Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 24


__ADS_3

"Ndra---pelan-pelan!" teriak Magisna seraya menutup mata ketika mobil Jeep Agustin yang dikendarai Hendra tergelincir di jalanan licin yang menurun tajam dan berkelok-kelok.


"Hei—slow! Gua bisa atasi ini, oke?" Hendra memutar kemudi dan entah bagaimana caranya roda mobil dapat diluruskan lagi sebelum mereka tergelincir keluar dari jalan. Lalu, sebelum mereka keluar dari jalur pengaman jalan, Hendra menginjak pedal gas dan mobil menderu berjalan lagi.


"Hendra—" Magisna menghardiknya dari bangku penumpang di sisinya.


Dan sebagai jawaban, Hendra malah mempercepat laju mobilnya seraya menyeringai lebar. Matanya yang gelap menampakkan kegembiraan, seolah tak pernah terjadi sesuatu beberapa jam yang lalu.


Hendra menyukai bahaya seperti itu. Dia memang suka sekali menakut-nakuti orang, pikir Magisna kesal. Dasar sok pamer!


Malam itu Agustin dan Ais mengantarkan mereka pulang dengan Jeep milik Agustin. Tapi jembatan ke arah perumahan tempat tinggal Magisna roboh dan mereka terpaksa memutar untuk mencari jalan alternatif.


Hendra bilang dia tahu jalan alternatif ke perumahan tempat tinggal Magisna dan mengambil alih kemudi. Tapi hujan deras menyebabkan jalanan licin. Ditambah Jeep itu tidak dilengkapi atap. Angin kencang bercampur hujan menderu dan berembus keras menerpa wajah mereka seperti gumpalan-gumpalan putih, hingga mereka bahkan tak bisa melihat semeter ke depan.


Dan di sinilah mereka sekarang berada—entah di mana, menggigil kedinginan dalam jeep terbuka di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit dalam hujan badai. 


Jeep itu terhempas ke depan dan tergelincir di setiap tikungan jalan yang sempit. Dan setiap kali ban-ban mobil itu selip, jantung Magisna serasa terlontar dari tempatnya.


"Emang lebih enak kalo yang nyetir orangnya waras," gerutunya.


"Udah sih, tinggal duduk manis aja!" sergah Hendra sembari membanting keras kemudi ketika ban mobil mulai tergelincir lagi.


"Hendra---lu bikin gua takut tau!" Magisna menjerit lagi. Lututnya menekan laci kecil di dashboard, dan tangannya bersedekap erat.


"Lu mau cepet sampe rumah nggak?" tukas Hendra.


"Gua mau selamet sampe rumah," sergah Magisna.


"Suruh dia makin ngebut lagi," kata Ais dari jok belakang. "Mana tau malah dipelanin!"


"Ide bagus!" dengus Magisna.


Tak ada yang dapat dilihat. Hujan turun terlalu deras dan udara menjadi berwarna putih. Setidaknya itulah yang dilihat Magisna ketika ia memalingkan wajahnya dan memandang keluar.


Beberapa jam yang lalu, masih banyak mobil dan sepeda motor menuruni jalanan sempit yang berliku-liku. Tetapi sekarang tampaknya hanya mobil Agustin satu-satunya kendaraan yang ada di bukit itu.


Terdengar suara bergesek yang keras ketika wiper mobil menyapu kaca depan. Wiper kaca depan memang bisa membersihkan kaca dengan baik, tapi hujan yang turun begitu deras secara terus-menerus menutupi kaca depan.


Magisna mencoba melihat langit di atas kepala mereka. Tidak tampak apa-apa. Hujan yang turun terlalu tebal dan deras.

__ADS_1


Dia tahu Hendra juga tidak dapat melihat apa pun. Tapi dia tak bisa mengemudi dengan pelan.


Kenapa?


Karena dia adalah Hendra Dwi Maulana---si keparat sejati.


Suasana dalam mobil benar-benar tegang. Sebagian karena mereka tengah meluncur menuruni bukit di jalanan licin yang berkelok-kelok tanpa dapat melihat apa pun dengan orang gila yang mengemudi. Dan sebagian lagi karena mereka sedang bermobil dengan orang asing yang baru mereka kenal beberapa jam yang lalu.


Agustin dan Ais memang kelihatan tidak keberatan dengan situasi ini, tapi tentu tak mudah merasa nyaman berada di dekat orang yang baru kita kenal dalam situasi tegang seperti ini.


Magisna menoleh ke belakang, ke arah Agustin yang sedang memandang keluar dengan kedua tangan bersilangan di depan dada, memeluk erat dirinya sendiri. "Di sini rasanya dingin banget," gumamnya sembari bergidik.


Ais menoleh ke arah Magisna sembari menarik tudung jaketnya.


"Terus gua harus gimana, dong?" Hendra menoleh ke belakang. "Berenti di sini, beli mobil baru?"


Magisna mencubit pangkal pahanya.


"Mobil ini gak ada atepnya!" protes Hendra pada Magisna.


"Kau bisa melihat, kan?" Agustin bertanya seraya mencondongkan tubuhnya ke depan.


Magisna mencubit pahanya lagi.


Tiba-tiba Jeep itu melejit. Benar-benar melaju cepat setengah melambung.


Magisna berteriak panik dan berpegangan pada apa saja yang diraihnya.


Melalui derai hujan yang membuih, ia bisa melihat lembah curam di sebelah kanan bawah, sementara di atas sana tidak ada pagar pelindung di sepanjang sisi jalan.


Kami takkan pernah selamat dari badai ini, pikir Magisna ngeri. Lalu memaki dirinya sendiri karena pesimis. Tapi dia tak bisa mengatasinya.


Pada dasarnya, Magisna memang orang yang selalu khawatir. Dia cenderung mengkhawatirkan segala sesuatu di dalam situasi apa pun. Terutama dalam situasi buruk seperti ini, dia bisa mengkhawatirkan lebih banyak hal.


Kami akan tergelincir ke tepi, pikirnya. Kami akan terperosok ke dalam jurang!


Dengan cepat, Hendra membalik kemudi ke arah yang berlawanan dari arah tergelincir. Dia menginjak rem dalam-dalam, tapi laju mobilnya tak kunjung melambat.


Magisna mengatupkan kedua matanya, tetapi tidak menolong. Ia masih bisa merasakan mobil itu terus tergelincir dan mulai berputar. Seketika perutnya terasa mual. Tak bisa bernapas. Tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Mobil itu berputar sekali. Kemudian berhenti.


Magisna membuka matanya.


Ban depannya terperosok ke dalam lumpur di sisi jalan.


Hendra meringis. "Lu cari mati, ya?" geramnya pada Magisna. 


Magisna melengak tak mengerti. Tidak menyadari apa yang sedang dia lakukan. Dia mencengkeram paha Hendra terlalu ketat.


"Lu mau lepasin nggak, hah?" hardik Hendra.


Magisna terperanjat dan seketika wajahnya terasa panas dan bersemu merah, "Ma—maaf," katanya terbata-bata. Lalu buru-buru menarik tangannya.


Ais dan Agustin terkekeh di bangku belakang.


Magisna menelan ludah. Mereka menertawakanku, pikirnya merasa malu.


Hendra memundurkan mobil kembali ke jalan. Mobil itu tersentak dan tersendat-sendat, kemudian berhenti. Magisna mengatupkan matanya lagi. Mobil itu bergerak lagi dan mulai berjalan.


Terdengar embusan napas dari jok belakang.


Magisna membuka mata dan merasa sedikit lega karena mereka masih hidup—tidak jadi terperosok ke dalam jurang. Tapi hanya sedikit!


Sejauh yang ia perhatikan, mereka masih harus menempuh perjalanan beberapa ratus mil, sementara hujan dan badai semakin deras.


"Balik, balik! Putar arah!"


Itu yang ia bayangkan dibisikan angin yang menderu-deru. Magisna memiliki imajinasi yang nyata saat dalam ketakutan. Itulah sebabnya ia tak mau mempercayai pendengarannya sendiri ketika ia mendengar suara tawa anak kecil perempuan ketika di doolhof.


Itu hanya suara tikus yang mencicit, pikirnya. Dan aku membayangkannya seperti anak kecil sedang cekikikan. Deru angin saja terdengar seperti memberi peringatan.


Apa penjelasan ilmiahnya untuk perasaan macam ini? Magisna bertanya-tanya dalam hati.


Teori ilmiah biasanya bisa mengalihkan dirinya dari segala hal yang meresahkan. 


Tapi bagaimana menjelaskan perasaan takut yang kita miliki sementara kita sendiri tak yakin seberapa takutnya diri kita? 


Perasaan takut yang membuat kita mulai merasa berat secara keseluruhan, hingga seolah tak dapat bergerak, tak sanggup bernapas.

__ADS_1


__ADS_2