dari punggung Jingga, kemudian membungkuk serempak menangkap bahunya, menariknya berdiri dalam sekali hentak seperti yang dilakukan Novi pada Hendra tadi.
Magisna berusaha menarik bangkit tubuhnya dengan sekuat tenaga. Tapi kedua lututnya semakin gemetar.
Dan dalam sekejap Hendra dan teman-temannya tahu-tahu sudah mengepung Magisna.
Jingga masih berada dalam cengkeraman Dika dan Alexza yang sekarang berdiri tepat di depan Magisna dalam jarak satu langkah. Tapi cewek berambut pendek itu sekarang sudah terkulai tak sadarkan diri.
Dika dan Alexza menautkan alisnya, menatap Jingga dengan ekspresi heran. Kemudian melepaskan cengkeraman mereka.
Tubuh Jingga roboh perlahan dan kembali tertelungkup di lantai. Kiddo muncul di belakangnya dengan posisi sedikit membungkuk seperti sedang menarik dirinya keluar.
Magisna terkesiap.
Jadi yang tadi itu Kiddo, Magisna menyadari. Kiddo merasuki tubuh Jingga yang tidak sadarkan diri.
Sejurus kemudian, cowok itu mengayunkan pukulan dan mendaratkannya di tengkuk Dika.
Dika memekik dan terhuyung nyaris tersungkur. Alexza berhasil menangkap bahunya dan menahannya.
Lalu keempat mutan itu serempak menoleh pada Kiddo dengan ekspresi geram. Dan secara spontan, Kiddo melayangkan tendangan memutar dan menyapukannya ke arah mereka.
BRUK!
Novi dan Alexza terpental ke belakang. Tapi tidak sampai jatuh. Dika dan Hendra merangsek ke arah Kiddo seraya melayangkan tunju.
Kiddo merunduk menghindari serangan mereka, kemudian menyerampang, melemparkan tubuhnya dan meluncur di lantai ke arah Hendra dan mendaratkan tendangan di tulang kering Hendra.
Hendra terhuyung ke depan, tapi Dika segera menangkapnya.
Magisna masih tergagap kebingungan.
__ADS_1
Semuanya berlangsung begitu cepat di depan matanya. Seperti tayangan film action dalam layar lebar yang dibentangkan tepat di depan batang hidungnya, di mana dia hanya terperangah sebagai penonton yang terbawa suasana.